Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
25. Insiden Tak Terduga.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Tengah malam saat semua orang sedang tidur nyenyak, seorang pelayan terlihat panik sambil menuju ke lantai 2 dimana kamar Tuan dan Nyonya besarnya berada.


Di depan pintu, Pelayan yang tadinya sudah panik kini bertambah panik karena dalam dirinya merasa ragu apakah pantas membangunkan Tuannya di jam segini. Di sisi lain kabar yang ia Terima amatlah penting dan harus segera di sampaikan.


Bagaimana ini? batinnya terus ketakutan bahkan keringat dingin tak terasa menetes dari sudut kening padahal udara malam ini cukup dingin.


Dengan mengumpulkan segala keberanian serta memikirkan konsekuensi paling buruk dalam hidupnya, tangan Pelayan itu mendekat ke arah pintu dan perlahan mengetuk.


Tok tok...


Tentu saja wanita itu melakukannya sambil memejamkan mata.


Bayangan saat dirinya di pecat setelah ini berseliweran di dalam kepala.


Mungkin ini adalah akhir hidupnya berada dan melayani keluarga kaya itu.


Gaji bulan ini mungkin akan jadi gaji terakhir yang akan diterima jika Tuan Pradipta benar-benar marah akibat kelakuannya yang lancang dengan membangunkannya di jam yang bahkan telah menunjuk ke angka 1 dini hari.


Pelayanan berumur 30 tahunan itu masih mengetuk pintu untuk kesekian kalinya, hingga terdengar suara kunci di putar dari dalam yang otomatis membuat kakinya mundur beberapa langkah.


Pintu terbuka dengan menampakkan sosok pria dengan piyama berwarna cokelat serta kacamata yang selalu bertengger di pangkal hidungnya, "Ada apa membangunkan ku se dini ini?" ucap pria yang tak lain adalah Papi Johan. Bahkan terdengar dari suaranya yang serak, pria itu memang baru saja bangun.


"Maafkan saya Tuan..." ucap Pelayan itu meminta maaf lebih dulu sebelum memberi tahu kabar yang ia bawa. Kepalanya bahkan tertunduk sangat dalam hingga hanya lantai di bawah sana yang terlihat oleh pandangannya.


Papi Johan tidak bersuara menandakan bahwa dirinya tidak terganggu di bangunkan saat ini.


Pelayan itu kembali bersuara, "Tuan... ada kabar buruk..."


"Kabar apa?" tanya Papi Johan sedikit terkejut dengan ucapan pelayan rumah itu.


"Ibu dari Nona muda masuk Rumah Sakit karena serangan jantung..." tambah pelayan itu hingga membuat mata Papi Johan membuat sempurna.


Serangan jantung?


Tentu saja itu adalah kabar buruk untuk keluarga ini.


"Bangunkan Arjun dan Akira... Aku akan bersiap kesana..." perintah Papi Johan dan langsung kembali masuk ke dalam kamar bersiap serta membangunkan istrinya.


Mami Livia yang tadi tertidur sangat pulas tak sengaja mendengar pembicaraan seseorang di depan kamar. Mengucek mata untuk menyesuaikan dengan cahaya remang dari lampu di atas nakas, Mami Livia melihat suaminya sedang terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi. Ada apa ini? Apa yang sedang terjadi? begitu batinnya bertanya-tanya.


"Ada apa Pi?" tanya Mami Livia pada suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi dan menghidupkan lampu kamar supaya terang.


"Papi mau ke Rumah Sakit..." jawab pria itu langsung masuk ke dalam ruang ganti pakaian.


Rumah sakit? siapa yang sakit? tentu saja Mami Livia ikut terkejut dengan penuturan suaminya yang masih simpang siur.


Segera wanita paruh baya itu bangkit dari ranjang dan berlari mengikuti suaminya.


"Siapa yang sakit Pi?" tanyanya penasaran.


Apa Arjun dan Akira bertengkar barusan? Apa Arjun memukul istrinya dan menyebabkan Akira terluka dan harus di rawat di rumah sakit?


Arjun marah karena keinginan Akira untuk kuliah?


Begitulah yang ada di kepala Mami Livia saat ini. Apalagi tadi mereka memang sempat membahas tentang Akira yang ingin melanjutkan sekolahnya. Mungkin saja Arjun marah tentang hal itu hingga memukul istrinya.


"Papi... jawab Mami... siapa yang masuk rumah sakit?" Mami Livia kembali bertanya bahkan kali ini dengan tatapan penuh kekhawatiran.


"Ibunya Akira,"

__ADS_1


"Ha?" tanya Mami Livia memastikan apa yang baru ia dengar barusan.


"Iya, Istrinya Adam... besan kita... Dia masuk Rumah sakit karena serangan jantung," perjelas Papi Johan yang saat ini telah mengganti pakaiannya lengkap dengan jaket untuk sedikit menjaga kehangatan suhu tubuhnya.


"SERANGAN JANTUNG?"


Astaga ... Mami Livia terkejut dengan ucapannya sendiri hingga membuatnya refleks menutup mulut dengan tangan.


"Mami mau ikut Papi atau di rumah saja?" tanya Papi Johan yang kini beralih menatap istrinya.


"Ikut," jawab wanita paruh baya itu dan segera berlari mencuci muka di kamar mandi.


Di kamar lain,


Akira bergegas pergi ke kamar mandi setelah mendengar kabar bahwa ibunya berada di Rumah sakit.


Air mata tak henti-hentinya berhenti dan sesekali isak tangis terdengar dari gadis itu.


Kabar dini hari ini sangat memukul jiwa Akira. Ia bahkan merasa durhaka karena tidak pernah mengetahui bagaimana keadaan ibunya beberapa hari terakhir. Jangankan untuk datang dan melihat beliau, Akira sama sekali tidak pernah menghubungi orangtuanya lewat telepon.


"Gue ikut..." ucap Arjun yang juga bersiap dan mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian santai.


Mereka keluar kamar bersamaan dan turun menuju ke lantai dasar. Ternyata di bawah sana sudah ada Papi dan Mami yang juga menunggu Akira turun.


"Jangan menangis sayang..." Mami Livia merengkuh tubuh menantunya dengan penuh kasih sayang.


"Biar Arjun yang menyetir Pi..." pinta Arjun kepada Ayahnya.


"Kamu yakin?" tentu saja Papi Johan sedikit tak percaya. Apalagi ini sangat mendadak, dan memang di butuhkan konsentrasi penuh berkendara di jam segini.


"Ya..." jawab Arjun meyakinkan.


Mereka akhirnya pergi ke Rumah Sakit menggunakan mobil yang biasa di gunakan oleh Arjun ke Kantor.


Mami Livia juga punya peran penting untuk menenangkan menantu yang sudah ia anggap seperti anak perempuannya sendiri.


Jarak kediaman Keluarga Pradipta dengan Rumah Sakit memang tidak begitu jauh, 20 menit saja bisa sampai tapi entah kenapa saat ini perjalanan terasa sangat lama padahal jalanan cukup lenggang oleh kendaraan lain.


Mungkin karena mereka sangat khawatir hingga menjadi kan perjalanan terasa lama.


Sepanjang jalan, Mami Livia terus berdoa demi keselamatan Ibu Arum, selaku besannya.


Juga dengan Akira, bayangan-bayangan menakutkan seperti memenuhi kepalanya.


Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada ibunya dan Akira tidak bisa lagi untuk bicara dengan wanita itu.


Arjun yang biasanya terlihat cuek dan tidak mau tau tentang masalah yang tidak menyangkut dirinya, kali ini juga terlihat berbeda. Sesekali ia mengamati gadis di bangku tengah yang menangis di pangkuan ibunya dengan sedikit rasa iba.


Kasihan... begitu hatinya melihat keadaan Akira saat ini.


Tang bisa Arjun lakukan adalah mengendarai mobil itu lebih cepat agar segera tiba di Rumah sakit.


Tak berapa lama saat mobil berhenti di tempat parkir, Akira langsung berlari meninggalkan semua orang.


"Akira..." panggil Mami Livia, tapi terlambat karena menantunya sudah berlari lebih dulu.


"Papi dan Mami jalan duluan," perintah Arjun melihat suasana yaang tak terkendali itu.


Segera Mami dan Papi langsung berjalan lebih cepat mengejar Akira diikuti oleh Arjun yang baru saja turun dan mengunci mobil lebih dulu.


"Ayah..." panggil Akira melihat sosok pria berperut buncit yang sedang mondar-mandir di depan sebuah ruang tindakan. Beliau adalah Ayah Adam.


Akira mendekati ayahnya dan semakin terisak penuh kesedihan. "Bagaimana keadaan ibu?" tanya Akira.

__ADS_1


"Ayah belum mendapat kabar dari Dokter," jawab Ayah Adam dengan muka penuh kecemasan.


Ayah Adam tak menyangka kalau istrinya akan mengalami kejadian yang sangat menakutkan seperti sekarang.


"Johan...?" ucap Ayah Adam melihat Johan yang baru saja tiba bersama dengan istri dan Arjun.


"Sabar ya...", Papi Johan menepuk bahu temannya agar sabar menghadapi cobaan seperti ini.


"Bagaimana keadaan Ibu, Yah?" kali ini Arjun yang bertanya pada Ayah Adam.


"Belum ada yang keluar dan memberi kabar keadaan Ibu Arum sampai saat ini..."


Arjun dan semua orang di sana mengangguk mengerti.


Mereka semua duduk di bangku besi dan tenggelam dalam pemikiran masing-masing.


"Jangan menangis..." bisik Arjun kepada Akira yang memang duduk di sebelahnya.


---


Tepat pukul 3 dini hari, Ibu Arum yang telah sadar di pindah ke ruangan rawat inap seperti biasa.


Kondisi wanita itu masih terlihat lemah dan terbaring di atas ranjang ditemani suaminya yang duduk di samping.


Sedangkan Akira dan Arjun berdiri di sisi ranjang lain sambil pandangannya tak henti menatap Ibu Arum dengan penuh rasa khawatir.


Kata dokter, kondisi Ibu Arum tidak terlalu buruk. Tubuhnya juga bisa di gerakkan seperti biasa, hanya saja di ada sebuah penyumbatan kecil di otak yang membuatnya sedikit kesulitan untuk bicara.


Ibu Arum harus benar-benar menjaga tubuh dan juga makanan yang dimakannya.


Ya... diet garam adalah satu-satunya cara.


"Ibu, maafkan Akira..." sesal Akira. Gadis itu merasa sangat menyesal tidak bisa menjaga orangtuanya dengan baik.


Ibu Arum tidak menjawab permohonan maaf dari putri semata wayangnya.


Tapi dari sorot mata yang ditunjukkan kepada Akira, wanita itu tidak menyalahkan Akira.


Ibu Arum bahkan sangat menyayangi putrinya itu.


"Cepat sembuh Bu," kali ini Arjun yang bicara dengan sangat tulus.


Tepat pada waktu subuh, Ayah Adam meminta semua orang untuk kembali pulang. Tentu saja Akira menolak akan hal itu sehingga Arjun memutuskan untuk kembali bersama dengan orangtuanya.


"Nanti sore aku kesini lagi..." ucap Arjun pada Akira.


Arjun memang tidak bisa berbuat apa-apa karena nanti dirinya harus bekerja sama seperti hari-hari yang lain.


"Hati-hati..." pinta Akira.


Apakah semua itu hanya sebuah sandiwara di depan keluarga? Entahlah... yang pasti hanya itu yang bisa Akira dan Arjun ucapkan sebelum berpisah di RS ini.


"Sayang, Mami dan Papi pulang dulu ya..." pinta Mami Livia pada Akira.


Akira pun mengangguk setuju.


Setelah kepergian Arjun dan Orangtuanya, Akira masih duduk sambil menjaga ibunya.


Ibu... Akira harap Ibu selalu sehat... Akira sudah memutuskan semuanya...


Akira mau jadi anak yang bisa menjaga Ayah dan Ibu. Akira mau melanjutkan Kuliah...


***

__ADS_1


__ADS_2