
HAPPY READING...
***
Aku hanya akan mencintai mu sepanjang hidupku... kalaupun harus berpisah, hanya kematian lah yang memisahkan... ARJUN PRADIPTA.
---
Arjun bergerak teratur di atas tubuh istrinya. Sedangkan Akira terlihat memejamkan mata berulang kali saat pusat tubuhnya seperti terdorong hingga ke batas. Nafas keduanya seperti orang yang sedang berlari berkilo-kilo meter.
"Aghh..." suara Akira menjadi satu-satunya suara yang tercipta selain deru nafas keduanya.
Di kamar ini, kamar yang berada di lantai 2 rumah Ayah mereka menyatukan tubuh.
Menikmati olahraga pagi hari yang benar-benar membuat keringat bercucuran tanpa henti.
Hal ini bukan yang pertama bagi Akira tapi selalu membuat dirinya seperti kehilangan kewarasannya. Apapun yang Arjun lakukan, adalah hal baru bagi dirinya.
Akira menyukainya. Menyukai setiap sentuhan, belaian dari suaminya.
Sedikit egois memang, tapi Akira hanya ingin di sentuh oleh pria itu.
Pria yang entah sejak kapan ia cintai. Pria yang entah sejak kapan masuk dalam tempat spesial di hatinya menggantikan posisi orang lain.
Akira mencintai suaminya. Dan akan selalu seperti itu sampai kapanpun.
"Sayang..." ucap Akira terdengar seperti sebuah ******* yang berat.
Membuat Arjun yang mendengarnya semakin bersemangat untuk membuat tubuh kecil itu bergerak tak beraturan.
Seringai tipis dari Arjun sebagai tanda bahwa ia juga sama. Menikmati apa yang di berikan oleh istrinya.
"Aku mencintai mu..."
bisikan demi bisikan yang terlontar dari mulut Arjun mampu membuat Akira melayang, terbang ke hingga awang-awang.
Menambah sensasi aneh dalam dirinya.
Rasanya tubuh Akira ingin sekali meledak seperti sebuah gunung berapi yang siap memuntahkan lava.
"Sayang..."
"Yes Baby..." ucap Arjun. Dari mimik wajah istrinya, Arjun tau kalau Akira benar-benar sudah di ambang pertahannya. Itulah sebabnya Arjun mempercepat gerakannya untuk mencapai puncak bersama-sama.
Di menit berikutnya, Arjun ambruk di sebelah Akira. Dadanya naik turun berlomba-lomba meraup oksigen yang entah kenapa terasa terbatas.
Mata mereka sama-sama tertuju pada langit-langit kamar yang tertempel banyak sekali bintang.
Jika saat malam tiba, bintang-bintang itu akan menyala menciptakan cahayanya sendiri. Menambah kesan indah bagi siapa saja yang melihatnya.
Kedua orang yang terbalut selimut tebal membungkus tubuhnya masih sama dengan orang yang terlibat pertengkaran sekitar 1 jam yang lalu. Mereka juga yang adu argumen hingga berakhir di ranjang.
Mungkin salah satu penyelesaian dari masalah suami istri memang seperti itu. Terselesaikan di atas ranjang mereka.
"Bayar dua kali lipat setelah ini," ucap Akira entah apa maksudnya, tapi yang jelas gadis itu ingin harga yang jauh lebih mahal dari siapapun.
"Kamu kan sudah memiliki kartu kredit tanpa batas,"
"Kurang lah... aku mau Cash,"
Arjun berdecak, dan tertawa.
Istrimu berubah matre sekarang... batinnya hanya sebuah gurauan saja.
"Ayo mandi..." ajak Arjun saat di rasa energinya telah kembali.
Tubuhnya yang berkeringat dan lengket benar-benar membuatnya tak nyaman.
"Sebentar..." jawab Akira. Karena selalu saja seperti itu saat dirinya selesai menjalankan tugas sebagai seorang istri.
__ADS_1
Akira merasa mengantuk di tambah dengan tubuhnya yang benar-benar capek. Tulangnya seperti di loloskan begitu saja.
"Ayah akan segera pulang nanti...",
Jika berada di rumah Pradipta, mungkin tidak akan ada yang berani mengganggu mereka walaupun tidak keluar kamar sampai siang pun.
Tapi kali ini beda, mereka di rumah Ayah dan tentu saja harus waspada mungkin saja Ayah akan datang tiba-tiba. Apalagi Arjun dan Akira memang sedang bertengkar tadi.
"Energi ku belum sepenuh nya kembali..." rengek Akira.
"Biar ku gendong...", dan Arjun langsung bersiap untuk menggendong istrinya tanpa meminta persetujuan lebih dulu.
Di angkatnya tubuh mungil Akira menuju kamar mandi.
Dan pagi itu mereka membersihkan diri setelah olahraga pagi yang benar-benar menguras tenaga.
"Sayang...", panggil Akira pada Arjun yang tengah berdiri di sampingnya. Mengenakan pakaian santai miliknya yang memang sudah ada di kamar ini.
Karena Arjun dan Akira kerap mengunjungi rumah Ayah, jadi Arjun memutuskan untuk meninggalkan beberapa pakaiannya disini.
"Hm,"
Akira mengeringkan rambutnya dengan Hairdryer, "Aku...".
"Katakan yang jelas, apa kamu masih ragu kepadamu?" tanya Arjun. Padahal ia sudah menjelaskan semuanya. Menjelaskan kejadian yang lalu saat hubungan mereka bum seperti sekarang ini.
Karena Arjun tidak lagi berpetualang dengan banyak wanita di luaran sana. Sekarang Ia hanya berkomitmen pada satu wanita, yaitu Akira.
Apapun yang akan terjadi nanti, Arjun tidak akan meninggalkan gadis itu.
"Apa Lea sudah bertemu dengan Galih? bagaimana reaksinya?" tanya Akira. Karena tadi Arjun sempat menceritakan semua yang terjadi kemarin.
Bagaimana Lea, wanita yang menitipkan dasi kepada Dean adalah wanita adi masa lalu Galih.
Arjun juga cerita tentang bagaimana Galih melalui masa-masa sulit dalam hidupnya beberapa tahun belakangan.
Bagaimana Galih bisa terlepas dari jeratan obat-obat terlarang, Arjun menceritakan semua itu semua.
"Apa harus seperti itu?" bukan berarti Akira berpihak pada Alya, tapi bukankah seseorang berhak menerima kesempatan kedua? sama seperti dirinya yang dulu juga pernah selingkuh di belakang Arjun.
Arjun memberi kesempatan kedua bagi Akira.
Apa hanya aku yang beruntung?
"Kesempatan kedua? dengan memberi kesempatan bagi wanita itu untuk kembali menyakiti hati Galih lagi?" tanya Arjun.
Sebagai sahabatnya, Arjun tak terima kalau Galih sampai terluka kembali. Bukankah dunia memberikannya banyak pilihan dalam hidup?
Ada banyak wanita di luaran sana yang bahkan lebih baik dari Alya.
Jadi buat apa kembali pada satu gadis yang tidak tau apakah bisa berubah atau tidak.
Menyakitkan memang, tapi semua orang punya sisi buruk tersendiri dalam hidup.
Dan sisi buruk Galih adalah tak lagi menerima seseorang yang pernah menyakitinya.
"Galih sudah terlalu banyak menderita... dengan melepaskan Alya adalah benar. Galih berhak untuk bahagia..." tambah Arjun.
Terkadang aku berharap dia segera menemukan wanita yang mampu menyembuhkan luka di hatinya... wanita yang dengan tulus menerima kekurangannya...
"Ya.. dia berhak bahagia...", jawab Akira setuju dengan ucapan Arjun tadi.
Karena Tuhan pasti merencanakan sesuatu yang sangat indah di hidup hambanya.
Termasuk Galih.
"Satu lagi sayang..." ucap Akira. Tapi kali ini sedikit ragu apakah harus mengatakannya atau tidak.
"Hm,"
__ADS_1
Arjun duduk di tepi ranjang menunggu apa yang akan di katakan istrinya.
"Untuk Dean... em... itu...",
"Kamu ingin berkata jangan menyakitinya?" selidik Arjun. Menatap bayangan Akira dari cermin di depan sana.
Ada satu nama lagi yang terlibat dalam masalah ini. Dean...
"Aku... -"
Jantung Akira kembali berdetak tak karuan. Kejadian dulu kembali memenuhi kepalanya. Saat dimana Dean menemuinya dengan wajah yang sedikit bengkak dan kebiruan. Semua itu karena ulah Arjun yang telah memberi sedikit pelajaran karena Dean menjalin hubungan dengan istrinya.
Tapi kasus kali ini sangat beda. Dean bersekongkol dengan Alya untuk membuat hubungan Akira dan Arjun berantakan.
Dan mungkin hal ini lebih parah dari sebelumnya bagi Arjun.
"Jika benar terjadi pertengkaran yang hebat antara kita, mungkin aku benar-benar menghajarnya... tapi seperti nya tidak, karena hubungan kita baik-baik saja..." ucap Arjun dan langsung membuat Akira menatapnya dengan tatapan haru.
Entah terbuat dari apa hati suaminya itu. Dengan mudahnya memaafkan orang lain tanpa berpikir dua kali.
Terkadang Arjun seperti pria yang menyebalkan bagi Akira, tapi di lain waktu Arjun seperti malaikat.
"Nanti sore kita pulang kan?" tanya Arjun.
Karena permasalahan sudah selesai, jadi mereka bisa pulang ke rumah Pradipta.
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa cuti bekerja setiap hari...", benar, walaupun seorang pemimpin Arjun tidak bisa seenaknya sendiri.
"Oke," jawab Akira.
Ia tidak bisa egois hanya kerena ingin bersama dengan orangtuanya lebih lama.
Karena suaminya juga bertanggung jawab memimpin perusahaan besar seperti Pradipta Group.
"Sayang, kamu masih meminumnya kan?" tanya Arjun. Entah kenapa tiba-tiba ada satu hal yang teringat dalam kepalanya.
"Biasanya iya, tapi semalam tidak..." jawab Akira tanpa dosa.
"Apa?" Arjun yang malah terkejut sendiri.
Dia tidak minum pil kontrasepsi semalam? dan hari ini?
"Sayang... kamu yakin?" tanya Arjun lagi.
"Kenapa?"
"Sepertinya kita akan segera memiliki seorang bayi..." jawab Arjun dengan senyum aneh yang mengukir bibirnya.
"Apa?" Akira yang duduk di depan meja rias langsung berdiri dengan mulut terbuka.
"Tidak... ini tidak boleh terjadi... Kamu sih!" marahnya pada sang suami.
Akira belum siap menjadi seorang ibu.
"Kenapa aku? aku kan tidak tau... lah kenapa kamu tidak meminumnya semalam dan hari ini?" tanya Arjun.
Tidak mungkin kan Arjun yang harus mengingatkannya setiap saat.
"Kita kan bertengkar kemarin, mana sempat aku pulang kesini membawa pil penunda kehamilan?" jawab Akira sewot.
Yang ada ia hanya ingin pulang ke rumah Ayah dan menghindari Arjun. Mana mungkin Akira sampai kepikiran untuk membawa obat penunda kehamilan yang selalu di minumnya setiap hari.
Dan lagi, insiden padi tadi tidak di rencanakan bukan?
Akira juga lupa tentang hal itu. Kalau ia ingat, ia tak mau di sentuh oleh suaminya.
***
__ADS_1
Lah, Akira lupa minum pil pencegah kehamilan...