
HAPPY READING...
***
Arjun sedikit berlari keluar kamar menuju ke depan rumah setelah Akira memanggilnya beberapa saat yang lalu.
Dengan mengenakan celana kolor dan kaos santai, pria itu akhirnya keluar menyambut kedatangan dari seseorang yang tadi sempat dihubungi nya.
Ngomong-ngomong, Arjun masih menginap di rumah Ayah Adam sampai pagi ini karena Akira masih ingin bertemu dengan orangtuanya.
Untuk itulah Arjun menuruti keinginan gadis itu.
"Lama sekali sih," semprot Arjun pada Galih yang duduk di teras sambil membawa Paper Bag berisi pakaian yang Arjun minta.
Karena di rumah Ayah tidak ada baju ganti untuk Arjun, sehingga Arjun meminta Galih mengambilnya di rumah Pradipta sebelum berangkat ke kantor.
Arjun juga meminta asisten pribadinya itu menggunakan Taxi saja untuk menuju ke rumah Ayah.
Sudah dibantuin bukannya berterima kasih malah protes! umpat Galih dalam hati.
Bagaimana tidak? pagi ini saat dirinya tengah mandi, Arjun menelponnya dan meminta mengantarkan baju untuk pria itu.
Galih bahkan belum memakan sesuatu sejak bangun tidur tadi dan sekarang ia benar-benar merasa kelaparan.
"Ayo masuk," ajak Arjun bertingkah seperti sedang berada di rumahnya sendiri. Padahal saat ini ia hanya menantu keluarga Ayah Adam.
"Gue disini saja," tolak Galih dengan sopan. Bagaimanapun ia tau posisinya saat ini.
"Serius? lo gak mau ikut sarapan?" tanya Arjun.
Tentu saja Galih juga ingin sarapan karena tadi belum sempat. Tapi apa tidak apa-apa kalau dirinya sarapan disini? begitu hatinya bimbang.
"Mau minum apa?" tanya seseorang yang tiba-tiba berada di samping Arjun. Siapa lagi kalau bukan Akira yang bertanya begitu.
"Apa saja Nona..." jawab Galih.
Belum sempat Akira bicara lagi, Ayah Adam ikut keluar menemui tamunya.
"Kenapa tidak masuk? ayo ikut sarapan bersama..." desak Ayah Adam kepada Galih.
Sudah sepantasnya mereka sarapan bersama sebelum berangkat bekerja dan Akira juga akan kuliah nanti.
Walaupun masih merasa sungkan, Galih akhirnya mau masuk untuk sarapan bersama keluarga itu.
Dan disini lah Galih mengetahui kalau Ibunya Akira sedang tidak sehat, karena sejak tadi memang tidak terlihat sama sekali.
Akira, Galih dan Ayah telah duduk di kursi makan, kecuali Arjun. Pria itu sedang berganti pakaian di kamar.
"Sayang, bisa tolong ikatkan dasi ku?" tanya Arjun yang berjalan menuju ke ruang makan dengan dasi kendor yang masih melingkar di lehernya.
Seketika ucapan pria itu membuat Ayah dan Galih mengalihkan pandangan mereka. Begitu juga dengan Akira, gadis itu terkejut dengan ucapan Arjun barusan.
Sayang? Ck... dia benar-benar pintar bersandiwara... batinnya.
Dulu Arjun juga bersikap begitu di depan Papi dan Maminya. Sekarang di depan Ayah Adam juga.
Tanpa berkata apapun Akira mendekati pria itu. Mengencangkan ikatan dasi sesuai perintah.
__ADS_1
"Sudah..." ucapnya dengan yakin.
Mereka pun sarapan bersama di rumah Ayah Adam. Sesekali Akira membantu suaminya memisahkan duri dari ikan yang Arjun makan karena pria itu tidak terlalu pintar untuk melakukannya.
Akira tidak mau tenggorokan Arjun tersangkut duri dan membahayakan nyawa pria itu.
"Ayah, Akira berangkat dulu ya..." pamit Akira sambil mencium punggung tangan Ayah Adam.
"Arjun juga berangkat bekerja dulu Yah..." ucap Arjun sama seperti istrinya tadi.
"Hati-hati..." jawab Ayah Adam.
"Akira akan sering-sering datang kesini..." ucap Akira seperti berjanji pada Ayahnya.
Ayah Adam pun mengangguk sambil tersenyum.
"Mari Om..." pamit Galih.
"Hati-hati di jalan," pinta Ayah sambil menepuk bahu pria yang akan menjadi supir bagi anak dan menantunya pagi ini.
Galih telah membukakan pintu tengah mobil itu untuk Arjun dan Akira setelahnya baru ikut masuk dan duduk di kursi kemudi.
Mengencangkan Seatbelt dan mobil pun perlahan melaju meninggalkan kediaman Ayah Adam.
Di perjalanan, Akira sibuk mengetik sesuatu di ponselnya. Sepertinya gadis itu sedang membalas pesan dari seseorang.
Pasti dari kekasihnya...batin Arjun sedikit kesal.
Entah bermaksud apa, Arjun sesekali mencuri-curi pandang melihat ke arah layar ponsel istrinya dan tentu saja hal itu membuat Akira tak nyaman.
"Berhenti mencari tau atau gue congkel mata Lo!" ancam Akira. Mungkin batas kesabaran gadis itu telah habis karena sejak tadi Arjun tidak henti-hentinya mengintip.
Akira melotot ke arah Arjun dan kembali mengamati layar ponselnya.
Tentu saja Arjun tidak diam begitu saja. Ada saja rencana yang dibuatnya untuk menggoda Akira. "Kemarin gue gak sengaja angkat telepon dari seseorang," pancing Arjun.
Sesuai dugaannya, ucapannya itu langsung membuat Akira mengalihkan perhatiannya kepada Arjun.
Arjun masih tersenyum aneh dan menjengkelkan bagi Akira. "Iya, gue serius..." tambah pria itu.
"Siapa?" tanya Akira penasaran.
Tentu saja Akira penasaran tentang siapa yang menelponnya.
Segera Akira mengecek semua riwayat panggilan yang masuk ke ponselnya.
Akira terus mencari dan ternyata benar. Tiara menelponnya kemarin pagi dan tentu saja bukan Akira yang menjawabnya. Karena kemarin Akira hanya menjawab telepon dari Dean.
"Lo bilang apa?" tanya Akira sedikit ketakutan. Jangan-jangan Arjun bicara yang tidak-tidak dengan sahabatnya.
"Kenapa? Lo penasaran?" tanya Arjun dengan senyum jenaka yang masih menyebalkan sama seperti sebelumnya.
"Lo bilang apa?" tanya Akira semakin frustasi.
Ia takut kalau Arjun bilang aneh-aneh pada Tiara.
"Gue lupa..." jawab Arjun dengan entengnya.
__ADS_1
"Arjunnn..." rengek Akira.
"Apa sayangg..." jawab Arjun sama lucunya bahkan mampu membuat Galih yang sedang sibuk mengendarai mobil tersenyum geli mendengar perdebatan kedua manusia di belakang sana.
Sungguh Akira ingin sekali mencekik leher pria di sampingnya. Mencekiknya sampai Arjun benar-benar kehabisan nafas dan meminta ampun untuk di lepaskan.
"Lo bilang atau gue-"
"Atau apa?" sela Arjun tanpa memberi kesempatan Akira untuk menyelesaikannya kalimatnya.
"Gue cuma bilang kalau lo sedang mandi dan membersihkan diri..." tambah Arjun tentu saja berbohong.
"Kenapa bilang begitu? Padahal bukan saat gue mandi kan?" tanya Akira semakin kesal.
Pada kenyataannya Akira mandi saat Arjun masih terlelap kemarin.
Apa dia bilang? mandi? Aaa... Tiara akan mencernanya berbeda bukan? bagaimana kalau Tiara mengira kalau gue dan Arjun telah...? Aagghh... gue benar-benar bisa gila! ucap Akira dalam hati.
"Sudahlah jangan terlihat heboh seperti itu... kita kan sudah menikah, jadi wajar bukan?" tanya Arjun sambil menaik turunkan alisnya bersamaan.
"Wajar kepala Lo!" umpat Akira kesal.
Ya Tuhan... kenapa gue bisa hidup dengan pria seperti ini sih? Takdir macam apa ini? Huaaa...
Belum sempat selesai perdebatan mereka, Galih sudah bersuara.
"Sudah sampai nona...", Mobil juga telah berhenti tepat di depan pintu gerbang Universitas tempat Akira belajar.
Eh, cepat sekali... Akira juga terkejut dengan perjalanannya kali ini yang terasa sangat cepat dari biasanya.
Akira turun lebih dulu. Membanting pintu sedikit lebih keras untuk meluapkan kekesalannya pada Arjun.
"Selamat belajar Istriku..." ucap Arjun menggoda Akira dari balik jendela mobil.
Ck, lihatlah betapa menyebalkan nya dia! Mati saja kau sekarang juga! umpat Akira tanpa beralih menatap Arjun walau sesaat.
Mobil Arjun kembali melaju di jalanan beradu dengan kendaraan lain.
Arjun menyenderkan tubuhnya di kursi yang ia duduki. "Lo lihat kan? dia bahkan terang-terangan membalas pesan selingkuhannya di depan ku..." keluh Arjun kepada Galih.
Apa lo mulai suka dengannya? batin Galih bertanya-tanya.
"Kenapa lo diam?" tanya Arjun kesal karena Galih tidak merespon keluhannya tadi.
"lah mau jawab gimana?" Galih balik bertanya.
Tentu saja ia bingung untuk menjawab apa.
"Lo suka sama dia?" tambah Galih.
Mendengar pertanyaan Galih, tentu saja Arjun kesal. "Suka? jangan ngada-ngada! mana mungkin gue suka sama dia?" ucap Arjun sewot.
Ck... mana ada gue suka sama gadis menyebalkan itu... bikin sakit mata saja!
***
Hahaha... konyol sekali nih orang...
__ADS_1
Kalian dukung mana? Akira & Dean atau Akira & Arjun?