Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
64. Mencari Kado.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Arjun menggandeng tangan Akira saat memasuki Mall. Dari cara Arjun menggenggam tangan itu, semua orang tau kalau Arjun begitu melindungi wanitanya dari orang-orang yang sangat ramai memenuhi tempat itu.


Bahkan ketika mereka menaiki Eskalator, tangan Arjun tak henti-hentinya memeluk pinggang Akira seolah takut kehilangan gadis itu.


"Jadi, mau membeli kado apa?" tanya Akira. Ya, tujuan mereka datang kesini memang untuk mencari kado.


"Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya..." ucap Arjun dengan jujur. Ya... sebelum menikah dengan Akira, Arjun sama sekali tidak pernah menghadiri acara-acara seperti ini.


Biasanya memang Papi Johan dan Mami Livia yang datang.


Sedangkan Arjun? yang dilakukan pria itu hanya menghabiskan malam di Club malam berbincang dengan sahabat-sahabatnya.


Akira memang sering di ajak ibu Arum pergi ke acara syukuran atas kelahiran seorang bayi. Bisanya merek akan membawa beberapa kado untuk si bayi. Tapi sekarang kan beda, yang akan mereka datangi adalah keluarga Pradipta juga. Mana mungkin Akira hanya membawa kado pakaian untuk bayinya? akan sangat memalukan bukan?


"Kita masuk ke Baby Shop dulu..." saran Arjun. Setelahnya mereka akan memutuskan untuk membeli apa nanti.


Masuk ke dalam sana, Arjun tetap menggandeng tangan Akira. Pandangan mereka terus mencari apa tang pantas untuk di kemas sebagai kado.


"Kamu ingat tidak, Papi tadi bilang anaknya cowok apa cewek?" tanya Arjun tak terlalu ingat jenis kelamin anak Danu tadi.


"Kenapa kamu dengan mudahnya melupakan hal itu? Danu adalah sepupu mu bukan?" sindir Akira. Yang namanya keluarga, tentu saja hubungan mereka sangat dekat bukan?


Tapi beda dengan Arjun, pria itu sama sekali tidak peduli.


Padahal Akira saja masih ingat dengan ucapan Papi Johan tadi pagi.


"Gue tidak sedekat itu dengan keluarga Papi..." aku Arjun. Ya... dengan keluarga Pradipta yang lain, Arjun memang tidak terlalu akrab. Mereka hanya mengobrol saat ada rapat di kantor yang melibatkan anggota keluarga Pradipta. Sedangkan saat di luar, Arjun dan sepupu-sepupunya seperti orang asing.


Apalagi sejak dirinya yang akan di tunjuk sebagai penerus Papi Johan. Walaupun belum resmi, tapi dari kalangan Om-Om nya seperti berusaha untuk mencegah. Entah apa maksud mereka melakukan semua itu kepada Arjun.


"Aku bahkan tidak mengingat keluarga Pradipta yang lain..."


Bagaimana Akira bisa mengingat satu persatu keluarga Pradipta, dia sendiri jarang sekali bertemu dengan mereka.


"Jangan mengingat mereka... ingat saja Aku!" jawab Arjun tanpa dosa.


Hal itu tentu saja membuat Akira tertawa. Apa yang di ucapkan Arjun terdengar seperti sebuah lelucon saja di telinga Akira.


"Aku serius Akira!" ucap Arjun lagi kali ini memang terdengar sangat serius.


"Iya-iya..." tentu saja Akira mengalah, kalau tidak mereka akan kembali berdebat nanti dan pada akhirnya akan pulang dengan tangan kosong tanpa membeli kado 1 pun.


"Bagaimana kalau itu?" tunjuk Arjun pada sebuah kolam yang di penuhi dengan banyak bola warna warni. Bukan hanya itu saja, permainan itu juga di lengkapi dengan perosotan yang sangat di gemari oleh anak-anak.


"Hahaha... bayi siapa yang akan langsung bermain itu?" protes Akira.


Mana ada bayi yang bisa bermain seperti itu, bahkan bayi se jenius apapun juga tidak akan ada. Permainan itu hanya bisa di gunakan untuk anak seusia 3 tahun ke atas.


"Lalu?"


"Kita cari yang lain," jawab Akira sambil menarik tangan Arjun untuk mengikuti kemana arah kakinya membawa.


Sekarang Akira dan Arjun tiba di deretan Stroller Bayi dengan model dan warna yang berbeda-beda.


"Bagaimana kalau itu? akan sangat bermanfaat bukan?" tanya Akira.


Sejenak Arjun menimang saran istrinya untuk membeli sebuah Stroller untuk bayi.

__ADS_1


Stroller memang sangat berguna untuk orang tua yang baru saja memiliki bayi. Terkadang saat keluar rumah, benda itu juga sangat bermanfaat.


"Baiklah..." jawab Arjun setuju.


Mereka mulai melihat-lihat dan mencari yang cocok dan bagus.


Bukan Arjun dan Akira kalau tidak berdebat, memilih Stroller saja membuat mereka berdebat bahkan sampai pelayanan toko itu tersenyum melihat kelakuan pasangan tersebut.


"Yang mana?" tanya Arjun.


"Aku bingung... itu bagus, ini juga bagus..." Akira masih bingung untuk menentukan pilihannya.


"Asal pilih saja, lagian tidak untuk anak kita bukan?" Heran sekali Arjun dengan Akira yang kesulitan untuk membuat keputusan.


"Mana bisa begitu..." protes Akira. Ini untuk keluarga mereka, jadi tidak bisa asal memilih.


"Kalau begitu, pilih dua-duanya..." tambah Arjun.


"Bisa diam tidak!" ancam Akira. Jika Arjun tidak bisa memilih, setidaknya jangan banyak bicara. Begitu dalam hati Akira bicara.


5 menit, 10 menit, 15 menit,


Akira masih terdiam sambil mengamati 2 benda di depannya. Ya... gadis itu masih belum menentukan pilihannya hingga membuat Arjun sedikit kesal. Sudah banyak waktu yang mereka habiskan disini tapi tidak ada satupun benda yang benar-benar mereka beli.


"Mbak, bungkus semuanya..." ucap Arjun telak. Membayar semuanya adalah pilihan bagus agar Akira tidak lagi bingung.


"Jangan mbak!" cegah Akira. Mana bisa begitu? membayar semua karena bingung menentukan pilihan. Apa orang kaya selalu seperti itu? batin Akira keheranan.


"Makanya cepat pilih..." semprot Arjun.


"Baiklah... yang ini saja mbak..." Akira menjatuhkan pilihannya pada Stroller berwarna Navy yang cocok untuk bayi laki-laki.


"Itu saja?" tanya Arjun. Setidaknya ada barang lain yang di beli istrinya sebelum mereka benar-benar pergi dari toko tersebut.


"Kita cari baju yang lucu..." ajak Akira. Sedangkan pelayan itu langsung mengambil benda yang tadi di pilih Akira.


Tiba di deretan pakaian bayi, Akira kembali bingung. Pakaian bayi yang tergantung disana bagus semua dan ia bingung untuk memilih.


Karena takut menunggu terlalu lama, Arjun mengambil beberapa pakaian bayi laki-laki yang dilihatnya sangat lucu dan memasukkannya dalam keranjang yang di bawa pelayan toko.


"Eh, kenapa langsung di beli?" protes Akira. Setidaknya ia harus melihat harganya dulu sebelum membeli sesuatu. Bagaimana kalau harga pakaian bayi itu mahal?


"Aku tidak mau menunggu terlalu lama..." jawab Arjun. Bukan hanya itu, ia juga mengambil beberapa sepatu bayi di sampingnya.


Tapi tiba-tiba matanya tertuju pada sepasang sepatu kecil berwarna merah muda dengan pita berwarna emas di atasnya.


Arjun mengambil sepatu itu dan tersenyum,


"Ra... ini indah kan?" tanya Arjun dengan senyum yang begitu manis.


Kenapa dia mengambil sepatu cewek? batin Akira bertanya-tanya.


"Itu sepatu cewek Jun..." ucap Akira.


"Iya, gue tau..." tentu saja Arjun tidak buta melihat benda yang saat ini berada dalam genggamannya.


"Terus?"


"Ini pasti cocok untuk anak kita nanti,"


Uhhuukk...

__ADS_1


Akira benar-benar tersedak karena ucapan Arjun barusan. Anak? Kita? Apa dia sedang tidak waras?


Tentu saja Akira heran dengan cara pikir Arjun yang memikirkan tentang anak.


Pernikahan mereka bukan seperti pernikahan pada umumnya, mana bisa ada anak yang lahir?


"Arjun, jangan aneh-aneh..." ucap Akira menyadarkan Arjun.


"Kenapa? kamu tidak mau mengandung anakku?" semprot Arjun bahkan dengan nada sedikit meninggi.


Ya salam... dia itu mabuk atau gimana sih...


"Maafkan suami saya ya mbak..." Akira meminta maaf pada pelayan toko yang melayani mereka.


Sedangkan yang di ajak bicara tentu saja hanya bisa tersenyum geli.


 


Keluar dari toko pakaian anak, Arjun menarik tangan Akira untuk mengikuti langkahnya.


"Mau kemana?" tanya Akira penasaran.


"Mumpung disini, aku akan memberikanmu sesuatu..." ucap Arjun yang masih terdengar misterius untuk Akira.


Dan Akira sadar saat mereka telah tiba di toko perhiasan yang ada di dalam Mall tersebut.


"Jun...".


"Aku ingat kalau aku belum pernah membelikan sesuatu untukmu..." ucap Arjun dengan sangat yakin.


"Kamu mau apa? cincin, gelang atau kalung?" tanya Arjun penuh semangat. Sedangkan Akira hanya menatap pria itu dengan tatapan tak percaya kalau Arjun akan melakukan ini untuknya.


"Bagaimana kalau itu?" tunjuk Arjun pada sebuah kalung dengan liontin permata berwarna putih. Tidak ada yang spesial tapi semua orang tau kalau kalung itu sangat mahal walau hanya melihatnya saja.


"Mbak, saya ambil yang itu..." ucap Arjun kepada pelayan toko perhiasan tersebut.


Setelah pelayan toko mengambilnya, Arjun langsung ingin memakaikan kalung itu di leher istrinya.


"Biar aku pakaikan..." ucap Arjun. Seketika Akira membantu merapikan rambutnya saat Arjun melingkarkan kalung di leher.


Akira menatap pantulan dirinya di cermin yang ada di toko itu. Kalung mahal itu benar-benar melingkar di lehernya dan seketika membuat Akira merasa aneh.


Ada kebahagiaan juga haru yang bercampur jadi satu di dalam hatinya.


"Kamu sangat cocok memakainya..." puji Arjun.


Pelupuk mata Akira mulai menggenang. Ia terharu dengan perlakuan Arjun kepadanya.


"Akira... kamu menangis?" tanya Arjun. Pria itu tentu saja mampu melihat binar mata istrinya yang penuh dengan air mata.


Tanpa rasa malu sedikitpun, Akira langsung memeluk tubuh Arjun. Menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu "Terima kasih Arjun... terima kasih..." ucap Akira disertai dengan isak tangis yang terdengar.


Arjun tersenyum melihat kelakuan Akira, tangannya terjulur untuk sedikit membelai rambut sang istri yang mulai memanjang dari pertama kali mereka bertemu, "Kamu suka?" tanya Arjun.


Ditanya seperti itu, tentu saja Akira langsung mengangguk. Bagaimana ia tak bahagia di perlakukan seperti seorang putri di keluarga Pradipta. Akira menerima banyak cinta dalam keluarga itu. Dan mungkin saja Akira tidak akan mampu untuk membalas semua yang di berikan keluarga Pradipta bahkan sampai sisa hidupnya.


"Kalau kamu suka, berjanjilah... berjanjilah tidak akan melepaskannya..." pinta Arjun.


Tanpa ragu sama sekali, Akira mengangguk.


"Aku berjanji tidak akan melepaskan kalung ini... Aku janji Arjun..." ucap Akira dari balik dada Arjun.

__ADS_1


***


WOW... So Sweet banget si Arjun... Aku jadi terhura, eh... terharu maksudnya...


__ADS_2