Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
142. Maafkan Aku.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Arjun tengah berdiri di balkon sebuah kamar sambil menikmati sebatang rokok.


Menciptakan asap yang mengepul ke udara seirama dengan hembusan nafas dari mulutnya.


Pikirannya kalut dan membuat kepalanya serasa di pukul oleh benda keras hingga berdenyut.


Ucapan dari Akira siang tadi sungguh mengenai hatinya. Betapa istrinya belum menginginkan bayi dalam kandungan.


Arjun bingung harus berbuat apa, memilih Akira atau mementingkan keinginan orangtuanya.


"Gue rasa dia hanya tidak sengaja mengatakannya..." ucap Dion yang juga ikut menikmati rokok dan berdiri di samping Arjun.


Seperti inilah yang terjadi pada persahabatan mereka. Mencari salah satunya untuk berbagi masalah yang sedang menimpa diri baik Arjun, Dion ataupun Galih.


Tapi kerap kali Arjun lah mencari keberadaan Dion, sedangkan Dion memilih untuk kabur setiap kali punya masalah.


Lebih tepatnya menghindar untuk beberapa saat.


"Akira terlihat benar-benar tidak menginginkan bayinya..." keluh Arjun.


Ada sorot mata penuh kekecewaan saat Akira mengatakan perasaannya tadi siang.


Betapa wanita itu berharap dirinya tidak sedang dalam keadaan hamil.


"Bujuk lagi dia... mungkin moodnya akan berubah," saran Dion.


Walaupun Dion belum berumah tangga, tapi saran darinya selalu menjadi pilihan yang tepat bagi Arjun.


"Ngomong-ngomong si Monyet jarang sekali kelihatan..." ucap Dion mengganti topik pembicaraan.


"Dia sibuk mengurusi pekerjaan gue di kantor... lebih tepatnya membantu bokap," jawab Arjun.


Gara-gara mual yang di deritanya, Arjun kerap kali cuti bekerja.


Dan semua pekerjaannya tentu saja di limpahkan kepada Papi Johan di bantu Galih, karena pria itu yang selalu menemani Arjun.


"Aneh ya... Akira yang hamil kenapa Lo yang mual?" inilah pertanyaan yang selalu mengganggu Dion. Kalau di pikir secara nalar, tidak ada sangkut pautnya bukan?


Tapi hal itu nyata terjadi pada sahabatnya. Hingga membuat Dion melongo ketika pertama kali mendengar kabar itu dari Arjun.


"Itu tandanya Akira hamil anak gue!" semprot Arjun.


Jadi wajar jika Arjun mengalami apa yang dialami ibu hamil di luaran sana. Beda lagi kalau Akira tidak hamil anaknya, Ck... amit-amit.... batin Arjun.


"Manjur juga Lo... Kira-kira terjadi saat dimana? Belanda? Perancis atau London?" gumam Dion penasaran.


"Sepertinya jauh sebelum itu... kayaknya saat pagi hari di rumah Ayah Adam," jawab Arjun. Tapi di detik selanjutnya pria itu sadar, "Ck... kenapa Lo penasaran?" omel Arjun menampakkan wajah kesalnya.


Toh kapanpun bayi itu terbentuk, tak ada urusannya dengan Dion bukan?


Biarlah menjadi rahasia antara Arjun dan Akira saja.


"Hahaha..." membuat Dion hanya tertawa dengan tanggapan Arjun barusan.


Senang sekali rasanya menggoda Arjun dengan cara membicarakan istrinya.


Inilah korban cinta! ejeknya dalam hati.


***


2 jam kemudian.

__ADS_1


Arjun dan Dion sedang asyik memainkan game di depan TV. Saling serang dan juga sesekali mengumpat jika kalah.


Game yang selalu mereka mainkan saat remaja dulu, dan sampai sekarang entah kenapa masih mengasyikkan.


Dion rak sengaja mendengar bunyi getar yang ada di sofa belakangnya. Membuatnya bersuara, "Nyet! ponsel Lo bunyi...".


Sedangkan Arjun sama sekali tidak peduli, Ck... paling akal-akalan dia saja untuk menang dariku... batin Arjun tak percaya. Karena saat tanding seperti ini, antara keduanya memang serius untuk menjatuhkan lawan. Apapun cara akan di tempuh untuk membuat satu diantaranya kalah.


"Nyet! ponsel Lo bergetar..." ucap Dion lagi. Bahkan dengan nada yang sedikit meninggi dari sebelumnya.


Ck... gak percayaan amat sih sama gue! batin Dion. Padahal jelas sekali kalau ponsel Arjun memang bergetar dengan layarnya yang berkedip. Menandakan ada sebuah panggilan yang masuk.


"Mungkin Akira yang nelepon..." tambah Dion.


Akira? masak sih dia menelpon ku? batin Arjun tak percaya. Karena ia tau bagaimana sifat istrinya. Wanita itu tidak akan menghubungi Arjun lebih dulu setelah bertengkar.


Bahkan sama sekali tidak mau bicara saat keduanya dalam tempat yang sama.


Seperti itulah sikap keras kepalanya Akira.


"Lo kalau dibilangin gak percaya amat sih!" semprot Dion dan sengaja membuat jagonya kalah. Agar Arjun senang dan tidak berpikiran kalau ia sengaja melakukan itu untuk mengalahkan Arjun.


Karena menang, Arjun memutar tubuhnya dan mengambil ponsel miliknya.


Benar... Akira meneleponku... Arjun tersentak melihat semua itu.


Tanpa pikir panjang, pria itu langsung berganti menghubungi Akira.


"Halo..."


"Halo sayang... maaf tadi aku di kamar mandi jadi tidak tau kalau kamu menelepon... ada apa?" ucap Arjun berbohong. Karena berbohong demi hubungan mereka memang di perlukan.


"Dimana kamu?" tanya Akira terdengar judes.


"Oh ini... aku sedang bersama Dion di Apartemennya... Dion, ayo bicara!" perintah Arjun dan langsung mendekatkan ponselnya ke arah Dion supaya pria itu mengucapkan sepatah kata untuk membuat Akira percaya.


Tipe-tipe suami takut istri... hehehe. Walaupun dalam hati seperti tengah mengejek Arjun.


Dan sebelum Dion kembali bersuara, Arjun kembali merampas ponselnya kembali. Membuat rangkaian kata yang terkumpul di tenggorokan Dion di telan kembali.


Ck... sial! umpatnya.


Sedangkan Arjun tak memperdulikan tatapan kesal sahabatnya.


"Ada apa sayang? kamu butuh sesuatu?" tanya Arjun dengan nada lembut.


Inilah perbedaan Arjun dulu dan sekarang.


Setelah menikah dengan Akira, Arjun kerap kali mengalah demi istrinya.


Tidak seperti dulu yang bertindak semaunya sendiri. Tanpa memperdulikan orang lain.


Apakah ini yang dinamakan seseorang akan Bucin pada waktunya? entahlah.


"Cepat pulangg..." rengek Akira. Membuat Arjun membulatkan mata. kenapa? begitu hatinya bicara.


"Aku tidak bisa tidur tanpamu... cepatlah pulang, kamu kamu anak kita akan kesulitan tidur?" tambah Akira.


Arjun mengedipkan mata berulang kali. Mencerna semua perkataan istrinya barusan. Apa ini yang dinamakan mood wanita hamil yang mudah berubah?


Tadi Akira menyalahkan Arjun hingga menangis, dan sekarang tiba-tiba wanita itu meminta Arjun untuk segera pulang.


Entah kenapa ucapan Akira membuat hati Arjun berdesir aneh. Bahkan tanpa terduga terukir senyum indah yang melengkung di bibir Arjun.


"Aku akan pulang sekarang," jawab Arjun tanpa berpikir panjang.

__ADS_1


"Aku akan pulang sayang... sampai ketemu,". Arjun segera bangkit dari duduknya, menyambar jaket serta kunci mobil yang tergeletak di atas meja.


Membuat Dion juga ikut bangkit dengan menaikkan satu alisnya keheranan.


Ck... benar-benar tipe suami takut istri! ejeknya.


"Yon, gue pulang..." pamit Arjun setelah memakai jaket dan mengantongi ponselnya.


"Oke," jawab Dion walaupun masih bingung dengan apa yang telah terjadi.


***


Setelah mengendarai mobilnya sedikit lebih kencang dari biasanya, akhirnya Arjun tiba di rumah. Berlari masuk untuk menemui istrinya di kamar.


Tepat setelah membuka pintu, Akira telah menyambut kedatangan Arjun di tepi ranjang. Menampakkan senyum indah yang khusus untuk suaminya seorang.


"Aku mengantuk, tapi tidak bisa tidur..." ucap Akira tanpa ditanya Arjun lebih dulu.


Ucapan Akira benar-benar membuat Arjun seperti tersihir dan tanpa sadar mendekatinya.


Baru hendak memeluk Akira, wanita itu protes "Stop!".


Membuat Arjun kembali berhenti tepat di tepi ranjang.


"Kenapa?" tanya Arjun tidak paham.


Bukankah Akira meminta Arjun untuk menemaninya tidur? kenapa sekarang berbeda lagi.


"Pakaianmu bau asap rokok... bisa mandi dulu?" tanya Akira tanpa menyinggung Arjun sedikitpun.


"Rokok sangat membahayakan ibu hamil..." tambah Akira sambil menyentuh perutnya.


"Baiklah, aku mandi dulu..." Arjun segera meninggalkan Akira dan pergi ke kamar mandi.


Tak apa membuatnya mandi malam-malam begini, asal Akira tidak lagi marah.


Jangankan mandi malam hari, membuat Akira m*ndes*h semalaman juga tak masalah baginya.


Hahaha...


Arjun benar-benar membersihkan diri dan langsung memposisikan tubuhnya di samping Akira. Merelakan lengannya sebagai bantal sangat istri dan memeluk tubuh kecil itu dari belakang.


"Tidur lah..." pinta Arjun.


Karena memang ini yang di inginkan Akira sejak tadi.


Arjun telah mematikan lampu kamarnya hingga menyisakan satu lampu kecil sebagai satu-satunya penerangan.


"Maaf," ucap Akira tiba-tiba.


Membuat Arjun yang tadinya memang belum tidur hanya menatap rambut sang istri dari kegelapan.


"Maafkan aku sayang..." ucap Akira lagi.


Mendengar cerita Mami Livia, sudut pandang Akira sedikit berubah.


Takdirnya memang seperti ini, hidup sebagai istri Arjun Pradipta. Dan akan melahirkan calon penerus keluarga itu.


"Kenapa? memang apa yang kamu perbuat hingga harus meminta maaf?" tolak Arjun.


"Mungkin aku yang memang terburu-buru untuk menginginkan sesuatu tanpa memperdulikan perasaanmu...".


"Tidak... aku sedikit terkejut tadi pagi... tapi sepertinya hamil tidak jadi masalah besar untukku... Mami siap membantu merawat bayi kita kok... hehehe..." ucap Akira dengan gurauan.


"Dasar nakal..." jawab Arjun dan mencium pucuk kepala Akira bertubi-tubi.

__ADS_1


"Hahaha..."


***


__ADS_2