Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
85. Korban Pertama.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Malam telah menuju ke peraduannya. Setelah makan malam usai, Akira bersiap masuk ke kamar lebih dulu. Sedangkan Arjun langsung bersama Papi Johan menuju ke ruang kerja untuk membahas masalah perusahaan.


Akira beberapa kali tersenyum aneh dengan sebuah jarum yang berada di tangannya. Mungkin inilah saatnya ia mempraktikkan cara menyuntik yang di pelajari nya kemarin. Dan sekarang Arjun lah korban pertamanya.


Aahhh... aku tidak sabar...


"Kenapa dia belum juga tiba?" tanya Akira dirinya sendiri. Padahal ia sudah siap untuk praktek dengan tubuh Arjun. Setidaknya 2-3 kali percobaan.


Tapi yang di tunggu tak kunjung datang. Itulah yang membuat Akira semakin tak sabar.


Akira yang tadinya duduk di ranjang langsung bangkit. Dengan piyama panjang, Akira keluar dari kamar dan mencari keberadaan suaminya.


Langkah demi langkah dilakukan Akira menuruni anak tangga menuju ke ruang kerja Papi Johan.


Apa mereka masih di dalam? tentu saja Akira penasaran karena pintu itu tertutup rapat.


Akira semakin mendekati pintu itu. Menempelkan telinganya untuk sedikit menguping apakah ada orang di dalam atau justru kosong.


Akira semakin menajamkan pendengarannya, tapi tak juga mampu mendengar apapun. Apa mereka sudah selesai bicara? lalu kemana Arjun?


"Nona?"


Suara pelayan entah dari mana datangnya langsung mengejutkan Akira bahkan sampai gadis itu terperanjat kaget.


"Astaga..." ucap Akira sambil menyentuh dadanya yang langsung berdetak tak karuan.


"Aghh... kenapa mengagetkan ku sih..." keluhnya sambil memukul bahu pelayan karena kesal. Bagaimana kalau sampai jantungnya copot tadi?


"Maafkan saya nona... nona sedang apa?" tanya pelayan itu bersalah.


Semua orang juga tau kalau Akira sedang menguping tadi.


"Apa suamiku masih di dalam?"


Pelayan itu menggelengkan kepalanya, "Tidak... di dalam tidak ada siapapun Nona," karena yang pelayan itu tau, Tuan Muda telah keluar beberapa menit yang lalu.


"Benarkah, lalu kemana dia?" Akira sangat penasaran karena Arjun juga tidak segera datang ke kamar setelah selesai bicara dengan Papi Johan. Padahal pria itu sudah berjanji akan membantu Akira belajar.


Dimana Arjun sekarang?


"Biar saya carikan," saran pelayan.


Tapi Akira langsung bersuara, "Tidak perlu... aku akan mencarinya sendiri...".


Akira langung meninggalkan pelayan itu dan berlalu pergi.


Langkah kaki Akira membawanya sampai di tepi kolam renang yang biasa Arjun gunakan untuk merokok, tapi saat Akira tiba dan mengedarkan pandangan nya tak juga mampu melihat keberadaan suaminya.


Akira semakin terheran-heran dan juga penasaran dimana suaminya berada.

__ADS_1


Tidak putus asa sampai di situ saja, Akira kembali mencari Arjun dan kali ini lewat pintu depan rumah itu. Di sana ada dua orang penjaga yang setia berdiri di samping pintu memastikan tidak ada siapapun yang bisa masuk ke dalam. rumah tanpa seijin pemiliknya.


Akira memberanikan diri untuk bertanya pada mereka, "Apa kalian melihat suamiku?" tanya Akira dengan sopan.


"Tuan muda?",


"Kau melihatnya?" bisiknya sambil menyenggol lengan salah satu dari mereka.


"Bukankah Tuan Muda tadi sedang berjalan di taman?" bisik lainnya.


Mereka sedang bisik-bisik apa sih? heran sendiri Akira melihat gelagat aneh penjaga pintu tersebut.


"Kalian tau tidak?" tanya Akira tidak sabar sama sekali.


"Tuan muda ada di taman," jawab pria itu spontan.


Seketika senyum manis terukir jelas di bibir Akira. "Terima kasih," ucapnya lalu segera pergi.


Sedangkan dua penjaga itu saling pandang, Nona Akira sangat manis ya... puji mereka dalam hati.


Dengan langkah pasti, Akira berjalan menuju ke taman samping rumah. Hatinya percaya kalau Arjun berada di sana.


Dan ternyata benar saat Akira berdiri tak jauh dari sana, Ia langsung mampu melihat suaminya yang duduk dengan kepulan asap di udara.


Kenapa dia sulit sekali berhenti merokok sih...


Padahal Akira sering sekali meminta suaminya untuk berhenti merokok demi kesehatannya.


Akir mempercepat langkahnya mendekati Arjun, dan langsung duduk di samping pria itu.


"Uhuk.." Arjun terbatuk-batuk karena terkejut melihat kedatangan istrinya yang tiba-tiba.


"Aku -" bingung sendiri mau mengelak bagaimana. Karena Arjun memang sengaja duduk disini untuk menghindari istrinya. Bukan! lebih tepatnya menghindari dari jarum suntik istrinya.


Arjun tidak berani menjadi sasaran pertama jarum suntik Akira.


"Kamu menghindar kan?" tuduh Akira. Walaupun Arjun hanya mengedipkan mata berulang kali, Akira sudah paham kalau memang Arjun berniat menghindar.


"Sayang..." ucap Arjun lirih. Siapa sih yang rela menjadi kelinci percobaan seperti itu? apalagi Akira belum mempunyai pengalaman apapun tentang hal menyuntik.


Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Arjun? siapa yang bertanggung jawab coba?


Seharusnya Akira memikirkan hal itu.


"Kamu bisa belajar dengan guling dulu sebelum menyuntik seseorang,"


Ya guling di kamar mereka bisa membantu Akira untuk berlatih.


"Guling?" tentu saja Akira tidak percaya dengan apa yang Arjun katakan barusan.


"Guling tidak mempunyai pembuluh Vena..." Akira mengatakannya dengan bibir cemberut. Bagaimana bisa menggunakan guling untuk praktek.


"Kamu harus menguasai konsepnya dulu, baru mempraktikkannya..." ucap Arjun terdengar mengkritik istrinya.

__ADS_1


"Begitu ya? baiklah..." jawab Akira halus. Dan tanpa berkata apapun, gadis itu berlalu pergi meninggalkan Arjun.


Eh? apa bicaraku salah? apa dia marah? bingung sendiri Arjun dengan tingkah istrinya yang tiba-tiba pergi tanpa mengatakan apapun.


 


Di dalam kamar, Akira mulai duduk di ranjang. Mengamati guling yang sudah terikat Tourniquet di ujung atasnya. "Coba kepalkan tangan anda beberapa saat..." perintah Akira kepada guling di depannya seolah sedang bicara dengan pasien sungguhan.


Sesuai dengan saran yang di berikan Arjun, Akira benar-benar melakukannya dengan guling.


"Jangan tegang, usahakan untuk tetap rileks agar pembuluh Vena nya kelihatan..." tambah Akira.


Walaupun tidak ada jawaban dari guling itu, Akira tetap melakukan pekerjaannya.


Dengan sedikit gugup, Akira membuka jarum suntik yang di gunakan untuk praktek. Perlahan menyuntikkannya pada bagian bawah guling yang terikat. "Tidak akan sakit kok..." ucapnya seolah sedang menenangkan pasiennya.


Akira menunggu beberapa saat dan mencabut jarum suntik nya, "Hore... anda hebat," puji Akira pada guling.


Dan semua itu jelas di lihat oleh Arjun dari ambang pintu kamar. Sedikit geli memang melihat kelakuan istrinya yang aneh dan entahlah... Arjun bingung menjelaskannya.


Tapi ingin sekali Arjun tertawa melihat semuanya walaupun di relung hatinya, Arjun sedikit bersalah karena menolak untuk membantu istrinya.


Aku merasa bersalah karena menolaknya tadi... tapi aku benar-benar takut, maafkan aku sayang...


Akira merapikan semuanya saat mendengar Arjun masuk ke kamar dan mengunci pintu.


"Sudah mencuci muka?" tanya Arjun seolah tak melihat apa tengah Akira kerjakan tadi.


"Sudah," jawab gadis itu dengan menampakkan senyum manis kepada suaminya.


Arjun pun berlalu pergi masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Akira, senyum manis yang tadi mengukir bibirnya tiba-tiba lenyap dan berubah murung sama seperti ketika Akira meninggalkan taman.


Karena berpura-pura tersenyum seperti itu benar-benar sulit, walaupun Akira mampu melakukan nya tadi.


Sama seperti sebelum-sebelumnya, Akira tidur sambil di peluk Arjun dari belakang. Ia berusaha untuk berpura-pura tertidur agar tidak mendapat banyak pertanyaan dari suaminya.


Dia benar-benar sudah tidur... batin Akira mendengar dengkuran kecil dari balik punggungnya.


Tak terasa tiba-tiba air matanya menetes. Akira sedih dengan perkataan Arjun di taman tadi.


Kenapa dia membentak ku tadi? kamu tau... aku sedih saat kamu berkata seperti itu... Bahkan lebih sakit daripada di putuskan Dean waktu itu...


Akira melepaskan pelukan Arjun dengan sangat pelan dan hati-hati. Setelahnya gadis itu pergi menuju ke balkon untuk sedikit menenangkan diri.


Ibu? apa Akira bisa melaluinya? Apa Akira bisa menjadi Perawat dan menjaga ibu nantinya?


Akira Merindukan ibu dan Ayah... ucap Akira dalam hati sambil menatap taburan bintang di langit.


***


NB.


*Tourniquet : pita ketat yang di gunakan untuk menghentikan aliran darah.

__ADS_1


Welcome bulan November... Sorry kemarin gak ada Update... Sumpah Aku lupa kalau kalender Okt sampai tanggal 31, hehehe


Bagaimana part kali ini? syuka? Sebenarnya Author bingung mau tertawa karena ulah Akira atau justru sedih..


__ADS_2