
HAPPY READING...
***
Akira masih berdiri dengan tangan menggenggam ponsel. Telapak tangannya terasa berkeringat dan juga dingin. Pandangannya masih menatap ke arah Arjun dengan rasa canggung.
"Dimana pakaianku?" itulah satu-satunya pertanyaan yang pertama muncul.
Tentu saja Arjun merasakan kecanggungan diantara mereka. Tapi Arjun berusaha untuk mengusir itu semua. Toh pada kenyataannya dia tidak punya hak tentang apapun. Termasuk kepada Akira walaupun di mata umum mereka terikat dalam sebuah pernikahan.
"Oh, sebentar..." jawab Akira dan langsung pergi dari kamar itu.
Sedangkan Arjun duduk di depan cermin. Mengeringkan rambutnya dengan Hairdryer milik istrinya sambil menunggu Akira.
Tak perlu waktu lama, Akira datang dengan membawa celana hitam dan kemeja lengan pendek. "Hanya ini yang ada..." ucapnya sambil memperlihatkan baju yang dibawanya. Pakaian itu adalah milik Ayah Adam. Masih baru kerena Ayah Adam tidak muat memakai pakaian itu.
"Tidak ada yang lain?" tanya Arjun. Tentu saja ia keberatan untuk mengenakan pakaian yang Size nya saja jauh diatasnya. Arjun akan terlihat seperti orang-orangan sawah nantinya.
"Tidak ada... sudahlah pakai saja..." desak Akira.
Karena hanya pakaian itu yang sedikit sesuai dengan Arjun.
Walaupun masih menunjukkan wajah cemberut, Arjun menerima pakaian itu dan hendak memakainya tapi segera di cegah Akira.
"Eh, apa yang lo lakuin?" tanya Akira.
"Ganti baju..." jawab Arjun.
"Maksudku kenapa disini? sana ke kamar mandi..." perintah Akira. Arjun tidak bisa berganti baju sembarangan seperti ini bukan? begitu pikirnya.
"Tidak apa-apa... kita telah menikah," jawab Arjun langsung membuka lilitan handuk di perutnya yang otomatis membuat Akira memejamkan mata dan membalikkan tubuh.
"Dasar sinting!" umpatnya pada kelakuan Arjun tapi Arjun sama sekali tidak marah tentang hal itu. Pria itu malah tertawa melihat Akira yang malu.
Cukup lama Akira berdiri dan berbalik seperti itu hingga Arjun bersuara, "Sudah... berbalik lah..." perintahnya.
Tentu saja Akira tidak terlalu percaya dengan ucapan Arjun. Bisa saja kan pria itu sengaja mengatakan kalau dia telah selesai padahal belum?
Hahaha... gue tidak akan percaya...
"Akira, lihat sini..." perintah Arjun.
"Tidak! Lo pasti sedang merencanakan sesuatu yang aneh..." tolak Akira.
Kalau gue berbalik, mata per*wan ku akan ternoda nanti...
"Hei, berbalik lah..." perintah Arjun dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya. Kesal sekali dia berbicara dengan gadis keras kepala di depan sana.
Perlahan-lahan Akira memutar tubuhnya. Tentu saja dengan mata terpejam penuh kehati-hatian.
Dengan meringis Akira membuka matanya sedikit demi sedikit. Eh benar, dia telah selesai... terkejut setelah matanya benar-benar terbuka.
__ADS_1
Akira kira Arjun telah membohonginya tapi ternyata ia salah.
"Bagaimana menurutmu?" Arjun ingin tau bagaimana penilaian Akira tentang pakaian yang melekat di tubuhnya saat ini.
"Tidak begitu buruk..." jawab Akira dengan entengnya.
Dalam hati Akira kagum kepada Arjun yang memakai apapun tetap saja tidak mengurangi ketampanannya.
Tampan? Eh... Kenapa gue memujinya... bisa-bisa kepalanya akan membesar nanti...
Mungkin hari ini hari paling menyebalkan bagi Akira. Bagaimana tidak? sejak pagi hingga siang hari Arjun selalu saja menempel kepadanya. Bahkan di depan Ayah dan juga ibunya. Pria itu sudah seperti seekor siput dan Akira geli mengingatnya.
Walaupun Akira telah berusaha untuk memberi jarak, tapi Arjun tetap mengikuti kemanapun Akira pergi. Bahkan sampai Akira sedang memasak untuk makan siang, Arjun juga ikut dan duduk di kursi makan dengan pandangan tak lepas memandang punggung istrinya.
"Kerena dia sedang berbicara dengan Ayah, aku ingin istirahat sebentar..." ucap Akira. Merentangkan kedua tangan dan langsung berbaring di atas ranjang kamarnya.
Tulang punggungnya terasa nyaman berbaring seperti ini.
Akira telah bersiap untuk memejamkan mata. Tapi di detik selanjutnya tubuhnya seperti terhempas ke udara dan kembali lagi jatuh ke ranjang karena sesuatu yang di sampingnya.
"Ahh... nyaman sekali..." ucap Arjun.
Ya, pria itu adalah satu-satunya yang menjadi pelaku.
Entah kenapa tiba-tiba Arjun datang dan merebahkan diri di samping Akira.
Dan Akira tidak membuang-buang waktu karena Arjun tadi sedang berbincang dengan Ayah di teras.
Akira juga membuatkan teh sebagai pelengkapnya tadi.
"Kenapa? gue juga mau istirahat..." jawab Arjun menyebalkan.
"Tapi kan-" belum sempat Akira meneruskan kalimatnya, Arjun lebih dulu memotong.
"Sudahlah istriku, jangan marah... ayo bobok..." ucap Arjun dibuat-buat lembut. Tangannya bahkan menepuk bantal di samping nya agar Akira segera ikut merebahkan diri.
Sungguh hal itu membuat Akira geli. Geli mendengar cara Arjun bicara yang terdengar aneh di telinga.
Jika hal itu terucap dari bibir pasangan suami istri lain, mungkin terdengar merdu dan indah. Tapi beda untuk Akira.
Arjun masih menepuk pelan bantal bahkan kali ini dengan mengedipkan sebelah matanya agar terlihat genit.
Ck... gue ingin muntah melihatnya... batin Akira.
"Mau kemana?" tanya Arjun ketika Akira hendak bangkit dari ranjang.
"Tidur disini... lo gak mau Ayah curiga kan?" tanya Arjun yang langsung membuat Akira terdiam. Benar juga apa yang dikatakan pria itu.
Sekarang mereka berada di rumah Ayah. Jika Akira menghindar dari suaminya, tentu saja Ayahnya akan curiga.
__ADS_1
"Tidur lah sini... Gue tadi bilang sama Ayah kalau kita akan istirahat sebentar..." tambah Arjun lagi.
Akira benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa.
Dengan pasrah, ia merebahkan diri di samping Arjun. "Kapan lo pulang?" tanya Akira.
"Gue pulang saat Lo juga ikut pulang," jawab Arjun. Sekarang pria itu merubah posisinya menjadi miring agar bisa melihat sosok istrinya.
"Ck... kenapa gue juga?" tanya Akira sewot.
"Karena lo istri gue!" jawab Arjun terdengar tegas.
"Bisa tidak sih berhenti bilang istri-istri... gue geli mendengarnya..." tolak Akira.
Mendengar Arjun berkata Istri seringkali membuat Akira merasa mual dan juga mulas.
"Lalu gue harus panggil Lo apa?"
Akira tersadar, Eh, iya juga ya... gue kan memang istrinya Arjun...
"Sudah lah, lupakan saja!" ucap Akira final. Ia tak mau membahas masalah itu lagi.
Sekarang yang dilakukan gadis itu adalah meletakkan guling diantara tubuhnya dan Arjun.
"Jangan melewati batas ini!" ancam Akira terdengar sangat yakin.
Setidaknya guling itu akan membatasi kedekatan mereka.
"Ini bukan solusi. Lihatlah, ranjang ini jadi sempit..." rengek Arjun. Ranjang kamar itu sangat berbeda dengan ranjang di kamar mereka yang besar.
Disini jangankan untuk berguling-guling, mengubah posisi saja membuat Arjun kesulitan.
"Jangan bawel, kalau tidak Lo bisa pergi..." jawab Akira.
Tentu saja ucapan gadis itu membuat Arjun berhenti berbicara.
Arjun masih menatap punggung Akira. Terdengar hembusan nafas gadis itu yang teratur menandakan bahwa Akira telah masuk ke alam mimpi. Cepat sekali dia tidur... batin Arjun.
Dengan sangat pelan dan juga hati-hati, Arjun memindahkan guling yang membatasi mereka dan membuangnya begitu saja.
Sekarang tidak ada batas lagi diantara mereka.
Perlahan Arjun mendekat ke arah Akira. Melingkarkan tangannya di perut gadis itu dengan lembut agar Akira tidak terbangun.
Hehehe... Arjun tersenyum senang karena Akira tidak menyadari hal itu.
Dengan memeluk tubuh Akira, Arjun mulai ikut memejamkan mata.
Apalagi ada bau parfum persik di tubuh Akira yang masih tercium sampai ke hidung Arjun saat ini. Agghh.. nyaman sekali... batinnya dan tak berapa lama, Arjun ikut tertidur.
***
__ADS_1
HAPPY WEEKEND...