Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
49. Curiga.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Kediaman keluarga Pradipta tampak sibuk sejak pagi. Ada supir Papi yang telah bersiap di samping mobil sambil sesekali membersihkan kendaraan itu dari debu.


Itulah yang dilakukannya setiap hari kerja seperti ini.


Sambil menunggu Tuannya keluar, supir itu sesekali berbincang-bincang dengan rekannya yang bertugas di depan pintu.


Beda lagi di dalam rumah. Beberapa pelayan sibuk dengan pekerjaannya. Beberapa dari mereka terlihat keluar masuk ruangan demi ruangan untuk mengambil pakaian kotor.


Ada juga yang bertugas membersihkan lantai dan juga jendela di setiap sudut rumah.


Di dapur juga terlihat sibuk menyiapkan saparan pagi bagi anggota keluarga Pradipta. Apalagi kebiasaan keluarga itu memang sarapan menggunakan nasi jadi membutuhkan banyak waktu untuk menyiapkannya.


Di salah satu kamar tepatnya di lantai 2, Arjun baru saja keluar dari ruang ganti baju dengan membawa 2 buah dasi beda warna dan motif.


"Bagus mana, yang ini atau ini?" tanyanya pada sangat istri yang sibuk mengeringkan rambutnya.


Karena Arjun terlalu lama di dalam kamar mandi tadi, membuat Akira kehilangan banyak waktu. Dan sekarang ia kesulitan untuk mengeringkan rambutnya padahal jam sudah menunjuk ke angka setengah 7 pagi.


"Yang abu-abu," jawabnya bahkan memperhatikan Arjun sekilas saja tadi.


"Yakin? yang Abu-abu? Aku ada rapat dengan Klien penting pagi ini..."


Arjun masih ragu dengan pilihan Akira tadi.


Pria itu semakin mendekati Akira dan berdiri tepat di belakang gadis yang saat ini sedang duduk di depan cermin.


"Iya yang Abu..." ucap Akira lagi pada bayangan Arjun di cermin itu.


"Yakin?"


Akira memejamkan matanya sesaat. Agghh... si brengs*k ini... pagi-pagi sudah membuatku darah tinggi...


"Terserah lo mau pakai apa... dua-duanya juga boleh..." kesal sekali dia. Toh percuma saja untuk memilihkan warna dasi untuk pria itu karena Arjun masih ragu dengan pilihannya.


"Baiklah kalau gitu aku pakai yang biru saja..."


Lah... brengs*k kan? buat apa tadi meminta saranku? omel Akira dalam hati.


"Atau yang Abu-abu saja ya?"


Muncul lagi sifat plin-plan Arjun. Baru saja pria itu menjatuhkan pilihannya pada warna biru tapi belum ada 5 menit sudah berganti menjadi warna Abu-abu pilihan Akira tadi.


"Ck... gue tidak yakin kalau Lo dulunya pintar..." ejek Akira. Hanya karena dasi saja, pria itu tidak mampu mengkombinasikan dengan kemeja yang di kenakan nya.


"Gue jadi bodoh karena tidur seranjang dengan Lo!" jawab Arjun tak mau kalah.


Tentu saja jawaban yang terlontar dari mulut Arjun barusan mampu menjadi sebuah boomerang di pagi hari.


"Lah, kenapa jadi gue yang salah?" tentu saja Akira tak terima.


"Lo sendiri yang memaksa gue tidur di ranjang dengan alasan tidak bisa tidur lah, ini lah... itu lah..."


Ya... entah kenapa saat jam tidur telah tiba, Arjun selalu merengek seperti bayi kalau tidak bisa tidur. Dan lucunya lagi, ia meminta Akira tidur di ranjang untuk menemaninya.


Pasti semua itu hanya akal-akalan pria itu saja karena ingin tidur dengan memeluk tubuh Akira.


Yang di marahi tentu saja hanya nyengir sambil menunjukkan giginya yang rapi.


Sial, tersenyum seperti itu saja kenapa sangat tampan?


Batin Akira. Apalagi Akira juga menatap Arjun dari bayangan cermin bukan menatap Arjun secara langsung.

__ADS_1


"Karena gue memang tidak bisa tidur tanpa Lo..." jawab Arjun sambil melingkarkan dasinya di leher.


Mendengar Arjun mengatakan hal itu, entah kenapa hatiku berdesir hangat...


"Ayo cepat turun..." pinta Arjun kepada istrinya.


Akira segera mempercepat kegiatan nya dan ikut turun untuk sarapan.


 


"Mulai sekarang, kita akan berangkat bersama..." ucap Arjun yang tengah mengendarai mobilnya membelah jalanan sesak di depan sana.


Di sampingnya ada Akira yang juga sibuk membaca bukunya.


"Hm,"


Entah apa tujuan Arjun berubah baik seperti itu, Akira tak tau apa penyebab perubahan Arjun. Tapi yang jelas pria itu tengah merencanakan sesuatu untuknya. Ya... Akira yakin akan hal itu.


"Kamu tidak keberatan?" gantian Arjun yang bingung sendiri dengan jawaban Akira tadi. Padahal ia sudah berprasangka kalau istrinya itu akan marah dan menolak.


"Tidak," jawab Akira masih tidak memperdulikan Arjun.


"Baiklah...".


Hening kembali menguasai sampai tak terasa mobil itu telah sampai di depan Universitas tempat Akira menimba ilmu.


"Jam berapa kamu pulang?" tanya Arjun di balik kemudi.


"Jam 4..."


"Baiklah, nanti aku jemput lagi..." ucap Arjun dengan entengnya.


Tentu saja hal itu membuat Akira keberatan.


Jika Arjun yang menjemput ku, Dean akan curiga nanti...


Senyum di bibir Arjun seketika hilang, "Kenapa? takut kekasih mu tau?" bahkan nada bertanya nya terdengar datar dan menakutkan.


Walaupun memang seperti itu kebenarannya, tapi Akira tak berani menjawab. Bagaimanapun ia tau kalau apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan. Tapi hanya Akira yang pantas di salahkan karena Dean sama sekali tidak tau kalau dirinya telah menikah.


"Tak perlu di jawab, gue sudah tau jawaban Lo!"


Setelah mengatakan demikian, Arjun segera menginjak pedal gasnya dan mobil itu segera melaju kembali ke jalanan. Meninggalkan Akira yang masih diam mematung sambil menatap kepergian Arjun.


Maaf...


Mobil Arjun sudah tidak terlihat sama sekali. Akira juga perlahan masuk ke tempatnya kuliah.


Tapi yang tidak ia duga ternyata ada sepasang mata yang mengamatinya dari jarak yang tidak terlalu jauh.


"AKIRA..." panggil orang itu hingga membuat yang di panggil seketika mengangkat pandangannya mencari.


Dean?


Akira sangat terkejut dengan kekasihnya yang entah sejak kapan telah berada di sana.


Apa dia melihat semuanya?


"Dean..." ucap Akira terbata-bata.


Gadis itu berjalan mendekati Dean, dengan perasaan yang gugup.


Bahkan telapak tangan Akira tiba-tiba berkeringat dan juga dingin.


"Kamu berangkat dengan siapa tadi?" tanya Dean seperti tengah mencari penjelasan tentang apa yang baru saja dilihatnya tadi.

__ADS_1


"Oh itu... dia..." tentu saja Akira tambah gugup. Ia tak menyangkal kalau Dean melihat semuanya dari awal.


"Dia sepupuku..." bohong nya. Entah sudah berapa kali Akira berbohong tentang semuanya.


Dan sekarang, mungkin kebohongannya akan semakin bertambah banyak setiap harinya.


"Yang datang ke acara kelulusan waktu itu?" selidik Dean.


Entah kenapa Dean mempunyai firasat bahwa Akira sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Akira mengangguk. Tapi tak membuat Dean merasa lega dengan jawaban gadis itu.


"Akira... kamu tidak bohong kan?" tanya Dean dengan nada pelan bahkan terdengar halus.


Akira semakin tersudut dengan pertanyaan Dean. Dan jika ia berbohong lagi, kebohongannya kaan semakin bertambah.


Akira semakin jauh dari kejujuran yang selalu di ajarkan oleh orangtuanya.


"Tidak Dean... kenapa Aku bohong?"


Tuhan... maafkan Aku...


Dean meraih tangan Akira. Walaupun hatinya merasa tidak tenang, tapi Dean masih berpikiran positif. Tidak mungkin Akira berbohong... batin Dean meyakinkan diri.


Tapi semuanya semakin membingungkan saat Dean tak sengaja merasakan sesuatu yang melingkar di jari manis kekasihnya.


Seketika Dean menurunkan pandangannya untuk melihat benda itu.


Dan... mata Dean langsung membulat, Cincin?


Sedangkan Akira menyadari apa yang sedang di lihat oleh Dean. Gadis itu langsung menarik tangannya dan menyembunyikan nya di belakang tubuhnya. Kenapa aku sampai lupa melepaskannya?


"De... aku mau masuk dulu, kelasku akan segera di mulai..." Akira mencoba untuk melarikan diri dari situasi yang sangat rumit ini.


Tapi baru melangkah, Dean menghentikannya.


"Tunggu!"


Akira langsung terdiam kembali. Nafasnya berat dengan detak jantung yang sedikit lebih kencang dari biasanya.


"Cincin apa itu?" tanya Dean datar.


Dean yakin kalau cincin yang dilihatnya tadi bukan lah cincin biasa.


Tidak mungkin Akira memakai cincin berlian seperti itu... apa cincin tunangan? Dengan siapa?


"Ini... ini cincin pemberian Ibu..." jawab Akira dengan suara parau.


Antara takut, gemetar dan juga gugup bercampur jadi satu di dalam dirinya.


"Jangan bohong Akira!"


Tentu saja Dean tidak mempercayai apa yang baru saja di katakan Akira.


Tidak mungkin... cincin itu terlihat mahal...


"Dean..."


"Cincin apa itu?"


Dean masih penasaran dengan cincin itu.


"Dean.. nanti saja kita bicara, kelasku akan segera di mulai..." pinta Akira.


***

__ADS_1


Nah nah nah... bagaimana ini?


__ADS_2