Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
200. Cemburu.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Masih di jalanan setelah kebingungan mencari keberadaan Dion dan Gadis yang menghilang saat pesta, Galih terlihat mengawasi jalanan juga dengan wanita yang duduk di sampingnya.


Pandangan mereka tak lepas mengawasi jalanan mungkin saja ada Dion dan Gadis disana.


Hampir 30 menit Galih dan Tiara menunggu di tempat Parkir hotel tadi, menunggu Dion yang mungkin saja mampir di toilet. Tapi nyatanya pria itu tak kunjung kembali. Menelponnya juga percuma, karena Dion tak menjawab panggilannya sama sekali.


Selama perjalanan, ada hal yang mengganggu pikiran Galih. Bukan masalah Dion, masalah Arjun atau apapun yang bersangkutan dengan pesta. Tapi ini menyangkut masalah pribadi Galih sendiri.


Senyum Tiara kepada pria lain saat pesta berlangsung sungguh membuat Galih risau. Bagaimana gadis itu tersenyum dengan sangat lebar dan terlihat asyik. Padahal bersama dengan Galih, Tiara tak pernah seperti itu.


Ck... padahal dia hidup dengan ku? tapi tak pernah tersenyum selebar itu... gerutunya.


Menyesal sekali Galih membawa Tiara ke pesta tadi. Bagaimana penampilan Tiara dengan gaun Gray dan riasan wajah yang cantik, benar-benar menguntungkan bagi siapa saja yang melihat.


Apalagi Galih juga yang memilihkan gaun itu, tapi malah jadi konsumsi umum para tamu di pesta. Tidak! gue harus bertanya... batin Galih lagi. setidaknya ia harus tau siapa pria yang di ajak Taira bicara tadi.


Galih menghentikan mobilnya di tepi jalan. Mematikan mesin mobil, membuka Seatbelt dan langsung memutar duduknya menghadap Tiara. tentu saja hal itu membuat Tiara berkomentar. "Kenapa berhenti?" tanya gadis itu sama sekali tidak paham.


Apalagi Galih terlihat, entahlah... Tiara tidak bisa menyelami apa yang ada di dalam kepala pria yang saya ini tengah melotot ke arahnya.


Salah apa gue? batin Tiara mencari-cari kesalahannya. tapi semakin berpikir keras malah membuat Tiara bertambah bingung.


"Apa tersenyum selebar itu tak membuat Lo malu?" cerca Galih pada akhirnya.


"Ha?" begitu respon Tiara. malu? apanya? dan kapan gue tertawa?


Bingung sekali memahami perkataan Galih yang kadang tak sejalan bahkan belok dari pembicaraan mereka.


"Isst... Pura-pura lupa," gerutu pria itu lagi.


Suasana dalam mobil kembali hening. Galih yang memberi waktu Tiara untuk mengingat kesalahannya sedangkan Tiara, hanya bernafas dan mengedipkan mata beberapa kali sambil menatap Galih. menggerutu dalam hati alasan apa yang membuat pria itu tiba-tiba marah.


"Siapa dia?" desak Galih. "Orang yang tertawa bersama lo di pesta tadi?" tambahnya. jawaban Tiara sangat penting baginya. setidaknya ia harus menandai senyum yang berkeliaran di sekitar Tiara mulai saat ini. entah apa maksudnya tapi Galih tetep ingin melakukan hal itu.


"Oh..." jawab Tiara tanpa bersalah sama sekali. bahkan tak menyadari kalau tatapan pria di sampingnya telah berubah menjadi seekor singa yang mengamati mangsanya.


Ck... sebahagia itu mengingatnya lagi?

__ADS_1


Terdengar helaan nafas kasar dari Galih. membuat Tiara tau kalau pria itu benar-benar sedang marah.


"Dia teman kuliah gue. kita cukup akrab di kampus bahkan tak jarang mentraktir makna siangku", jawab Tiara jujur. walaupun tanpa ia sadari, ucapan yang keluar dari mulutnya seperti boomerang yang bisa bisa menghancurkannya juga.


"Ya! kenapa malah menceritakannya? apa gue peduli tentang hal itu? tidak! gue sama sekali tidak tertarik dengan kebaikan yang dia lakukan..." teriak Galih. Bahkan sampai membuat Tiara memejamkan mata karena terkejut. keterlaluan bukan kalau Tiara sampai diteriaki seperti itu. padahal tadi ia hanya menjawab pertanyaan Galih bukan?


"Lo kenapa sih? tadi kan lo sendiri yang tanya siapa dia... kenapa malah marah-marah saat gue menjawabnya...?" jawab Tiara sewot.


"Jawab dengan singkat kenapa... tak perlu menyebutkan kebaikannya juga... lagian apa yang dilakukannya tak sebanding dengan apa yang gue lakukan kepada Lo,". Kesal sendiri Galih mendengar semuanya.


Menatap Tiara dengan mata penuh kemarahan, Galih berucap "Bahkan apa lo tau berapa harga sepatu dan gaun yang lo kenakan saat ini? mahal!".


Tiara mengernyitkan dahi. ucapan Galih terdengar mengungkit-ungkit pemberiannya bukan?


"Apaan sih Lo! kenapa malah ngungkit-ngungkit kayak gini? jadi lo tidak ikhlas memberiku sepatu dan gaun?" tantang Tiara sama tingginya.


pertama kali dalam sejarah, Tiara menemukan pria macam Galih. padahal Tiara tidak meminta barang itu bukan? sepatu dan Gaun adalah murni pemberian Galih sendiri. tapi nyatanya, pria itu justru mengungkit-ungkitnya.


"Padahal gue gak minta dibelikan bukan? ck... menyebalkan..." desah Tiara.


hal itu malah semakin di gunakan Galih untuk memulai perdebatan dengan Tiara.


"Ya... lo memang tak minta, tapi gue cukup tau dong... mana mungkin membawa lo dengan pakaian jelek, Bisa-bisa lo di tertawakan tadi.. bukannya berterima kasih malah ngomel... dan kalau memang gue tidak ikhlas atas gaun itu, sini balikin... lepas semuanya..." jawab Galih dengan entengnya.


"Lepas dan balikin!" masih saja Galih ngotot dengan pemikirannya.


"Sekarang? tapi-," tanya Tiara.


"Ya sekarang... karena gue marah," jawab Galih.


ck... salah sendiri membuatku kesal...


"Lalu? bagaimana dengan gue?" tanya Tiara lebih pias. Kalau ia mengembalikan gaun yang melekat di tubuhnya sekarang, Tiara benar-benar gila. bagaimana seorang wanita yang waras dengan mudahnya bertel*njang? hanya orang gila yang melakukan itu.


Tidak... gue harus mencari cara lain... apa ya? Tiara mencoba untuk memutar otaknya. mencari cara agar terlepas dari kemarahan Galih. lain ceritanya kalau mereka telah tiba di Apartemen. jangankan untuk mengembalikan gaun yang Tiara kenakan, ia berani untuk melemparkannya pada wajah Galih nantinya.


Aaa... meminta maaf... ya gue harus sedikit merendah untuk membuat dia berubah pikiran... ya... itu adalah cara yang tepat... Tiara tersenyum dengan ide di kepalanya.


"Galih... maafkan gue... sungguh maafin gue... ya, gue tau kalau gue salah..." ucap Tiara benar-benar tenggelam dalam perannya.


bahkan tak ragu menggenggam lengan Galih tanpa ragu. wajahnya dibuat semenyedihkan mungkin agar Galih luluh.

__ADS_1


"Ck..." terdengar Galih mendecak. gue gak akan terpengaruh...


"Gue ngaku kalau salah... maafin gue ya Gal... sungguh gue berterima kasih atas pemberian lo... budi luhur lo yang telah membantu gue selama ini...".


Hoooeekkkk... ck, budi luhur apanya.. dalam hati tetap mencerca Galih.


"Lo benar-benar pahlawan bagi gue... sungguh, gue tidak akan bisa membalas semua itu...".


"Tapi tetap memuji pria lain..." sebuah kalimat terlontar dari mulut Galih tanpa bisa ia cegah. Gawat... dasar nih mulut... sesal Galih di detik selanjutnya. ia harap Tiara tidak mendengar hal itu, lebih tepatnya berharap Tiara tidak sepekan biasanya. tapi sepertinya Galih salah, gadis di sampingnya terdiam menandakan kalau Tiara mendengar yang ia ucapkan barusan.


"Lo cemburu?" tanya Tiara spontan.


membuat Galih seperti ingin terjatuh karena saking terkejutnya. lidahnya kelu dan tak bisa mengelak apapun karena memang dirinya cemburu dengan kedekatan Tiara dengan pria lain di pesta tadi.


Tapi nalar Galih tidak bisa mengakuinya. harga dirinya akan jatuh jika Galih mengakui semuanya. hingga sebuah sanggahan lah yang keluar dari mulutnya, sebagai pembelaan atas tuduhan Tiara.


"Ma-mana ada? gue cemburu...? ck... yang benar saja...".


Jawaban Galih membuat Tiara berwajah masam. sebenarnya Tiara ingin mendengar Galih mengatakan bahwa pria itu memang sedang cemburu. Tapi nyatanya tidak.


"Gue- hanya tidak mau terjadi salah paham nanti... lo dengan mudahnya bergaul dengan pria-pria di luaran sana, sedangkan lo saat ini tinggal dengan gue... bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk? gue yang di salahkan..." perjelas Galih.


Walaupun sebenarnya hanya akal-akalan Galih saja agar Tiara tak terlalu akrab dengan pria lain selain dirinya.


"Jangan terlalu akrab dengan pria... bahaya!" ucap Galih memperingati.


"Ck...". Taira berdecak dan melempar pandangannya ke arah jendela di samping tempat duduknya. tak ada gunanya mendengarkan celoteh Galih yang bahkan tak mendasar tersebut.


"Lo dengar tidak?" teriak Galih karena kesal di cuekin seperti itu. "Hei Tiara...".


"Iya-iya... gue dengar..." jawab Tiara tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.


Baru setelah mendengar jawaban Tiara, Galih kembali tersenyum. Tak jelas memang tapi sudah mampu menjelaskan kalau hatinya lega.


***


Hahaha... gemes sama pasangan yang satu ini...


Ya begitulah Galih... mencintai Tiara dengan segala tingkahnya...


Nyelip dikit ya, biar sedikit mencairkan ketegangan beberapa Bab yang lalu...

__ADS_1


LOVE KALIAN BANYAK-BANYAK...


__ADS_2