
HAPPY READING...
***
Pemandangan berbeda terjadi di dalam Rumah Pradipta. Biasanya saat jam bekerja seperti ini, hanya ada pelayan yang berseliweran dengan tugasnya masing-masing. Tapi hari ini sangat beda.
Akira yang sengaja tidak berangkat kuliah, berada di dalam rumah untuk melakukan sesuatu hal yang perlu di hari spesial bagi suaminya itu.
Dengan mengenakan dress harian setelah mandi, gadis itu turun menuju ke dapur yang berada di lantai dasar rumah tersebut.
Dengan memantapkan hati, Akira ingin meminta ijin padapelayan untuk menggunakan dapur itu seharian ini.
"Nona, ada yang perlu saya bantu?" tentu saja sang pemilik dapur langsung menayai Akira ketika kakinya baru saja tiba di sana.
"Em... itu, apa aku boleh menggunkan dapur ini seharian saja?" tanya Akira kebingungan harus mengatakan apa. Yang jelas ia ingin mencurahkan keahliannya disini.
Ya... sejak menikah dengan Arjun, Akira jarang sekali ke dapur entah memuat kue ataupun cemilan lainnya.
Bagaimana bisa ia melakukannya sendiri sedangkan di rumah ini smsuanya sudah tersedia. Apalagi Akira selalu di buat sibuk oleh suaminya di kamar.
Jadi hari ini adalah saat yang tepat untuk Akira kembali pada hobinya.
"Nona butuh sesuatu? biar saya yang buatkan..." ucap pelayan itu dengan ramah. Mana bisa Nona muda keluarga ini berada di dapur untuk memasak sendiri.
Lagian sarapan sudah lewat beberapa jam bukan? batinnya terheran-heran.
"Tidak... bukan itu maksudku... aku ingin membuat sesuatu disini. Hari ini adalah hari ulang tahun Ar- oh... suamiku maksudnya..."
Akira mengutuk dirinya sendiri. Kebiasaannya yang memanggil Arjun dengan nama sudah sangat membuatnya malu di depan pelayan.
"Oh, Nona ingin membuat kue untuk Tuan muda?" tanya pelayan itu bahkan nadanya bukan seperti orang yang bertanya, lebih ke arah menggoda Akira.
"Iya," jawab Akira.
Bilang iya saja, biar cepat kelar urusannya.
"Silahkan Nona," pelayan itu memberi ijin walaupun masih dengan menemani Akira, mungkin saja nona mudanya memerlukan sesuatu.
"Kamu boleh pergi," usir Akira. Ia tak terbiasa di temani seseorang ketika sedang melakukan sesuatu di dapur. Bahkan dulu Ibu Arum saja tidak di perbolehkan untuk melihat Akira.
Akira hanya akan memanggil ibunya ketika kue buatannya sudah selesai dan mencicipi nya.
Belum sempat pelayan itu pergi, sudah ada Mami Livia datang sambil tersenyum mengamati menantunya yang entak kenapa berada di dapur seperti ini.
"Akira? sedang apa kamu?" tanya Mami dan mendekati Akira.
Tadinya Mami ingin memgambil air dingin.
Pelayan itu membungkuk dan langsung meninggalkan dapur.
"Akira mau membuat sesuatu Mi," jawab Akira dengan senyum aneh. Lebih tepatnya ada rona malu di wajahnya.
"Mau Mami bantu?"
Tentu saja Akira langsung menggelengkan kepalanya menolak tawaran Mami.
"Tidak usah Mi... Akira bisa sendiri kok,".
"Baiklah kalau begitu, Mami pwegi dulu ya..." pamit Mami Livia. Beliau sudah janjian dengan temannya bertemu di butik langganan mereka.
"Iya, Hati-hati Mi...",
Dan sekarang Akira benar-benar sendirian di dapur. Menyiapkan segala sesuatunya tapi tetap saja masih tidak tau dimana letak bahan-bahan yang di butuhkannya.
"Mau saya bantu Nona?" pelayan yang tadi sempat pergi, akhirnya kembali lagi. Dan mungkin saja telah menjadi pahlawan bagi Akira. Karena ia bisa membantu Akira mencari bahan untuk membuat kue.
"Iya, bantu aku...", jawab Akira sedangkan pelayan itu langsung tersenyum senang.
Akhirnya aku bisa menuangkan hobiku lagi... batin Akira bahagia. Dia akan membuat kue ulang tahun untuk Arjun. Inilah pertama kalinya Akira membuat kue untuk suaminya. Tentu saja harus enak dan juga berkesan.
***
Di lain tempat.
__ADS_1
Arjun masih berkutat dengan tumpukan berkas di atas meja. Langit sudah semakin senja tapi pria itu seperti tak sadar dan tenggelam dalam pekerjaannya.
Hingga ketukan pintu ruangannya menjadi satu-satunya suara yang mampu membuat Arjun bersuara, "Masuk,"
Di detik selanjutnya, Galih lah yang datang.
Pekerjaan Galih telah selesai dan ia berniat untuk kembali pulang. Tapi karena tadi pagi Galih datang bersama dengan Arjun, tentu saja ia harus kembali pulang bersama dengan sahabatnya itu.
"Belum selesai?" tanya Galih sambil mengamati berkas yang belum terbaca sama sekali. Apa? masih sebanyak itu? batinnya terkejut.
Sudah di pastikan kalau ia akan lembur sampai malam hari.
"Lihatlah, masih banyak yang perlu di selesaikan," keluh Arjun. Arjun melempar berkas dan langsung mendongkkan kepala. Mengusir rasa pegal di leher dan juga matanya.
Menjadi pimpinan perusahan benar-benar menguras tenaga.
"Bantuin kek, daripada bengong seperti itu..." protes Arjun karena di depan sana Galih yanga berdiri menatap dirinya.
"Itu kan pekerjaan Lo!" tolak Galih. Mana bisa ia ikut campur dengan semuanya. Toh Berkas itu juga sudah di periksa Galih tadi pagi, Arjun hanya perlu menandatangani nya saja.
Tapi kelihatannya pria itu perlu mengecek ulang.
"Lusa Lo ikut kan?" tanya Arjun memastikan.
"Sebenernya gue ogah, apalagi jadi obat nyamuk diantara Lo dan Akira... tapi karena Om Johan yang meminta, gue tidak bisa menolak dong..." jawab Galih apa adanya. Bahkan Papi Johan meminta Galih menemani perjalanan Akira dan Arjun secara langsung.
Dan mungkin Lusa adalah perjalanan pertama mereka setelah bekerja hampir 1 tahun lamanya.
Kesempatan bagi Galih juga untuk melihat sebuah negara lain selain tanah airnya.
"Tentu saja Papi benar, siap alagi yang akan membawa barang-barang gue kalau bukan Lo!" ucap Arjun ketus walaupun dalam hatinya hanya sebuah gurauan saja.
"Sial*n!" umpat Galih.
Mereka sama-sama tertawa.
"Aagghhh... sepertinya aku benar-benar harus lembur," keluh Arjun dan mulai membuka berkas kembali.
"Lo sudah memberitahu Akira kalau lembur?" tanya Galih. Mungkin saja Akira tengah menunggu Arjun saat ini. Apalagi ini adalah jari ulangtahun Arjun.
"Oh iya, belum..." jawab Arjun.
Segera mengambil ponselnya dan menghubungi Akira. Setidaknya Akira tau alasan kenapa Arjun harus pulang malam.
Arjun menempelkan ponselnya di telinga kirinya sambil menunggu panggilannya tersambung, "Kemana dia? kenapa tidak di jawab?",
"Apa Akira sedang mandi ya?" gumam Arjun lagi. Bahkan sampai teleponnya terputus dengan sendirinya.
"Iya mungkin," tambah Galih. Apalagi jam di pergelangan tangannya mwmnag menunjuk kw angka setengah 6 sore.
Aku akan menghubunginya lagi nanti, batin Arjun.
Arjun kembali pada pekerjaannya di bantu dengan Galih.
***
Akira keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandinya dan langsung pergi ke ruang ganti pakaian.
Di dalam sana, gadis itu kebingungan dengan gaun seperti apa yang akan di kenakan nya malam ini.
Menyentuh satu demi satu dress indah yang di belikan oleh Mami dan sebagian pberian Arjun. Ada beberapa yang masih baru dan belum pernah di kenakan sama sekali.
Akira mengamati gaun biru dan mulai menempelkan tubuhnya, tapi menggelengkan kepalanya Tidak, tidak cocok...
Akira kembali mencari gaun yang cocok.
Hingga tangannya berhenti pada gaun pendek berwarna merah. Senyum indah langsung terukir di wajahnya.
Ini dia...
Pilihan Akira jatuh pada gaun merah tersebut.
Gaun yang benar-benar dangan cocok untuk Akira dengan lengan pendek dan belahan punggung yang amat rendah.
__ADS_1
Sedikit berani memang, tapi ini semua kan juga untuk Arjun.
Hanya Arjun yang bisa melihatnya seperti itu.
Akira menuju ke meja rias untuk meriah wajahnya. Akhir-akhie ini Akira juga seringkali belajar make up dari tutorial di media sosial juga dengan majalah-majalah.
Dan sepertinya keahliannya semakin bertambah yang dulunya tidak bisa memakai softlens mata, sekarang bisa. Menggambarkan alisnya dan beberapa alat make up lainnya.
Tok tok tokk... suara pintu di ketuk dari luar.
"Masuk!" perintah Akira.
Seorang pelayan masuk, "Bisa saya bantu Nona?"
Keberuntungan seperti menyertai Akira hari ini.
Tadi ia berhasil membuat kue ulang tahun dan mendekornya dengan sangat indah walaupun sudah lama tak melakukannya.
Dan sekarang saat Akira bingung dengan riasan rambut yanga kan ia pakai, seorang pelayan datang ingin membantunya.
Benar kata pepatah, "jika kita ikhlas melakukan seuatu untuk orang lain, Tuhan akan mempermudah jalannya..."
"Aku bingung merias rambutku," keluh Akira dan pelayan itu langsung mendekat.
Siapa sih yang tidak kesulitan dengan riasan rambut, apalagi rambut Akira benar-benar telah panjang.
Dengan di bantu pelayan, rambut panjang Akira di sulap seperti kepangan salah satu tokoh di kartun Disney yang memiliki kemampuan memanipulasi salju. Di tambah dengan selipan bunga dari perak di setiap lekukan kepangan rambutnya, menambah kesan indah dan elegan.
"Indah..." puji Akira pada hasil kepangan rambutnya yang jatuh di pundak sebelah kirinya.
"Nona menyukainya?"
Akira mengangguk dengan senang. Arjun akan menyukainya.
"Apa sudah selesai?" tanya Akira. Menanyakan keadaan di bawah sana, tempat yang akan menjadi tempat makan malam romantisnya dengan Arjun.
"Sudah Nona...",
langsung berlari menuju ke balkon kamarnya. Melihat sendiri bagaimana keadaan tempat tersebut.
Dan benar, di bawah sana samping kolam renang sudah terdapat meja dan kursi yang di hias indah.
Akira benar-benar senang melihatnya.
Akira melihat langit yang telah berubah warna menjadi gelap, dan membuat hatinya mulai bertanya-tanya tentang kapan kepulangan Arjun.
Aku akan menghubunginya... Akira memutuskan untuk menghubungi Arjun saat ini juga. Menanyakan apakah pria itu sudah pulang atau mungkin sudah dalam perjalanan pulang. Karena Arjun sudah menjanjikan hal itu pagi tadi, pria itu bilang akan pulang lebih awal.
"Dia menelponku tadi?" Akira sedikit terkejut saat melihat panggilan tak terjawab dalam ponselnya.
"Halo sayang," ucapnya saat teleponnya telah tersambung.
"Halo sayang... aku menelpon mu tadi, tapi tidak kamu angkat..."
"Iya.. aku sedang mandi tadi. Sayang kamu-" belum sempat meneruskan kalimatnya, Arjun lebih dulu menyela.
"Sayang... maafkan aku, aku harus lembur malam ini... aku tidak bisa pulang sekarang... ada pekerjaan yang harus aku selesaikan,"
Mendengar perkataan Arjun barusan, wajah Akira berubah pias. Ada sebuah kekecewaan yang terpancar. Bahkan senyum yang tadinya mengembang sempurna, sirna begitu saja.
"Kamu sudah janji kan?" tanya Akira dengan lirih.
"Iya sayang... tapi aku benar-benar tidak bisa pulang sekarang, maafkan aku..."
Mau berkata apa lagi kalau Arjun sudah berkata demikian. "Baiklah...", hanya itu yang bisa Akira ucapkan.
"Aku akan pulang setelah selesai, oke? love you..."
"Love you..." jawab Akira lemah dan telepon itupun berakhir.
Seharusnya kamu tidak perlu berjanji... seharusnya tak perlu menjanjikan ku kalau tidak bisa menepatinya...
***
__ADS_1
**Kenapa Arjun tidak bilang coba kalau lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya demi pergi bulan madu dengan istrinya... Akira jadi sedih kan...
Like, Komentar dan Hadiahnya ya... biar Aku semangat buat Update... luv kalian**...