Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
86. Gunakan tanganku.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Mencintai benar-benar mengubah kita menjadi seseorang yang bodoh... dan kini berlaku padaku... Arjun Pradipta.


---


Ini adalah hari kedua Akira bermain dengan guling sebagai pasien pertamanya. Entah sudah keberapa kalinya gadis itu mengikat, menyuntik dan berbicara dengan benda tersebut.


Mungkin jika guling tersebut adalah manusia asli, mereka tentu saja akan menjerit kesakitan kerena tusukan jarum Akira yang berulang-ulang kali.


Memang benar apa yang di katakan Arjun tempo hari, Akira harus belajar menyuntik apapun sebelum berlatih dengan orang.


Toh pada kenyataan memang gadis itu belum sepenuhnya ahli.


"Jangan khawatir... ini tidak akan sakit kok..." ucap Akira menenangkan guling sambil mengikat Tourniquet dan mengencangkannya.


"Kepalkan telapak tangan anda seperti ini," Akira memberi contoh untuk mengepalkan tangan beberapa kali.


Hal itu di lakukan bertujuan agar pembuluh Vena pada siku pasien benar-benar terlihat.


Senyum gadis itu selalu terukir jelas walaupun ini hanyalah bagian dari percobaannya. Tapi terlihat kalau Akira sama sekali tidak bercanda dalam melakukannya seperti berhadapan dengan seseorang.


Akira membuka kembali jarum suntik nya. Sedikit menundukkan pandangannya mendekati guling dan bersiap untuk memasukkan jarum tersebut pada permukaan guling. Aku bisa... aku bisa... Akira menyemangati dirinya sendiri.


Dan setelah jarum itu tertusuk, beberapa saat kemudian Akira melepaskan ikatan Tourniquet perlahan sesuai dengan yang pelajaran yang di berikan di kampus.


"Selesai..." ucapnya dengan riang gembira.


Karena Akira berlatih menggunakan guling, tentu saja tidak ada setetes darah pun yang keluar sebagai bentuk kesuksesannya dalam menyuntik. Beda lagi kalau saat ini Akira praktek dengan orang asli, darah dari pasien sangat menentukan keberhasilannya.


Saat Akira merapikan semuanya, Arjun yang baru saja pulang bekerja tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Dia berlatih lagi? batin pria itu tak percaya.


"Aku pulang..." ucap Arjun hingga membuat Akira langsung menengok ke arah ambang pintu. Seketika senyum manis terukir jelas melengkung di bibir menyambut kedatangan sang suami.


Melihat keteguhannya, aku jadi tak enak...


Tanpa terduga sama sekali setelah Arjun melempar tas kerja dan jasnya, pria itu berjalan mendekati Akira. Mencium singkat pipi gadis itu dengan penuh kasih sayang.


"Kenapa baru pulang?" tanya Akira. Sekarang sudah jam 8 malam dan suaminya baru pulang padahal sudah lewat jam makan malam.


Akira tadi malam malam bersama dengan Mami Livia dan juga Papi Johan.


"Ada janji bertemu dengan klien sambil makan malam..." jawab Arjun menjelaskan.


"Oh...",


Arjun melepaskan sepatunya menggulung kemejanya sampai ke siku dan duduk tepat menghadap istrinya, "Nih...", Arjun menyodorkan tangannya dengan suka rela.


"Untuk?" tanya Akira kebingungan. Untuk apa Arjun menyodorkan tangannya? begitu pikir Akira saat ini.


"Apa lagi? gunakan tanganku untuk praktek..." jawab Arjun dengan entengnya.


Akira yang tadi kebingungan, sekarang semakin tak percaya dengan mata yang membulat sempurna. Apa dia bilang? menggunakan tangannya untuk praktek?


"Kalau tidak mau ya sudah..." Arjun hendak menurunkan kembali lengan kemejanya, tapi segera di cegah Akira.


"Aku mau.. aku mau..." jawab Akira dengan antusias. Mana bisa ia menolak kesempatan yang di berikan Arjun padanya.


Walaupun cukup gugup dan takut, tapi Arjun tetap tidak mengurungkan niatnya untuk membantu sang istri.

__ADS_1


Sekarang yang dilakukan Akira adalah duduk tepat di depan Arjun sambil menggenggam tangan pria itu.


"Cari pembuluh baliknya atau biasa disebut dengan pembuluh Vena," ucap Arjun ikut menjelaskan apa yang ia ketahui kepada Akira.


"Ini kan?" tanya Akira sambil meraba siku Arjun bagian dalam. Disana lah tempat yang paling terlihat untuk praktek seperti ini.


"Itu Arteri atau pembuluh nadi, kamu mau suamimu meninggal?" sindir Arjun hingga membuat Akira mengerucutkan bibirnya. Bahkan belajar dengan Arjun malah lebih menakutkan dibandingkan dengan dosen di kampus.


"Perhatikan betul-betul..." Arjun mulai membantu Akira mencari pembuluh Vena di lengannya sendiri.


"Pengambilan darah sering memakai pembuluh Vena karena alasan apa?" tanya Arjun kepada istrinya. Karena semua itu ada alasannya.


"Karena... karena..." tentu saja Akira pernah mendengar hal itu dari dosen yang mengajar.


"Bahkan begitu saja tidak ingat," semprot Arjun.


Padahal itu adalah dasar terpenting yang harus seorang perawat ketahui.


"Karena pembuluh Vena lebih tipis dibandingkan dengan pembuluh lainnya, juga... letaknya dekat dengan permukaan kulit jadi sangat mudah untuk pengambilan darah..." jawab Akira sambil menatap Arjun sebal.


"Betul, pintar sekali istriku..." Arjun mencium singkat pipi istrinya.


"Ihh..." protes Akira walaupun dalam hatinya sangat senang di perlakukan Arjun seperti itu.


"Kenapa? itu hadiah dariku..." jawab Arjun dengan seenaknya sendiri.


"Ck," sedangkan Akira hanya berdecak.


Sisi Arjun ynag menyebalkan ternyata masih terlihat sampai sekarang. Bahkan pria itu jauh lebih seenaknya sendiri sekarang di banding dulu.


"Ayo mulai!"


"Iya-iya..." Akira kembali meraba lengan suaminya. Kali ini dengan sangat hati-hati.


"Ini kan?"


"Hm,"


Setelahnya mengambil Tourniquet dan mengikatnya tepat di atas siku suaminya.


"Kurang naik sayang..." protes Arjun.


"Oh, maaf..."


"Ikat di jarak 5-10 cm di atas lokasi suntikan..." perintah Arjun. Sedangkan Akira tak bersuara tapi tetap memperhatikan apa yang Arjun katakan.


Tidak hanya di situ saja kesalahan Akira. Bahkan ia beberapa kali kena marah Arjun karena tidak mengikat lengannya dengan kencang.


"Sayang, tanganmu kenapa dingin?" tanya Akira khawatir. Bahkan terasa sangat jelas kalau tangan Arjun berubah dingin dan memucat.


"Grogi juga mempengaruhi pembuluh Venanya tersembunyi..." protes Akira.


"Lepaskan dulu..." perintah Arjun. Dan tentu saja Akira melepaskan ikatan Tourniquet di lengan suaminya.


"Beri aku ciuman agar tidak grogi..." pinta pria itu. Sedangkan Akira langsung mengerutkan keningnya.


Apa-apa dia itu? kalau pasien beneran, mana ada yang meminta seperti itu?


Tapi karena pasien kali ini adalah orang spesial, tentu saja Akira setuju.


Lagian ia juga sedikit gugup karena menggunakan tangan Arjun sebagai prakteknya.

__ADS_1


"Sudah..." Akira mendorong bahu suaminya karena Arjun seperti tak berniat untuk melepaskan ciumannya tadi.


"Ck, pelit sekali..." protes Arjun.


Arjun dan Arjun kembali melanjutkan pelajarannya. Akira kembali mengikat tangan Arjun mengoles alkohol dan kembali mencari pembulun Vena di tangan Arjun.


Walaupun Arjun terlihat tenang dan diam saja, tapi sungguh di dalam hati ada sebuah ketakutan yang begitu besar. Perut Arjun tiba-tiba terasa mulas karena rasa khawatirnya yang begitu hebat.


Detak jantungnya seperti berpacu saat Akira hendak menusukkan jarum suntik di lengannya.


Ya Tuhan... aku ingin pingsan... Aagghh... benar-benar menakutkan...


"Jangan khawatir, tidak akan sakit kok..." Akira dengan menajamkan mata mulai menusukkan jarum di lengan suaminya, sedangkan Arjun melengos karena rasa takutnya.


"Aawww..." sungguh rasanya sungguh menyakitkan.


"Ya! kenapa menusukkan seperti itu!" teriak Arjun marah.


Akira menusukkan jarum tanpa rasa bersalah sedikitpun. Apa dia lupa kalau korban prakteknya adalah manusia asli? selama ini ia belajar dengan guling, tentu saja tidak akan berteriak saat di suntik...


 ---


Arjun keluar dari ruang ganti baju setelah selesai membersihkan diri. Mengenakan piyama lengan pendek sambil cemberut melihat bekas kebiruan di tangannya.


Semua itu adalah karena ulah Akira yang menggunakan tangannya sebagai bahan praktek.


"Aawww..." keluh pria itu tanpa henti.


Sedangkan Akira selain merasa bersalah gadis itu juga cemberut karena percobaannya gagal. Padahal Akira sudah 2 kali mencobanya tadi, tapi tak juga mampu membuat darah suaminya keluar dari sana.


"Aku tidak mau lagi menawarkan tangan satu ku..." ucap Arjun. Menyesal? tentu saja.


Entah kenapa tadi dengan bodohnya Arjun menyerahkan tangannya kepada sang istri dan sekarang rasa menyesal itu melingkupi hatinya.


"Maaf," ucap Akira.


Memang mau berkata apalagi selain meminta maaf.


Mereka telah bersiap tidur, merebahkan tubuh yang seharian penuh lelah karena bekerja.


Arjun juga langsung memeluk tubuh istrinya sama seperti sebelum-sebelumnya.


"Sini menghadapku..." perintah Arjun karena istrinya tidur dengan posisi memunggungi dirinya.


Tanpa banyak bicara, Akira langsung mengubah posisi tidurnya tanpa melihat wajah Arjun.


Arjun masih mengamati wajah istrinya yang sedang terpejam. Gadis ini yang dulu tidak aku cintai... gadis ini juga yang selalu berteriak ketika berbicara denganku... tapi mulai sekarang, aku yakin... aku dan dia akan terus bersama...


"Sayang..." panggil Arjun.


"Hm," ternyata Akira belum benar-benar tidur. Ia hanya berusaha memejamkan mata sejak tadi.


"Mau aku bantu agar praktekmu berhasil?"


"Apa?" tentu saja Akira tertarik dengan ucapan Arjun barusan.


"Bagaimana caranya?"


"Besok biar aku menjemputmu... dan akan memberitahu mu..." jawab Arjun dengan sangat yakin.


***

__ADS_1


Siapa disini yang takut di suntik? hehehe...


Aku juga sama


__ADS_2