Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
134. Bianglala.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Semua orang pasti memiliki ketakutan tersendiri dalam dirinya. Tidak ada manusia yang terlahir dengan membawa keberanian saja.


Ada yang takut melihat air, takut akan sebuah benda ataupun tumbuhan. Ada juga yang takut akan hal-hal yang berbau ketinggian.


Sama seperti Arjun.


Pria yang hampir terlihat sempurna juga memiliki ketakutan tersendiri. Dan ketakutannya itu di uji saat ini juga, bersama dengan Akira di depan sebuah Bianglala raksasa yang ada di London.


Antrian yang tadi sempat mengular tiba-tiba hilang. Sekarang gantian Arjun dan Akira yang menunggu untuk naik benda berputar tersebut.


Kenapa perutku tiba-tiba mual ya... batin Arjun. Belum juga naik Bianglala itu, membayangkan saja sudah memicu perutnya bergejolak.


Di tambah dengan keringat dingin yang terasa mengucur di punggung Arjun. Menandakan kalau dirinya amat gugup dan takut.


Arjun memang takut akan ketinggian. Itulah sebabnya Ia tak mau pergi-pergi ke sebuah tempat yang tinggi seperti pegunungan ataupun wahana permainan yang tinggi.


Orangtuanya juga tau akan hal itu termasuk Dion dan Galih.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Akira khawatir. Karena kening Arjun tercipta beberapa peluh sedangkan cuaca malam saat ini cukup dingin. Bahkan Akira juga menggunakan mantel bulu tebal karena tubuhnya tidak bisa beradaptasi dengan udara yang dingin.


"Tidak," jawab Arjun dan langsung menyeka peluhnya dengan tangan.


Bagaimanapun Arjun tidak bisa memberitahu istrinya tentang ketakutannya naik Bianglala.


Lebih tepatnya gengsi dan takut Akira akan menertawai nya nanti.


"Kalau Lo takut, tidak usah naik Jun..." sela Dion yang berdiri di belakang Arjun.


Karena sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik.


Walaupun dalam ucapan Dion tadi, terselip sebuah sindiran.


"Diam Lo!" umpat Arjun.


Karena kedua sahabatnya itu sangat berisik dan semakin membuat perut Arjun terasa amat mual.


Arjun, Akira, Dion dan Galih telah memasuki salah satu kabin yang berbentuk seperti sebuah kapsul dimana semuanya dari kaca.


Tempat itu hanya diisi oleh mereka berempat saja sedangkan anak buah Arjun, hanya menunggu dari bawah.


Arjun duduk di samping istrinya. Berhadapan dengan kedua sahabatnya. Bianglala itu akan berputar dimana sekali putaran bisa sampai 30 menit lamanya. Tentu saja sangat memuaskan pengunjung untuk menikmati pemandangan London dari atas.


Bianglala mulai mulai bergerak, membuat Arjun seolah menahan nafasnya sambil mulutnya komat-kamit seperti tengah membaca mantra.


Tuhan... selamatkan aku... entah apa maksudnya, Arjun hanya ingin berdoa pada Tuhannya. Agar membuat hatinya sedikit tenang, tapi tetap saja jantungnya seperti berpacu hebat.


Beda dengan Akira yang heboh sendiri. Mengamati pemandangan malam London yang belum pernah ia nikmati selama ini.


Sesekali memotret dengan ponselnya tanpa memperdulikan Arjun.


"Lo tidak apa?" tanya Galih kepada Arjun. Karena Galih melihat Arjun hanya diam dan memejamkan mata.


Bukan hanya itu, wajah pria itu juga sedikit pucat.


Bisa gawat kan kalau Arjun kenapa-napa.


Galih hanya bisa menyenggol Dion. Karena semua ini juga karena Dion.


Lah, kenapa Gue? batin Dion tak terima di salahkan.

__ADS_1


10 menit telah berlalu, Akira memulai mengajak Arjun untuk mengambil beberapa gambar mereka. "Sayang... kenapa kamu menutup mata sih..." protesnya. Karena Arjun sejak tadi hanya bersandar dengan mata terpejam.


Akira menduga kalau pria itu sama sekali tidak menikmati suasana di atas sini.


"Akira..." panggil Arjun dengan suara sedikit kacau.


"Kamu baik-baik saja kan sayang?" tanya Akira lebih khawatir. Bahkan sampai duduk lebih dekat dengan suaminya dan menyeka keringat yang tiba-tiba muncul di kening Arjun.


"Arjun takut ketinggian," ucap Galih dengan jujur.


Seketika Akira melempar pandangannya ke arah Galih, Apa? dia takut ketinggian?


"Dia yang salah," jawab Galih sambil menunjuk pria di sampingnya dan tentu saja Dion langsung gelagapan.


"Eh, kenapa gue yang salah?" Dion mencoba untuk melindungi dirinya dari tuduhan tak mendasar yang Galih lontarkan barusan.


"Kenapa kalian tidak bilang sih!" teriak Akira kesal bahkan membuat Galih dan Dion sama-sama terjingkat kaget.


Issst, galak benar istri Arjun... batin Dion.


Akira kembali menatap suaminya, "Jangan takut, ada aku..." memeluk tubuh Arjun untuk menenangkan.


"Apa Lo lihat-lihat!" bentak Akira pada Dion dan langsung membuat Dion yang tadinya menatap Akira langsung melempar pandangannya ke arah lain.


"Coba buka mata mu... tidak apa-apa," bujuk Akira pada Arjun. Setidaknya saat Arjun membuka mata, ketakutan Arjun akan terganti oleh indahnya pemandangan di bawah.


"Tidak," tolak Arjun. Melihat pemandangan itu, membuat perutnya bergejolak nanti.


Akira menangkup pipi Arjun dengan kedua tangannya, menaikkan wajah Arjun dengan yakin. "Buka matamu... tidak akan terjadi apa-apa," pinta Akira.


Masih takut, Arjun mencoba untuk membuka matanya dengan perlahan. Hal pertama yang ia lihat saat ini adalah wajah sang istri yang terlihat indah karena di terangi lampu malam.


Anehnya rasa mual yang tadi mengganggu Arjun, sedikit reda. Tapi Arjun sama sekali tidak berani melihat ke sekitarnya. Cukup hanya menatap Akira saja saat ini.


"Jangan takut... tidak apa-apa kan?" tanya Akira memastikan.


"Maafkan aku," sesal Akira. Karena ia tak tau kalau Arjun memiliki ketakutan akan ketinggian.


Akira terlalu senang dan bersemangat karena melihat Bianglala ini dan ingin menaikinya.


Tapi nyatanya Arjun takut akan hal itu.


Membuat Akira menyesal karena tidak terlalu tau apa yang tidak di sukai suaminya.


"Jangan meminta maaf, kamu tidak salah kok..." tolak Arjun. Mungkin Arjun lah yang memang salah disini.


Semua orang juga akan antusias bisa menaiki Bianglala, bukan hanya Akira saja.


Mendengar Arjun mengatakan demikian justru semakin membuat Akira sedih dan bersalah.


Dengan binar mata penuh penyesalan, Akira menautkan jemari tangan kirinya di sela-sela jari Arjun. Menggenggam tangan itu untuk sedikit memberi kekuatan bahwa Arjun akan baik-baik saja bersamanya sekarang.


"Boleh aku mencium mu?" tanya Arjun dan membuat Akira membuatkan mata.


Disini? apa kamu tidak lihat kedua makhluk di depan mu sekarang?


Belum sempat menjawab, Arjun lebih dulu bertindak. Mempersatukan kedua bibirnya di bibir sang istri.


Gila... batin Dion tak menyangka kalau Arjun seberani itu melakukan semaunya di depan matanya.


Bahkan pria itu sampai melotot tidak berkedip sama sekali. Anggap saja melihat tontonan gratis di depannya.


Beda lagi dengan Galih, Ck... dia selalu saja seenaknya!

__ADS_1


Karena Galih seringkali di suguhi pemandangan seperti itu. Terutama saat dirinya menjadi supir bagi Arjun ketika berangkat dan pulang bekerja.


Tanpa ragu, Galih memutar kepala Dion untuk menghadap ke samping. Tentu saja Dion protes, "Apaan sih!" tolaknya dan kembali melihat ke arah Arjun.


"Mata Lo akan sakit!" ucap Galih memperingati dan kembali memutar kepala Dion menghadap arah lain. Dan kali ini Dion tak lagi protes. Menuruti keinginan Galih untuk melihat pemandangan bawah yang sangat memukau.


Benar! mata gue akan sakit kalau melihat kelakuan mereka...


"Sepertinya Lo sudah terbiasa ya!" sindir Dion pada Galih.


"Ck, gue sudah tidak heran lagi dengan tingkahnya..." bisik Galih.


Dan kedua pria itu mencoba untuk ngobrol sambil melihat pemandangan London dari Bianglala.


Tanpa memperdulikan tingkah gila sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta di depan sana.


***


Turun dari Bianglala, Arjun membungkukkan badannya.


"Hoeekk... hoeekk..."


Akhirnya keluar juga apa yang membuat perutnya bergejolak selama naik Bianglala tadi.


"Ck, menjijikkan..." umpat Dion sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Sedangkan Akira, sesekali memijit tengkuk suaminya untuk membantu mengeluarkan isi perut Arjun.


"Lain kali suruh Arjun diam di kamar saja..." cerca Galih tentu saja dengan gurauan hingga membuat Dion tertawa kencang.


Kapan lagi mereka bisa meledek Arjun seperti itu.


Dasar si*lan! umpat Arjun dalam hati.


Kalau bukan karena mual yang menyerangnya saat ini, ingin sekali Arjun memukul kedua sahabat tidak tau dirinya itu.


"Bagaimana? sudah lebih baik sayang?" tanya Akira tak memperdulikan tawa Galih dan Dion.


Yang ia khawatirkan hanyalah Arjun.


"Ayo kita pulang saja," pinta Arjun.


Memuntahkan semua isi perutnya membuat tubuh Arjun lemas. Bahkan kakinya terasa lunglai dan gemetar.


"Kenapa kalian diam saja? bantuin dong!" perintah Akira kesal.


Tentu saja ia kesal dengan Dion dan Galih yang hanya tertawa.


"Baik tuan putri..." jawab Dion dan Galih bersamaan.


Akhirnya Arjun berjalan sambil di papah kedua sahabatnya di kanan dan kiri.


Akira dan anak buah mereka berjalan mengikuti dari belakang.


"Lo nyusahin banget sih..." umpat Dion. Sejak tadi siang ia sudah di permalukan dengan membawa tas Akira. Dan sekarang memapah Arjun dimana berat badan Arjun terasa amat berat.


Membuat Dion sedikit ngos-ngosan.


"Diam nyet! gue mual mendengar ocehan Lo!" walaupun sedikit lemas, Arjun masih bisa mengatai sahabatnya itu.


"Tai!" umpat Dion dan membuat semuanya tertawa.


***

__ADS_1


Hahaha...


Authornya muntah sih kalau naik Bus umum... ada yang samaan??


__ADS_2