Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
182. Farfalla.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Pagi hari saat dimana Tiara bangun sambil mengucek matanya, tak sengaja ia melihat sosok pria yang berdiri menatap jauh ke depan dari balkon Apartemen itu.


Tiara seperti tersihir hingga tanpa di sadari, dirinya ikut berdiri mengamati pria itu dari jarak yang cukup jauh. Melihat punggung Galih yang terbalut dengan piyama berbahan tipis hingga sedikit memperlihatkan lekuk punggungnya yang tegap.


Apa yang dia lakukan? batin Tiara. Hari ini adalah hari minggu. Otomatis Galih tidak pergi bekerja dan biasanya pria itu akan bangun sedikit lebih siang dari hari biasa.


Karena penasaran, Tiara berjalan mendekati pria itu. Langkah demi langkah ia ambil sambil melihat Galih yang fokus pada sebuah objek.


Setelah jarak yang begitu dekat, Tiara paham. Ternyata Galih sedang mengamati bunga mawar yang tumbuh dalam sebuah pot dari keramik di sudut balkon itu.


Di kelopak bunga itu, ada sebuah kupu-kupu yang hinggap. Terlihat indah karena sesekali mengepakkan kedua sayap yang berwarna kuning.


Nyatanya makhluk kecil itu mampu memanjakan mata siapa saja yang melihatnya Termasuk Tiara. Gadis itu juga membulatkan mata memperhatikan tingkah kupu-kupu itu. Tanpa menyadari kalau Galih telah mengalihkan pandangannya menatap Tiara.


"Indah bukan?" tanya Galih.


"Ha?" seketika Tiara terkejut dan menatap Galih. Pandangan mereka bertemu membuat sesuatu dalam dada terasa terhenti.


Indah? siapa? batin Tiara.


Bukan terlalu percaya diri, tapi nyatanya Galih memang mengatakan kata indah sambil menatap Tiara.


Dan bukan hanya Tiara saja, semua wanita juga akan berpikiran yang sama jika di tatap Galih seperti itu.


"Farfalla...".


Tiara semakin tak paham dengan apa yang di katakan Galih. Siapa Farfalla?


"Dalam bahasa Italia, Farfalla adalah kupu-kupu," ucap Galih menjelaskan.


"Apa lo suka?" tanya Tiara. Sedikit aneh memang jika seorang pria menyukai kupu-kupu. Karena hewan kecil bersayap itu biasanya menjadi hewan kesukaan perempuan.


"Hm, bukan hanya diriku... ada pria lain yang juga suka kupu-kupu..." jawab Galih.


Pria yang di maksud adalah Dion. Ya... keduanya sangat suka dengan kupu-kupu. Apalagi yang berwarna biru dengan corak hitam.


"Kenapa?" tanya Tiara penasaran. Kenapa mereka menyukai kupu-kupu? padahal ada jutaan hewan lain yang bisa mereka lihat, begitu hati Tiara bicara.


"Kenapa apanya? suka tidak butuh alasan bukan?" ucap Galih dan langsung membuat Tiara salah tingkah.


Jantung gadis itu seperti berhenti berdetak saat Galih mengucapkan hal itu. Di detik selanjutnya, detak jantungnya berpacu cepat. Apalagi dengan senyum kecil di sudut bibir Galih yang membuat Tiara seperti tersihir.


Entah kenapa senyum Galih yang tidak selalu terlihat itu justru membuat Tiara suka. Dan membuat dirinya selalu ingin melihat senyum itu setiap waktu.


"Be-nar..." jawab Tiara gugup.


Apalagi yang bisa ia lakukan selain membenarkan perkataan Galih.


"Tapi ada satu hal yang membuatku suka dengan kupu-kupu, mau tau?" tanya Galih. Terlihat normal tapi aneh bagi Tiara. Karena sifat Galih yang diam, cuek dan tidak peduli apapun justru terlihat wajah bagi Tiara. Karena sejak awal memang seperti itulah sosok Galih.


Tertutup dalam berbagai hal.

__ADS_1


Tapi pagi ini, pria itu malah terlihat asyik bercerita. Membuka diri kepada Tiara.


"Hm," jawab Tiara mengangguk setuju.


"Lo tau, kupu-kupu punya fase penting dalam hidupnya. Kupu-kupu pernah menjadi sesuatu yang sangat menjijikkan sebelum menjadi indah..." ucap Galih. Sedangkan Tiara masih belum paham apa yang di katakan pria itu.


"Sebelum menjadi indah dengan sayap kuatnya, dia pernah dalam fase yang amat buruk... Ulat. Saat menjadi ulat, semua orang pasti akan membencinya... bahkan tak segan untuk membunuhnya... juga dengan binatang lain yang memasukkannya dalam daftar makanan... benar kan?".


Tiara sedikit paham. Benar... gue juga jijik melihat ulat...


"Tapi berjalannya waktu, saat ulat telah berubah menjadi kepompong tak ada satupun yang peduli... tak lagi mengganggu nya... kepompong itu akan sendirian, menahan diri untuk apapun hingga berubah... dan sekarang lihatlah... saat dia telah menjadi indah, semua orang memujinya... tak ada satupun makhluk yang menggunjingnya..." tambah Galih.


Itulah hal yang mampu Galih pelajari dari kupu-kupu. Baginya kupu-kupu adalah simbol pencapaian dalam hidup.


Perjalanan hidup yang penuh dengan perjuangan. Sama halnya dengan manusia yang juga mengalami pasang surut dalam kehidupan. Ada jatuh, kegagalan, dan rintangan yang menghalangi. Tapi suatu saat, akan ada sebuah tangga keberhasilan.


Dan sayap kupu-kupu melambangkan puncak keberhasilan.


Tiara ternganga dengan perkataan Galih barusan. Ia tak menyangka kalau Galih bisa mendeskripsikan sesuatu dengan sangat indah.


"Mereka akan menikmati wujud indah kupu-kupu..." ucap Galih mengakhiri kalimatnya.


"Jadi itulah alasan Lo menyukai kupu-kupu? dan apa yang membuat dirimu menyamakan dengan kupu-kupu, hidup Lo sangat sempurna... memiliki keluarga yang amat perhatian, adik yang begitu baik dan lingkungan yang cukup tentram..." protes Tiara.


Itulah yang ia lihat dalam hidup Galih. Pria yang tah memiliki apapun tanpa kekurangan.


"Siapa bilang?" ucap Galih. Ia juga pernah mengalami kejadian buruk dalam hidupnya.


Galih merasa sendiri, tersisih dan tak di perdulikan sama sekali.


"Duduklah... gue ceritain," ucap Galih.


Dan pada akhirnya pria itu duduk di bangku yang berada di balkon. "Mau gue pangku?" godanya. Membuat Tiara terkejut sekaligus membuka mulutnya tak percaya.


Bagaimana tidak? inilah pertama kalinya keluar rayuan dalam mulut pria itu. Karena yang biasa keluar hanya umpatan dan celetuk tak penting yang seringkali membuat Tiara kesal.


Tiara salah tingkah dan langsung duduk di samping Galih. Menakutkan bukan kalau ia sampai duduk di pangkuan pria itu?


"Mungkin lo akan terkejut mendengar ceritaku..." ucap Galih mengenang masa kelamnya.


Sedangkan Tiara terlihat fokus mendengarkan tanpa berkata apapun.


Mungkin inilah pertama kalinya Galih dan Tiara terlihat sebagai manusia normal yang saling berbagi cerita.


Ini juga pertama bagi Galih menceritakan masa lalunya dengan orang lain, karena yang tau semua apa yang terjadi pada dirinya hanyalah Dion dan Arjun.


"Menyedihkan bukan?" ucap Galih menertawakan kebodohannya dulu. Dimana ia begitu mencintai seorang wanita bahkan sampai menghancurkan dirinya sendiri dengan terjerat obat-obatan terlarang.


"Tidak..." tolak Tiara. "Lo tidak bodoh...".


Tentu saja apa yang dikatakan Tiara barusan mampu membuat Galih menatap gadis itu cukup lama. Padahal bagi Galih, dirinya yang dulu sangatlah bodoh.


Semua orang punya kekurangan dalam diri mereka bukan? batin Tiara.


"Karena saat kita mencintai seseorang, kita akan berbuat apapun untuk membuat mereka tetap bersama kita bukan?" tanya Tiara. Ia juga pernah seperti itu. Mencintai seseorang melebihi rasa cintanya terhadap Tuhan.

__ADS_1


Dan seperti yang terlihat, pria itu tidak bisa Tiara percayai hingga yang Tiara telan hanyalah kekecewaan saja.


"Termasuk dengan menyakiti diri kita sendiri...".


Galih terdiam. Sadar bahwa dirinya dan Tiara juga pernah memiliki masa-masa kelam dalam hidup mereka.


"Jadi, dia mantan kekasih lo? wanita yang malam itu?" tanya Tiara.


Karena saat itu ia tau, bagaimana sikap Galih kepada wanita yang mereka berdiri di depan Apartemen Galih. Ada sebuah perasaan cinta yang bercampur dengan kekecewaan saja.


"Hm," jawab Galih singkat.


"Kenapa tidak mencobanya lagi?" tanya Tiara.


"Kenapa? mengulang untuk jatuh di lubang yang sama?", Galih balik bertanya.


Kalau ia kembali menjalin hubungan dengan Alya, berarti Galih siap untuk di kecewakan untuk kedua kalinya. Dan hanya pria bodoh yang melakukan hal itu.


Sedalam apa perasaan yang Galih berikan pada Alya, tak membuat Alya bisa seenaknya sendiri menarik ulur perasaan Galih. Karena Galih sendiri yang bisa menentukan kebahagiaannya sendiri.


"Lagian kenapa lo tidak kembali balikan sama mantan kekasih Lo yang telah selingkuh?" protes Galih. Karena Tiara juga bisa melakukan hal itu juga bukan?


"Tidak," jawab Tiara tegas. Membuat Galih juga tersenyum sepemikiran.


"Lagian gue dulu bilang kepadanya kalau kita akan menikah bukan?" goda Galih sambil menaik turunkan alisnya bersamaan. Semakin membuat Tiara salah tingkah di buatnya.


"Jangan bercanda!" protes tiara melempar pandangannya ke arah lain. Karena menatap Galih sungguh membuat jantungnya terasa aneh.


"Kalau gue serius?" tanya Galih.


Ha?


Tiara kembali memutar kepalanya mengamati Galih lagi. Mencerna perkataan pria itu yang terdengar ambigu.


Apa sih? kenapa suasananya terasa aneh sih...


Sejenak keduanya sama-sama terdiam membatu. Galih perlahan mendekati gadis yang duduk di sampingnya. Tangannya terayun untuk menggapai sesuatu bahkan sampai membuat Tiara semakin gugup dan malah memejamkan mata.


"Pipi lo merah..." ucap Galih mengelus pipi Tiara dengan ibu jarinya.


Gila... benar-benar gila...


Tiara heran, Galih mampu membuat perasaannya campur aduk seperti ini.


Apa dia memejamkan mata mengira gue akan menciumnya? hahah... batin Galih penuh kemenangan.


"Tiara... mau lihat kupu-kupu?" tanya Galih.


***


Kupu-kupu yang mana Galih...?


Ingat kata Arjun tempo hari di Part 180 kalau Galih punya Kupu-kupu sendiri? hahaha....


Travelling gak tuh pikiran gue???

__ADS_1


Semoga syuka...


__ADS_2