Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
175. Sedikit Luka.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Setelah membantu Tiara masuk ke dalam kamar, Galih menutup pintu itu rapat. Dan berdiri di balik pintu kamar Tiara sambil memejamkan mata.


Gila...


Hampir saja Galih tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak menyentuh Tiara.


Tadinya Galih hanya ingin merespon ciuman dari gadis itu. Tapi nyatanya, ia semakin terbuai dengan semuanya. Untung saja Galuh masih bisa mengendalikan dirinya untuk menyudahi apa yang ia lakukan.


Nafasnya benar-benar memburu. Sesekali Galih menelan salivanya dengan sudah payah. Membayangkan bagaimana liar tangannya kepada gadis itu.


Dan untuk mengalihkan perhatiannya, Galih memutuskan untuk mandi di malam hari. Setidaknya air dingin mampu membuat kepalanya kembali jernih.


Galih tidak tau apa yanga kan terjadi besok, tapi yang jelas mungkin akan ada kecanggungan diantara mereka berdua.


Hingga saat malam sudah berada di puncak, Galih memejamkan mata, bersiap untuk tidur dan mengistirahatkan tubuhnya.


 


Pagi hari, cahaya matahari mulai merambat masuk dari celah jendela kamar Tiara. Membuat gadis yang terbaring di ranjang menggeliat pelan.


"Aduuhh..." hanya itu kata yang terucap dari bibirnya. Tentu saja dengan mata yang terpejam karena berat.


Kepalanya masih terasa pusing.


Tapi karena hari ini ia ada kelas pagi, Tiara mau tak mau harus bersiap bangun dan memulai aktifitasnya.


Salah satunya adalah memasak untuk Galih.


Tinggal di Apartemen Galih, Tiara benar-benar harus bisa membagi waktunya. Mulai dari membersihkan semua ruangan dan juga memasak untuk sarapan mereka.


Galih adalah tipe pria yang selalu sarapan menggunakan nasi. Jadi setiap pagi, Tiara lebih dulu menanak nasi lebih dulu baru menyapu lantai dan terakhir memasak.


Seperti pagi ini. Baru bangun tidur Tiara langsung menuju ke kamar mandi. Membasuh mukanya agar lebih segar. Tapi baru mengeringkan wajahnya dengan tissue yang berada di dekat cermin, tubuhnya membeku.


Terlihat sekali ada bekas luka di ujung bibirnya. Luka yang aneh karena terdapat pada bibirnya. Membuat Tiara mau tak mau harus mengingat kejadian apa yang terjadi tadi malam.


Gue mabuk gara-gara minuman sialan itu kan? Tiara masih mengingat akan hal itu.


Kejadian saat dirinya merasa telah tertipu oleh teman sekelasnya.


Ya... Tiara ingat kalau semalam ia datang ke sebuah Klub malam yang katanya Klub malam terkenal di Ibukota.


"Lalu setelah itu?" Tiara masih mencoba untuk mengingat-ingat kejadian berikutnya.


"Ha?" di detik selanjutnya, Tiara membulatkan mata dan menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Samar-samar ia mengingat kejadian setelah itu.


"Apa yang gue lakukan?" ucapnya frustasi. Bagaimana tidak Tiara ingat kalau memang ada yang terjadi pada dirinya semalam. Kilasan-kilasan saat dirinya dengan sengaja mencium Galih di dalam mobil kembali memenuhi kepalanya.


"Aakkk... gila! lo benar-benar gila Tiara!" umpat Tiara pada dirinya sendiri.


Ia mengutuk dirinya atas perbuatan yang dilakukannya saat mabuk.


Inilah efek buruk minuman keras! batinnya. Tidak ada hal positif sama sekali yang bisa Tiara tangkap dari minuman keras. Yang ada hanya membuat dirinya menjadi sinting dan keterlaluan.

__ADS_1


"Bagaimana gue menemuinya nanti? mau di taruh mana wajah gue ini?" tanya Tiara bertambah frustasinya.


Ingin sekali dirinya menyublim saat ini juga.


Tau menyublim kan? benar... perubahan wujud benda padat berubah menjadi gas.


Ya... Tiara ingin menghilang saat ini juga. Agar Galih tidak bisa menemukannya.


Hingga di saat-saat terburuknya, Tiba-tiba pintu kamar Tiara di ketuk dari luar. Membuat gadis itu terjingkat karena terkejut.


Apalagi sih?


Tau siapa yang mengetuk pintu kamarnya, semakin membuat Tiara tak berani keluar memperlihatkan batang hidungnya.


"IYAA..." teriak Tiara pada akhirnya.


Dengan mempersiapkan diri dan mentalnya, Tiara mulai melangkah keluar kamar. Tentu saja dengan wajah yang menunduk dalam.


"Kenapa belum bangun?" tanya Galih pada akhirnya.


Padahal ia sengaja bangun lebih awal untuk melihat bagaimana reaksi Tiara pagi ini.


Setidaknya Galih memastikan apakah Tiara ingat kejadian semalam atau lupa karena terlalu mabuk.


Apa dia ingat? atau amnesia setelah mencium ku? batin Galih mengamati sosok Tiara dari atas sampai ke bawah dan kembali lagi ke atas.


"Iya... gue kesiangan..." jawab Tiara masih dengan tatapan mata yang tertunduk pada jari kaki di bawah sana.


"Tatap gue!" pinta Galih.


Sedangkan Tiara langsung menggelengkan kepala nya spontan dan menggigit bibir bawahnya karena gugup. Tidak!


Masih hidup sampai pagi ini sudah anugrah terindah bagi remahan biskuit seperti Tiara.


"Tatap gue!" perintah Galih mengulang perkataannya karena Tiara tidak mau mematuhi perintahnya.


Kalau melihatnya seperti ini... dia ingat kan? pasti dia ingat!


"Gue mau masak dulu..." ucap Tiara ingin segera menghindar dari pandangan Galih.


"Hei!" teriak Galih sambil menahan gadis itu agar tetap berdiri di depannya.


"Apa lo mengingat perlakuan kurang ajar lo semalam?" tanya Galih.


"Isst... gue benar-benar murka..." tambahnya.


Membuat Tiara seketika menjatuhkan tubuhnya di kaki Galih. Memeluk kaki Galih meminta ampun. "Huaa... maafkan gue... gue benar-benar tidak sadar semalam...".


Meraung meminta pengampunan atas kebodohannya.


Tapi beda dengan Galih, ucapan yang terlontar dari mulut Tiara malah terdengar lucu. Membuat bibirnya mengukir jelas senyum yang bahkan tak lagi terlihat beberapa tahun terakhir.


Mungkin jika Dion ataupun Arjun yang melihatnya kali ini, kedua pria itu tak henti-hentinya meledek Galih.


Tapi untung saja hanya Galih yang tau.


"Gue benar-benar mabuk semalam... bahkan sampai pagi ini juga kepala gue masih pusing..." ucap Tiara mengatakan apapun yang sebisa mungkin bisa membuat hati Galih melunak. Lebih tepatnya memaafkan kesalahannya.


Galih sebenarnya ingin mengerjai Tiara lebih dari itu. Tapi nyatanya ia tak tahan untuk tertawa. Hingga yang di lakukan nya, menyudahinya sampai disini saja.

__ADS_1


"Baiklah... gue terima permohonan maaf lo..." ucap Galih menepuk kepala Tiara seperti yang biasa orang tua lakukan kepada anak-anak mereka.


"Gue mandi dulu..." ucap Galih meninggalkan Tiara menuju ke kamar.


Hingga yang terdengar,


"Hahaha..." tawa Galih yang membuat Tiara mengernyitkan dahi.


Apa dia sinting? ngeri juga tawanya...


Biasanya tawa seseorang bisa membuat yang mendengar ikut tertawa, tapi mendengar tawa Galih justru membuat Tiara ngeri. Anggap saja mendengar tawa hantu.


---


Tiara memutuskan untuk mandi saat Galih baru memulai sarapannya.


Lebih tepatnya menghindarinya karena malu sekaligus... entah Tiara bingung mendeskripsikan nya.


Hingga Tiara sudah selesai, tapi di ruang makan masih ada Galih yang terlihat tak berniat untuk bangkit.


Otomatis, Tiara memberanikan diri untuk ikut sarapan juga.


Tapi masih dengan menyembunyikan wajahnya.


Makanan yang Tiara santap benar-benar tidak tidak bisa di nikmati nya. Ia hanya terus menelan tanpa menikmati bagaimana rasa masakannya. Di tambah dengan tatapan Galih yang duduk seperti mandor di seberang meja, sungguh membuat Tiara semakin gugup.


Cepat Tiara... cepat selesaikan sarapanmu... begitu hatinya bicara.


Hingga karena terburu-buru, membuat Tiara tersedak.


"Uhuukk..." mengambil air dan langsung meminumnya.


Saat tak sengaja melihat Tiara sedang minum, Galih melihat sesuatu yang aneh pada bibir Tiara. Apa itu? luka? batinnya bertanya-tanya.


Belum sampai memperjelas penglihatannya, Tiara kembali menunduk seolah sengaja menutupi hal itu dari Galih.


"Tiara..." panggil Galih.


"Hm..." jawab Tiara tanpa menaikkan pandangannya.


Karena tak sabar, Galih bangkit dari duduknya. Berjalan mendekati Tiara dan menarik dagu gadis itu untuk melihat dengan jelas apa yang ada di bibir Tiara.


Seketika matanya membulat, Luka ini? batinnya sedikit terkejut.


Galih tak menyangka kalau perbuatannya semalam benar-benar meninggalkan bekas di bibir Tiara.


Ya... semalam saat berciuman, Galih benar-benar lupa diri. Ciuman yang tadinya sangat lembut berubah semakin menuntut. Menuntut untuk melakukan lebih dari sebuah ciuman saja.


Galih ingin membuat Tiara berada di bawah kendalinya.


Tapi untung saja Galih bisa menguasai dirinya kembali. Hingga yang ada hanya membuat bibir gadis itu sedikit lecet.


"Tidak apa-apa kok..." ucap Tiara memutus kontak mata diantara mereka.


Mungkin Galih tidak akan tau apa yang di rasakan Tiara saat berdekatan dengannya. Jantung gadis itu ikut berhenti hanya karena tubuh mereka sangat dekat.


***


Waduh ... waduh... waduh...

__ADS_1


Maafkan kekhilafan Authornya ya...


__ADS_2