Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
168. Naik Motor.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Galih bangun dari tidurnya. Duduk sambil mengucek mata beberapa kali.


Hari ini ia tak bekerja dan juga tak mempunyai agenda apapun.


Ia sengaja bangun lebih pagi untuk memberitahu Tiara bahwa gadis itu tak perlu memasak untuk pagi ini.


Dengan langkah terseok-seok karena nyawanya belum sepenuhnya terkumpul, Galih melangkah menuju ke kamar Tiara.


Menyentuh gagang pintu kamar dan ternyata tak di kunci.


Ck... teledor sekali dia? kenapa tidak mengunci pintu saat tidur? batin Galih.


Tanpa ragu sama sekali, Galih masuk ke dalam sana. Mengamati seorang gadis yang meringkuk dalam balutan selimut berwarna biru.


"Hei..." senggol Galih pada tangan Tiara.


Sungguh tidak ada manis-manisnya sama sekali cara Galih membangunkan seseorang. Yang ada justru membuat yang di bangunkan terkena serangan jantung karena terkejut.


"Emmm..." Tiara menjawab masih dengan mata tertutup.


"Bangun!" perintah Galih.


"Apa sih... ini masih pagi," keluh Tiara terpaksa membangunkan tubuhnya. Terduduk dengan mata masih terpejam karena belum waktunya ia bangun.


Dia lupa kalau ini akhir pekan? gerutunya dalam hati.


Setidaknya biarkan Tiara bangun sedikit terlambat dari hari biasanya. Apalagi semalam ia begadang untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang harus di kumpulkan senin depan.


"Kenapa Lo tidak mengunci pintu saat tidur?" tanya Galih. Karena kebiasaan seperti itu sangat membahayakan diri Tiara juga.


Bagaimana ada seseorang yang masuk? Tapi sepertinya hanya Galih lah yang bisa masuk ke dalam kamar itu.


"Gue lupa..." jawab Tiara.


"Ck... lupa?" Galih tak bisa terima dengan jawaban Tiara yang tidak mencemaskan dirinya sama sekali.


"Lagian siapa sih yang akan masuk... toh di rumah ini hanya ada Gue dan Lo!" jawab Tiara. Pagi-pagi Galih sudah membuat moodnya begitu buruk dengan memulai pertengkaran.


"Kalau gue yang tiba-tiba masuk seperti ini? lo tidak akan takut?" pancing Galih. Dan ucapan itu mampu membuat Tiara membuka matanya spontan.


Benar... dia bisa saja masuk...


"Lo pasti tau kan, apa yang terjadi ketika pria dan wanita tinggal bersama...?" tanya Galih dengan seringai di sudut bibirnya. Walaupun sebenarnya hanya gertakan saja, tapi mampu membuat Tiara sedikit untuk mempertimbangkan untuk mengunci pintu sebelum tidur.


"Sorry..." jawab gadis itu. Dan langsung meninggalkan ranjang untuk menjaga jarak dengan Galih.


"Ada yang perlu lo bicarakan?" tanya Tiara sudah berniat pergi ke kamar mandi.


"Tidak usah memasak untuk pagi ini," ucap Galih. "Gue mau pergi beli sarapan..." tambahnya.


"Oh, baiklah..." jawab Tiara.


Jadi hanya ingin mengatakan itu saja? batinnya. Karena hal sesederhana itu tak perlu sampai membangunkan tidurnya bukan?

__ADS_1


Tiara telah masuk ke dalam kamar mandi. Membasuh wajahnya seperti dan bersiap untuk membersihkan rumah seperti yang dia lakukan sejak tinggal disini.


"Ya Tuhan! kenapa lo masih disini?" ucap Tiara spontan karena terkejut dengan keberadaan Galih yang masih di dalam kamarnya. Bahkan berdiri di samping pintu kamar mandi dan mengejutkan Tiara.


"Lo mau sarapan apa?" tanya Galih. Tadi ia belum sempat menanyai Tiara apa yang ingin di makannya pagi ini.


"Apapun..." jawab Tiara.


Ck... dasar pemakan segala! umpat Galih. Karena tidak ada jawaban lain ketika Galih bertanya tentang makanan pada Tiara.


Apapun yang Galih beli, Tiara mau memakannya.


"Ayo ikut saja..." saran Galih.


"Ikut? pergi sarapan?" tanya Tiara. Karena selama tinggal serumah dengan Galih, inilah pertama kalinya Galih memintanya untuk ikut.


Heran kan? tapi itulah kenyataannya.


Bahkan saat pagi hari, Galih tidak memberi tumpangan Tiara ke kampus. Gadis itu lebih sering memakai taxi saja. Mereka benar-benar terlihat tak mengenal satu sama lain ketika keluar dari tempat itu.


"Hm,".


"Oke... gue akan bersiap..." jawab Tiara dan Galih langsung meninggalkan kamar itu.


Menunggu Tiara di ruang tamu sambil mengamati ponselnya.


[Bel, bilang ibu... gue kesana siangan dikit...]


Galih mengetik sebuah pesan dan mengirimnya pada Bella.


Hingga tak berapa lama, sebuah pesan balasan muncul.


Bersamaan dengan itu, Tiara muncul dari kamar. Mengenakan celana jeans panjang yang di padukan dengan jaket berwarna merah muda. Rambut Tiara yang sebahu dibiarkan terurai begitu saja.


Tidak ada riasan wajah sama sekali kecuali lipstik nude dan terlihat sangat natural.


Keduanya segera meninggalkan Apartemen. Berjalan menuju ke gedung dasar menuju ke kendaraan.


Hingga dengan sangat antusias, Tiara berjalan hendak menghampiri mobil Galih lebih dulu. Tapi dengan cekatan Galih menarik topi jaket gadis di depannya hingga membuat Tiara terhuyung dan menghentikan langkahnya.


"Aakkk... kenapa menarik gue?" tanya Tiara.


"Siapa bilang gue mau naik mobil... gue mau nik itu..." tunjuk Galih pada sebuah motor Sport yang terparkir tak jauh dari mobilnya.


Membuat pandangan Tiara tertuju pada kendaraan itu.


"Itu? punya siapa?" tanya Tiara dengan kekepoannya.


Siapa yang tidak kepo juga, karena setiap hari Galih terlihat menggunakan mobil ketika berangkat dan pulang bekerja.


"Ada deh..." jawab Galih hingga tanpa sadar terukir senyum dalam bibirnya. Membuat Tiara seperti terkena sihir dan membeku melihatnya.


*Di*a tersenyum? batin Tiara. Karena ini adalah pertama kalinya ia melihat senyum Galih.


"Apa yang lo pikirkan?" tanya Galih ketus. Kembali lagi pada mode setannya yang selalu terlihat.


Membuat Tiara yang tadinya membeku, mencair seketika.

__ADS_1


Ck...


"Naik..." perintah Galih setelah pria itu naik ke motor lebih dulu.


Dengan penuh semangat, Tiara juga ikut naik. Duduk di belakang tubuh Galih dan sedikit menjaga jarak.


Bagaimana tidak? Tiara juga harus tau diri untuk tidak memeluk perut pria itu. Bisa-bisa Galih akan menelannya mentah-mentah kalau sampai kurang ajar.


Walaupun tidak nyaman dengan duduk seperti itu, tapi Tiara tetap melakukannya hingga kendaraan roda dua itu mulai melaju meninggalkan Apartemen.


Angin pagi mampu menerbangkan rambut Tiara. Apalagi di tambah dengan cara mengemudi Galih yang sedikit kencang. Takut memang, tapi Tiara tak mau protes. Lebih baik diam daripada protes... bisa ngamuk tuh pria kulkas...


"Lo mau sarapan apa?" tanya Galih.


"Ha?" Tiara tak mampu mendengar pertanyaan Galih barusan. Beginilah keadaan naik motor. Yang di belakang tidak akan mendengar apapun yang di ucapkan orang di depannya.


Sama halnya dengan Tiara dan Galih.


"Lo mau sarapan apa?" tanya Galih mengulang pertanyaannya.


"Gue tidak mendengar pertanyaan Lo" ucap Tiara.


Bagaimana bisa mendengar coba, yang ada hanya terdengar suara kendaraan lain bercampur dengan angin.


"Lo mau sarapan apa?" tanya Galih lagi bahkan sengaja mengerem motornya hingga membuat Tiara terhuyung ke depan dan spontan merangkul perut Galih.


Membuat jantung Galih seperti ikut berhenti.


"Eh, sorry... gue tak sengaja... em, itu... sarapan... apa saja..." jawab Tiara kembali salah tingkah. Melepaskan pelukannya dan memposisikan dirinya seperti semula.


Apa dia marah? kenapa diam?


Tentu saja Tiara ketakutan dengan tingkah lakunya tadi.


ini adalah kedua kalinya... batin Galih.


"Ini yang kedua," ucap Galih dan kembali menjalankan motor.


Jelas sekali kalau perkataannya itu mampu di dengar Tiara.


Kedua? apanya? batin Tiara tak paham.


Bukan hanya sekali Galih melakukannya. Mengerem secara mendadak hingga membuat Tiara spontan menempel di punggungnya.


"Lo sengaja ya? menempel-nempel ke punggung gue?" goda Galih.


"Gie gak sengaja... gue terkejut karena lo ngerem mendadak..." jawab Tiara penuh sesal.


"Diam atau gue benar-benar menurunkan Lo di tengah jalan..." gertak Galih.


"Iya-iya...".


Akhirnya Tiara berpegangan pada kedua bahu Galih. Setidaknya hal itu tidak membuat dirinya kembali menempel ke punggung Galih ketika pria itu menginjak rem motornya.


Tanpa Tiara sadari, sepanjang jalan terukir senyum dari bibir Galih. Senang sekali rasanya menggoda Tiara. Galih seperti menemukan mainan baru yang membuat hatinya sellau senang.


Terlebih jika membuat Tiara salah tingkah.

__ADS_1


***


Hahaha... nah, kenapa senyumnya di sembunyiian sih Galih...


__ADS_2