
HAPPY READING...
***
Tiara masih asyik berbincang-bincang dengan teman-temannya. membicarakan hal-hal kecil hingga membuat tawa mereka pecah begitu saja. apalagi dengan lelucon yang seringkali keluar dari mulut Joenatan, sungguh menggelikan.
"Hahaha... sudah, perutku benar-benar sakit..." keluh salah satu dari mereka. tertawa cukup lama benar-benar membuat perut mereka kencang dan sakit.
"Tertawa adalah cara yang cocok untuk menghilangkan stress... iya kan Tiara?" tanya Joe. karena gadis di sampingnya itu memang selalu tertawa dengan apapun yang Joe lakukan. termasuk dengan tertawa dengan lelucon Joenatan.
"Tidak juga..." tolak Tiara. karena baginya melihat Galih yang tidak aneh-aneh dengan tingkahnya itu adalah penghilang stress paling ampuh.
Aggh, memikirkannya saja membuatku rindu... batinnya.
Tiara benar-benar seperti gila sejak berhubungan dengan Galih. mungkin inilah definisi jatuh cinta. Ya... Tiara amat mencintai pria itu.
Hingga baru melamun, Tiba-tiba ponsel Tiara bergetar menandakan ada pesan yang baru saja masuk.
Eh ada pesan... batinnya sambil mengamati ponsel miliknya.
Baby : [Cepat datang ke tempat biasa...].
sebuah pesan singkat yang mampu membuat ekspresi wajah Tiara berubah seketika, Sekarang? apa dia gila?
Baby, adalah nama kontak Galih yang ada di ponsel Tiara. Jangan tanya alasannya karena semua itu adalah keinginan Galih sendiri. bahkan pria itu juga yang mengubah nama kontaknya, dan tak bisa di ganggu gugat oleh siapapun.
seperti sebuah tanda bahwa Galih memang orang spesial bagi Tiara.
Tiara mulai mengetikkan sesuatu layar ponselnya, membalas pesan tak masuk akal dari Galih.
[Jangan gila deh... gue sedang ngobrol dengna yang lain...].
Terkirim.
Bisa jadi masalah kalau Tiara kembali menyelinap pergi dari teman-temannya. karena bukan hanya sekali dia kali saja ia pergi seperti ini.
Baby : [Cepat kesini akau gue benar-benar marah!].
"Ck..." Tiara berdecak, kesal dengan tingkah Galih yang masih seenaknya saja.
Hingga tidak ada alasan bagi Tiara untuk membantah titah pria itu.
mengantongi ponselnya lagi dan bersuara, "Sorry... gue keluar sebentar..." pamit Tiara pada yang lain.
"Mau kemana?" desak Joenatan seperti penasaran dengan kemana Tiara handak pergi.
Jawab apa ya? tentu saja Tiara bingung. ia tak bisa menjawab kalau hendak bertemu dengan Galih bukan? karena semua orang tidak tau kalau Tiara dan tangan kanan Presdir itu punya hubungan.
"Em... itu, toilet... ya, gue mau ke toilet..." jawab Tiara.
karena alasan yang paling tepat adalah pergi ke toilet.
"Kamu suka sekali dengan toilet ya..." ucap rekan kerja Tiara. yang mereka tau, Tiara memang sering ke toilet untuk waktu yang cukup lama. dan mungkin sebentar lagi, Tiara akan mendapat julukan sebagai penunggu toilet dari mereka karena seringnya ke toilet.
"Hahaha..." jawab Tiara menjawab ucapan rekannya dengan sebuah tawa.
__ADS_1
Bangkit dari tempat duduk dan segera meninggalkan mereka semua.
Tiara masuk ke dalam Lift yang akan membawanya ke lantai 2 gedung Pradipta.
Mengamati suasana sekitar hingga pada akhirnya masuk ke salah satu ruangan di ujung sana.
Dan benar saja, di dalam ruangan sepi itu telah berdiri pria yang telah mencuri hatinya. siapa lagi kalau bukan Galih, pria yang selalu seenaknya pada Tiara.
"Ada apa sih?" tanya Tiara.
Sedangkan yang ditanya hanya berjalan mendekati Tiara. menarik pinggang gadis itu agar tak lagi ada jarak diantara mereka.
"Lo kembali berulah..." ucap Galih bersamaan dengan helaan nafas yang berat. seperti ada sebuah beban di dalam hatinya.
"Berulah? maksudnya?" Tiara tidak paham apa yang tengah Galih bicarakan. memang apa yang dia lakukan? karena sejak pagi Tiara memang tidak melakukan apapun selain mengobrol dengan yang lainnya.
"Apa yang gue lakuin?".
Galih menjatuhkan kepalanya di bahu Tiara. memejamkan mata hingga tangan Tiara terangkat untuk sedikit membelai pucuk kepala pria itu. Terkadang macan ku ini berubah seperti seekor kucing yang manis... batinnya.
Ya, Galih yang juga bisa manis juga ternyata.
"Apa kita beritahu semua orang saja?" Galih bersuara. membuat Tiara otomatis mengangkat kepala kekasihnya dan memperhatikan bagaimana wajah Galih sekarang.
"Apa?" tanya Tiara.
pertama kalinya ia mendengar ucapan Galih yang tak terduga-duga. karena Galih tak pernah seperti ini sebelumnya. Tiara sangat hafal, sesebal apapun, Galih tak pernah mencurahkan iai hatinya. Paling juga hanya diam dan mencari bahan untuk berdebat.
"Maksudnya gue kenapa? kita sudah membahasanya bukan?" tanya Tiara.
Tiara tidak mau harus resign dari Pradipta Group karena hanya disanalah ia menerima gaji yang cukup. apalagi dengan lingkungan yang amat nyaman, ditambah dengan rekan kerja yang benar-benar baik yang mungkin tidak di dapat dari perusahaan lain nantinya.
Dan Tiara meminta Galih untuk memberinya waktu, setidaknya 2-3 tahun lagi. mungkin 3 tahun cukup bagi Tiara, setelahnya Tiara siap untuk di tempatkan di anak cabang Pradipta ataupun hanya sebagai Ibu rumah tangga dalam kehidupan Galih.
Tapi setidaknya biarkan Tiara bisa menikmati masa mudanya, menikmati jerih payahnya sendiri sebagai seorang wanita karir.
"Gue masih suka pekerjaan ini Gal..." ucap Tiara penuh harap.
"Lo selalu bertingkah... membuatku cemburu..." jawab Galih dan kembali menyandarkan kepalanya di tempat asal, tapi sambil sengaja mencium leher Tiara.
"Heheh... Stop Gal! gue geli..." protes Tiara. dengan sekuat tenaga mencoba untuk menyingkirkan kepala pria itu darinya. tapi semakin di tolak, Galih justru semakin bertingkah dengan menenggelamkan kepalanya lebih dalam dari sebelumnya. membuat Tiara kegelian sambil terus mengontrol tawanya.
"Ayo menikah saja..." ucap Galih kembali membuat Tiara menegang. terkejut karena mulut yang biasanya melontarkan kata-kata pedas, justru semakin lama keluar kata-kata yang aneh menurut Tiara. lebih tepatnya merengek seperti seorang bayi.
"Jangan bicara aneh-aneh..." tolak Tiara.
Ia memang menyukai Galih tapi untuk menikah, sepertinya tidak untuk saat ini. Tiara tak ingin melewatkan masa mudanya dengan sia-sia. setidaknya ia ingin hidup seperti seekor kupu-kupu terbang beberapa saat hingga menemukan tempat ternyaman dalam kehidupannya dan akan menetap disana.
Karena menikah juga butuh kesiapan metal. berkaca pada kehidupan Akira, Tiara tak mau seperti itu. walaupun kehidupan Akira terlihat bahagia tapi tetap saja, ada banyak begitu air mata dalam perjuangan mereka.
"Habisnya lo selalu selingkuh..." tuduh Galih.
"Selingkuh? kapan dan dengan siapa?" protes Tiara. karena ia tak pernah melakukan hal yang dituduhkan Galih barusan.
Jangankan untuk selingkuh dan menyukai pria lain, menengok ke arah pria lain saja mungkin Galih akan meneriaki dirinya. dan punya nyawa berapa Tiara untuk melakukan hal itu?
__ADS_1
"Dengan si br*ngsek Joe!" umpat Galih kesal.
bahkan kata br*ngsek seperti tidak cukup untuk mengatai pria yang dengan beraninya selalu cari muka kepada Tiara. padahal Tiara adalah wanitanya Galih.
Ck, gue benar-benar kesal...
"Hahaha... apa lo cemburu?" goda Tiara. tanpa bertanya sekalipun, Tiara sudah tau kalau Galih memang tengah cemburu.
"Tidak," elak Galih. "Gue hanya tidak mau ada yang mengganggu apa yang telah menjadi milikku..." lanjutnya.
Jangankan Tiara, sebuah barang saja Galih tak mengizinkan seseorang menyentuhnya.
Ya... seperti itulah sifat Galih yang jarang diketahui orang lain.
"Tidak ada yang berani menyentuh barang milik lo..." ucap Tiara meyakinkan diri. Joenatan memang punya gelagat menaruu perasaan padanya, Tiara tau akan hal itu. tapi Tiara sudah meyakinkan dirinya kalau hati dan perasaannya tetap milik pria yang kini bersama dengannya. apalagi Tiara tak pernah memberi harapan apapun pada Joenatan, bahkan Tiara juga tidak menutupi kalau dirinya telah mempunyai pacar.
"Buktinya lo terlihat nyaman duduk berdekatan dengan pria lain... lo tau, hal itu membuat sesuatu dalam diriku teramat sakit..." keluh Galih.
Tiara tersenyum, ucapan Galih sejak tadi hingga sekarang benar-benar terdengar manis, bukan seperti Galih pada biasanya.
Dari ucapannya, Tiara seperti hal berharga yang Galih miliki untuk saat ini. membuat hatinya tenang, walaupun masih ada hal yang belum terselesaikan.
"Lo juga masih dekat dengan Alya bukan? apa bedanya denganku...?" rengek Tiara.
Galih memang tidak pernah lagi bertemu dengan Alya, tapi tak menutup kemungkinan kalau masih membalas chatnya bukan?
"Jangan membalikkan situasi dan membuatku marah!" ucap Galih memperingati.
"Tidak, gue hanya mengatakan faktanya...".
"Apa perlu bukti kalau gue hanya mencintai lo?" tanya Galih. apapun yang Tiara minta, Galih pasti akan melakukannya sebagai bukti rasa cintanya terhadap Tiara.
"Buktikan kalau gue hanya satu-satunya wanita yang lo cintai..." pinta Tiara, menatap manik mata Galih dengan penuh harapan.
Tanpa membalas uacapan Tiara, Galih seketika menangkup kedua pipi gadis itu. menghujaninya dengan banyak ciuman. di pipi, kening, hidung, mata bahkan juga bibir Tiara hingga membuat gadis itu berontak.
"Hahaha... cukup, gue geli," keluhnya.
"Apa masih kurang bukti dariku?" tanya Galih.
Tiara menggelengkan kepalanya, bukti yang Galih berikan memang aneh tapi tetap mampu membuat hatinya berbunga-bunga. bahkan Tiara ingin berteriak sekeras mungkin, mengatakat pada dunia bahwa ia sangat mencintai Galih.
"Sekarang gantian," ucap Galih membuat wajah Tiara seketika pias, khawatir karena ucapan Galih barusan tersirat sebuha makna aneh. "Gantian apa buktinya kalau lo mencintaiku?".
"Ah... itu...", Tiara mengerjabkan matanya berulang kali, Ayo Tiara berpikir...
"Bukankah rasa cinta tidak bisa di lihat bukan?" akhirnya itulah kata yang keluar dari mulut Tiara.
"Ck... licik..." jawab Galih kesal. Padahal ia juga berharap Tiara membalas perlakuannya tadi. Di hujani dengan banyak ciuman sama seperti yang Galih lakukan pada Tiara.
"Hahaha..." hanya terdengar tawa Tiara. membuat Galih kembali mengerucutkan bibinya sebal.
"Sebagai gantinya, sini beri gue satu ciuman..." pinta Galih sambil menarik paksa tubuh Tiara mendekatinya.
Dan siang itu di salah satu ruangan di Pradipta Group, Tiara dan Galih benar-benar tenggelam dalam perasaan cinta masing-masing.
__ADS_1
***