
HAPPY READING...
***
Jam makan siang telah tiba. untuk pertama kalinya setelah sekian lama, akhirnya makan siang kali ini terasa berbeda. karena ada Arjun, Akira, Dion dan Gadis juga dengan Galih. menikmati makan siang di salah satu Restoran yang dekat dengan Pradipta Group.
Mungkin ini adalah makan siang pertama setelah Dion dan Arjun sama-sama menikah.
sekarang, sulit sekali mencari waktu yang pas untuk sekedar duduk dan makan siang bersama seperti ini. apalagi Dion yang memang tidak tinggal di Ibukota, membuat pertemuan sahabat terasa begitu spesial.
"Kurang Tiara saja ya..." ucap Akira di sela-sela makan siangnya.
"Iya... kurang lengkap kalau tidak ada Tiara..." tambah Gadis.
"Dimana dia? kenapa tidak ikut?" tanya Akira. padahal yang menyetir mobil adalah Galih, jadi akan ada alasan untuk Tiara ikut bersama bukan? tapi nyatanya wanita itu tak ikut. entah sedang apa dia sekarang.
"Tadi rencananya kan ke rumah Lo... jadi Tiara tidak mau ikut..." jawab Galih. karena makan siang seperti ini tidak pernah terencana sama sekali.
"Benar juga..." jawab Dion.
Tapi lebih dari yang semua orang bayangkan, Galih sempat mengirim pesan kepada Tiara. tapi sepertinya ponsel Tiara tidak aktif hingga pesan yang Galih kirim belum terbaca sama sekali.
"Maaf ya mbak kemarin gue tidak bisa menyambut kedatangan mbak Gadis..." ucap Akira meminta maaf. karena kemarin dia dan Arjun pergi untuk suatu keperluan. bahkan Akira tidak tau kalau Gadis sampai berkunjung ke rumah Pradipta juga.
"Agghh... tidak apa-apa..." jawab Gadis. kemarin ia senang karena mengobrol banyak hal bersama Ibu mertuanya juga Mami Livia. bukan hanya dirinya saja, Cello juga menikmati waktu bermainnya dengan Starla bahkan hingga ingin bermain lagi seperti sekarang.
untung saja mereka di Ibukota, bagaimana kalau Cello sudah pulang ke kota dimana mereka tinggal tapi ingin bermain dengan Starla? merepotkan bukan? tidak mungkin kan kalau Dion harus pergi ke Ibukota dulu untuk mewujudkan permintaan putranya.
ya, walaupun Dion mampu mengabulkan hal sesederhana itu demi putranya. karena kebahagiaan Cello adalah prioritas bagi Dion.
Mereka sama-sama menatap Cello dan Starla yang asik bermain ditemani oleh 2 pengasuh Starla di rumah balon yang memang disediakan oleh Restoran tersebut.
"Gue harap, Cello bisa membantu Starla kelak..." harap Arjun terdengar sangat mengharapkan hal itu walaupun ia belum sepenuhnya bicara dengan Dion. karena Starla akan mampu memimpin perusahaan dengan bantuan orang-orang yang terpercaya. salah satunya adalah anak dari sahabat-sahabat Arjun. karena Dion maupun Galih adalah orang yang Arjun percayai selain orang tuanya.
"Tidak..." jawab Dion yakin. membuat yang lainnya mulai menatap Dion dengan rasa penasaran.
"Cello tidak akan gue biarkan terjun untuk urusan bisnis..." tambah Dion. karena dunia bisnis mampu mengubah seseorang menjadi tamak dan menakutkan. sama seperti Papanya.
Tanpa bisa mengelak, dalam darah Cello juga ada darah sang Papa. Dion hanya takut, Cello terlalu berambisi untuk menaklukkan dunia di bawah kendalinya. termasuk menghalalkan segala cara demi tercapainya keinginannya sama seperti sang kakek.
"Dia akan besar dan meneruskan usahanya... gue tidak mau Cello tinggal di Ibukota Jun..." ucap Dion. sedangkan Gadis sedikit tersentuh dengan ucapan suaminya. tak menyangka kalau Dion yang terkadang konyol dan jenaka, tanpa Gadis sadari pria itu justru memikirkan jauh untuk masa depan putra mereka.
"Lo tidak mau mempertemukannya dengan bokap lo?" tanya Arjun.
"Kenapa?" Dion justru menjawab pertanyaan Arjun dengan sebuah pertanyaan juga.
__ADS_1
Pandangannya kembali menatap ke arah Cello yang cukup jauh dari tempatnya duduk.
"Kenapa Cello harus bertemu dengannya?". Dion menghela nafas, "Cello memiliki banyak cinta dari semua orang, dariku dari Gadis, dari Mama juga dari kakek dan neneknya di desa... Cello tidak kekurangan cinta sedikit pun Jun... dia tak kesepian sepertiku... dia lebih beruntung dariku,".
Bahkan Cello justru terlihat sebagai anak yang sangat beruntung. kedua orang tua Gadis sangat memanjakannya dan mendidik Cello dengan sangat baik. jadi tak ada ruginya kalaupun Cello tidak bertemu dengan Papanya Dion.
"Dia kesepian..." ucap Arjun. bukan Cello yang Arjun maksudkan, tapi Papanya Dion. Papanya Dion masih sering datang ke Pradipta Group bersama dengan Rega, tapi terlihat jelas sekali kalau pria paruh baya itu merasa kesepian. seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya. mungkin karena kepergian Mama dan juga Dion sendiri.
"Bokap lo bahkan terlihat semakin kurus..." tambahnya.
Tapi bukan Dion kalau sampai luluh begitu saja, dari wajahnya pria itu terlihat tak bergeming sama sekali dengan ucapan Arjun. bahkan terlihat acuh tak acuh seperti kabar Papa bukanlah kabar yang penting baginya. mungkin inilah definisi sebuah rasa kekecewaan yang sudah terlanjur dalam. apapun yang dulu pernah menjadi penting, sekarang tak lagi bukan hal yang penting lagi.
"Sudahlah, jangan merusak suasana makan kita..." tolak Dion pada akhirnya. membuat semua orang langsung terdiam dan tak lagi membahas apapun selain melanjutkan makan siang mereka.
***
Sore itu Tiara sampai di Apartemen tempat tinggalnya dengan sebuah taxi. tubuhnya yang tadi sempat basah kuyup, mulai perlahan mengering karena waktu.
Sepanjang waktu, Tiara hanya berpikir apa yang akan ia lakukan setelah ini.
"Batalkan pernikahan lo atau gue akan datang dengan kado yang mungkin membuat semua orang terkejut...".
Ucapan Andre kembali terngiang dalam telinga. membuat Tiara semakin bingung dan kepalanya serasa hampir pecah. sungguh untuk ini, Tiara seperti tak punya kekuatan untuk menyelesaikan masalahnya.
Setelah mandi dan berendam cukup lama, Tiara kembali memiliki opsi pilihan lagi. Gue akan bicara dengannya... batin Tiara.
sebaiknya memang ia harus berbicara dengan Galih tentang semuanya. tentang keadaan dirinya yang telah kehilangan mahkota yang seharusnya Tiara jaga sampai hari pernikahan.
bahkan sebrengs*knya Galih, pria itu tak berkeinginan untuk melakukan hubungan badan dengan Tiara selama ini. walaupun terkadang Galih sering lupa diri jika tidak Tiara cegah.
Bersamaan dengan membuka pintu kamar, Galih juga baru saja tiba. "Gal... gue ingin bicara...".
"Bicara? baiklah... tapi nanti setelah gue mandi ya..." jawab Galih sambil mencium singkat pipi Tiara dan bergegas masuk ke dalam kamar.
dan kesempatan untuk Tiara bicara dengannya kembali tertunda lagi.
Sambil menunggu Galih mandi, Tiara berjalan bolak balik di depan pintu kamar Galih. tangannya terasa dingin dengan detak jantung yang berpacu sangat cepat. gugup dan juga khawatir membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya nanti. kemungkinan paling mungkin adalah, Galih akan marah dan membatalkan pernikahannya. atau mungkin membenci Tiara seumur hidupnya.
"Jadi, mau bicara apa?" tanya Galih. membuka pintu kamarnya dan menampilkan visualnya yang selalu mampu membuat semua mata yang memandangnya seperti mabuk kepayang.
apalagi kali ini, Galih sengaja bertel*njang dada dengan sedikit air sisa mandi yang masih menetes dari rambutnya yang basah.
Bukannya menjawab, Tiara justru tak membuang kesempatan untuk menatap pria itu lebih lama lagi. hingga tanpa sadar, Galih telah berjalan mendekatinya.
"Lo menyukainya?" goda Galih.
__ADS_1
Menarik kepala Tiara hingga terbenam seluruhnya di dada Galih. Aagghh... sial! umpat Tiara. Galih memang selalu punya cara untuk menggodanya. seperti sekarang ini, Tiara tanpa malu sedikitpun justru menikmati apa yang Galih suguhkan.
Wangi sabun yang menempel di dada Galih benar-benar membuat Tiara suka. mencium wangi itu berulang kali.
"Besok... semuanya adalah milikmu..." ucap Galih. seperti sebuah ucapan yang mampu menyadarkan Tiara tentang hal yang ingin ia katakan.
"Gal..." panggil Tiara.
"Jangan bicara! nikmati saja saat ini..." sela Galih tak membiarkan Tiara bicara sedikitpun.
***
Di unit Apartemen sebelah, Gadis dan Dion juga baru selesai mandi. beda dari biasanya, mandi kali ini terasa berbeda karena membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya. tentu saja karena Dion menginginkan hal itu. mandi bersama sang istri saat tak ada gangguan.
Jangan tanya dimana Cello! karena saat Dion memutuskan untuk berlama-lama di kamar mandi dengan Gadis, tentu saja Cello bersama Neneknya di kamar lain. mungkin juga sedang di tidurkan karena Cello tetaplah anak kecil yang selalu mengantuk saat lelah bermain.
"Sebenarnya yang ingin menikah Galih atau lo sih," protes Gadis. bahkan sampai mengeringkan rambutnya, Dion masih saja bergelayut manja di belakang Gadis.
"Kenapa? memangnya salah? kita bahkan sudah resmi sebagai suami istri..." protes Dion. membuka jubah mandi yang Gadis kenakan untuk mencium bahu istrinya berulang kali.
"Tapi Yon!" tolak Gadis lagi. membetulkan jubah mandinya yang hampir merosot.
"Anggap saja nostalgia pernikahan..." masih saja pria itu tak kehilangan kata-kata manis dadi mulutnya. seperti keahliannya dulu ketika masih melajang. tentu banyak yang tau kalau Dion adalah pria bermulut manis yang hanya dengan ucapan yang terlontar mampu menggetarkan banyak hati.
"Tapi gue lelah... bahkan belum makam malam..." protes Gadis.
jangankan perutnya, jemari tangannya saja terlihat keriput karena terlalu lama di dalam kamar mandi. semuanya gara-gara Dion.
"Ssstt... jangan menolak permintaan suami mu..." lanjut Dion.
"Bagaimana kalau nanti saja setelah makan malam...?" ucap Gadis mencari jalan tengah atas perbedaan pendapat diantara mereka.
"Janji?".
"Tentu saja..." jawab Gadis.
"Baiklah, kali ini gue akan melepaskan lo... tapi tidak untuk nanti... dan biarkan Cello tidur dengan Mama... mengerti?" ucap Dion terdengar seperti sebuah titah yang harus Gadis taati.
"Ck... licik..." jawab Gadis. bersamanya dengan itu, Dion memang meninggalkannya untuk berganti pakaian. tapi dengan senyum kemenangan yang mengukir jelas menghiasi wajahnya.
***
Hampir Ending Yak... silahkan kalau mau kasih hadiah dan Votenya... karena mungkin gak sampai senin depan...
semoga syuka dan tengkyu...
__ADS_1