Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
156. Surat Dari Galih.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Semalam Galih benar-benar merawat Tiara yang sedang demam. Mengkompres kening gadis itu dengan air dan menunggu Tiara di samping ranjang hingga pagi.


Entah bagaimana Galih mendeskripsikan rasa tubuhnya pagi ini.


Lelah, ngantuk dan benar-benar berat karena 2 malam ini ia tidak tidur karena ada sesuatu hal.


Ingin sekali Galih mengistirahatkan tubuhnya sebentar saja. Tidur untuk membuat tubuhnya kembali bugar. Tapi rasanya mustahil, karena pagi ini ia harus kembali bekerja.


Galih bangun sedikit lebih pagi dari biasanya.


bersiap karena ada orang lain di Apartemen yang sedang tidak enak badan.


Galih berniat membeli sarapan di depan Apartemennya. Bubur ayam yang sangat lezat sebagai menu sarapan.


Setelah mengamati keadaan Tiara sejenak, Galih berjalan keluar menuju ke pedagang gerobak di depan sana yang menjual bubur ayam.


"Bel, lo kuliah pagi ini?" tanya Galih kepada Bella lewat telepon.


"Iya kak, kenapa?"


"Setelah pulang kuliah, mampir di Apartemen kakak... Tiara ada di sini, hibur dia..." ucap Galih yang terdengar sebagai sebuah perintah bagi adiknya.


Sepertinya Galih akan pulang malam nanti, jadi Tiara tidak akan kesepian jika ada Bella.


"Tidak bisa kak... Bella udah janjian sama temen... lagian kakak mau kemana sih?" malah gantian Bella yang sewot. Padahal sebenarnya ia tidak janjian dengan siapapun. Bella hanya membohongi kakaknya agar Galih bisa dekat dengan Tiara. Licik sekali memang.


"Kemana? siapa?" kembali lagi mode Posesif Galih pada adiknya.


Membuat Bella terdengar panik, "Ya pokoknya temen lah...".


Galih mengangkat jari telunjuk dan tengahnya mengkode penjual bubur di depannya. Dan tentu saja penjual itu langsung paham tanpa banyak bertanya lagi.


"Jangan macam-macam Bel! lo itu masih kecil..." ucap Galih benar-benar sedang tidak bercanda.


Karena Galih sudah memperingati Bella untuk tidak berhubungan dengan pria mana saja saat ini.


"Iya-iya kak... tapi sungguh kak, Bella tidak bisa untuk hari ini... besok Bella akan mampir ke Apartemen kakak setelah kuliah,".


"Baiklah..." jawab Galih lemah dan langsung memutuskan teleponnya.


Toh percuma saja bicara panjang lebar pada ujungnya Bella tetap tidak bisa datang ke Apartemen nya.


Setelah pesanannya selesai, Galih kembali masuk ke dalam Apartemen nya.


Menikmati sarapan paginya dengan di temani secangkir kopi hitam.


Bahkan sampai bubur di mangkuknya telah habis, Tiara sama sekali belum terlihat bangun dari ranjang. Membuat Galih sedikit khawatir untuk meninggalkan gadis itu sendirian. Tapi di sisi lain ada pekerjaan yang sudah menjadi tanggung jawab untuknya.


Galih tidak bisa seenaknya cuti mendadak seperti ini.


Sehingga sebelum berangkat bekerja, Galih menulis sesuatu dalam kertas dan meletakkannya tepat di nakas samping ranjang. Berharap kalau Tiara bangun, gadis itu akan membaca suratnya.


Dengan begitu Galih bisa tenang meninggalkan Tiara.


***

__ADS_1


Tepat pukul 9 pagi, kamar dimana Tiara tidur benar-benar sangat terang karena cahaya matahari yang masuk melalui jendela kamar.


Tiara mengerjabkan matanya sesaat sebelum akhirnya duduk dan mengamati sekitar.


hah? dimana gue? tentu saja terkejut.


Tiara bangun di sebuah kamar yang asing baginya.


Celingak-celinguk tapi tetap tak mendapat jawaban apapun.


Hingga tanpa ragu, Tiara beranjak bangkit dari ranjang. Berlari keluar untuk melihat dimana dia berada sekarang.


Tiara sedikit lupa-lupa ingat dengan dekorasi tempat itu. Seperti tidak asing baginya.


Untuk menjawab semua rasa penasarannya, Tiara mulai melihat pintu di sebelahnya. Membukanya dengan perlahan dan sesuai dugaannya kalau ia pernah disini sebelumnya.


Benar... Apartemennya kan? dan kenapa gue bisa di sini lagi?


Tiara melihat jam yang tergantung di dekat televisi. Jam 9... apa dia telah bekerja?


batinnya menduga-duga.


Kembali lagi ke kamar yang di tempatinya, Tiara duduk seorang diri. Merenung lebih tepatnya hingga tanpa sadar matanya menangkap sesuatu di atas nakas.


Karena penasaran, Tiara mengambil secarik kertas itu dan mengamatinya.


Surat darinya? batin Tiara sedikit geli.


Gue pergi bekerja...


Di lemari pendingin ada bubur ayam yang gue beli tadi pagi. Cukup hangatkan di Microwave dan makanlah...


Oh iya, kalau lapar pesan makanan saja. Ada beberapa lembar uang di laci, gunakan untuk membeli makan siang Lo nanti.


Kalau ada apa-apa telepon gue...


Tiara sedikit lucu melihat tulisan tangan Galih. Rapi dan juga lumayan bagus dari tulisan tangan pria lain.


Surat itu seperti pesan suami pada istrinya bukan?


Setelah membaca surat dari Galih, Tiara mengecek laci nakas tersebut. Dan ternyata benar, ada beberapa lembar uang berwarna merah sesuai dengan surat pria itu.


Tiba-tiba perut Tiara berbunyi. Bagaimana tidak? sejak kemarin, Tiara benar-benar belum memakan apapun.


Nafsu makannya hilang bersamaan dengan kepergian Ibu dari dunia ini.


Dengan langkah yakin, Tiara menuju ke dapur. Melihat isi dari lemari pendingin.


Dan ternyata benar. Hanya ada sebungkus bubur ayam saja dengan air dingin. Lainnya, sama sekali tidak ada.


Apa dia tidak makan? batin Tiara terkejut.


Tanpa ragu, Tiara mulai menghangatkan bubur itu dan menyantapnya. Bubur ayam benar-benar mampu membuat tubuhnya bertenaga kembali.


Apa uang itu gue gunakan untuk belanja saja ya? dia akan pulang nanti... dan mau makan apa kalau di kulkas tidak ada bahan makanan sama sekali?


Entah kenapa tiba-tiba Tiara memikirkan Galih juga.


Padahal sesuai dengan isi surat itu, Galih meminta Tiara untuk membeli makan siang dengan uang yang di laci.

__ADS_1


***


Tiara kembali masuk ke dalam Apartemen Galih dengan banyak sekali kantong belanjaan.


Dengan nafas terengah-engah gadis itu duduk sambil menenggak air dingin dari kulkas.


Cuaca Ibu kota siang ini benar-benar panas.


Membuat Tiara kembali berkeringat padahal ia sudah mandi sebelum pergi berbelanja tadi.


Beberapa lembar uang yang di tinggal Galih di manfaatkan Tiara untuk membeli berbagai bahan masakan. Mulai dari sayur, bumbu dan juga daging, ikan. Tak lupa buah-buahan.


Benar-benar seperti belanja bulanan saja.


Untung saja Tiara sudah terbiasa membeli bahan pokok seperti itu. Jadi tadi gadis itu sengaja pergi ke pasar karena lebih murah di bandingkan dengan Supermarket. Walaupun tidak bisa memilih sayuran hijau karena kesiangan.


Calon istri idaman memang.


Tapi pekerjaan Tiara tidak berhenti sampai disini saja. Ia kembali mengelompokkan bahan-bahan itu sebelum masuk ke dalam kulkas.


Hingga 30 menit berlalu, kulkas yang tadinya kosong telah penuh dengan berbagai warna bahan masakan.


Tiara dengan bangganya berkacak pinggang melihat hasil pekerjaannya. Ck... gue gitu loh...


Walaupun dalam hatinya Tiara amat terpukul dengan kepergian Ibu, tapi kesedihannya tidak boleh berlarut-larut.


Apalagi begitu banyak orang yang berharap Tiara selalu bahagia, seperti halnya Akira dan juga keluarga Galih.


Dengan itulah Tiara harus membalas budi semuanya. Seperti sekarang, membantu Galih sebisanya.


Tiara mengambil potret isi kulkas. Mengambil kertas surat Galih tadi untuk menyimpan nomor ponsel Galih sebelum mengirim pesan.


Di tempat lain.


Galih baru saja kembali setelah makan siang. Berjalan ke ruangannya tapi tiba-tiba ponselnya bergetar. "Duluan," pinta Galih pada Arjun.


Dan sambil berdiri, Galih membuka ponselnya.


Sebuah gambar kulkas yang terbuka dengan berbagai bahan-bahan di dalamnya.


Juga dengan tulisan


"Uang yang Lo tinggal di laci, sudah gue tukar dengan bahan-bahan ini karena lemari pendingin Lo tidak ada apapun...


jangan khawatir, masih ada sisanya kok... jangan pulang malam, gue akan memasak makan malam... TIARA".


Galih tersenyum membaca pesan yang ternyata adalah dari Tiara.


Galih tak menyangka kalau Tiara justru berbelanja bukan untuk memesan makan siang saja.


Karena Galih kira Tiara tidak akan mau pergi karena masih bersedih.


Ck... pintar juga dia... batin Galih. Tanpa membalas pesan Tiara, Galih langsung meneruskan langkahnya menuju ke ruangannya.


Setidaknya ia sudah membaca pesan gadis itu bukan?


Tanpa Galih sadari, Tiara memukul-mukul kepalanya. Mengutuk kebodohannya sendiri karena pesan yang di kirimnya tadi.


"Seharusnya gue tidak usah meminta nya pulang lebih awal... bagaimana kalau dia salah sangka nanti? huuaaa...".

__ADS_1


Karena Galih bisa saja salah tanggap dengan ucapan Tiara tadi.


***


__ADS_2