
HAPPY READING...
***
"Apa?" Tiara sampai menggebrak meja di depannya hingga membuat Akira ikut terjingkat saking terkejutnya.
Tentu saja Tiara tak percaya dengan apa yang telah dikatakan sahabatnya barusan.
"Lo serius? menikah? Ah... pasti Lo hanya bercanda..." Tiara masih tidak Terima dengan ucapan Akira barusan yang bilang kalau dirinya telah menikah 4 hari yang lalu.
Sedangkan Akira tidak bisa berkata-kata lagi. Pada kenyataannya memang inilah yang terjadi pada dirinya saat ini.
"Iya, gue telah menikah... dan dia adalah supir mertua Gue..." tunjuk Akira pada pria yang berdiri di belakangnya.
"Lo hamil ya Ra?" tanya Tiara ngegas. Hingga membuat Akira kelabakan dan menutup paksa mulut sahabatnya itu.
"Lo bisa diem gak?" Akira sangat tidak enak dengan tatapan orang-orang yang sedang duduk di sana sambil menatapnya.
"Pak, bisa tinggalkan kami berdua saja?" pinta Akira pada sang supir.
"Iya Nona," jawab supir itu dan segera menjauh dari tempat duduk Nona mudanya.
Pria itu duduk di bangku lain cukup jauh tapi dengan tatapan masih mengamati Akira.
Ck... ini sama saja bukan? dia masih bisa mendengar pembicaraan ku... protes Akira dalam hati.
"Sekarang Lo main rahasia-rahasiaan dengan ku ya?" tanya Tiara kesal dengan sikap Akira.
Mereka sudah bersahabat sejak lama, dan saat ini adalah sesuatu yang tidak Tiara tau dari Akira.
"Bukan begitu..." Akira semakin frustasi menghadapi Tiara. "Dengarkan gue..." bisikan nya hingga membuat Tiara mendekatkan kursi ke arah Akira.
"Lo tau pria yang datang ke acara kelulusan waktu itu?" tanya Akira dengan nada sangat pelan. Ia tak mau sampai pembicaraan ini di dengar oleh orang lain termasuk supirnya tadi.
"Hm,"
"Dia adalah pria yang sama kita temui di taman dulu..." tambah Akira.
Tiara menggebrak meja lagi, "Benarkah, gue sudah curiga waktu itu..."
Ya, Tiara sangat ingat dengan wajah pria yang mengejar mereka saat di taman.
"Sebenarnya dia bukan sepupu gue... dia adalah calon suami gue waktu itu," ucap Akira menceritakan semuanya pada sahabat.
"Bagaimana bisa?" tanya Tiara penasaran.
"Gue juga baru tau kalau ternyata pria itu adalah anak dari teman Ayah saat acara makan malam. Dan lebih parahnya, orang tua ku dan orang tuanya telah menjodohkan kita..."
"Kalian menerimanya begitu saja?" tanya Tiara. Ia penasaran apakah Akira ataupun pria itu sama sekali tidak menolaknya begitu?
"Gue juga menolak saat itu, tapi Ayah tetap pada pendiriannya... mungkin dia juga di paksa bokapnya," Akira memasang wajah tak berdaya dan sedih.
__ADS_1
"Gue jadi bingung..." jawab Tiara.
"Tiara... lo sahabat gue kan?" tanya Akira mengiba. Biasanya saat berkata demikian, pasti ada sesuatu hal yang ingin Akira minta dari sahabatnya. Tiara sudah hafal dengan sifat sahabatnya.
"Apa?"
Akira menampilkan wajah sedihnya, "Rahasiakan semuanya ya...". Setidaknya hanya itu yang Akira inginkan.
"Maksud Lo? bagaimana kalau suami Lo tau?" tentu saja Tiara harus memikirkan hal itu.
"Pernikahan gue tidak seperti itu..." ucap Akira dengan nada lemah.
Hal itu semakin membuat Tiara bingung. Banyak sekali pertanyaan yang memenuhi kepalanya saat ini.
"Lo tidak di anggap sebagai istri? apa keluarga nya tidak menerimamu?"
Bukan... bukan seperti itu... Akira langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia tidak mau sahabatnya salah paham dengan apa yang terjadi pada dirinya sendiri.
"Gue mau jujur sama lo, tapi jangan kasih tau siapa-siapa..." pinta Akira.
"Banyak sekali sih rahasia Lo..." protes Tiara.
Entah belajar dari mana Akira hingga bermain rahasia-rahasiaan seperti itu.
"Hanya ini... hanya ini rahasia gue..." ucap Akira meyakinkan sahabatnya. Perlahan ia memutar kelapa nya demi melihat sang supir.
Tentu saja sang supir itu langsung menganggukkan kepalanya memberi hormat.
Akira menceritakan semuanya. Mulai dari saat dia bertemu dengan Arjun. Bersepakat untuk menjalani sebuah kepura-puraan saja dalam pernikahan mereka.
Semua itu Akira lakukan untuk membuat orangtuanya merasa bahagia walaupun dengan mengorbankan masa depannya.
"Itulah yang gue rahasiain beberapa hari terakhir..." ucap Akira setelah mengatakan semuanya pada Tiara.
"Gue bingung harus berkata apa... gue juga gak bisa nilai apakah ini menguntungkan apa merugikan Lo..." tambahnya.
"Apapun yang akan terjadi nanti, gue tetap bahagia bisa bersahabat dengan Lo..." Akira tersenyum mengatakan hal itu.
Setidaknya masih ada orang yang Akira percayai di dunia ini.
"Bagaimana dengan Dean?" tanya Tiara. Mereka lupa dengan 1 nama yang cukup akrab dengannya.
"Jangan bilang kepadanya..." Akira sangat yakin dengan perkataannya barusan.
Apapun yang terjadi, Ia tak mau pria itu tau kalau dirinya sudah menikah dengan pria lain.
***
Hari ini mungkin adalah hari paling membahagiakan bagi Akira. Seharian penuh ia bersama dengan Tiara di Mall ini. Makan bersama, berbelanja bersama bahkan mereka sedang memilih sepatu saat ini.
"Kenapa kamu tidak kuliah juga?" tanya Tiara.
__ADS_1
Walaupun ia tau kalau Akira tidak terlalu pandai dalam mata pelajaran, setidaknya dengan kuliah Akira bisa sedikit menghabiskan waktu di luar rumah Pradipta.
Tentu saja hal itu membuat Akira sedikit senang bisa bertemu dengan orang lain. Karena di rumah Pradipta, Akira tidak banyak bicara dengan penghuni rumah yang lain.
Memang siapa yang ingin di ajak bicara?
Pelayan? mereka tentu saja tidak seberani itu untuk bicara dengan Nona muda keluarga Pradipta.
"Setidaknya dengan kuliah, kamu tidak akan kesepian bukan?" tambah Tiara.
Seketika Akira yang tadinya sedang memilih sepatu menghentikan kegiatannya dan terdiam.
Memikirkan ucapan sahabatnya seolah menemukan ide yang cukup bagus.
Kuliah?
"Akira! kenapa kamu diam saja?" Tiara sedikit khawatir karena Akira menjadi diam tanpa bergerak sama sekali.
"Tiara... Terima kasih..." Akira tiba-tiba bergerak dan langsung memeluk sahabatnya.
Bahkan sampai membuat Tiara kesulitan untuk bernafas karena pelukan Akira yang amat erat.
Wajah yang tadinya murung seketika berubah senang. Binar mata Akira seakan hidup kembali. Ya... ucapan dari Tiara telah menjadi angin segar dalam hidupnya.
Gue akan kuliah... Ya... gue akan pergi kuliah dan bertemu orang-orang di luaran sana... hidupku tidak akan berhenti hanya di dalam Rumah Pradipta... Gue kaan kuliah dan membuat hidupku berguna.
Setidaknya hingga tiba waktunya Gue dan Arjun berpisah, gue masih bisa hidup dengan keahlian yang ku miliki...
"Gue akan daftar kuliah... Ya, gue akan menjadi mahasiswi..." ucap Akira penuh semangat.
"Se-serius?" kini gantian Tiara yang bingung dengan perubahan Akira.
"Iya... gue akan mendaftar di Perguruan tinggi," jawab Akira dengan sangat yakin.
"Ayo kita beli sepatu yang sama... gue yang bayar..." tambah gadis itu tanpa ragu sama sekali.
Sejak resmi menjadi istri dari Arjun Pradipta, Akira diberi kartu Kredit tanpa batas untuk dirinya sendirinya. Dengan kartu itu, Akira bebas untuk membeli apapun. Tapi kartu itu belum pernah ia gunakan sama sekali karen Akira tidak berani keluar rumah.
Dan inilah pertama kalinya ia pergi dan berbelanja.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Akira akan menggunakan kartu kreditnya untuk berbelanja dan mentraktir sahabatnya.
"Gila... berubah kaya ya?" goda Tiara kepada sahabatnya.
"Hahaha... kita bantu dia mengurangi sedikit kekayaannya," jawab Akira tanpa dosa sama sekali.
Momen yang tadinya Akira gunakan untuk membagi rahasianya kepada sahabatnya berubah menjadi ajang berbelanja dan bersenang-senang.
"Setelah ini, ayo pergi ke toko make up..." ajak Akira.
"Siap..." jawab Tiara semangat.
__ADS_1
***