Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
154. Nasi Goreng Dan Kecelakaan.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Sejak malam mulai merangkak naik, Tiara tidak bisa tidur nyenyak. Ia juga tidak tau apa yang membuatnya seperti itu. Hanya ada rasa sesak di dadanya setiap kali gadis itu berniat memejamkan mata.


Du tambah dengan Ibu yang tak kunjung pulang. Entah kemana beliau pergi, karena Tiara hanya di beritahu melalui sebuah pesan singkat yang bilang kalau Ibu sedang pergi menemui seseorang.


Tiara kembali bangkit dan melihat jendela kamar, nyatanya di bawah sana tak terlihat seorang pun yang berjalan melewati jalanan itu.


Sunyi dan senyap.


Hingga suara burung yang melewati atap rumah mengejutkannya.


Burung yang di percaya sebagai pembawa kabar buruk terdengar memekikkan telinga. Lebih tepatnya pembawa kabar kematian. Membuat bulu kuduk Tiara meremang seketika.


Takut juga karena malam ini ia sendirian di rumah.


Tiara kembali menutup jendela kamarnya, duduk di tengah ranjang sambil memeluk kedua lututnya.


Gue takut...


Tiara memang terbiasa berdua dengan ibunya. Bahkan tak jarang gadis itu menyelinap masuk ke kamar Ibu demi untuk tidur berdua.


"Ibu kemana sih..." gumamnya pelan.


***


Di salah satu unit Apartemen yang berada di jantung Ibu kota, seseorang terbangun dari tidurnya.


Menggeliat pelan sambil melirik jam kecil yang berada di nakas.


Jam 12? batinnya terkejut.


Galih merasa bingung. Padahal ia sudah tidur cukup lama tapi kenyataannya masih jam 12 malam.


Karena tubuhnya yang merasa lelah tertidur, Galih bangkit dari sana. Mengucek matanya dan merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terbuka.


Seperti inilah kebiasaan Galih selama ini. Tidur tanpa mengenakan piyama atasnya hingga memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang terpahat kotak-kotak hasil Gym.


Nyatanya belum makan memang mempengaruhi tidur seseorang. Mungkin inilah yang terjadi pada Galih. Tadi dia tidak sempat makan malam dan langsung tidur.


Dan inilah alasannya terbangun tengah malam.


Dengan langkah malas, Galih menuju ke dapur. Membuka lemari pendingin untuk mencari apapun yang bisa mengganjal perutnya.


Hah? tidak ada apapun? batinnya kecewa.


Padahal biasanya ada banyak makanan yang tersimpan disana bahkan seringkali Galih membuang makanan itu. Mungkin inilah yang di namakan karma.


Galih sering membuang makanan yang di berikan Bella, dan saat perutnya benar-benar kelaparan tidak ada apapun yang bisa di makan.


Bahkan makanan instant seperti mie saja tidak ada. Karena sibuk, Galih benar-benar tidak ada waktu untuk pergi ke Supermarket membeli bahan makanan. Dan inilah akibatnya, sudah larut malam dan perutnya kelaparan.


Galih memilih untuk meminum segelas penuh air putih. Berharap mampu menahan rasa laparnya.


"Agghhh... tetap saja gue lapar..." keluhnya seorang diri.


Galih berjalan menuju ke jendela. Mengamati keadaan di bawah sana dengan mata elangnya.


Aku akan keluar dan cari makan... batinnya memutuskan.

__ADS_1


Dengan mengenakan hoodie berwarna putih dan menyambar kunci mobil, Galih keluar dari Apartemen nya.


Mengendarai mobil hitamnya untuk mencari makanan di pinggir jalan.


Biasanya walaupun sudah jam 12 malam seperti ini, di ujung jalan sana ada pedagang nasi goreng yang masih buka.


Jalanan sangat sepi oleh kendaraan, membuat Galih bisa leluasa mengemudikan mobilnya sedikit lebih kencang.


Tiba di pedagang yang di maksud, Galih langsung turun dari mobil. "Nasi gorengnya masih?" tanya Galih ragu.


"Yah... sudah habis Mas... kompornya saja sudah saja bawa pulang tadi..." sesal pedagang tersebut.


Membuat Galih juga sedikit kecewa.


"Ya sudah,"


"Maaf ya...",


Galih hanya tersenyum dan kembali ke mobilnya.


Untung saja ia tidak jalan kaki tadi, sehingga bisa mencari pedagang lain yang sedikit jauh dari tempatnya tinggal.


Galih kembali mengendarai mobilnya ke arah persimpangan jalan yang tak jauh dari rumah seseorang. Disana memang ada pedagang nasi goreng yang masih buka. Sehingga Galih memutuskan untuk menghentikan mobilnya di depan gerobak pedagang tersebut.


"Nasi gorengnya satu, pakai 2 telur..." ucap Galih dan pedagang itu langsung menganggukkan kepalanya.


Sambil menunggu Galih memilih untuk duduk bersandar bodi mobil. Menyalakan sebatang rokok untuk menghangatkan tubuh.


Pandangannya terus mengamati jalanan di depan sana yang cukup sepi. Hanya ada beberapa kendaraan roda dua yang terlihat menyebrang.


"Sudah Mas... 15 ribu," ucap pedagang itu. Menyerahkan bungkusan nasi goreng ke tangan Galih.


Karena memang tidak memiliki uang pecahan kecil, Galih membayarnya dengan uang pecahan berwarna biru. "Kembaliannya ambil saja..." ucapnya tanpa ragu.


Itulah sikap yang jarang di lihat oleh orang lain. Galih memang tidak pernah mengambil kembalian dari apapun yang dia beli dari pedagang-pedagang kecil di trotoar.


Anggap saja sebagai keberuntungan dari pedagang yang ia beli.


Baru saja menyentuh gagang pintu mobil, di belakang sana tercipta suara decit mobil amat keras dan Brruaakkk.... Sebuah hantaman benda keras.


Membuat pedagang nasi goreng itu menjerit karena terkejut.


Sedangkan Galih terlihat mematung dengan tangan yang masih menggantung di udara.


Kesadarannya kembali terkumpul ketika mendengar derap langkah kaki beberapa orang mulai berlari menuju ke sumber suara berasal tadi.


Ya... kecelakaan telah terjadi tepat di jalan depan sana.


Dengan rasa penasaran Galih melihat gerombolan orang yang berlari. "Tolong dia..." teriak dari mereka.


"Dia ibu menjual tamanan di sana kan?"


"Astaga sepertinya dia meninggal..."


Galih mendengar semuanya, karena memang kecelakaan tadi terjadi tepat di samping pedagang nasi goreng yang di belinya.


Entah kenapa Galih merasa penasaran, dengan langkah perlahan pria itu berjalan menuju ke gerombolan seseorang yang mengerumuni korban.


Jantung Galih semakin berpacu hebat. Karena sebuah kecelakaan memang identik dengan darah dan Galih takut akan hal itu. Tapi kali ini rasa penasarannya jauh lebih tinggi di bandingkan rasa takut.


Galih berusaha untuk melihat sangat korban, hingga di detik selanjutnya matanya membulat sempurna. Nafasnya seperti tercekat di tenggorokan melihat siapa yang terkapar di depan sana dengan wajah penuh darah.

__ADS_1


"Tan-te?" ucap Galih tanpa duga. Membuat kerumunan orang itu melihat ke arahnya.


"Mas kenal dengannya?" tanya salah stau dari mereka.


Yang membuat Galih otomatis menganggukkan kepala.


Galih mengenal sosok perempuan setengah baya itu karena sering mengantarkan anaknya pulang.


Wanita itu juga yang sellau tersenyum ramah ketika Galih tiba di rumahnya.


Tanpa ragu, Galih berjongkok mendekati wanita itu. "Tante... bertahanlah...". Dengan tenaganya Galih menggendong wanita itu tanpa peduli darah yang mengalir membasahi hoodie nya.


"Siapa yang bisa bawa mobil?" tanya Galih pada kerumunan orang-orang.


"Saya," jawab salah satu pria disana.


Galih langsung menyerahkan kunci mobilnya kepada pria itu. Sedangkan dirinya menggendong korban kecelakaan dan berlari menuju ke mobilnya.


"Beritahu putrinya..." perintah Galih sebelum mobilnya mulai meninggalkan tempat kejadian.


"Bertahanlah Tante..." ucap Galih menyemangati.


Sedangkan wanita yang duduk di bangku tengah bersamanya itu terlihat memandang Galih dengan mata yang kian menyipit menahan kesakitan.


"Kamu pria yang baik Galih..." ucapnya terbata-bata.


"Terima kasih...",


"Jangan berterima kasih Tante... sudah kewajiban saya untuk menolong..." jawab Galih.


"Tolong jangan banyak bicara dulu, kita akan membawa tante ke rumah sakit...".


Tanpa terduga wanita itu menggelengkan kepala. Nafasnya beberapa kali tersengal hebat menandakan bahwa nyawanya tidak akan bertahan lama.


Galih semakin risau, beberapa kali meminta pria yang menyetir mobilnya untuk lebih cepat.


"Jangan putriku..." ucap wanita itu membuat Galih langsung terdiam.


"Tolong jaga putriku nak Galih... jaga dia..." air mata dari wanita itu mulai jatuh menyatu dengan darah yang keluar dari kepala.


"Galih mohon jangan bilang seperti itu Tante... tante akan baik-baik saja," pinta Galih.


Ia yakin kalau sampai di Rumah Sakit, dokter akan menangani wanita yang di panggilnya dengan sebutan Tante itu.


"Tidak... sepertinya sudah waktunya tante kembali padaNya... berjanjilah nak... jaga putriku. Dia tidak pernah mendapat kasih sayang dari ayahnya... dia sudah terlalu lama menderita hidup bersamaku... hiks,".


Itulah kehebatan seorang ibu. Di depan ajalnya, yang di khawatirkan hanyalah hidup anaknya.


"Dia sangat menyayangi keluarga mu... jaga lah dia Nak...",


Belum sempat Galih menjawab perkataan wanita yang berada dalam pangkuannya, wanita itu terlihat semakin parah. Matanya terpejam menahan sesuatu yang amat menyakitkan. Nafasnya semakin tersengal hebat bahkan mampu membuat kedua paha Galih merasa gemetar.


Inilah pertama kalinya Galih melihat ajal seseorang tiba.


"Galih janji Tante... Galih akan menjaga putri tante..." ucapnya pasrah.


Dan jawaban Galih seperti sebuah mata air di sebuah padang pasir yang luas. Melegakan.


Wanita yang berada di pangkuan Galih tersenyum lega. Di tariknya nafas yang kian berat, dan matanya langsung terpejam bersamaan dengan helaan nafas terakhirnya.


"TANTEEE!" teriak Galih menjadi satu-satunya suara yang tercipta di dalam mobil.

__ADS_1


***


__ADS_2