Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
53. Bermain Drama.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Matahari baru terbit beberapa yang lalu. Biasanya Akira akan duduk di depan meja rias sambil bengong menatap kamar mandi yang lebih dulu di pakai oleh Arjun.


Tapi pagi ini terasa berbeda. Akira bangun lebih awal agar menjadi yang pertama mandi. Kenapa? tentu saja karena kejadian semalam.


Perdebatan semalam masih berlanjut hingga pagi ini.


Ia tidak mau berbicara lebih dulu kepada Arjun.


Dengan mengenakan jubah mandi, Akira keluar dari sana. Tepat di ambang pintu, ia berpapasan dengan Arjun.


Akira sengaja melempar pandangannya ke arah lain, begitu juga dengan Arjun.


Seolah-olah sedang menatap arah yang lain.


Terkadang Tuhan menciptakan pasangan dengan begitu banyak perbedaan, tapi ada juga yang seperti Arjun dan Akira. Sama-sama meninggikan ego dan harga dirinya setinggi langit.


Arjun masuk ke kamar mandi sambil bersenandung menghilangkan rasa canggungnya. Ck... sombong sekali dia... aku benar-benar ingin bermain-main dengan kekasihnya, dan bagaimana reaksinya nanti...


Batin Arjun dengan seringai menakutkan dari bibirnya.


Akira mempercepat kegiatannya. Segera mengganti baju, mengeringkan rambutnya tak lupa memakai make up tipis sama seperti yang selalu ia pakai ketika keluar rumah.


Aku tidak mau berlama-lama di dalam kamar ini... aku juga akan berangkat kuliah dengan supir, ogah sekali semobil dengan pria brengs*k itu...


"La-la-laa..." Arjun keluar kamar mandi masih bersenandung ria. Seolah hanya pria itu yang bahagia di muka bumi ini. Bahagia? tentu saja. Apa sih yang kurang dalam hidup nya? Arjun tampan dan juga mapan, tidak ada yang kurang dalam hidup pria itu. Jika ada yang kurang, cuma ada satu hal, otak! ya... pria itu sedikit tidak waras, umpat Akira dalam hati.


Ck... lihatlah... betapa menyebalkan wajahnya!


Akira melihat pria yang berjalan di belakangnya dengan ekspresi tak suka.


Akira sangat ingat bagaimana Arjun membentaknya tadi malam, dan itulah yang membuat Akira masih dendam sampai pagi ini.


Akira turun lebih dulu tanpa menunggu Arjun. Duduk di kursi makan yang ternyata sudah ada Mami Livia disana. "Pagi Mi," sapa Akira dengan berusaha menyembunyikan wajahnya.


Tidak dapat di pungkiri kalau semua penghuni rumah ini tau apa yang telah terjadi semalam. Apalagi sempat ada peristiwa dimana Arjun melempar vas bunga hingga pecah berkeping-keping.


"Pagi sayang," jawab Mami Livia. Mata beliau berusaha untuk mencari sesuatu yang mungkin saja terlihat di wajah ataupun tubuh menantunya. Walaupun sesuai laporan pelayan tadi malam kalau tidak ada kekerasan, Mami Livia masih penasaran. Ia tak mau menantunya itu mendapat kekerasan dari Arjun.


Apalagi Akira adalah anak dari teman Papi Johan. Tentu saja jika terjadi sesuatu pada Akira, akan jadi tanggung jawab mereka.


Ingin sekali Livia bertanya, tapi ada rasa sungkan dalam dirinya. Apakah boleh ia mencampuri urusan Arjun dan Akira dimana pada kenyataannya Akira sama sekali tidak membutuhkan saran dari Mami Livia.


Sepertinya benar, Akira tidak terluka sama sekali... Batin Mami membenarkan.


Belum sempat ada percakapan antara menantu dan mertua, Arjun tiba-tiba tiba dan menyapa ibunya. "Pagi Mi,"


"Pagi Arjun,"


"Papi dimana?" tanya Arjun mencoba berbasa-basi dengan menanyakan keberadaan ayahnya.


"Oh, Papi... Papi baru saja berangkat,"


Sarapan kali ini, Mami Livia hanya mengamati anak serta menantunya. Beliau bahkan tidak menyentuh sarapannya sama sekali. Pandangannya terus saja menatap Arjun dan Akira bergantian. Mereka tidak bicara sama sekali... apa sih yang membuat mereka bertengkar?


Tentu saja Mami Livia sangat penasaran.

__ADS_1


"Kalian berangkat bersama kan?" tanya Mami.


Pertanyaan dari Mami tentu saja membuat Arjun dan Akira saling terdiam dalam pemikirannya masing-masing.


Aghh.. kenapa dia diam saja? batin Arjun.


Kenapa gue yang harus menjawab? Mami tanya kita kan? berarti Lo juga berhak untuk menjawab... batin Akira.


Karena tidak mendengar jawaban dari Arjun,


"Akira pergi di antar supir Mi,"


Akira lah yang bersuara lebih dulu.


"Tapi sayang-," Mami Livia langsung menjawab.


"Papi pergi bersama supir tadi,"


"Yang lain?" tanya Akira sedikit kecewa dengan jawaban Mami.


"2 lainnya mengambil cuti bersamaan," jawab Mami Livia tanpa dosa sama sekali.


Sedangkan Arjun langsung berhenti makan dan menyipitkan mata menatap sang ibu.


Mami! ini semua rencana Mami kan? tanya Arjun dengan ekor matanya yang langsung membuat Mami Livia tersenyum penuh kemenangan.


Akira benar-benar sebal. Apa itu wajar? Agghh... bagaimana aku bisa berangkat kuliah? dengannya? tidak sudi... apa dia tidak ingat telah membentak ku tadi malam?


Akira tentu saja mencium bau-bau rencana dari seseorang yang tak lain adalah Mami Livia. Mungkin juga Papi Johan berperan juga dalam menciptakan sebuah keadaan yang sedikit aneh ini.


"Berangkat lah dengan Arjun, bisa kan Jun?" tanya Mami Livia pelan tapi seperti memaksa anaknya agar menjawab iya. Pintar sekali emak-emak itu.


"Hm," jawab Arjun asal.


---


Di mobil.


Suasana di dalam kendaraan itu seperti sebuah tempat eksekusi. Tidak ada suara sama sekali bahkan untuk bernafas saja, Akira berusaha untuk tetap pelan.


Pandangannya juga ke arah jendela, melihat ke luar daripada harus menatap ke arah Arjun.


Mana sudi Akira menatap pria itu.


Tiba-tiba suara dering ponsel nyaring terdengar di dalam mobil itu. Ponsel itu adalah milik Arjun. Arjun berusaha melihat siapa yang menelponnya pagi ini, Galih? ngapain pria itu menelpon ku? batin Arjun bertanya-tanya tapi di detik selanjutnya, otaknya memikirkan sebuah cara untuk sedikit menggoda gadis di sampingnya.


Aaa... kau punya ide untuk mengerjainya... seringai muncul di bibir Arjun.


"Halo,"


"Halo Jun, lo dimana?"


"Bagaimana? sudah dapat apa yang gue minta semalam?" tanya Arjun sambil sesekali menatap Akira dengan ekor matanya.


"Maksud Lo?"


"Jadi dia tinggal di perumahan?"


Mendengar Arjun berkata seperti itu, Akira sedikit penasaran. Siapa yang tinggal di perumahan? batinnya penasaran.

__ADS_1


"cari tau semuanya, mulai dari pekerjaan orangtuanya, adik atau kakaknya. Jika sampai ada sangkut paut dengan perusahan, kabari segera... Aku benar-benar memasukkannya pada Blacklist Pradipta Group!"


Akira semakin merasa tidak enak dengan apa yang Arjun bicarakan.


"Lo mabuk ya?"


Galih lah yang bingung dengan semuanya. Apa yang Bosnya katakan sungguh di luar nalar. Padahal Galih menghubunginya karena sesuatu hal.


"Apa? Dia pergi menggunakan motor? Ikuti kemana dia pergi! kalau sampai lepas, aku tidak akan segan-segan memenggal kepalamu! PAHAM?" bentak Arjun yang semakin membuat Akira khawatir.


Siapa yang di mata-matai? siapa dia? Akira yakin kalau ada yang tidak beres. Ia ingin sekali turun dari mobil itu tapi tidak bisa. Bisa mati kalau dia keluar karena Arjun mengemudi kendaraan itu dengan kencang.


Jalanan juga ramai oleh kendaraan lain.


Keringat dingin semakin mengucur dari kening Akira. Bukan karena takut pada dirinya, Akira mengkhawatirkan seseorang. Ya... Dean.


Akira takut kalau ternyata orang suruhan Arjun memata-matai kekasihnya.


Apa Arjun berniat buruk pada Dean? apa dia akan menghabisi Dean? kenapa? apa gara-gara Aku meminta cerai?


Kepala Akira benar-benar di penuhi oleh begitu banyak pertanyaan.


"Lo sedang main drama? Di televisi mana?" tanya Galih karena sejak tadi ia hanya mendengar Arjun berbicara seolah-olah sedang beradegan di film-film.


"Baiklah, terus ikuti dia... jangan sampai lepas!"


Setelah mengatakan itu, Arjun mematikan ponselnya. Sekilas ia melihat wajah Akira yang berubah pias.


Dia ketakutan? ck... terlihat sekali!


Tak terasa mobil yang dikemudikan Arjun tina di depan Universitas Akira.


Tanpa berkata apapun, Akira turun dari sana tentu saja dengan detak jantung yang sedikit menggila.


Ucapan Arjun tadi masih terngiang jelas di telinga Akira.


"Akira!" panggil Arjun hingga membuat gadis itu tersentak kaget.


Tadinya Akira telah melangkah menjauhi mobil, tapi karena Arjun memanggilnya Akira berbalik dengan wajah kacau.


"Tas Lo ketinggalan,"


"Ahhh, iya" jawab Akira sama gugupnya. Segera membuka pintu dan mengambil tas dan beberapa buku pelajaran yang berada di bangku tengah.


"Makasih," ucap Akira.


"Hm,"


Arjun segera menginjak pedal gas, dan mobil itu pergi melaju di jalanan kembali.


***


Hahaha... beri tepuk tangan pada Akting Arjun barusan, hingga mampu membuat Akira panik bukan main...


Bagaimana reaksi Galih? kita lihat besok... sabar ya...


Lov kalian banyak-banyak ...


Jangan lupa tinggalkan jejak, (Like, Komen, dan Vote seikhlasnya) Tengkyu 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2