Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
252. Kakek.


__ADS_3

***


Waktu terasa begitu cepat berlalu. banyak yang berubah setiap tahunnya. banyaknya air mata yang telah ditumpahkan setiap orang, tahun ini menjadi sebuah kebahagiaan. tak ada lagi air mata penuh kesakitan yang ada justru sebuah senyum, tawa yang menghiasi hati setiap orang.


2 tahun berlalu sejak Galih dan Tiara memutuskan untuk memantapkan hati ke jenjang pernikahan. pasangan itu kini telah mempunyai sepasang anak kembar bernama ARION & ARINA yang lahir beberapa bulan yang lalu.


Bersama dengan Galih, Tiara sama-sama belajar menjadi orang tua baru juga dibantu dengan orang tuanya Galih yang sangat pengertian kepada menantu dan juga cucu-cucunya.


Galih tak lagi tinggal di Apartemen seperti dulu, pria itu menempati sebuah rumah mewah pemberian Arjun sebagai hadiah pernikahan dulu. di rumah itu pula, Ayah dan Ibunya Galih ikut tinggal. sedangkan Apartemen yang dulu di tempati Galih, sekarang dihuni oleh Bella.


Galih benar-benar bahagia melihat takdir hidupnya yang indah di akhir cerita. perjuangan hidup pria itu akan menjadi dorongan baginya untuk lebih baik dan bijaksana.


karena sekarang, Galih adalah panutan bagi banyak orang termasuk putra-putrinya yang masih kecil.


"Aku mencintaimu Gal..." ucap Tiara dengan tulus.


"Aku bahkan lebih mencintaimu, istriku..." jawab Galih dengan nafas yang berantakan.


peluh di keningnya sesekali menetes menandakan berakhirnya aktifitas panas mereka berdua.


Galih ambruk sambil memeluk istrinya, berusaha memejamkan mata dan tertidur.


***


Pagi hari, Cello tengah berlarian di gedung Pradipta Group. bocah laki-laki berumur 4 tahun itu sangatlah lincah bahkan sampai membuat Sang Mama kewalahan karena tingkahnya.


"Cello, jangan berlari..." teriak Gadis. khawatir kalau sampai putranya itu terjatuh dan menangis.karena tak ada satupun seorang ibu yang tidak sedih melihat anaknya terluka. hal itupun berlaku pada Gadis juga.


Ngomong-ngomong, mereka akan kembali ke Desa hari ini juga setelah berpamitan pada Arjun.


Ya... Dion memang kerap kali datang ke Ibukota untuk bertemu dengan Arjun dan Galih. dan beberapa hari terakhir, Dion memang sengaja menjenguk anak dari Galih walaupun sudah sangat terlambat. karena anak kembar Galih bahkan telah berusia 4 bulan dan Dion baru sempat menjenguknya.


Dion masih sibuk dengan Arjun, sehingga Cello bermain di samping gedung Pradipta Group sambil diawasi oleh Gadis.


"Jangan berlari..." teriak Gadis lagi, tapi sama sekali tidak di dengar oleh Cello.


hingga seseorang rak jauh dari Gadis berdiri menyapanya.


"Gadis?".


membuat pandangan Gadis teralihkan berganti menatap ke arah seseorang yang menyapanya barusan.


"Mas Rega..." ucap Gadis spontan.


Seketika membungkukkan kepalanya singkat walaupun terkejut akan bertemu dengan kakak iparnya di tempat ini.


"Kalian disini?" tanya Rega penasaran dan mendekati Gadis berdiri.


"Iya... hanya berkunjung..." jawab Gadis canggung karena ia tidak begitu akrab dengan iparnya itu. bahkan tak pernah sekali pun bertemu.

__ADS_1


mungkin ini adalah kedua kalinya Gadis bertemu dengan Rega sepanjang hidupnya.


"Bagaimana keadaan Papa mas?" tanya Gadis mencari topik yang sesuai. apalagi kalau bukan menanyakan keadaan mertua laki-lakinya? karena tanpa ditanya sekali pun, Gadis sudah tau kalau Rega sehat-sehat saja. sama seperti beberapa tahun silam.


"Kamu mengkhawatirkan Papa?" sejenak Rega tersenyum diakhir pertanyaannya. membuat Gadis canggung dan merasa tak enak. karena seperti itulah hubungan Gadis dan Papa nya Dion. mungkin menantu yang tak diharapkan, itulah julukan yang pas untuk Gadis.


"Berkunjunglah sesekali... jika kalian ingin tau kabar Papa..." tambah Rega. sedangkan Gadis hanya mengangguk tanpa berkata-kata lagi.


tak mengiyakan ataupun menolak.


"Mas Rega kesini sendirian?" tanya Gadis lagi.


"Tidak..." jawab Rega.


Di tempat lain, Cello semakin berlari menjauhi Mamanya. perhatiannya teralihkan oleh kupu-kupu berwarna biru yang terbang rendah seperti tengah mencari perhatian nya.


Bukan hanya fisik Cello saja yang menurun dari Dion, bahkan kepribadian Cello juga hampir mirip dengan Dion termasuk dengan kegemaran. di usianya yang masih 4 tahun, Cello sangat tertarik dengan seni lukis. bahkan lukisannya termasuk bagus untuk golongan anak balita.


Dengan membawa buku gambar, Cello berlari mengejar kupu-kupu itu. setidaknya ia ingin menggambar hewan indah itu dalam buku gambarnya.


"Hei, jangan terbang..." teriak Cello. masih mengejar kupu-kupu berwarna biru hingga tak sengaja menabrak seseorang.


Buukkk... "Aww..." keluh Cello sambil menyentuh pucuk kepala nya.


"Kamu tak apa-apa nak?" tanya pria yang Cello tabrak tadi.


ikut menyentuh kepala Cello yang terbentur tadi.


Bukan hanya Cello yang terkejut, pria tua yang pantas di panggil kakek itu juga terkejut. bukan karena di tabrak anak kecil, tapi lebih terkejut dengan wajah bocah kecil itu yang sangat mirip dengan seseorang.


"Siapa namamu nak?" tanya pria itu kepada Cello.


"Cello... kakek bekerja disini? Papinya Starla adalah pemimpin gedung besar ini..." jawab Cello memberitahu siapa pemilik Pradipta Group.


Kakek?


sejenak Arya Guna terkejut dengan panggilan bocah itu. yang tak takut sekali dengan orang asing dimana mereka belum pernah saling bertemu tapi dengan polosnya Cello memanggil dengan panggilan kakek.


"Oh tidak... kakek adalah teman pemilik gedung ini..." jawab Arya Guna. menjelaskan sesederhana mungkin sesuai dengan pemikiran anak kecil.


"Apa itu di tanganmu?" tangannya kepada Cello.


"Ini?" tunjuk Cello memperlihatkan buku gambar yang selalu ia bawa.


"Iya...".


"Ini adalah buku gambar milikku, Papa yang memberikannya..." jawab Cello.


"Benarkah? apa ada banyak sekali gambar di dalam sana?".

__ADS_1


ditanya seperti itu, otomatis membuat Cello mengangguk setuju. karena memang di buku itu banyak sekali gambar hasil karyanya.


"Gambar apa saja yang telah kamu lukis?" tanya Arya guna. sungguh berbicara dengan anak kecil didepannya sangatlah asyik. mengingatkannya dengan cucu pertamanya tapi cucunya adalah seorang anak perempuan yang kini jauh lebih besar daripada bocah kecil bernama Cello itu.


"Banyak sekali... pohon, gunung, harimau, Gajah, bunga..." Cello menyebutkan objek yang ia gambar secara runtut hingga membuat sebuah senyum tersinggung sempurna di bibir Arya Guna, yang tak lain adalah Papanya Dion.


"Boleh kakek melihatnya?" tanyanya. Mereka saat ini tak tau kalau ada hubungan diantara pria itu dan Cello. hubungan erat kakek dan cucunya.


"Boleh, ayo..." jawab Cello spontan dan langsung menggandeng kakek itu menuju ke sebuah bangku yang tepat berada di belakang gedung Pradipta Group. tadinya Arya guna ke sini untuk merokok, tapi tak sengaja seorang anak kecil menabraknya dan mampu mencuri perhatiannya hingga akhirnya seperti sekarang. duduk berdua dengan Cello yang antusias memperlihatkan hasil lukisannya.


Arya guna sangat antusias melihat karya Cello, mengamatinya satu persatu bahkan dengan penjelasan khas anak kecil ketika Cello bicara.


untuk pertama kalinya Arya guna merasa aneh, ada sebuah perasaan tenang dan damai ketika ia bicara dengan anak kecil itu.


"Jadi, kamu mengejar kupu-kupu karena ingin menggambarnya?" tanya Arya Guna.


"Iya kek... aku belum pernah menggambar kupu-kupu... tapi Papa punya lukisan Kupu-kupu di rumah... kakek mau melihatnya?" tanya Cello antusias.


Arya Guna ingat tentang kupu-kupu.


Dion juga suka kupu-kupu... batinnya mengingat kesukaan anaknya.


"Benarkah? dimana rumahmu?".


Sejenak Cello berpikir, membuat Arya guna menaikkan alisnya keheranan. "Kenapa? kamu lupa dimana rumahmu? apa jauh dari sini?".


"Bukan... tapi kakek harus naik pesawat dulu untuk pergi ke rumah ku... dari rumahku, kakek bisa melihat banyak sekali pohon tinggi dengan sawah milik Eyang kakung... banyak sekali..." ucap Cello merentangkan tangannya mendeskripsikan seberapa besar sawah kakeknya di desa.


"Ada sawah juga?" tanya Arya guna penasaran.


"Iya... sawah Eyang sangat banyak... Kadang aku diajak Mama untuk mengantarkan makanan di sawah. oh iya kek... kakek pernah ke sawah?" tanya Cello.


"Tidak..." jawab Arya guna.


"Ayo kek ke rumahku... nanti kita lihat sawah sama-sama... saat malam, terdengar suara-suara kodok yang banyak..." tambah Cello.


Tiba-tiba Arya Guna seperti teringat dengan ucapan salah satu orang yang ia cintai. Ya... istrinya.


Arya guna teringat dengan impian mada mudanya yang ingin sekali memiliki rumah di pedesaan yang jauh dari hingar-bingar Ibukota.


Entah kenapa bicara dengan Cello semakin membuatnya sedih. karena banyak tahun yang ia lalui dengan perasaan kesepian. ditinggal pergi istri dan salah satu anak laki-lakinya.


bahkan mengingat itu, membuat matanya menggenang.


"Kakek menangis?" tanya Cello yang tak sengaja menyadari akan hal itu.


"Tidak..." elak Arya guna. memalukan jika ia sampai menangis di hadapan anak kecil.


"Jangan menangis kek.. kata Papa, laki-laki harus kuat dan berani..." hibur Cello menirukan ucapan Papanya yang selalu bilang kalau seorang pria tak boleh menangis.

__ADS_1


"Siapa nama Papamu?" tanya Arya Guna semakin penasaran.


***


__ADS_2