Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
195. Kesepakatan.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Gadis terus berontak. Berusaha sekuat tenaga untuk bisa melawan dan keluar dari mobil yang entah milik siapa.


Ketika dua orang bertubuh kekar berada di sisi kanan dan kirinya, Gadis ketakutan. Ia tak tau siapa mereka dan akan dibawa kemana.


"Lepas!" teriaknya.


Gaun yang panjang serta heels yang masih terpakai di kakinya membuat gerak Gadis menjadi terbatas. Andai bukan di dalam mobil dan terhimpit seperti ini, Gadis mampu untuk menghajar mereka semua.


Tapi apa daya, saat ini kedua tangannya di pegang dengan erat. Membuat Gadis tak bisa bergerak dan kalah tenaga.


Hingga seseorang yang duduk di samping di bangku kemudi, mulai melangkah mundur. Membawa sapu tangan untuk membekap mulut Gadis.


Dan sekejap saja, tubuh wanita itu merosot dengan mata yang terpejam.


"Hebat juga dia..." keluh pria yang berada di sisi kiri Gadis.


Mengakui kalau tenaga wanita yang tengah pingsan itu lumayan kuat.


Bahkan sempat membuatnya kewalahan.


"Sesuai dengan perintah Tuan Muda, Jangan sakiti wanita ini..." ucap salah satu dari mereka.


Karena tujuan Rega membawa Gadis bukan untuk disakiti. Tapi memaksa Dion untuk menemui mereka.


Hingga beberapa saat kemudian, mobil berwarna hitam itu masuk dalam pelataran rumah bergaya Eropa. Berhenti tepat di depan teras dan menurunkan Gadis.


Tepat setelah masuk dari pintu utama, seorang pria berdiri menyambut kedatangannya. Dia adalah sangat pemilik rumah sekali gua Papanya Dion.


Dari cara pria itu menatap hasil kerja anak buahnya, terlihat sekali ada banyak ambisi di matanya.


Secercah api tampak menyelimuti wajahnya. Hanya ada kemarahan, kesal dan rasa ingin membunuh.


"Ikat dia di kursi!" perintahnya jelas dan tanpa basa-basi.


Para anak buah langsung melaksanakan perintah dari Tuannya. Mendudukkan Gadis pada kursi dan mengikat tubuhnya agar tak bisa bergerak.


Juga dengan sebuah sapu tangan yang menutup mulut Gadis. Membuatnya semakin terlihat menyedihkan karena tak berdaya.


Papa Dion terlihat mengamati sosok wanita muda di depannya. Melihat dengan jelas wanita yang telah di bawa oleh Dion dengan beraninya.


Dari mulut Rega, anak pertamanya... Papa mengetahui kalau Dion mampu untuk hidup dengan keringatnya sendiri. Itulah sebabnya hampir 8 bulan, pria itu tak kunjung pulang.


Dan bukan hanya itu saja, Papa mengetahui kalau usaha Dion berkembang pesat. Jauh dari bayangannya yang menilai Dion hanyalah anak manja yang tak bisa lepas dari harta orang tuanya.


Tapi hal itu tak membuat Papa mengubah pemikirannya. Dion tetaplah anak pembangkang yang tidak berguna.


"Buat dia bangun!" perintahnya semakin tak sabar karena wanita yang terikat di depannya tak kunjung bangun.


Dengan segelas air, salah satu anak buah itu mendekati Gadis. Menyiramkan air tepat pada wajahnya.


"Aaagghh..." membuat Gadis seketika terjingkat dan membuka mata karena terkejut.


Dengan wajah yang masih basah oleh air, Gadis berusaha untuk melihat suasana di depannya. Kesadarannya kembali utuh dan ia terkejut melihat keadaan dirinya yang terikat di kursi.

__ADS_1


"Lepas!" teriak Gadis tanpa gentar sedikitpun.


Sesekali ia mengamati sekitar.


Rumah siapa ini? dan siapa dia? batinnya bertanya-tanya.


Dirinya terikat dalam sebuah rumah mewah yang tidak Gadis ketahui siapa pemiliknya.


Hingga beberapa saat kemudian, sebuah figura besar tertangkap penglihatannya.


Walaupun dengan jarak yang lumayan jauh, Gadis jelas melihat siapa yang ada dalam foto tersebut.


Sepasang suami istri tengah duduk sedangkan di belakang mereka berdiri 2 orang pria muda yang tak lain adalah anak-anaknya.


Dari semua wajah itu, Gadis mengenali salah satunya.


Dion... ya, foto pria itu ada disana tepat di belakang sang Ibu.


Jadi, ini rumah keluarga Dion? lalu dia?


"Benar... saya adalah pria yang ingin kamu temui..." ucap Papa menjawab semua pertanyaan Gadis.


Gleekk... Tiba-tiba nyali Gadis menciut mendengar kenyataan itu.


Beliau Papanya Dion. Pria yang ingin aku temui.


Ucapan Dion waktu itu kembali terngiang dalam ingatan Gadis. Dimana dion pernah berkata kalau Papanya sangat galak. Dan sekarang... Beliau benar-benar berdiri di depan Gadis.


Dulu Gadis bilang kalau ia berani menemuinya. tapi sekarang setelah mereka bertemu, Gadis benar-benar takut. Apalagi tidak ada Dion di sampingnya.


Wajahnya berubah pias dan sedikit pucat. Tubuhnya gemetar setiap kali tarikan nafasnya.


Dion... dimana lo sekarang?


Terlihat anak buah menarik kursi entah dari mana datangnya tapi saat ini berada tepat di hadapan Gadis. Dan di detik selanjutnya, Papanya Dion duduk disana.


Justru terlihat sebagai kursi interogasi.


"Saya tak peduli siapa dirimu. Tapi kamu lah yang bisa membuat Dion kembali ke rumah ini..." ucap pria itu terdengar menggema memenuhi seisi ruangan.


"Lepaskan saya..." ucap Gadis mengiba.


Bahkan pergelangan tangannya terasa memanas karena ikatan tali yang amat kencang.


"Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?" saran Papa.


Kesepakatan apa? batin Gadis.


Ia sama sekali tak paham dengan apa yang dikatakan pria di depannya.


"Bagaimana kalau saya melepaskan mu, tapi dengan satu syarat..." ucap Papa dengan senyum yang terkesan menakutkan.


Bahkan Gadis tak berani menatapnya lama.


"Tinggalkan Dion..." ucap pria itu lagi. Bahkan terlihat tak malu sama sekali.


Sejenak Gadis ternganga dengan ucapan pria paruh baya itu. Meninggalkan Dion? ck... pemikiran macam apa itu?

__ADS_1


Jelas sekali tujuannya datang ke Ibukota karena ingin meminta restu.


Tapi ternyata pemikiran pria tua itu jauh di luar nalar Gadis.


Karena meninggalkan Dion adalah hal yang tidak mungkin Gadis lakukan.


Apapun yang terjadi, Gadis hanya ingin Dion bersamanya.


"Seharusnya Anda malu mengatakan hal seperti itu Tuan... apakah Anda lupa? siapa yang meninggalkan Dion selama ini?. Dia pergi dari rumah karena Anda. Karena Anda yang mengusirnya..." ucap Gadis terlihat menertawakan ucapan calon mertuanya.


"Lalu setelah Dion bisa berdiri dengan kakinya, membangun usaha dengan keringatnya, Anda mengakuinya lagi?" tambah Gadis bahkan terdengar mencerca apa yang dilakukan pria itu.


Entah terbuat dari apa hati Papanya Dion, hingga berbuat sekejam itu pada anaknya sendiri.


Bahkan Harimau yang begitu buas saja masih memiliki kasih sayang pada anaknya, sedangkan Papanya Dion? hanya ada ambisi dan keserakahan dalam binar matanya.


"DIAM KAU! DIAM!" teriak Papa murka.


Wanita muda di depannya benar-benar keterlaluan.


"Bukankah Anda yang mengusir Dion waktu itu? membuatnya harus pergi jauh dari Ibukota. Sendirian di desa yang belum pernah ia tinggali sebelumnya. Dan lebih parahnya tak berani untuk menemui Ibu yang amat dia cintai... semua gara-gara Anda Tuan... hanya Anda penyebabnya..." teriak Gadis lebih lantang.


"Anda yang seharusnya di salahkan... bagaimana bisa Anda dengan teganya memisahkan anak dari Ibunya? apakah Anda tak pernah memiliki Ibu sebelumnya?".


Papa bangkit dari tempat duduknya. Tangannya mengepal kuat dengan otot-otot tangan yang menyembul keluar. rahangnya bergetar hebat dengan mata yang penuh dengan kobaran api kemarahan.


Baru kali ini Papa bertemu dengan seorang wanita yang begitu lancang. Bicara tanpa henti dan mengomentari nya. bahkan menantu pertamanya saja yang anak orang berada rak berani membantah sepatah katapun.


"Dimana hati nurani Anda Tuan? Dion sudah mendapatkan kebahagiaannya sendiri, dan Anda ingin merenggut nya lagi?" bahkan Gadis sampai menitikkan air mata saat mengucapkan segala sesuatu yang perlu ia ucapkan.


Walaupun keselamatannya saja belum terjamin, Gadis tak takut sedikitpun.


Karena apa yang dianggapnya benar, harus di umumkan.


"Jaga mulutmu wanita bodoh!" teriak Papa. Bahkan tak segan mencengkeram leher Gadis tanpa ampun.


"Suamiku..." teriak wanita yang entah darimana tiba-tiba berlari menuruni anak tangga.


Mendekati suaminya yang sudah kelewat batas. "Jangan..." pintanya.


Mama tak mau ada hal buruk yang terjadi pada wanita muda di depannya.


"Papa!" juga dengan suara Rega yang baru saja tiba. Ikut terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat.


Padahal Rega menuruti keinginan Papanya untuk membawa wanita itu, secara baik-baik tanpa melukainya sedikitpun.


Tapi tanpa diduga, justru Papa sendiri yang hendak menyakiti Gadis.


"Jangan Pa..." pinta Rega.


Diikuti oleh anak buah yang membopong tubuh Dion yang tak sadarkan diri.


Gadis yang melihatnya terkejut. Apa yang telah terjadi pada Dion?


pikirannya berkecamuk. Gadis takut mereka semua telah melukai Dion.


"Dion..." panggil Gadis lirih.

__ADS_1


***


__ADS_2