Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
106. Jangan Menangis, Putriku.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Setelah makan Bakso bersama dengan Ayah dan Ibunya sore tadi, Akira tak lagi keluar dari dalam kamar. Di tempat inilah ia duduk. Di balkon kamar sambil menatap langit yang masih saja mengeluarkan air hujan.


Cuaca dingin bahkan tak membuat Akira terganggu sama sekali. Dalam kepalanya hanya ada satu hal yang mengganggu, Arjun.


Ya... hanya pria itu yang sedang memenuhi kepala Akira bahkan rasanya akan segera meledak saking tak kuatnya menahan.


Butiran air mata kembali jatuh melewati pipi putih gadis itu. Berlomba mengalir dengan air dari langit malam ini.


Apa yang harus aku lakukan? itulah pertanyaan yang sering kali ada dalam hati Akira.


"Arjun tidak mencintai mu Akira..." ucapan dari Dean juga beberapa kali terlintas di telinganya.


Benar-benar mengganggu kewarasan Akira.


Dulu Akira juga pernah merasakan patah hati. Tak lain adalah saat menjalin hubungan dengan Dean. Saat itu juga Akira menangis menyesali nasibnya yang terlihat buruk.


Tapi nyatanya saat ini jauh lebih menyiksa batinnya. Akira benar-benar kecewa dengan sikap Arjun.


"Bagaimana dia bisa tidur dengan wanita lain?" gumam Akira adegan gigi yang bergerutu.


Membayangkan Arjun bergumul dengan wanita lain, mencumbu wanita selain dirinya membuat Akira marah.


"Tidak..." ucap Akira sambil menggelengkan kepala mengusir bayangan Arjun.


Dan pada akhirnya di balik kedua kakinya inilah Akira kembali menangis. Memeluk kedua kakinya dengan erat untuk melampiaskan rasa sakit hatinya.


Akira kira hanya dirinya dan air hujan yang mampu melihat kekacauan yang terjadi, tapi nyatanya tidak.


Ada sepasang mata teduh yang berdiri di ambang pintu pembatas antara kamar dan Balkon. Melihat semua tangis Akira malam ini.


Dengan perlahan, sosok pria dengan tubuh tambun itu mendekati putri semata wayangnya.


Tangan pria itu yang gemetar mulai menyentuh pucuk kepala gadis yang sedang menangis sambil menenggelamkan wajahnya.


Membelai dengan sangat lembut hingga membuat Akira terkejut dan langsung menaikkan pandangannya.


"Ayah..." ucap Akira sambil menghapus jejak kesedihan di wajahnya agar tidak di ketahui oleh siapapun.


Sejak kapan Ayah datang? batin Akira bertanya-tanya.


Tanpa berkata apapun, Ayah Adam mendekati putrinya dan duduk tepat di sebelah Akira yang masih kosong.


"Apa karena ini anak Ayah datang walaupun sedang hujan lebat?" tanya pria itu membuka pembicaraan dengan Akira.


"Ayah... Akira...-"


Tentu saja Akira tak menyangka kalau Ayahnya ada di sini entah sejak kapan.


"Kamu tau... inilah yang Ayah takutkan selama ini," Ayah Adam mengamati wajah sendu dari putri semata wayangnya. Walaupun sudah tidak ada air mata disana, tapi seorang ayah akan selalu tau ada kesedihan yang di tutupi oleh putrinya.


"Ayah takut kamu pulang dengan air mata seperti ini,".


Hati orang tua mana yang tidak sedih melihat putrinya yang telah berkeluarga pulang dengan air mata seperti yang Akira bawa hari ini.


Ayah Adam juga demikian.


"Hiks..." Akira menangis. Toh percuma saja menyembunyikan air matanya karena Ayah Adam sudah tau sejak awal.


"Ayah..." isak tangis dari Akira semakin memilukan.


Membuat siapa saja yang mendengar juga ikut tersayat hatinya.


Sebagai seorang ayah, Ayah Adam tau apa yang harus di lakukan nya. Sejenak beliau hanya terdiam mendengar putrinya meluapkan rasa yang menyesak di dada.


Baru setelah Akira terlihat puas, Ayah Adam kembali bertanya, "Ada apa? kamu bertengkar dengan Arjun?" hanya itu pertanyaan yang paling cocok untuk Akira.


Karena Ayah sangat tau tentang keluarga Akira sekarang.

__ADS_1


Tidak mungkin Akira bertengkar dengan Mami Livia apalagi Papi Johan.


Hal yang paling masuk akal adalah Akira bertengkar dengan suaminya.


"Ayah..." hanya itu kata yang keluar dari mulut Akira. Ingin sekali ia mengadu kepada sang ayah kalau Arjun selingkuh, tapi semua kata itu seperti tercekat di tenggorokannya. Akira tak mampu berkata-kata.


"Tak apa jika putri Ayah masih belum bisa menceritakannya..." Ayah Adam berniat bangkit dari duduknya tapi,


"Ayah, Akira kecewa dengan Arjun..." Akira mencoba untuk membagi masalahnya dengan sang ayah.


Siapa lagi yang akan mendengar keluh kesahnya seperti ini selain pria itu, Akira tidak bisa berbicara dengan ibunya karena kondisi Ibu Arum yang sekarang.


"Arjun selingkuh Yah... Arjun selingkuh, hiks..." adu Akira.


Bertemu dan menghabiskan malam dengan wanita lain sama dengan selingkuh bukan? itulah yang terjadi saat ini.


Ayah Adam sangat syok dengan perkataan putrinya. Selingkuh?


Sedangkan Akira masih menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Kenapa dia tega melakukan ini padaku Yah? kenapa Arjun sangat jahat? huhuhu...",


Ayah Adam benar-benar sedih melihat keadaan Akira. Apalagi mengetahui apa yang di katakan putri nya tersebut, sangat menghancurkan hati dan juga kepercayaannya terhadap Keluarga Pradipta.


"Arjun selingkuh Yah... dia tidur dengan wanita lain tanpa sepengetahuan ku... Bagaimana nasibku bisa seburuk ini Yah... bagaimana?"


Ayah Adam langsung memeluk tubuh putrinya. Memeluk dengan erat untuk sedikit mengurangi sedih di hati Akira.


"Jangan menangis putriku... jangan menangis...", entah kenapa tangis dari putrinya itu membuat Ayah Adam tak berdaya.


Menyesal, hanya satu kata itu yang ada di dalam benak beliau.


Seandainya...


Hanya kata itu yang terulang beberapa kali. Seandainya saja tidak ada perjodohan Akira dan Arjun, mungkin tidak akan seperti sekarang.


Putri semata wayangnya tidak akan terluka oleh perbuatan suaminya.


Karena perselingkuhan adalah masalah yang besar dalam sebuah rumah tangga.


Karena perselingkuhan juga tak sedikit pasangan di luaran sana memutuskan untuk bercerai.


Karena Perselingkuhan pula banyak anak yang menjadi korban atas perbuatan yang tidak mereka lakukan sama sekali.


Ngeri memang, tapi itulah banyak terjadi bahkan di belahan bumi manapun.


"Apa yang harus Akira lakukan Ayah?" tanya Akira.


"Ayah akan bicara dengan Johan dulu... apa mereka juga tau akan hal ini?" tanya Ayah Adam. Sebagai orang tua, Ayah Adam tidak boleh bertindak gegabah dengan memutuskan apapun di pihaknya.


Toh sekarang Ayah Adam hanya mendengar dari sudut pandang putrinya saja, sedangkan Arjun tidak terlihat sama sekali hingga malam hari.


Setidaknya jika Akira dan Arjun bertengkar, tentu saja pria itu akan menemui putrinya di rumah ini.


"Jangan Ayah, kesehatan Papi sedang buruk... jangan beritahu mereka..." pinta Akira. Bahkan alasannya datang kesini karena Akira tak mau memperlihatkan kesedihannya kepada Papi dan Mami.


"Jangan beritahu mereka..." tambah Akira.


Masalah ini biarlah ia selesaikan dengan Arjun saja tanpa melibatkan orang tua mereka.


"Johan dan Livia belum tau?" tanya Ayah.


Tentu saja Akira menggelengkan kepalanya.


"Lalu dari mana kamu mengetahui Arjun selingkuh?" selidik Ayah. Bagaimana putrinya tau kalau Arjun sudah bermain hati dengan wanita lain?


"Seseorang memberitahu ku Ayah...",


Ayah Adam sedikit terkejut dengan apa yang baru saja Akira katakan. Dari seseorang dan putriku langsung percaya?


"Dia memberitahuku kalau Arjun telah menghabiskan malam dengan seorang wanita, bahkan dia juga memberiku bukti... lihatlah Ayah, ini dasi milik Arjun. Lihatlah inisial huruf ini, Akira ingat kalau ini adalah salah satu dasi yang sering Arjun kenakan setiap bekerja..." ucap Akira menjelaskan. Tapi beda lagi bagi Ayah, entah kenapa hatinya bicara kalau hal ini hanya salah paham biasa.

__ADS_1


Pasti ada salah paham yang terjadi antara anak dan menantunya.


"Jadi kamu kesini tanpa memberitahu Arjun?" tanya Ayah penasaran.


"Tidak, untuk apa aku bilang padanya..." jawab Akira kesal. Apa gunanya ia meminta ijin kepada Arjun sedangkan pria itu juga sedang tidak ada di rumah sekarang.


Arjun bilang ada urusan penting yang mungkin saja membuatnya pulang hingga larut malam.


Mungkin dia sedang bertemu dengan wanita itu sekarang... batin Akira sedih.


***


Arjun, Galih dan Dion berada di salah satu ruangan yang ada di Club malam.


"Ini kunci cadangan untuk masuk Apartemen ku... password nya tanggal lahir ku," ucap Arjun menyerahkan sebuah kunci kepada Dion.


"Kabari kalau Lo sudah sampai," ucap Dion.


Sedangkan Arjun langsung mengangguk setuju.


Setelah itu Dion dan Galih pergi lebih dulu, meninggalkan Arjun seorang diri.


Aggghh... gue sedikit sebal menjadi umpan seperti ini... keluh Arjun, tapi mau bagaimana lagi. Hanya ini cara yang bisa menarik mangsa mereka.


Tak berapa lama, seorang wanita datang menemui Arjun.


Wanita bergaun hitam dengan rambut panjang tergerai langsung menampakkan senyum terindah dan berjalan mendekati Arjun.


"Sudah lama menunggu?" tanya wanita itu dengan nada bicara yang halus dan menggoda.


"Tidak rugi menunggu lama untuk bisa dari secantik dirimu..." ucap Arjun.


Ck... lama tidak menggoda seseorang, lidahku seperti kaku...


Bagaimana bisa Arjun menggoda wanita lagi, toh di rumah ia selalu di tunggu oleh bidadari kesayangannya.


Bidadari yang selalu terlihat semakin cantik setiap hari.


"Ah, bisa saja...",


"Pergi sekarang?" tanya wanita yang tak lain adalah Lea.


"Kenapa buru-buru? lihatlah minuman ku masih utuh..." jawab Arjun.


Memang pada kenyataannya, botol minuman di depan Arjun memang masih utuh.


"Baiklah..." jawab Lea mengalah.


Padahal sebenarnya ada alasan lain Arjun menahan Lea berada di tempat ini sedikit lebih lama.


Setidaknya sampai Dion mengirim pesan padanya.


Lea yang bertugas menuang minuman keras di gelas mereka.


"Jangan terlalu banyak... gue nyetir sendiri..." tolak Arjun.


Setidaknya biar kesadaran masih mendominasi kepalanya hingga Arjun tidak sampai kehilangan kontrol nantinya.


Arjun terus mengamati sosok wanita di sampingnya, kembali teringat dengan apa yang di katakan Galih beberapa jam yang lalu.


"Arjun, Alya memiliki tato mawar yang belum mekar di leher bagian belakang nya..."


"Alea, kemari lah..." pinta Arjun. Ia ingin gadis itu mendekat ke arahnya.


***


Bagaimana rencana yang dibuat Dion untuk membuka kedok Alea?


Sabar ya gais... Kita ketemu lagi besok...


Jangan Lupa Like, Komentar dan Hadiahnya...

__ADS_1


Love Kalian...


__ADS_2