Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
46. Duka Keluarga Pradipta (2).


__ADS_3

HAPPY READING...


***


"Kesedihan terberat bagi orang tua adalah ketika melihat salah satu anaknya menghadap Tuhan lebih dulu darinya..." Papi Johan.


 


Papi Johan berjalan masuk ke dalam rumah bersama dengan istrinya dan seorang supir yang tadi mengantarkan kepergian mereka.


Di wajah mereka tersisa sebuah kesedihan yang amat dalam dengan mata Mami Livia yang masuk membengkak, entah berapa banyak air mata yang beliau keluarkan sejak tadi.


"Beri tahu pelayan, kami akan makan siang di kamar..." perintah Papi Johan kepada salah satu pelayan yang menyambut kedatangan nya tadi.


"Baik Tuan," jawab pelayan sambil menundukkan pandangannya.


Hal ini sering terjadi setiap tahunnya. hari berkabung ini terus terjadi setiap tahun walaupun sudah 6 tahun yang lalu dimana putri Keluarga Pradipta menghembuskan nafasnya untuk terakhir kali.


6 tahun tidak membuat keluarga Pradipta lupa akan sosok Jessi, hasil cinta Johan dan Livia dalam pernikahannya.


"Beri tahu Arjun kalau kami sudah kembali..." tambah Mami Livia mengingatkan.


"Baik Nyonya,"


Pasangan suami istri itu mulai berjalan menuju ke kamar. Menumpahkan kesedihan nya kembali tanpa di lihat oleh orang lain.


Sedangkan Pelayan yang di perintah tadi langsung bergegas menuju ke lantai 3 dimana Tuan Muda keluarga itu berada.


Arjun masih menangis sambil mengepalkan tangannya menahan semua kekecewaan dan juga ketidakadilan yang terjadi pada dirinya.


Wajahnya terbenam dalam dada Akira, dimana yang terdengar hanya deru tangis milik Arjun.


"Sabar..." ucap Akira sambil memeluk Arjun dan menenangkan suaminya.


Walaupun Akira tidak mengenal Jessi, tapi melihat kesedihan Arjun membuat Akira ikut menangis.


Saat mereka sedang menangis, terdengar suara pintu di ketuk dari luar...


Tok tok tokk...


"Tuan muda?"


Arjun bergegas menghapus sisa tangisnya, juga dengan Akira yang memberi jarak tubuhnya.


"Ada apa?" tanya Arjun tanpa melihat siapa yang telah memanggilnya tadi.


"Maaf mengganggu, itu... Tuan besar telah kembali," lapor pelayan itu dengan rasa sedikit khawatir karena tadi ia tak tau kalau Tuan mudanya sedang menangis di ruangan ini.


"Baiklah," jawab Arjun masih menyembunyikan wajah sendunya.


Pelayan itu menundukkan kepalanya sesaat dan undur diri dari ruangan itu.


Sekarang tinggal Arjun dan Akira berdua saja.


"Ganti pakaian mu dan kita berangkat," ajak Arjun pada istrinya.

__ADS_1


Karena orangtuanya sudah pulang, Arjun yang gantian pergi.


"Kemana?" tentu saja Akira bingung kemana akan pergi dengan Arjun siang-siang begini.


"Menemui Jessi," jawab Arjun.


Seketika Akira mengangguk. Ia tau apa maksud Arjun barusan. Ya... mereka akan mengunjungi makam Jessi.


Akira meninggalkan ruang ibadah itu sambil sesekali menengok untuk melihat foto Jessi di belakang sana.


Entah kenapa saat di hari kematian Jessi setiap tahunnya, Arjun tidak pernah datang ke pemakaman bersama dengan orang tuanya.


Arjun memilih untuk datang sendiri setelah Papi dan Maminya kembali.


Dalam hati Arjun, masih ada sebuah kebencian karena sikap Papi Johan yang tidak adil kepada Jessi karena melarang gadis kecil itu menangis. Itulah yang membuat Arjun sedikit kesal dengan ayahnya.


Karena ucapan Papi Johan terasa sangat kejam untuk Jessi yang saat itu sedang kesakitan dan butuh dukungan orangtuanya.


 


Di dalam Kamar.


Papi Johan duduk dengan kepala menunduk dalam. Entah apa yang beliau pikirkan, tapi hal itu sangat membuat istrinya sedih.


"Sampai kapan dia akan menyalahkan ku?" Tiba-tiba Papi Johan berkata demikian.


"Sudah lah Pi... jangan di pikirkan," Mami Livia tidak bisa membuat suaminya selalu merasa bersalah tentang semua yang telah terjadi.


"Jangan di pikirkan bagaimana? ini sudah tahun ke 6, tapi Arjun masih tetap seperti dulu..." tolak Papi Johan.


"Tanpa Arjun tau,Aku selalu menangis melihat keadaan adiknya. Dadaku sangat sakit saat melihat Jessi menangis seorang diri... tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa melakukan apa-apa saat penyakit itu datang dan menggerogoti tubuh putriku? Aku tidak bisa berbuat apa-apa ..." ucap Papi Johan mengakui semuanya.


Jika Arjun membenci dirinya, Papi Johan bahkan lebih membenci dirinya sendiri. Ia bahkan tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat apapun untuk putrinya.


Papi Johan tidak bisa menyelamatkan nyawa buah hatinya yang sedang menderita.


Bukankah lebih menyakitkan bukan?


"Saat Jessi pergi, hidupku juga ikut mati... Aku kehilangan arah dan tujuan hidupku... melihat putrinya meninggal adalah sebuah hukuman paling berat untuk semua orang tua... termasuk untukku..." tambah Papi Johan.


"Papi..." Mami Livia kembali menangis bahkan lebih kencang dari sebelumnya.


Sambil menangis, Mami Livia memeluk tubuh suaminya.


Bagaimanapun semuanya sudah terjadi, percuma saja untuk menyesali semuanya. Kerena semuanya tidak akan bisa mengembalikan Jessi dalam hidup mereka.


Jessi benar-benar telah pergi dan hanya meninggalkan sebuah kenangan yang bisa Keluarganya kenang seumur hidup.


 


Arjun berdiri bersebelahan dengan istrinya. Menatap sebuah pusara yang sangat terawat karena tidak ada daun kering yang berserakan di sekelilingnya. Pusara itu juga terlihat indah dengan taburan bunga segar di atasnya.


"Jessi, kakak datang..." ucap Arjun dengan pandangan tak henti-hentinya menatap batu nisan yang terukir sebuah nama.


"Kakak kesini dengan seseorang," tambah pria itu.

__ADS_1


"Hai Jess, kenalkan Aku Akira... istri dari kakakmu, Arjun..." hanya itu yang bisa Akira ucapkan.


Dia memiliki poni yang sama dengan mu bukan? kamu tau... Akira juga tidak terlalu pintar sama seperti mu... dia cerewet dan sedikit menyebalkan... adu Arjun kepada Jessi.


Walaupun Arjun tidak tau apakah Jessi mendengarnya atau tidak, ia tetap menceritakan hal itu.


"Maafkan kakak, Jess..." inilah ucapan yang selalu Arjun katakan setiap kali mengunjungi makam adiknya. Meminta maaf karena tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk Jessi.


Arjun bahkan tak mampu untuk melindungi ga dia itu.


Lebih parahnya, Arjun tidak dapat melihat Jessi untuk terakhir kalinya karena saat itu Arjun telah berangkat ke Luar Negeri.


Itulah yang membuat Arjun selalu merasa bersalah. Seandainya saja ia pulang lebih awal, mungkin Arjun masih bisa melihat Jessi untuk terakhir kalinya.


"Kakak... belajarlah yang rajin... Jessi ingin melihat kakak pulang dengan menjadi Dokter..."


pinta Jessi saat Arjun berangkat ke New York untuk kuliah.


"Jaga kesehatanmu... kakak akan sering-sering pulang saat liburan..." pinta Arjun.


"Oke... kakak hati-hati ya..."


Percakapan Arjun dan Jessi saat pertama kali Arjun berangkat ke Luar Negeri kembali terngiang.


Sesuai dengan janjinya pada sangat adik, Arjun benar-benar mendaftar kuliah dengan jurusan Dokter.


Arjun rela meninggalkan orangtuanya, negaranya agar suatu saat mampu menjadi Dokter yang hebat.


Apalagi Arjun memang lah siswa yang berprestasi sejak SMP, jadi sangat mudah baginya untuk menerima pelajaran yang jauh lebih sulit dibandingkan di negaranya.


Cukup lama Arjun dan Akira berada di makam Jessi. Hingga, "Ayo..." ajak Arjun.


Matahari juga mulai berangsur-angsur ke arah barat menandakan hari akan berganti.


Akira pun mengangguk setuju. Sepanjang jalan, Arjun tak lepas menggenggam tangan Akira dan meninggalkan tempat itu.


"Apa kamar Jessi berada di lantai 3?" tanya Akira penasaran.


Karena sejak tinggal di rumah Pradipta, Akira tidak pernah melihat kamar Jessi sekali pun.


Tidak mungkin bukan kalau bekas kamarnya di gunakan untuk ruangan lain? begitu pikirnya.


"Hm, kamu ingin melihatnya? barang-barang Jessi masih tersimpan rapi disana..." jawab Arjun.


"Apa boleh?" tentu saja Akira penasaran dengan kamar Jessi. Ada apa di dalam kamar itu dan apa barang kesukaan gadis itu, Akira sangat ingin tahu.


"Tentu saja..."


Mobil Arjun mulai melaju meninggalkan bukit pemakaman yang cukup terkenal di kalangan orang-orang kaya di Ibukota.


***


Besok kita akan menghadapi kekocakan pasangan ini lagi.


Jangan lupa Like dan tinggalkan komentar banyak-banyak...

__ADS_1


Love Kalian... Muacchhh...


__ADS_2