Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
140. Hamil?


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Satu Bulan Kemudian.


Kondisi Arjun benar-benar bisa di bilang tidak baik.


Hampir satu bulan lamanya, kesehatannya terlihat tidak baik-baik saja. Mual menjadi satu-satunya penyebab semua itu.


Papi Johan telah menemui berbagai Dokter di Tanah air, semuanya nihil.


Semua dokter bilang tidak ada hal buruk yang terjadi pada tubuh Arjun.


Semuanya sangat sehat dan normal seperti orang sehat pada umumnya.


Bahkan Arjun juga telah bolak-balik ke Singapura untuk mengetahui penyakit apa yang menggerogoti tubuhnya sampai sekarang, tapi semua juga percuma.


Bahkan yang membuat Arjun semakin mual adalah ia harus mengonsumsi obat yang entah untuk menyembuhkan penyakit apa, karena semuanya seperti tidak ada gunanya.


Mengalami mual sebulan lamanya, tubuh pria itu terlihat kurus. Rahang kokoh yang bisa menyihir siapa saja yang memandang terlihat semakin tirus.


"Sayang, makanlah sedikit..." bujuk Akira yang duduk di tepi ranjang sambil membawa semangkuk sup ayam dan nasi untuk suaminya.


Perut Arjun belum terisi apapun sejak pagi, jadi akan sangat berbahaya nanti.


Setidaknya Arjun harus mengisi perutnya dengan makanan.


Sup ayam yang hangat serta berkuah tentu saja sangat cocok untuk menghangatkan tubuhnya.


"Tidak sayang... aku mual melihat sayuran itu," jawab Arjun membuang muka dari Sup ayam dimana ada wortel dan kentang di dalamnya.


Sayuran itu membuat perut Arjun kembali bergejolak.


"Ambilkan aku anggur saja," pinta Arjun kepada pelayan yang tadi membawa sarapannya ke kamar.


"Baik Tuan muda," pelayan itu segera keluar dari kamar untuk mengambil buah permintaan Arjun.


"Baiklah kalau tidak mau makan, aku makan ya..." ucap Akira dengan tatapan tak henti-hentinya melihat ke pangkuannya.


"Kamu belum makan?" tanya Arjun.


Karena sudah sebulan ini, Arjun jarang sekali duduk dan makan bersama istrinya.


"Sudah... tapi aku masih lapar, hehehe" jawab Akira tanpa bersalah sama sekali.


Mungkin ada hal aneh yang benar-benar terjadi. Saat Arjun kehilangan selera makannya, justru hal itu berbanding terbalik dengan Akira.


Akira malah sering merasa lapar. Pernah suatu ketika saat malam hari dimana para penghuni rumah sudah bersiap tidur, Akira justru kelayapan di dapur untuk membuat makanan.


Dan tentu saja menikmatinya seorang diri.


Aku ingin selera makan ku kembali... batin Arjun iri melihat istrinya makan sup ayam yang seharusnya jadi miliknya dengan sangat lahap.


Masih dengan Arjun yang menatap istrinya, tiba-tiba Mami Livia datang membawa sekotak anggur yang dimintanya dari pelayan tadi.


Mami Livia memang akan menuju ke kamar Arjun ketika melihat pelayan membawa kotak anggur. Itulah sebabnya Mami Livia meminta anggur tersebut sekalian melihat Arjun.


"Apa masih mual sayang?" derap langkah kaki Mami menjadi satu-satunya suara di kamar tersebut. Membuat Akira menatap sumber suara dengan mulut penuh nasi dan sup yang barusan ia makan.


"Iya Mi," jawab Arjun terlihat lemas.


Mami Livia mendekati Arjun dan ikut duduk di samping Akira.

__ADS_1


Menyodorkan kotak Anggur ke putranya lalu memijit kaki Arjun dengan penuh kasih sayang.


Melihat anggur sekotak penuh, membuat Arjun menelan ludah nya beberapa kali. Membayangkan rasa manis anggur yang bercampur sedikit asam segar serta berair sangat menggiurkan.


Tanpa ragu sama sekali, Arjun memakan satu bulat buah tersebut. Dan sesuai ekspektasinya, buah segar itu seperti langsung pecah dalam mulutnya ketika di gigit.


Hanya buah-buahan lah yang membuat Arjun merasa berenergi. Karena makanan apapun yang di hidangkan, semuanya membuat perutnya bergejolak dan berakhir di kamar mandi.


"Kapan hasil tes kesehatanmu datang?" tanya Mami. Karena masih ada rangkaian tes yang telah di lakukan Arjun tapi masih menunggu laporan tersebut.


"Galih akan datang nanti Mi..." jawab Arjun.


Beberapa saat yang lalu, Galih sudah mengirim pesan bahwa nanti ia akan datang ke Rumah Pradipta bersama seorang dokter.


Mami Livia mengangguk paham. Sekarang yang jadi perhatiannya adalah wanita muda yang duduk di samping beliau.


Siapa lagi kalau bukan Akira, membuat Mami terheran-heran dan bertanya, "Sayang... bukankah kamu sudah makan tadi?",


Mami Livia dan Akira memang sarapan bersama beberapa saat yang lalu. Tapi saat ini, Akira kembali menikmati semangkuk sup ayam dengan sangat nikmat.


"Iya Mi... Arjun menolak sup ayam, jadi Akira makan... hehehe," jawab Akira dengan mengesampingkan rasa malunya.


Terserah Mami berpikiran apa tentangku... salah sendiri perutku lapar... hehehe...


"Kamu baik-baik saja kan sayang?" tanya Mami Livia khawatir.


Yang beliau khawatirkan adalah dimana Arjun tidak berselera untuk memakan apapun, sedangkan Akira malah sebaliknya.


"Akira baik kok Mi," jawab Akira. Sangat baik malahan...


Tepat pukul 10, Galih datang bersama seorang dokter. Berjalan beriringan menuju ke kamar Arjun.


"Selamat siang...",


Sedangkan Mami Livia terlihat tersenyum dan segera bangkit dari tempatnya duduk sejak tadi.


"Bagaimana kabar Nyonya Pradipta? sehat kan?" tanya Dokter itu kepada Mami. Dokter itu sangat mengenal keluarga ini.


"Sehat dok," jawab Mami Livia dengan ramah.


"Permisi Nona..." ucap Dokter itu kepada Akira dan mulai mendekati Arjun.


Membuat Akira sedikit bergeser tapi tetap menggenggam tangan suaminya.


"Apa masih mual Tuan Muda?" ucap Dokter sambil memasang alat pengukur tekanan darah di lengan Arjun.


"Masih dok, tapi tidak terlalu sering seperti dulu..." jawab Arjun.


Dokter itu hanya mengangguk, melepas alat pengukur tekanan darah dan berganti memeriksa detak jantung Arjun.


"Sebenarnya ini penyakit apa sih Dok?" tanya Mami Livia secara blak-blakan.


Sudah banyak cara ia tempuh untuk menyembuhkan Arjun, tapi nyatanya Arjun masih saja merasa mual tanpa sebab yang jelas.


"Begini Nyonya, saya telah membawa hasil pemeriksaan Tuan Muda," ucap sang Dokter.


Membuat Akira, Mami, Arjun dan Galih diam sambil memperhatikan dengan saksama.


"Semua hasil pemeriksaannya juga sangat normal. Tidak ada yang bermasalah..." ucap Dokter itu juga sedikit kebingungan dengan apa yang tengah terjadi pada Calon Presdir Pradipta Group tersebut.


"Saya sering mual ketika melihat nasi Dok," adu Arjun.


Akira juga setuju dengan apa yang dikatakan suaminya. Rasa mual itu tiba-tiba datang ketika melihat nasi apalagi saat nasi itu masih mengepul panas.

__ADS_1


"Anak dan menantu ku sangat aneh, Arjun kehilangan selera makannya... sedangkan Akira, terlihat sering lapar..." ucap Mami sebenarnya hanya sebuah gurauan saja.


Membuat Dokter itu tersenyum, tapi beda dengan Galih.


Pria itu seperti kehilangan kewarasannya hingga melontarkan sebuah kata, "Ck, mungkin Arjun ngidam Tante... hehehe",


Hingga pandangan semua orang tertuju pada Galih. Membuat pria itu gugup dan merasa bersalah, " Eh, maaf... saya keceplosan..." rapatnya sambil menutup mulut.


Hamil? batin Mami Livia tambah terkejut.


Si*lan! nih mulut kenapa tidak bisa diam sih... umpat Galih pada dirinya sendiri.


"Hamil?" beda lagi dengan tanggapan Akira. Sambil menyentuh perutnya Akira terlihat kebingungan. Hamil? kapan aku terakhir kali menstruasi ya?


"Sayang..." panggil Akira pada Arjun.


"Mungkin bulan lalu sayang..." jawab Arjun mengerti apa yang ada dalam kenapa istrinya saat ini.


"Jadi Akira belum datang bulan?" tanya Mami dengan nada sedikit keras hingga mengejutkan semua orang.


"Akira lupa Mi... tapi sepertinya belum," jawab Akira. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa lupa kapan terakhir ia datang bulan.


"Apa itu bisa menjadi penyebabnya Dok?" tanya Mami kepada Dokter.


Apakah ada kejadian seperti ini sebelumnya? dimana sang suami yang mengalami mual, muntah saat istrinya tengah hamil?


Karena saat Mami Livia hamil kedua kali, hanya beliau lah yang merasakan mual. Sedangkan Papi Johan tidak merasakan apapun.


Dokter itu juga tidak paham akan hal itu. Karena masalah hamil ada Dokter sendiri yang lebih paham.


"Maaf Nona, biar saya periksa..." ucap Dokter itu dan menyentuh pergelangan tangan Akira. Sesaat Dokter itu terlihat serius lalu membulatkan mata.


"Ada apa Dok?" ganti Akira ayang khawatir serta takut.


"Sebaiknya Nona pergi ke Dokter kandungan untuk memastikannya... sepertinya memang Nona tengah hamil saat ini..." jawab Dokter itu..


Membuat Mami Livia menutup mulutnya dengan telapak tangan karena saking terkejut.


Arjun juga melongo dengan jawaban Dokter. Sedangkan Galih, terlihat kebingungan.


Sulit sekali untuk mencerna kejadian saat ini.


"Sa-ya ha-mil?" tanya Akira dengan bibir bergetar.


Hamil? anaknya Arjun? kapan?


Antara bingung dan terkejut, Akira hanya bisa mematung dengan mata yang tidak berkedip sama sekali.


"Selamat sayang... selamat..." ucap Mami Livia langsung menghambur memeluk menantunya.


Arjun tersenyum menatap Galih, seperti tengah mengejek pria itu.


Lihatlah! sebentar lagi gue kaan menjadi ayah!


Galih juga tersenyum, tapi bukan karena kabar baik yang di terima keluarga ini. Melainkan pada dirinya sendiri, Gila! kenapa pemikiran ku sangat tepat sekali sih... ck, sepertinya gue memang genius! batin Galih sambil membusungkan dada.


Karena ucapannya tadi, semua orang mempercayai Akira tengah hamil.


***


Akira hamil gais... Komentar banyak-banyak... LovKalian...


HAPPY WEEKEND...

__ADS_1


__ADS_2