
HAPPY READING...
***
"Kirim saja ke alamat itu, hari ini juga..." perintah Galih pada salah satu pelayan toko pakaian yang ia kunjungi.
Kemudian tatapannya teralih pada gadis yang duduk di ujung sana sendirian.
"Baik Tuan," jawab pelayan itu dengan ramah.
Setelahnya Galih pergi, kembali menemui Tiara dan duduk di sebelahnya.
Bersamaan dengan itu, Dion dan Gadis juga telah selesai membayar beberapa gaun yang sekarang di kemas dalam paperbag.
"Tiara... kamu tidak jadi beli?" Gadis bersuara. Karena tak melihat apapun di tangan Tiara.
"Tidak mbak..." jawab yang ditanya dengan senyum canggung mengukir bibirnya.
"Kenapa?" desak Gadis lagi. Tentu saja sangat penasaran karena tujuan mereka masuk ke dalam toko ini adalah membeli gaun untuk pesta besok.
Sedangkan Dion menatap Galih, mencari jawaban atas segala pertanyaan yang melingkupi hati mereka.
Tapi seperti itulah sifat Galih. Pria ingin itu sama sekali tidak peduli dengan tatapan semua orang. Dan malah terkesan tak peduli sama sekali.
"Sudah kan? ayo kita pergi..." malah itulah yang keluar dari mulut Galih.
Membuat semua orang melongo tak percaya tapi tetap mengikuti langkah kaki yang membawa mereka keluar dari toko tersebut.
Sepanjang jalan, Tiara terlihat semakin terbebani. Padangan yang berjalan di belakangnya menimbulkan keirian dalam hatinya.
Bahkan Dion begitu mencintai Gadis, terlihat sekali dari cara pria itu memperlakukan kekasihnya.
Tiara iri walaupun secara kenyataan dirinya adanya Galih tidak seperti yang terlihat. Mereka bukanlah pasangan kekasih pada umumnya.
"Agghhh...".
Terdengar helaan nafas kasar dari Tiara, membuat Galih yang berjalan di sampingnya mulai bereaksi.
"Kenapa? lo lelah?" pertanyaan yang terdengar lucu dan tak masuk akal.
Ingin sekali Tiara mengatakan, Kalau lelah, apa lo mau gendong gue gitu?
Tapi ia tak cukup berani. Bisa ngamuk pria kulkas di sampingnya itu.
Hingga yang Tiara ucapkan hanyalah, "Tidak...". .
Galih kembali menggandeng tangan Tiara seperti tadi. Berjalan layaknya padangan yang sedang di mabuk cinta.
"Nyet... kesana!" tunjuk Dion pada toko berikutnya.
Toko yang menjual sepatu pria dan wanita.
Dari nama Brand terkenal yang terpajang di atas sana, kembali membuat Tiara terkejut.
Gila... secinta itu Dion kepada mbak Gadis... batinnya bersuara.
Beruntung sekali Gadis karena mendapatkan cinta dari pasangannya. Di manjakan dengan pakaian dan aksesoris yang harganya cukup fantastis bagi Tiara.
"Kita cari heels untukmu..." ucap Dion sambil merangkul pinggang Gadis dan masuk ke dalam.
__ADS_1
Sedangkan Galih dan Tiara terpaksa mengikutinya.
"Tapi, gue tidak bisa pakai sepatu hak tinggi..." protes Gadis.
Tidak bisa bagi Gadis bukanlah serius tidak bisa memakainya. Ia hanya tidak nyaman memakai sepatu hak tinggi. Gadis lebih nyaman mengenakan sneakers atau kets.
Tapi siapa yang mau ke pesta mengenakan Sneakers?
"Tiara bisa mengajarimu... iya kan Tiara?" tanya Dion beralih pada Tiara. Membuat yang di tanya kebingungan dan terpaksa menjawab iya.
Iyain saja... biar kelar urusannya...
Dion dan Gadis mulai melihat-lihat sepatu hak tinggi yang terpajang di dalam toko. Begitu juga dengan Galih.
Hingga sebuah sepatu menarik perhatian Galih. Sepatu dengan warna grey yang indah.
Tangan pria itu terulur untuk mengambilnya. Menarik tangan Tiara hingga yang di tarik juga terkejut dan menghentikan langkah.
"Duduk..." perintah Galih singkat, padat dan jelas. Setelah Tiara duduk, tanpa terduga sama sekali, pria itu berjongkok di depan Tiara.
Eh, mau apa dia? Tiara terkejut.
Di detik selanjutnya ia paham saat Galih mulai melepaskan sepatu Tiara dan menggantinya dengan Heels yang di pilih tadi.
Sesuai dugaannya, sepatu pilihan Galih itu pas di kaki Tiara. Hingga tanpa sadar sebuah senyum terukir jelas dalam bibirnya.
Membuat Tiara syok karena senyum indah itu nampak lagi dan bahkan jelas terlihat.
Tanpa pikir panjang, Galih bangkit. "Bungkus yang ini..." titahnya pada pelayan toko.
"Baik...".
"Tapi Gal-" protes Tiara.
Padahal ia tak berkeinginan untuk membeli sepatu itu, tapi dengan seenaknya sendiri Galih meminta untuk membungkusnya.
Bagaimana kalau mahal? siapa yang akan membayarnya? batin Tiara cemas.
"Ini hadiah untukmu..." jawab Galih.
Sedikit lega memang karena Tiara tidak mengeluarkan uang untuk sepasang sepatu itu.
Sambil menunggu Dion dan Gadis, Galih mengajak Tiara duduk di bangku yang berada di dekat meja kasir.
Merangkul bahu Tiara tanpa ragu seperti miliknya seutuhnya.
"Apaan sih," protes Tiara. Perlakuan Galih benar-benar menjengkelkan. Padahal Tiara yakin kalau ini hanyalah sandiwara saja di depan Dion.
Di tempat yang sama, Dion juga memakaikan sepatu untuk Gadis. Beberapa kali mencoba dengan beda model dan warna.
Juga mencocokkan dengan pakaian yang akan dipakai Gadis esok hari.
"Dion... gue tidak bisa..." keluh Gadis lagi.
Membayangkan ia memakai heels benar-benar menakutkan. Gadis tak terbiasa dan takut jatuh nanti. Pasti memalukan.
"Kita cari yang tidak terlalu tinggi..." ucap Dion. Karena Gadis tergolong wanita yang tinggi semampai, jadi lebih cantik untuk memakai heels yang tidak terlalu tinggi.
"Lagian bagaimana bertemu dengan calon mertuamu nanti, apa lo akan berpenampilan seperti ini?" sindir Dion.
__ADS_1
Ya... sesuai rencananya, ia akan membawa Gadis menemui orang tuanya setelah acara Arjun selesai.
Mereka berniat untuk meminta restu dan menikah setelahnya.
Apapun yang Papa katakan, tak membuat Dion ragu untuk meminang Gadis sedikitpun.
"Apa perlu?" keberanian Gadis mulai turun. Apa perlu untuk mengubah penampilannya saat bertemu dengan orang tua Dion nanti?
"Tentu saja... mereka harus melihat calon menantunya yang sangat cantik..." ucap Dion meyakinkan.
Oh... gue terharu... batin Gadis.
Perlakuan Dion benar-benar tulus kepadanya.
Membuat rasa cinta Gadis kepada pria itu semakin bertambah setiap harinya.
"Besok tetap bersama Tiara saja, jangan bicara dengan orang lain..." pinta Dion.
Karena mungkin juga ada orangtuanya yang datang ke acara itu. Dion tak mau ada hal buruk terjadi pada Gadis.
"Lo akan pergi?" tanya Gadis cemas.
Kenapa harus dengan Tiara saja, padahal Gadis lebih aman jika bersama Dion.
"Tidak... Gue kan ada di hati Lo..." gombal pria itu. Membuat Gadis tersenyum geli mendengarnya.
Sungguh kepribadian Dion yang jenaka mampu membuat Gadis merasa nyaman.
Kencan mereka berempat berakhir pada sebuah gedung bioskop.
Duduk di bangku yang berbeda karena permintaan Galih sendiri.
Dion dan Gadis duduk di bangku tengah sedangkan Galih dan Tiara malah memilih bangku yang sedikit lebih jauh dari mereka. Entah apa maksudnya, padahal tak begitu banyak orang yang ingin melihat film di sana.
"Seharusnya kita duduk di dekat mereka..." keluh Tiara dan duduk di bangkunya dengan membawa cup berisi popcorn. Sedangkan Galih yang duduk setelahnya tak berkomentar.
Karena inilah yang sudah ia rencanakan. Setidaknya Dion tak bisa mengganggunya.
Setelah film mulai di putar, Galih dengan sengaja merangkul bahu Tiara.
"Lepaskan tanganmu..." perintah Tiara.
Ia sama sekali tak nyaman dengan perlakuan Galih yang selalu saja seenaknya sendiri.
"Kenapa? lo belum membayar sepatu tadi kan?" sindir Galih.
Lah?? apa hubungannya? batin Tiara.
"Setidaknya diam apapun yang gue lakukan!" titah Galih.
"Kenapa begitu?" cerca Tiara. Konsepnya bukan seperti itu bukan?
"Kita kan pacar..." jawab Galih tanpa dosa. Membuat Tiara membulatkan mata tak percaya. Walaupun tau yang di katakan Galih hanya rayuan saja, tapi sungguh kata itu mampu sampai dalam hatinya.
Membuat pipi Tiara memerah karena malu.
Sedangkan Galih, tak memperdulikan apa yang di pikirkan Tiara. Pria itu tersenyum tanpa di sadari siapa saja.
__ADS_1