Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
116. Kado dan Batas Waktu.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Tawa akan berubah dengan air mata. Senyum akan pudar dengan sendirinya. Yang tadinya bahagia akan berubah menjadi kesedihan yang amat menyiksa.


Semua itu adalah takdir yang Kuasa.


Adakalanya kita di hadapkan pada pilihan yang sama sekali tidak kita inginkan, tapi kita di paksa harus memilih.


Memilih pilihan yang sama menyakitkannya daripada menolak.


"Eh, hujan..." ucap Akira dari balik kaca jendela mobil yang sedang membelah jalanan super macet di depan sana.


Banyak kendaraan yang memadati jalan karena ini adalah jam pulang bekerja.


"Memang sudah musimnya hujan sayang," jawab Arjun sedangkan Tiara dan Galih sama sekali tidak menanggapi pembicaraan yang tidak berguna sama sekali tersebut.


Tiara sibuk mengetik layar ponselnya seperti tengah berkirim pesan dengan seseorang.


Mungkin adalah pacarnya karena senyum sesekali terpancar dari wajah tirus berkulit kuning langsat tersebut.


Tiara : [Baiklah kalau kamu sibuk, nanti kita lanjutkan lagi...]


Setelah mengirim pesan tersebut, Tiara kembali memasukkan ponselnya di dalam tas dan kembali melihat jalanan di depan sana.


Tiba di Mall, Arjun menggandeng tangan istrinya dengan penuh kasih sayang. Sedangkan Galih berjalan di belakang mereka bersebelahan dengan Tiara. Malu sekali rasanya berjalan mengikuti seseorang seperti ini. Agghh... tau gini gue di mobil saja tadi... keluhnya dalam hati.


Yang paling menyebalkan nya adalah Galih harus melihat pemandangan pasangan tidak tau diri di depannya yang sesekali memamerkan kemesraan pada dunia.


Dasar!


"Sayang... aku ingin jus buah," pinta Akira pada Arjun.


Karena tenggorokan Akira benar-benar terasa kering.


Segelas jus buah tentu saja akan menyegarkan dahaganya.


"Ayo kita ke food court..." ajak Arjun.


Keempat orang itu pun menuju ke tempat dimana banyak sekali makanan dan minuman yang bisa mereka cicipi.


"Kamu jus apa? biar aku yang antri..." ucap Galih berinisiatif.


Karena akan lebih canggung jika Galih hanya duduk disana.


"Aku Alpukat... kamu mau apa Tiara?" menanyai sahabatnya setelah Akira memutuskan pilihannya.


"Jambu saja..." jawab Tiara singkat.


Sedangkan disana Arjun masih tidak bersuara, hingga membuat Galih bertanya secara langsung. "Lo mau jus apa?",


Tanpa terduga, Arjun malah menggelengkan kepala. "Aku berdua saja dengan istriku...".


Ck... yang punya istri... umpat Galih.


Arjun seperti sengaja memamerkan kemesraan.


Tapi Galih langsung pergi untuk memesan minuman itu.


Cukup lama menunggu, akhirnya Galih membawa 3 cup jus buah yang berbeda-beda warna.


Membuat Akira spontan bertepuk tangan kegirangan.


"Yee... akhirnya,"


Akira mengambil cup jus berwarna hijau yang bercampur dengan warna cokelat dari susu.


Sedikit menggoyangkannya agar semuanya tercampur.


"Terima kasih..." ucap Tiara saat Galih menyodorkan 1 cup jus berwarna merah jambu.


Arjun dan Akira sama-sama menatap ke arah Galih, menantikan apa yang akan Galih jawab. Tapi nyatanya pria itu tak bersuara dan langsung duduk menikmati jus strawberry susu yang amat menyegarkan.


Galih berusaha untuk tidak melihat reaksi Akira dan Arjun, Ck... jangan berharap gue akan salah tingkah...


Sekeras apapun Arjun berusaha untuk mengenalkan wanita untuk Galih, sepertinya tidak akan mempan.

__ADS_1


Galih tak lagi berkeinginan untuk mencintai wanita.


Jika memang takdirnya seperti ini, Galih akan hidup menyendiri seumur hidupnya.


Toh pada kenyataannya ia bisa hanya melakukan One Night Stand dengan wanita manapun tanpa perlu menggunakan hati dan perasaan.


Akan lebih nyaman seperti itu.


"Sayang... kamu bisa tunggu disini dulu tidak?" entah apa yang sedang di rencanakan Akira, tapi gadis itu ingin sebentar saja lepas dari Arjun.


Apalagi memang ada sesuatu yang harus ia beli tanpa di ketahuilah oleh Arjun.


"Kenapa? kamu mau ngapain?" tentu saja Arjun tak terima.


Apapun yang terjadi Arjun akan selalu bersama sang istri. Jangankan hanya di Mall, di manapun Arjun tidak akan membiarkan Akira sendirian.


Kalau bisa mereka akan menjalani kehidupan ini bersama-sama hingga ajal menjemput mereka.


"Sayang... ada sesuatu yang para wanita lakukan, aku malu memberitahukannya kepada mu...",


"Kenapa, kita sudah saling melihat tubuh kita masing-masing bukan?" sewot Arjun.


"Uhuukk..." sedangkan Tiara langsung tersedak minumannya sendiri.


Jangan di perjelas juga kali...


Beda lagi dengan Galih, pria itu sedikit melirik Tiara karena ucapan aneh barusan, Hahah... gue tidak terkejut, omongan seperti itu seringkali gue dengar...


"Hehehe..." Akira tersenyum canggung sambil menutup mulut suaminya walaupun dalam hatinya ia mengutuk ucapan Arjun yang sama sekali tidak di filter.


Otak Tiara akan tercemar bukan? karena sahabatnya itu masih lugu dan belum menikah.


"Boleh ya sayang..." pinta Akira memohon.


Sebenarnya ia ingin mencari kado untuk suaminya dan jika Arjun selalu mengikutinya yang ada bukan hadiah. Akira tak mau hal itu terjadi.


Setidaknya Arjun harus terkejut melihat hadiah yang akan Akira berikan nanti.


"Tidak," jawab Arjun tanpa berubah sama sekali.


Membuat Akira semakin frustasi dan ingin menjambak rambut suaminya itu. Agghh! aku benar-benar bisa marah kalau begini...


Mereka datang kesini bersamaan kenapa Arjun tidak boleh mengikuti istrinya?


"Tiara ingin membeli kado untuk pacarnya. Sayang... aku tidak bisa konsentrasi nanti..."


Jika bisa memilih, Akira memilih untuk pergi sendiri saja bersama Tiara tadi.


Tapi siapa sangka kalau Arjun telah menunggu Akira di depan kampus tadi.


Sangat tidak di rencanakan.


"Oke 30 menit dari sekarang!" perintah Arjun melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"What?" tentu saja Akira terkejut.


Memangnya dia sedang lomba hingga harus menggunakan waktu.


Tentu saya harus memilih dulu bukan? setidaknya berkeliling sambil berpikir untuk mencari benda yang cocok untuk kado.


"Sayang..." Akira mencoba untuk bernegosiasi lagi.


"Tinggal 29 menit lagi..." ucap Arjun tanpa melihat istrinya.


Dia benar-benar sinting! umpat Akira.


"Tiara... ayo.. ayo..." ajak Akira dengan tergesa-gesa.


Mengambil tasnya dan berlari meninggalkan Arjun.


Bisa-bisa waktu pemberian Arjun akan habis tanpa menemukan apapun nanti.


"28 menit!" teriak Arjun, sedangkan Akira adanya juga Tiara hanya bisa mengumpat kesal.


Ck... kurang ajar sekali dia! memang bisa apa dengan waktu 30 menit... bukan sudah berkurang 2 menit malahan...


"Mau mencari kado apa?" tanya Akira pada sahabatnya.

__ADS_1


"Entah, aku juga masih bingung..." jawab Tiara dengan langkah cepat menyamai sahabatnya.


Akira dan Tiara berhenti tepat di depan toko pakaian. Dia akan bekerja minggu depan... batin Tiara sambil mengamati setelan jas yang terpasang pada sebuah manekin pria di balik kaca.


"Setelan Jas?" tanya Akira menebak.


Bagaimana? tanya Tiara dengan sorot matanya.


"sepertinya cocok..." jawab Akira yakin.


Apalagi Akira juga sudah melihat pacar sahabatnya beberapa kali.


Tanpa ragu, mereka masuk ke dalam toko itu dengan mempercepat sesuatunya.


Di waktu yang tersisa 15 menit lagi, Akira semakin panik karena belum menentukan pilihan hadiah yang akan di berikan pada suaminya besok. "Aaggghh..." semakin panik semakin hilang pula konsentrasinya. Apalagi Akira bukan lah gadis yang memiliki kemampuan berpikir sehebat Arjun.


"Kado apa ya? apa ya?" Akira beberapa kali menyentuh kepalanya.


Tapi semuanya percuma karena kepalanya mungkin akan segera meledak.


Ck, apa-apa mereka itu? batin Akira saat dari jauh terlihat Arjun dan Galih yang berjalan mendekatinya.


"Apa waktunya telah selesai?" tanya Tiara.


"Dasar sinting!" umpat Akira.


Tanpa banyak berpikir kedua gadis itu kembali masuk ke dalam toko dengan Brand luar negeri.


Tentu saja barang yang di jual disana memiliki harga yang fantastis.


"Lo yakin Akira?" tanya Tiara.


"Tidak ada pilihan lain, lagian barang yang di kenakan juga selalu dari Brand mahal..." ucap Akira yakin.


"Baiklah...",


Sedangkan Arjun dan Galih terlihat keheranan dengan semuanya. Kenapa mereka masuk kesana? apa mereka tidak tau harga barang disana?


"Seorang pelajar membeli kado dari Brand terkenal? apa itu wajar?" tanya Galih.


Karena tidak mungkin baginya seorang mahasiswi seperti sahabatnya Akira memiliki uang yang banyak untuk membeli barang di toko itu.


Beda lagi kalau gadis itu menjadi simpanan om-om kaya, mungkin saja bisa.


Tapi di mata Galih, Tiara bukan gadis seperti itu. Jadi tidak mungkin menjadi peliharaan para om hidung belang.


"Entahlah..." jawab Arjun walaupun sebenarnya ia tau siapa yang akan membeli barang di toko itu.


Sejak tadi Arjun telah mengamati tingkah laku istrinya yang terlihat berbeda.


Apa dia tau hari apa besok? batin Arjun tersenyum.


Galih dan Arjun masih sibuk mengamati kaca di toko itu. Melihat beberapa kali Akira dan Tiara mondar-mandir kebingungan.


Hingga beberapa saat, sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel Arjun.


Membuka benda pipih itu dan langsung tersenyum aneh, Benar kan apa aku bilang! tidak mungkin kalau Akira membelikan sesuatu yang begitu mahal untuk pacar sahabatnya...


"Aku akan berpura-pura sampai besok..." ucap Arjun kepada Galih.


Dan Galih langsung paham apa yang barusan di katakan Arjun.


Kecurigaannya pun terjawab sudah kenapa dua orang wanita itu masuk ke dalam toko di depan sana.


"3 ... 2 ... 1"


Arjun selesai berhitung bersamaan dengan kedatangan Akira dan Tiara di depannya.


"Hah... hah..." nafas kedua wanita itu terlihat bersaut-sautan.


"Kamu tidak terlambat sayang," ucap Arjun pada istrinya.


Ck... benar-benar gila! batin Akira.


***


Hai... gimana kabar kalian? sehat-sehat terus ya... biar bisa kumpul di cerita ini sama-sama...

__ADS_1


Ketemu lagi besok, bye...


Dan kenapa kalian berharap Tiara dengan Galih? Kenapa gak sama Dion saja... hehehe...


__ADS_2