
HAPPY READING...
***
Hari ketiga.
Arjun dan Akira sibuk mengemasi barang-barang hasil buruan mereka selama di Belanda. Memasukkannya ke dalam koper kosong yang sengaja mereka bawa dari rumah.
Biasanya memang ada hari dimana khusus untuk berbelanja dan tadi pagi adalah saat yang tepat.
Sejak pagi Akira sudah kalap membeli apapun yang di lihatnya dan menurutnya sangat bagus.
Semua juga di bilang bagus olehnya walaupun barang itu tidak terlalu penting.
"Aku lelah..." ucap Akira dan langsung merebahkan diri di ranjang. Tanpa memperdulikan dua orang pelayan yang duduk di karet sambil memilah barang belanjaan Akira.
Arjun melirik istrinya, Ck... jadi berkurang deh jatah gue... umpatnya dalam hati. Padahal tadi pagi Akira memohon-mohon agar di bawa ke luar kamar untuk berbelanja dengan bayaran akan memenuhi semua keinginan Arjun malam harinya. Tapi nyatanya Gadis itu sudah menolak Arjun dengan cara halus bilang kalau tubuhnya lelah.
Seandainya besok mereka masih stay disini, mungkin Arjun akan segera menyuruh para pelayan untuk segera keluar dari kamar. Tapi besok mereka sudah akan meninggalkan Belanda menuju ke negara lain di Benua Eropa.
Arjun mengamati istrinya yang terlihat nyaman, dia sudah tidur? batinnya tak percaya.
Berjalan mendekati ranjang untuk melihat secara dekat.
Arjun tersenyum melihat Akira yang benar-benar telah tidur. Mengecup singkat kening istrinya dan berucap "Selamat tidur sayang,".
"Aku akan keluar, selesaikan semuanya sebelum aku kembali..." perintah Arjun pada pelayan.
"Baik Tuan muda," jawab kedua pelayan serentak.
Dan disini lah langkah kaki Arjun membawanya. Pada kamar yang berada tepat di depan kamar miliknya. Menggedor pintu seperti orang kesetanan hingga menciptakan suara yang amat sangat mengganggu kamar-kamar lainnya.
"Apa sih Lo!" teriak pria yang berada di kamar itu sambil membanting pintu.
Karena kelakuan Arjun tadi, Galih yang tadinya baru mandi harus segera menyelesaikan kegiatannya.
Sejenak Arjun mengamati tubuh sahabat yang yang terbalik jubah mandi dengan rambut yang sangat basah.
Wih... berotot juga dia... hehehe...
Sedangkan Galih, menatap Arjun dengan ngeri. Kenapa dia? dia masih normal kan? geli sekaki di tatap pria lain seperti itu.
"Mau apa Lo?" tanya Galih mengusir tatapan jahat dari Arjun.
"Gue mau masuk!" ucap Arjun dan langsung nyelonong masuk sambil mendorong tubuh Galih yang menutupi pintu kamar hotel tersebut.
Sialan! umpat Galih.
Di dalam kamar, Arjun langsung memposisikan tubuhnya selonjor di sofa. Seolah sebagai pemilik kamar itu.
"Lo sudah berkemas?" tanya Arjun.
"Hm," jawab Galih sambil mengenakan pakaiannya. Tentu saja tidak di depan Arjun, karena pria itu masih normal.
Arjun mengedarkan pandangan nya mencari koper milik Galih. Ternyata memang berada rapi di samping ranjang.
Beda dengan Arjun dan Akira, Galih memang hanya membawa 1 koper besar sebagai tempat pakaian dan keperluannya saja.
"Lo tidak membeli oleh-oleh?" tanya Arjun sekedar basa-basi.
__ADS_1
"Tidak," jawab Galih. Untuk apa ia harus repot-repot membeli barang-barang yang tidak terlalu di butuhkan.
"Kenapa? Bella akan kecewa nanti,". Inilah pertama kakinya Arjun memperdulikan seseorang selain keluarganya.
"Dan juga orang tua Lo... setidaknya belikan sesuatu untuk mereka..." tambah Arjun.
Galih sudah berpakaian lengkap dan ikut duduk di sofa samping Arjun. "Masih terlalu awal untuk memberikan mereka oleh-oleh. Aku akan membelikannya saat di London nanti," ucap Galih dengan yakin.
Karena di London, semua yang di inginkan ya akan bisa di temukan dengan mudah. Apalagi barang dari sana memiliki kualitas yang bagus.
"Ck, licik!" umpat Arjun. Sedangkan Galih tidak memperdulikan ucapan dari sahabatnya itu.
Untuk beberapa saat, mereka sama-sama terdiam dengan pemikirannya masing-masing.
Sejak pergi liburan, Arjun dan Galih benar-benar melupakan pekerjaan yang tidak ada habisnya. Setidaknya saat ini cocok untuk otaknya beristirahat.
"Gue udah mengirim uang bulanan Bella," adu Arjun pada akhirnya. Karena setidaknya ada topik lain yang bisa membuat mereka duduk dan berbicara dengan santai.
"Jangan terlalu berlebihan, Lo akan menyesal nanti kalau Bella tidak seperti yang Lo harapkan..." jawab Galih.
Karena seseorang akan berubah. Walaupun Galih juga menginginkan hal yang sama dengan Arjun, tapi masih terlalu dini untuk mengatur kehidupan Bella agar bisa bekerja untuk Pradipta Group suatu hari nanti.
"Bukan karena itu nyet..." sela Arjun.
Sungguh ia tidak berpikiran sampai seperti itu dengan mengikat Bella.
Membuat Galih mengalihkan pandangannya ke arah Arjun.
"Bella sudah seperti adik gue... Dia seperti Jessi," ucap Arjun jujur.
Bella, adik dari sahabatnya benar-benar seperti Jessi, Adik Arjun sendiri.
Tapi sayangnya Jessi tidak seberuntung Bella. Itulah sebabnya Arjun menyayangi Bella seperti rasa sayangnya pada Jessi.
Tanpa di ketahui siapapun, Bella mendapat beasiswa di Universitas juga karena campur tangan Arjun. Gadis itu juga memiliki uang saku yang cukup besar setiap bulannya dari Arjun.
Hanya Galih lah yang tau akan hal itu.
"Walaupun nanti Bella berubah keinginan, tidak masalah buat gue... dia bebas untuk memilih masa depannya. Bukan terikat pada Pradipta Group saja..." jawab Arjun, sedangkan Galih hanya terdiam dengan pemikirannya masing-masing.
Dalam hatinya, Galih ingin Arjun dan Pradipta Group di lindungi oleh orang-orang yang amat menyayanginya.
Bahkan Galih akan selalu berada di samping Arjun sampai kapanpun. Melindungi pria itu dari orang-orang yang berniat buruk pada Perusahaan raksasa itu.
"Gue sedikit sebal dengan Bella akhir-akhir ini..." keluh Galih teringat dengan perkataan Bella beberapa hari terakhir.
"Kenapa?" tanya Arjun terpancing dengan topik yang membahas gadis muda itu.
"Dia mengatai ku kakak yang kejam," adu Galih.
Arjun tersenyum, "Karena larangan Lo untuk berpacaran?" selidik Arjun. Bahkan langsung membuat Galih membulatkan mata terkejut karena ucapan Arjun yang tepat sasaran.
"Ck..." Galih hanya berdecak.
"Kenapa? bukankah Bella bukan lagi gadis kecil yang perlu di khawatirkan pergaulannya? dan Lo juga meminta seseorang untuk selalu mengawasinya bukan?" tanya Arjun. Karena seposesif itu yang dilakukan Galih pada adiknya.
"Lo tau bagaimana sifat laki-laki di luaran sana bukan? gue gak mau terjadi sesuatu yang buruk padanya..." jawab Galih.
"Maksudnya laki-laki seperti Lo?" sindir Arjun dan langsung tertawa dengan ucapannya sendiri.
__ADS_1
"Si*lan Lo!" umpat Galih. Bukannya membela dirinya, Arjun malah ikut menyudutkan perbuatan Galih.
"Lo percaya karma?" tanya Arjun pada Galih.
Membuat yang di tanya tentu saja kebingungan.
Apa urusannya dengan Karma? dia mau ceramah? batin Galih.
"Karma itu nyata nyet! apa yang lo tanam itu juga yang akan Lo tuai... kalaupun bukan pada diri Lo sendiri, mungkin juga pada Bella..." ucap Arjun.
"Maksud Lo? Bella akan mendapat hukuman atas semua perbuatan gue begitu?" tanya Galih sedikit menekankan nada bicaranya. Tersinggung? tentu saja.
"Gue gak mendoakan seperti itu ya... tapi apa lo pernah berpikir kalau gadis yang lo ajak kencan itu juga memiliki saudara? bagaimana perasaannya?"
Galih semakin tidak suka dengan ucapan Arjun.
Sahabatnya itu seolah suci dan tidak pernah berbuat dosa sama sekali dengan menggurui Galih.
Padahal Arjun juga sama kelakuannya dengan Galih.
"Maksud Lo hanya gue disini yang pendosa?" tanya Galih dan hendak pergi saja meninggalkan Arjun.
Tapi segera di cegah Arjun dengan meraih tangan Galih.
"Gue juga sama seperti Lo... gue bahkan lebih buruk dari Lo," ucap Arjun.
Sedangkan Galih menatap sinis genggaman tangan sahabatnya di pergelangan tangannya.
"Ayo kita sama-sama berubah... Gue berubah untuk lebih menghargai hidup, menghargai ikatan yang gue ciptakan dengan Akira..." sejenak Arjun menjeda kalimatnya dengan mengamati Galih.
"Dan Lo... berdamai lah dengan masa lalu Lo... lupakan semuanya, yakinkan diri Lo agar bisa membuka hati untuk wanita lain... tidak semua wanita seperti Alya, ada banyak gadis yang bahkan jauh lebih baik darinya..." tambah Arjun.
Arjun mengendorkan pegangan tangannya karena melihat Galih tidak berniat pergi,
"Hanya karena kesalahan satu wanita saja, tidak membuat semua gadis juga berpikiran yang sama...".
Hari Galih sedikit tersentuh dengan ucapan Arjun barusan.
Selama ini Galih hanya takut memulai hubungan baru dengan wanita lain. Pria itu terus menghindari dari ketakutannya tanpa mau mencoba untuk menghadapi nya sekali saja.
Itulah yang membuat Galih masih terpaku pada masa lalu yang amat kelam, sedangkan di depan sana masa depan yang cerah sudah menantinya.
"Gue takut..." jawab Galih lirih.
Ia takut untuk merasakan kekecewaan yang mungkin saja jauh lebih parah dari yang di berikan Alya padanya.
"Tidak perlu takut, karena ada banyak orang yang menyayangimu... ada banyak orang yang rela berkorban untukmu..." ucap Arjun menyemangati Galih.
Benarkah? begitu sorot mata Galih yang ditunjukkan kepada Arjun.
Membuat Arjun mengangguk dengan sangat yakin.
Berbahagia lah Galih ... batin Arjun.
***
Kenapa Arjun normal sekali pemikirannya sih...
Hatiku jadi tersentuh...
__ADS_1