Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
227. Tamu Rusuh.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Agus dan satu supir lain membukakan pintu mobil setelah sampai di pekarangan Vila yang tinggali Dion.


Mempersilahkan Arjun beserta istrinya dan seorang gadis lain yang merengek untuk ikut di dalam mobil itu saat di Bandara tadi.


Sedangkan mobil lain lebih banyak diisi koper milik mereka semua dan seorang pria yang tak lain adalah Galih.


"Akhirnya sampai juga..." keluh Arjun. mengambil Starla dari gendongan sangat istri dan menciumnya tanpa henti. membuat bayi berusia 1 tahun lebih itu tersenyum karena geli.


"Cukup Jun..." perintah Akira. walaupun ia tau, putri kecilnya itu tidak akan menangis hanya gara-gara di uyel Papinya. Bahkan Starla lebih suka dengan Arjun daripada Akira.


"Silahkan Tuan..." Agus mempersilahkan mereka semua untuk masuk.


"Apa Dion belum kembali?" tanya Galih. karena laporan Agus tadi, Dion beserta Gadis dan Mama memang tengah pergi untuk bertemu dokter anak.


itulah sebabnya tidak ada yang menyambut mereka di sini. Vila juga terlihat sepi.


"Sepertinya belum..." jawab Agus, melihat di parkiran tak ada mobil yang biasa Dion gunakan.


"Mari Tuan..." ajak Agus lagi, hingga semuanya paham dan langsung mengikuti langkah kaki pria itu masuk ke dalam sana.


sedangkan seorang supir dan juga tukang kebun menurunkan koper-koper tamu dan membawanya masuk.


Starla turun dan gendongan Arjun. berdiri di lantai sambil kegirangan mengamati seluruh ruang tamu yang asing baginya. putri kecil itu sudah mulai berjalan beberapa langkah. membuat Akira semakin menambah level pengawasannya takut kalau Starla jatuh dan terluka.


Saat ini ia tak membawa pengasuh Starla karena Akira merasa sedikit jauh dengan putrinya sejak Akira kembali melanjutkan kuliahnya.


Ya, sejak Akira kembali kuliah Starla banyak menghabiskan waktu dengan Mami Livia dan juga pengasuhnya. membuat Akira merasa sedih karena Starla seringkali menangis ketika bersama Akira. seperti tak nyaman.


"Starla... sini..." panggil Akira sambil menepuk kedua tangannya berharap putri kecilnya berjalan ke arahnya.


Dan benar saja, walaupun dengan langkah kaki yang masih sempoyongan putri kecil itu tertawa dan melangkah mendekati Akira. membuat Arjun yang ikut mengawasi ikut tersenyum bahagia.


"Bawa tiga koper ini naik ke kamar atas..." ucap Agus kepada tukang kebun yang membantu membawa koper tadi. "Silahkan Tuan..." ucap Agus lagi sambil menghidangkan beberapa makanan kecil dan minuman selagi beristirahat sambil menunggu kedatangan si pemilik rumah.


Setelahnya Agus menyeret dua koper menuju ke kamar yang ada di lantai dasar Vila tersebut.


Ya... pria itu sudah paham dengan dimana para tamunya akan beristirahat, termasuk pembagian kamarnya juga.


"On... on..." oceh Starla, meninggalkan Akira dan berjalan kembali menuju ke pria yang duduk sambil sibuk dengan ponselnya.


Membuat Arjun seketika menyenggol Galih karena tau siapa yang akan di dekati Starla kali ini.


"Hei, letakkan ponselmu... lihatlah Starla ingin mendekati lo!" perintah Arjun. membuat Galih sadar dengan gadis kecil yang mulai mendekatinya.


Galih mengalihkan pandangannya menatap gadis kecil dengan bandana merah muda di atas kepalanya yang semakin mendekatinya.


Tak ada senyum cerah seperti wajah Arjun, karena seperti itulah pria kulkas itu. untung saja Starla sudah mengenalnya, jadi tidak takut lagi.


"On... on..." ucap Starla lagi dan semakin mendekati Galih. mungkin Starla ingin memanggil Galih dengan panggilan om.


"Senyum dikit napa sih..." cerca Arjun.

__ADS_1


Gak ada manis-manisnya sama sekali...


Sungguh Arjun benar-benar tidak paham dengan pria tanpa ekspresi yang selalu bersamanya itu.


"Ck..." sedangkan Galih hanya berdecak.


muak dengan celoteh Arjun yang tiada henti.


"Aik... aik..." rengek Starla lagi. membuat Galih kembali bingung, apa yang dikatakan putri kecilnya Arjun.


"Dia ingin naik..." sela Akira.


Mungkin Starla ingin duduk di pangkuan Galih, begitu Akira mencerna perkataan putrinya yang memang baru belajar bicara.


"Naik?" tanya Galih pada Starla, sedangkan Starla langsung mengangkat kedua tangannya berharap Galih segera menggendongnya dan meletakkan Starla dalam pangkuannya.


"Lo tidak habis merokok kan? tangan lo bersih kan?" protes Arjun sebelum tangan Galih benar-benar menyentuh Starla.


"Bersih nyet..." jawab Galih sambil memperlihatkan kedua telapak tangannya di depan Arjun, menciumnya untuk memastikan kalau tidak ada bau rokok disana. lagian mana ada waktu untuk Galih merokok, sejak pagi dia lah yang menjadi satu-satunya orang tersibuk.


menyiapkan segala sesuatu sebelum keberangkatan mereka ke kota ini.


Dan pada akhirnya Starla benar-benar duduk di pangkuan Galih. putri kecil itu tak henti-hentinya tersenyum dan menepuk-nepuk tangan kegirangan. membuat semua orang hanya terfokus padanya. beda dengan Galih, pria itu masih diam tanpa basa-basi bicara dengan Starla.


Ck... diamnya bukan hanya emas, tapi berlian... ejek Arjun.


Ya... pria kulkas itu memang tidak pernah berubah. tapi entah kenapa Starla justru suka dengan Galih, bahkan Galih sengaja menggendong Starla untuk beberapa saat ketika mengantarkan Arjun pulang dari bekerja setiap harinya. kalau tidak begitu, Starla akan menangis dan membuat semua penghuni rumah menjadi kebingungan.


Hingga tak berapa lama, terdengar klakson mobil dan membuat Agus berlari menghampirinya. mungkin Dion telah tiba, begitu pikir Galih.


"Ee ada tamu... kalian pasti sudah lama menunggu kan?" sapa Mama.


"Tidak Tante... kami baru saja tiba," jawab Arjun.


"Maaf ya," tambah Gadis.


"Tidak masalah mbak..." jawab Akira.


Mereka berjabat tangan bergantian. juga dengan Starla yang berada dalam gendongan Galih.


"Ih, lucunya..." ucap Gadis sambil menyentuh pipi gempil Starla. Bulat seperti donat dan menggemaskan bagi siapa saja yang melihat.


Hingga Gadis gantian menjabat tangan tamu terakhir. Dia siapa? batinnya bertanya. Padahal Gadis mengira kalau Tiara juga ikut datang, tapi ternyata tak ada.


"Mbak Gadis pasti tidak pernah melihatnya bukan?" ucap Akira mengerti apa yang terjadi pada istri Dion ketika menjabat tangan gadis yang seumuran dengannya tapi masih terlihat begitu muda, Ya... dia adalah Bella, adik perempuan Galih.


Jangan bilang kalau dia kekasihnya Galih... apa? kekasihnya? batin Gadis terkejut dengan pemikirannya sendiri. dan di sisi lain, ia kembali mengingat Tiara. Bagaimana keadaan Tiara saat ini kalau benar yang ikut dalam rombongan Arjun adalah kekasih Galih.


"Saya Bella," ucap Bella memperkenalkan diri. mungkin hanya Gadis dan Mama yang tidak mengenal Bella, tapi yang lain sudah tau.


"Dia adiknya Galih mbak..." perjelas Akira. tak mau kalau Gadis sampai salah paham.


"Ohhh..." jawabnya sedikit lega. karena Bella bukan wanita yang Gadis takutkan.


"Maaf ya, aku tak pernah melihatmu sebelumnya..." sesal Gadis.

__ADS_1


Karena yang Gadis tau hanya Tiara dan Akira. membuat Bella tersenyum canggung.


Gantian Bella mendekati Mama, mencium punggung tangan wanita itu dan memperkenalkan diri sama seperti tadi. Mamanya Dion juga menyambut kedatangan Bella dengan suka cita.


"Lo belum memberi ucapan selamat kepada ku kan?" Dion bersuara. membuat Bella mendekat dan juga menjabat tangan pria itu.


"Selamat atas pernikahannya, dan juga kelahiran juniornya Mas Dion..." ucap Bella dengan suara khasnya.


membuat Dion tak bisa untuk tidak mengacak rambut Bella karena gemas.


Ya, seperti itulah tingkah Dion pada Bella, beda dengan Arjun dan Galih yang amat lembut ketika bicara dengannya tapi kalau Dion, pria itu lebih usil dengan mengacak rambut Bella seperti mainan.


"Sudah besar lo ya... apa, dia masih tidak membiarkan Lo pacaran?" goda Dion.


Semua orang juga tau bagaimana Galih menjaga adiknya.


"Isst... dia tambah menyebalkan dari yang Mas Dion bayangkan..." cerca Bella tak sungkan sama sekali walaupun orang yang ia bicarakan ada di tempat itu. bahkan menghirup oksigen yang sama dengannya.


"Hahaha..." Dion tertawa. paham dengan perkataan Bella barusan.


"Lalu kenapa lo mau ikut dengannya datang ke sini?" tanya Dion lagi.


"Bagaimana ya... seharusnya kursi ku itu untuk seseorang, tapi dia tak jadi ikut karena tidak betah tinggal bersama dengan pria pengecut... jadi daripada kosong, aku ikut pergi... lagian aku belum pernah melihat istri Mas Dion kan?" ucap Bella dengan berani.


Dion dan Arjun saling pandang. entah kenapa ucapan Bella barusan sangat jelas siapa yang di maksud.


"Tiara pergi dari Apartemen?" tanya Gadis.


Bella pun mengangguk setuju, "Lebih tepatnya tidak di hargai sih mbak...". Bella melirik Galih, berharap pria itu paham.


"Hehehe... sepertinya suasananya menjadi tidak enak..." ucap Dion sedikit mencairkan suasana. Bella dengan mulut embernya sangat cocok jika di sandingkan dengan Gadis. Semua aib-aib akan terbuka semuanya, apalagi dengan Akira. Behh... sangat kompak.


Dan Dion harap, ketika ketiga wanita itu saling membuka rahasia ia tidak ada disana. tidak jadi saksi kehebohan para wanita itu.


"Kalian mau minum apa?" tanya Mama.


"Tidak usah Tante... kami tidak begitu haus..." tolak Arjun.


"Mbak, boleh aku menggendongnya?" tanya Akira meminta ijin.


"Tentu saja..." jawab Gadis. meminta bayinya pada Mama dan menyerahkannya pada Akira.


"Baiklah Tante masuk dulu ya..." pamit Mama pada semua orang.


"Iya tante..." jawab Akira dan juga Bella. sedangkan Arjun dan Galih hanya mengangguk.


"Ih, lucunya..." puji Akira pada bayi berjenis kelamin laki-laki milik Gadis.


"Menurutmu mirip siapa?" tanya Gadis penasaran dengan penilaian Akira kepada putranya.


Sejenak Akira mengamati Cella bergantian dengan Gadis dan Dion.


"Sepertinya mirip Dion deh mbak..." jawab Akira yakin. karena Cello memiliki mata yang sipit seperti Dion.


"Ini sih, foto copy nya Mas Dion," tambah Bella membuat Gadis cemberut sedangkan Dion tersenyum bangga.

__ADS_1


***


__ADS_2