Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
107. Tato Mawar Merah.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Cinta hanya kebohongan... Tidak ada yang benar-benar tulus menerima seseorang, apalagi saat kondisi kita sedang ada di bawah... GALIH.


---


Ada yang bilang kalau sebuah tato adalah seni. Karena tato juga melambangkan identitas bagi pemiliknya. Tak sedikit pula motif dan bentuk sebuah tato, semuanya tentu saja ada makna tersendiri.


Sama seperti tato setangkai bunga mawar yang belum mekar di leher bagian belakang seorang gadis berambut panjang tersebut. Memang tidak ada yang menyadari kalau gadis itu memiliki sebuah tato karena rambutnya selalu terurai kapan pun dan di manapun ia berada.


Bukan berarti tidak ada yang menyadari tato gadis itu, karena ada satu orang yang mengetahuinya bahkan ikut serta dalam pembuatan Tato tersebut.


"Alya memiliki Tato setangkai mawar di leher bagian belakangnya... itupun kalau tidak di hapus," ucap Galih mengucapkan apa yang diketahuinya kepada Arjun.


"Apa dia tidak menghapusnya?" tanya Dion. Karena Tato tersebut berhubungan dengan masa lalu gadis itu, jadi mungkin saja di hapus karena tak ingin lagi mengingat masa lalunya yang hanya tinggal kenangan saja.


"Entah..." Galih tak yakin. Jangankan Alya, Galih saja sudah menghapus Tato mawar yang sama di dekat ibu jari tangannya.


Ya... pria itu sengaja menghapusnya saat akan melamar di Perusahaan Pradipta Group beberapa tahun yang lalu.


Tato mawar merah menjadi bukti keseriusan Galih dan Alya dalam menjalin hubungan waktu itu.


"Pakai sedikit darahnya untuk warna merah pada kelopak mawar nya..." pinta Alya kepada Seniman Tato yang sibuk membuat bingkai pada leher bagian belakang Alya.


"Kenapa?" tanya Galih waktu itu.


"Kenapa? karena aku mencintaimu..." jawab Alya yakin.


Tanpa ragu sedikitpun Galih menggigit ujung jari untuk sedikit mengeluarkan darahnya yang akan digunakan untuk Alya mewarnai kelopak mawar.


Galih mengusap wajahnya, di dalam kepalanya hanya terisi kenangan-kenangan bersama mantan kekasihnya.


Galih benar-benar muak dan juga kesal karena kenangan itu selalu menghantui dirinya sepanjang waktu. Dan karena itu juga Galih tak lagi mempercayai tentang cinta.


Sejak putus dengan Alya, pria itu tak lagi mau menjalin hubungan dengan wanita lain.


Galih memang kerap datang ke Club malam dan mencari wanita untuk sekedar bersenang-senang saja tapi tak pernah berkeinginan untuk berkomitmen dengan mereka. Jangankan untuk menikah, menjalin hubungan saja sama sekali tidak ada dalam kepalanya. Mungkin Galih memang tidak akan pernah menikah sampai kapanpun.


"Kalian harus mempersiapkannya, jangan ada sudut ruangan pun yang terlewat..." perintah Arjun.


"Iya-iya... khawatir banget sih Lo!" jawab Dion.


"Iya lah khawatir, gue yang di gunakan sebagai umpan... Ck," Arjun berdecak kesal.


Kenapa bukan Dion saja yang menjadi umpan mereka.


"Karena mangsa kita tertariknya sama Lo nyet!" jelas sudah apa yang dikatakan Dion barusan.


Karena mangsa mereka kali ini sangat berbeda, dia hanya tertarik pada Arjun.


Ck, gue juga tampan bahkan lebih tampan dari Lo, tapi entah kenapa wanita itu hanya tertarik padamu... umpat Dion tapi hanya dalam mimpi.


Berdebat dengan Arjun memang tidak akan ada habisnya, banyak sekali kata-kata yang akan keluar dari mulut pria itu dan tentu saja kana semakin memperlambat pekerjaan Dion dan juga Galih.


"Kita pergi dulu," ucap Dion telak.


Berjalan keluar ruangan dan diikuti Galih di belakang.

__ADS_1


Kedua pria itu meninggalkan Club malam lebih awal dari pada Arjun.


Sekarang, dengan menggunakan mobil Galih mereka menuju ke Apartemen yang telah di sepakati.


***


Dion memulai memasang beberapa kamera pengawas dalam setiap sisi ruangan yang berada di dalam salah satu unit Apartemen tak jauh dari pusat kota.


Sesekali memeriksa posisinya agar mampu merekam aktifitas dengan sangat baik.


Juga dengan Galih, pria itu sibuk mengkoneksikan ke dalam komputer yang berada di salah satu kamar.


Tapi saat sedang melakukan tugasnya, Galih tak sengaja melihat ibu jari sebelah kirinya. Merabanya dengan cermat, Disini dulu ada tato setangkai mawar merah sama seperti yang Alya miliki,


Merabanya lagi, walaupun sudah tak membekas karena Galih sudah menghapusnya sebelum masuk ke Perusahaan Raksasa milik keluarga Arjun.


"*Galih, aku sangat mencintaimu..."


"Aku bahkan lebih mencintaimu dari rasa cintamu padaku..." jawab Galih.


"Aku tidak akan menghapus Tato ini... sampai kapanpun... apalagi ada darah mu disini... yang akan selalu mengingatkanku pada dirimu..." ucap Alya sambil berkaca pada cermin di depannya.


"Ada bagian dari diriku di sana. kapanpun dan di manapun kamu berada... aku seperti ikut bersamamu..." ucap Galih.


"Hm," Alta tersenyum senang*.


Galih menundukkan kepalanya. Rasa cintanya pada Alya benar-benar membutakan semuanya.


Apapun sudah Galih lakukan untuk gadis itu, Bahkan banyak sekali tahun yang mereka lalui bersama. Arjun menjalin hubungan dengan Alya saat awal masuk perguruan tinggi sampai ia lulus.


Galih bahkan sudah memiliki impian untuk menikah dengan Alya setelah mendapat pekerjaan. Tapi nyatanya gadis itu meninggalkan Galih dan meninggalkan luka yang sulit untuk di sembuhkan.


Tahun demi tahun Galih lalui sambil menyembuhkan hatinya.


Jika tidak ada hukum di negara ini, aku benar-benar ingin mencekik mu sampai mati Alya... batin Galih.


Dion sudah di ambang pintu melihat keadaan sahabatnya yang termenung. Lo berhak bahagia Galih! batin pria itu.


Dion mendekati Galih dan duduk di samping pria itu, "Apa yang akan Lo lakukan nanti?" setidaknya Dion hanya ingin tau apa yang akan Galih lakukan saat mereka benar-benar bisa membuka kedok Lea.


Jika benar Lea adalah Alya, mantan kekasih Galih dulu.


"Menurutmu?" tanya Galih.


Dion tak paham dengan tatapan pria di sampingnya. Ada sebuah kebencian yang menyatu dengan rasa rindu dan cinta. Membuat binar mata itu menjadi terang tapi penuh kobaran api.


"Gue tidak akan mencegah apapun yang Lo lakukan," ucap Dion.


Semua adalah hak Galih untuk menghukum ataupun melakukan apapun untuk kepuasan hatinya.


"Tapi saran gue, lepaskan semuanya... lepaskan rasa kebencian Lo, lepaskan rasa cinta yang menjerat Lo sampai saat ini... melepaskan tidak akan membuat seseorang terlihat menyedihkan..." tambah Dion menasehati.


Walaupun Dion juga sering kali gagal dalam masalah cinta, tapi setidaknya ia tidak seperti Galih yang di campakkan oleh kekasihnya.


"Apa gue bisa?" tanya Galih ragu.


"Gue yakin Lo bisa," jawab Dion menepuk bahu sahabatnya.


Dion bangkit dari duduknya, karena melihat semuanya telah selesai. "Gue akan memberitahu Arjun..." ucap Dion dan pergi meninggalkan Galih.

__ADS_1


---


Di lain tempat, Arjun sedang duduk berdua dengan Lea di ruangan yang ada di Club malam.


"Kemarilah..." perintah Arjun.


Lea tentu saja menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Arjun.


"Kenapa tidak mengikat rambutmu?" tanya Arjun dengan suara menggoda.


"Ah ini, gue tidak terbiasa..." ucap Lea canggung saat seluruh rambutnya dalam genggaman tangan Arjun.


Entah darimana tiba-tiba di tangan Arjun sudah ada sebuah ikat rambut. Perlahan pria itu mendekatkan wajahnya ke arah Lea hingga membuat gadis itu memejamkan mata. Lea mengira kalau Arjun akan menciumnya. Tapi nyatanya Arjun ingin mengikat seluruh rambut panjang Lea dengan sebuah ikat rambut.


Deg...


Jantung Arjun seperti berhenti berdetak saat melihat leher bagian belakang Lea.


Benar... ada Tato setangkai mawar...


Arjun yang tadinya meragukan ucapan Galih menjadi percaya.


Percaya kalau gadis di sampingnya adalah gadis yang sama dengan yang di bicarakan Galih.


Dia adalah sumber ketakutan sekaligus menyakitkan bagi sahabatnya Arjun.


Di saat itu juga tiba-tiba ada sebuah pesan yang masuk dalam ponsel Arjun. Perlahan Arjun membuka pesan itu dan langsung paham. Di detik selanjutnya Arjun menekan gambar gagang telepon berwarna hijau untuk menghubungi pemilik nomor tersebut dan langsung tersambung,


"Lea... Lo punya tato?" tanya Arjun terbata-bata sambil memperkeras suaranya.


Terkejut, Lea langsung menarik tubuhnya menjauhi Arjun. Matanya langsung terbuka seiring dengan detak jantung yang berantakan.


"Ah, itu... Iya..." jawab Lea dengan nada bicara yang tak beraturan.


Jelas sekali kalau gadis itu sangat gugup, karena ini adalah pertama kalinya ada orang mengetahui tentang Tato yang selama ini ia tutupi keberadaannya.


"Indah," puji Arjun rak terduga.


Apa dia bilang? indah? batin Lea.


Lea kira Arjun akan keberatan dengan tato itu, tapi nyatanya tidak.


Arjun malah memuji Tato milik Alea.


"Kapan Lo membuatnya? saat di luar negeri?" pancing Arjun.


"Tidak, Tato ini sudah sangat lama..." jawab Lea masih berusaha untuk menutupi semuanya.


"Jadi Lo membuat Tato setangkai mawar itu saat masih di negara ini?" tanya Arjun menyelidiki.


"Iya," jawab Alea tak lagi bisa berbohong.


Sedangkan dari balik sambungan telepon tersebut, Dion dan Galih sama-sama membulatkan matanya. Mereka tidak ada yang bersuara sedikitpun.


Jadi benar, Lea memiliki Tato setangkai mawar merah? batin Dion terkejut.


Sedangkan Galih terlihat biasa saja karena ia sudah sangat yakin kalau Lea adalah Alya.


***

__ADS_1


Haloo... dukung terus cerita ini dengan Like dan Komentar sebanyak-banyaknya...


Tengkyu...


__ADS_2