Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
51. Pertengkaran Pertama.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Akira masih menatap pria di sampingnya dengan tatapan tidak suka. Dadanya naik turun seirama dengan kemarahan yang benar-benar memuncak.


Ingin sekali ia marah dan menampar Arjun dengan tangannya sendiri, tapi Akira tak mau melakukan itu.


Perkataan Arjun barusan sudah membuat Akira paham kalau Arjun benar-benar pria brengs*k dan kejam.


Bagaimana bisa pria itu mengikat Akira dengan sebuah pernikahan yang sama sekali tidak ia inginkan.


"Jangan membicarakan itu lagi!" ucap Arjun terdengar seperti kata final di akhir perdebatan mereka.


Sekarang tinggal lah Akira yang membuang pandangannya ke arah jendela mobil itu. Tidak sudi ia menatap pria kejam di sampingnya.


Aku benar-benar membencimu Arjun! benar-benar membencimu... gumam Akira dalam hati.


Sedangkan Arjun, pria itu berkonsentrasi melajukan mobilnya sambil sesekali mencengkeram kuat stir kemudi menahan kemarahan. Si*l! berani sekali dia mengatakan kata cerai...


Bahkan tiba di Carport, tidak ada yang bicara sama sekali. Akira turun dari mobil lebih dulu sambil membanting pintu kendaraan itu dengan keras dan berlari masuk ke dalam rumah.


Setelah beberapa detik, Arjun ikut turun dan masuk ke dalam rumah tanpa membalas sapaan 2 penjaga yang berdiri di sisi kanan dan kiri pintu.


Akira terisak saat membawa kakinya naik tangga menuju ke kamarnya.


"Ada apa?" gumam Mami Livia yang tak sengaja melihat pemandangan mencurigakan tersebut. Apalagi terlihat Arjun yang berjalan mengikuti Akira masuk ke dalam kamar.


"Apa mereka bertengkar?" Mami Livia menduga seperti itu. Bagaimanapun hubungan anak dan menantunya itu memiliki awal yang sulit. Tentu saja akan ada banyak ketidakcocokan yang membuat Arjun dan Akira berselisih.


"Biarkan mereka menyelesaikannya sendiri..." saran Papi Johan.


Sebuah masalah akan cepat selesai jika di selesaikan dengan yang bersangkutan.


"Tapi Pi,"


"Nanti kalau masalah mereka masih belum menemui titik terang, kita bisa membantunya..."


Bijak sekali pria berkaca mata tersebut. Papi Johan dan istrinya juga pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidup. Anggap saja pertengkaran sebagai bumbu dalam sebuah rumah tangga.


Tidak ada rumah tangga yang benar-benar mulus tanpa masalah. Dan setelah mereka melalui itu semua, hubungan antara suami dan istri akan lebih erat. Begitu pikir Papi Johan.


Untuk itulah beliau membiarkan masalah yang terjadi antara Akira dan Arjun untuk di selesaikan sendiri. Sebagai orang tua, beliau hanya memantau dan mengingatkan nanti kalau Arjun maupun Akira salah dalam mengambil langkah.


Di kamar, Akira membuang tas dan segera berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Menghidupkan air dan menangis di bawah guyuran air shower yang terasa dingin.


Akira yakin kalau tangisnya akan terkalahkan dengan suara gemericik air dari sana.


Sedangkan Arjun, pria itu duduk sambil mengusap wajahnya kasar. "Shiit!" teriaknya kesal.


"Aku cuma tanya kapan kita bercerai, kenapa kamu marah?" tanya Akira sesaat setelah masuk ke dalam mobil.


"Tidak akan ada perceraian!"

__ADS_1


"Apa? apa kamu bilang?" tanya Akira marah. Ia tak menyangka kalau Arjun akan mengatakan hal itu.


"Kamu yang bilang kalau kita hanya berpura-pura menjalani pernikahan. Kamu yang memberi saran seperti itu. Kenapa sekarang saat aku meminta bercerai, kamu tidak mau?" tanya Akira mengingatkan Arjun tentang kesepakatan sebelum mereka menikah.


Karena Arjun hanya diam saja, Akira mulai bersuara lagi. Setidaknya ia tau kapan dirinya bisa lepas dari ikatan pernikahan yang sama sekali tidak diinginkannya.


"Aku juga punya masa depan, aku tidak mau hidup dengan pria yang tidak aku cintai... aku ingin hidup bersama dengan pria pilihanku sendiri Jun..."


"Aku bilang tidak akan menceraikan mu ya tidak akan! jangan membantah lagi!" teriak Arjun bahkan sampai meninggikan nada bicaranya hingga membuat Akira ketakutan dan menangis.


Arjun melempar vas bunga yang berada di atas nakas hingga pecah tepat di sudut kamar itu, "Brengs*k!" teriaknya sangat murka.


Segera Arjun meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang,


"Lo dimana?" tanyanya ketika sambungan telepon itu telah tersambung.


"Di Apartemen, kenapa?"


"Gue kesana,"


Arjun menutup teleponnya sepihak. Tanpa ia sadari, di ujung sana ada seseorang hang sangat kebingungan juga mengumpat atas tindakan Arjun yang memutus telepon seenaknya seperti itu.


Tanpa mandi dan mengganti baju lebih dulu, Arjun mengambil kunci mobil dan keluar kamar.


Meninggalkan Akira yang masih berada di dalam kamar mandi seorang diri.


Setelah kepergian Arjun, Akira keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi. Guyuran air shower benar-benar mampu membuat dirinya lebih tenang dari sebelumnya.


Akira keluar dari kamar mandi, tapi tak mampu menemukan Arjun disana.


Akira tau kalau itu semua adalah perbuatan Arjun.


"Nona Akira..." panggil seseorang dari luar kamar.


Setelahnya seorang pelayan masuk, dan tentu saja melihat kekacauan yang ada di dalam.


"Nona... apa Nona ingin makan malam di kamar?" tanya pelayan itu dengan rasa canggung.


Jika bukan karena Nyonya besar, pelayan itu juga tidak berani masuk kesini untuk melihat keadaan setelah bunyi suara benda pecah terdengar tadi.


"Iya," jawab Akira sama canggungnya. Ia juga tak menyangka kalau Arjun berbuat begitu.


Akira sudah hendak masuk ke dalam ruang ganti baju, "Dan tolong, bersihkan pecahan vas itu..." pinta Akira.


"Baik Nona,"


Setelah kepergian Akira ke ruang ganti pakaian, pelayan itu segera membersihkan pecahan vas dan menyapunya. Pelayan itu segera membawa sampah turun tapi tepat di ujung anak tangga lantai dasar rumah itu, Mami Livia sudah berdiri menunggu informasi yang di bawa pelayan.


"Bagaimana?" tanya Mami penasaran.


Bukan hanya beliau yang mendengar suara pecahan sebuah benda yang memang dilakukan secara sengaja tersebut.


"Nona Akira baik-baik saja Nyonya... Nona baru selesai mandi saat saya datang," lapornya.


"Apa Akira tidak terluka? maksudku apa ada tanda bahwa Arjun telah menyakitinya?"

__ADS_1


Mami Livia hanya takut Arjun main pukul kepada sang istri. Mami Livia hanya menakutkan hal itu.


"Seperti nya tidak Nyonya,"


"Kamu yakin?" masih tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh pelayan.


Sedangkan pelayan itu langsung mengangguk meyakinkan Nyonya besar keluarga itu kalau tidak terjadi apa-apa antara Nona dan Tuan Muda.


"Baiklah, lanjutkan tugasmu..."


Pelayan itu menundukkan kepalanya sesaat dan segera undur diri.


 


Di tempat lain, Arjun terlihat memandang langit ibukota yang berwarna kemerahan karena matahari akan segera terbenam. Di salah satu jarinya terselip benda ber nikotin yang sudah setengahnya terbakar.


"Lo bertengkar dengannya?" tanya Dion.


Jarang sekali Arjun mengunjungi apartemennya. Terakhir kali adalah saat Arjun akan menikah.


Dan bisa di tebak kalau Arjun sampai disini, tentu saja telah terjadi sebuah masalah yang cukup membuatnya marah.


"Lo tau, dengan beraninya dia mengatakan cerai di depanku langsung..." adu Arjun kepada Dion tentang apa yang di katakan Akira tadi.


"Lah lo maunya gimana?"


Mau Ku? apa yang aku mau?


"Aku juga tidak tau harus ngapain..." jawab Arjun frustasi.


Perasaan yang ia rasakan untuk Akira masih semu. Arjun tidak tau apa artinya hal itu tapi yang jelas, menggoda gadis itu tercipta kesenangan tersendiri bagi Arjun.


Arjun senang sekali melakukan hal itu. Apalagi melihat Akira menampakkan wajah cemberutnya, sungguh membuat hatinya terasa bahagia.


Bisa dikatakan Arjun sudah terbiasa dengan keberadaan Akira di dalam rumah Pradipta.


"Pertahankan,"


Satu kata dari Dion mampu membuat Arjun langsung mengalihkan pandangannya kearah sahabatnya tersebut.


"Ya, pertahankan kalau Lo yakin..."


Mungkin ini adalah saran terbaik yang pernah Dion berikan pada Arjun seumur hidup.


Dion sudah tau kalau hal ini akan terjadi. Pernikahan tidak bisa dibuat main-main, apalagi hati.


Walaupun masih abu-abu, Dion tau kalau Arjun mulai memiliki perasaan kepada sang istri.


Hanya ego saja yang membuat mereka masih meninggikan harga diri untuk sekedar mengakui.


***


Dukung terus cerita ini dengan Like, Komentar dan Hadiah / Vote...


Share juga ke teman-teman kalian biar makin banyak yang baca... Tengkyu...

__ADS_1


Love kalian banyak-banyak...


__ADS_2