Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
202. Si Cerdas.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Pagi ini 2 hari setelah kejadian malam itu, Gadis dan Dion sudah menyiapkan segala sesuatu untuk mereka kembali. Dion tak bisa membuat Gadis berlama-lama di Ibukota. selain khawatir akan sesuatu yang mungkin saja terjadi, juga karena memikirkan Pak Kepala Desa. bagaimanapun membawa Gadis cukup lama juga jadi bahan omongan orang-orang. Dion tak mau ada yang membicarakan keluarga Gadis nantinya.


Di dalam kamar Apartemen milik Arjun, Gadis mengemasi pakaiannya ke dalam koper dibantu oleh Tiara.


"Gue akan kangen dengan mu mbak..." gumam Tiara. karena sejak beberapa hari terakhir, Gadis seperti kakak baginya. mereka bahkan lebih akrab dari yang terlihat. kadang Gadis sengaja membantu Tiara menyiapkan sarapan bahkan makan malam.


Walaupun Dion dan Gadis tinggal di unit yang berbeda dengan Tiara, tapi saat sarapan ataupun makan malam mereka akan berkumpul di unit Galih.


"Kalau liburan berkunjunglah... gue akan menyambut kalian..." goda Gadis. membuat Tiara malu karena hubungannya dengan Galih tidak seperti yang Gadis bayangkan.


"Kenapa?" pancing Gadis.


"Mbak Gadis salah paham... dia tidak seperti itu," tolak Tiara. bagaimanapun Galih tidak mempunyai hubungan apapun dengannya.


"Lo nya aja yang tidak peka Ra..." cerca Gadis. jangankan dia, semua orang akan tau bagaimana Galih memperlakukan Tiara selama ini. pria itu memiliki perasaan pada Tiara. walaupun tak mengakuinya, tapi gerak-geriknya jelas terlihat.


"Ck... tidak mungkin.. lo masih teringat dengan cerita gue kan mbak...?" tanya Tiara masih dengan pemikirannya.


"Yang mana? wanita itu?" jawab Gadis masih samar. sedangkan di detik selanjutnya ia paham dengan anggukan Tiara yang membenarkannya.


"Ya... lo yang berusaha, toh... dia hanya masa lalu nya bukan?".


Ucapan Gadis seperti angin segar bagi Tiara.


Apa maksudnya gue yang harus mempertahankan Galih agar tak melihat masa lalunya lagi?


Belum selesai dengan percakapan mereka, Dion mengejutkannya. "Sudah?".


Membuat Gadis mengalihkan perhatiannya ke arah Dion.


"Iya...".


"Lo ikut nganterin kita kan Ra?" tanya Dion yang saat ini mengenakan kaos putih pendek yang memperlihatkan lengannya yang terbalut perban luka.


"Iya dong..." jawab Tiara semangat. setidaknya hanya ini yang bisa ia lakukan. mengantarkan kepergian Gadis kembali ke kota asalnya.


"Ayo..." ucap Galih bersuara. membantu membawa koper Dion keluar diikuti oleh Dion yang menyeret koper kekasihnya. mereka akan menuju ke Bandara sekarang juga.


 


Selama perjalanan tidak ada yang bersuara. Dion sibuk dengan ponselnya sedangkan Gadis memilih untuk melihat keluar jendela. pemandangan Ibukota yang belum pernah ia nikmati selama disini.


Hari pertama datang, Gadis hanya menghabiskan waktunya di Mall mencari gaun dan sepatu untuk acara pesta. sedangkan hari-hari berikutnya hanya duduk di Apartemen, menemani Dion yang terluka.


Benar lukanya tidak terlalu parah, tapi tetap saja membutuhkan beberapa jahitan dan perawatan.


itulah sebabnya Gadis tidak merengek untuk pergi keluar.


"Kapan-kapan kita datang ke kota ini lagi..." ucap Dion bersuara. nyatanya pria itu masih memperhatikan Gadis walaupun terlihat sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


Dion masih mengamati tingkah Gadis yang sekarang duduk di sampingnya.


"Hah? tidak... gue tidak berpikir seperti itu kok..." bantah Gadis. ia tak menyesal kalaupun tak jadi berkeliling menikmati suasana Ibukota.


karena Gadis yang ingin pulang dalam keadaan baik-baik saja.


"Sering-sering datang kesini Mbak...".Tiara ikut nimbrung pembicaraan mereka.


"Iya..." jawab Gadis.


Cukup lama perjalanan yang mereka tempuh hanya untuk menuju Bandara. bukan karena sebab tentu saja karena jalanan yang macet oleh kendaraan bermotor dan mobil.


Baru turun dari mobil melangkah sambil menyeret koper, Tiba-tiba Gadis dan Dion kembali terdiam melihat seorang pria yang ditemani 4 anak buah berjalan ke arahnya.


Apa lagi ini? batin Gadis kembali khawatir.


ia sudah lelah melihat orang itu. karena saat bertemu dengannya, nyawa Gadis terasa di ubun-ubun.


Seketika Dion menggenggam tangan Gadis berharap tak akan ada yang bisa menyakiti mereka.


Mas Rega? kenapa dia bisa sampai disini? batin Galih juga ikut kesal.


Tanpa terduga, Rega meraih tangan kiri Dion. membuat yang dipegang sempat panik. karena ada luka yang belum sembuh di lengan itu.


"Apa masih sakit?" tanya Rega. Dion tak segera menjawab karena merasa aneh dengan pertanyaan kakaknya.


Apa dia datang hanya untuk menanyakan ini? batinnya.


Dan di menit berikutnya Dion menganggukkan kepala. Ya... tangannya masih sakit ketika digerakkan.


"Benar kata Lo, gue adalah pengecut...". Rega tersenyum getir mendeskripsikan dirinya selama ini. "Gue adalah kakak yang tidak pecus melindungi adiknya...".


Hanya ada satu kata yang menyesak dalam hati setiap kali Rega mengingatnya. pria itu hanya diam melihat apa yang telah terjadi pada Dion.


"Maaf,".


Terdengar Dion menghela nafasnya berat. tak tau harus menjawab apa ataupun menyanggah ucapan kakaknya.


"Gue pamit..." hingga hanya kata itu yang terlontar dari mulut Dion. pamit atas kepergiannya dari kota ini. Kota ayang telah ia tinggali sejak bayi.


Dion hendak kembali berjalan, tapi tiba-tiba Rega memeluknya. membutuhkan Galih dan Gadis terkejut. bukan karena harus tapi khawatir kalau Rega melakukan sesuatu yang buruk pada Dion.


Tubuh Dion menegang bersamaan dengan pelukan yang sudah lama tak ia rasakan. pelukan hangat dan melindungi dari seorang kakak kepada adiknya.


Pelukan itu mengingatkan Dion pada masa lalunya. Rega yang begitu menyayanginya dengan caranya sendiri. "Maafin kakak Yon...".


Mata Dion memanas mendengar semua itu. Hingga tanpa sadar tangannya terangkat untuk membalas pelukan kakaknya.


"Gue tau lo hebat... si cerdas dari keluarga Arya Guna...". Itulah julukan Dion sejak kecil. jika anak lain sibuk bermain, Dion sibuk membuat mainan dari apapun yang ia temukan.


saat anak lain sibuk ngobrol dengan teman sekelasnya, Dion sibuk membaca materi yang belum diajarkan gurunya. itulah yang membuat Dion selangkah di depan dari teman-temannya.


"Kakak..." ucap Dion. tak menyangka kalau Rega masih mengingat hal itu. padahal sudah lama Dion berusaha melupakan julukan itu dari kepalanya. lebih tepatnya saat julukan pembangkang tersemat dalam dirinya.

__ADS_1


"Dion... selamat atas keberhasilan lo... lo benar hebat... dan Terima kasih telah menyadarkan gue..." ucap Rega. karena dari Dion lah Rega sadar bahwa ia tak ada apa-apa nya dibandingkan dengan sang adik. Rega hanya dikenal karena Papanya bukan atas usahanya sendiri.


Tapi Dion bisa, memakai namanya sendiri tanpa meminta bantuan pada kekuatan keluarganya.


"Terima kasih kak..." jawab Dion penuh haru. juga Gadis yang terharu melihat semuanya. menyeka air mata yang menggenang di pipi dengan senyum lega.


Rega melepaskan pelukannya pada Dion dan beralih pada Gadis. mengamati wanita hebat itu cukup lama. mengingat bagaimana beraninya Gadis melawan anak buah Papa tanpa ragu sama sekali. "Jaga Dion, adik ipar..." ucap Rega. seharusnya kebalik bukan? tapi mau bagaimana lagi.


"Dion sedikit gegabah dalam menyelesaikan sesuatu... dan ceroboh,".


Gadis pun setuju akan penuturan Rega barusan. Ya... seperti yang terlihat, Dion memang pria yang gegabah dalam memutuskan sesuatu. tak jarang pula terluka karena kecerobohannya.


"Maafin Gadis Kak..." hanya itu yang bisa Gadis ucapkan. mungkin pertemuan mereka tidak berkesan karena Rega harus melihat sisi liarnya Gadis. bahkan memukul pria yang saat ini berdiri di belakang Rega.


Rega melirik kemana arah pandangan Gadis dan tersenyum, bagaimanapun ia tau siapa yang membuta wajah Gadis terlihat bersalah.


"Kenapa? pukulan mu akan selalu di ingatnya..." goda Rega. membuat Gadis semakin malu dan tertunduk.


Aaa... apa gue sememalukan itu?


Semua orang tersenyum mendengar penuturan Rega.


Di dalam Bandara, ternyata ada kejutan lain yang Dion dapat. matanya kembali membulat melihat seorang pria dengan banyak bodyguard menunggunya.


"Berani sekali lo membuat Presdir menunggu ya..." celoteh khas seseorang yang tak lain adalah Arjun.


Pria yang telah memiliki satu anak itu terlihat semakin bersinar dengan setelan jas berwarna hitam dan berwibawa. Beberapa hari terakhir, Arjun benar-benar telah menangani pekerjaan sebagai Presdir Pradipta Group menggantikan Papi Johan.


"Ampun Presdir... saya benar-benar telah berbuat dosa," jawab Dion sambil mengatupkan kedua tangannya di depan wajah. tapi bukan terlihat takut tapi seperti ekspresi meledek. membuat Arjun mengumpat dalam hati.


"Ck,".


"Terima kasih..." kali ini terdengar tulus. Dion benar-benar bahagia memiliki sahabat seperti Galih dan Arjun.


"Hanya ini yang bisa gue lakukan... justru gue yang merasa bersalah tak bisa membantumu waktu itu," Arjun mengamati lengan Dion yang terbalut perban. meringis membayangkan bagaimana rasanya.


"Ck... jangan menatapku seperti itu," tolak Dion.


rasanya tidak sesakit ketika ia di usir dari rumah dan meninggalkan Mamanya.


"Baiklah... gue berangkat..." pamit Dion.


"Hati-hati, segera berikan undangannya..." jawab Arjun.


"Siap... Gal... gue pergi ya..." jawab Dion dan beralih pada Galih dan Tiara.


"Hati-hati... kabari gue kalau sudah sampai..." pinta Galih.


Dion mengacungkan jempolnya. "Ayo..." ajaknya pada Gadis.


Bersamaan dengan itu, Tiara melambaikan tangannya melepas kepergian Dion dan Gadis.


***

__ADS_1


Yeee....


__ADS_2