Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
78. Aku Menyayangimu.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Arjun terbangun dengan seketika. Hal pertama yang di lihatnya bukanlah jam ataupun cahaya matahari yang terlihat sedikit menerobos dari celah di atas jendela melainkan ponsel miliknya.


"Gawat... Akira pasti khawatir..." gumam Arjun pelan sambil meraih ponselnya.


Entah kenapa semalam dirinya sampai ketiduran tanpa memberi kabar sang istri lebih dulu.


Semuanya tentu saja karena baterai ponsel yang habis sehingga Arjun baru bisa mengisi dayanya ketika tiba di hotel tempatnya menginap.


Arjun mulai menghidupkan ponselnya menunggu sejenak untuk melihat apakah ada pesan dari istrinya atau tidak.


Seketika matanya membulat sempurna karena pesan dari istrinya.


Memang tidak ada yang spesial dari pesan berantai tersebut karena hanya ada tanda koma (,) yang di kirim Akira. Tapi hanya begitu pun Arjun paham arti di balik pesan itu.


Maafkan aku Akira... batin Arjun berulang kali.


Andai saja Arjun bisa menghubungi Akira semalam, pasti tidak akan ada kejadian seperti ini.


Tanpa menunggu waktu lama, Arjun mulai menelepon nomor istrinya. Berulang kali... bahkan sampai tak menghiraukan ketukan pintu dari luar kamarnya.


Karena tujuan Arjun hanya satu, menelpon Akira untuk meminta maaf.


"Akira... ayo angkat ponselmu..." jawab Arjun memohon.


Sedangkan luar kamarnya, ketukan pintu entah siapa pelakunya terdengar semakin keras.


"Shiit!" umpat Arjun sambil menatap pintu kamarnya.


Arjun menghentakkan kaki kesal tapi tetap menuju ke pintu. Melihat siapa yang dengan kurang ajarnya mengganggu paginya.


Dengan kasar, Arjun membuka pintu itu dan bersuara "Gue tidak tuli, kenapa mengetuk dengan sangat keras?".


Arjun tau kalau sifat ke kurang ajaran itu oleh Galih, tdak mungkin orang lain.


"Lo mau mati ya?" ancam Arjun. Kesal sekali dia dengan sifat asistennya tersebut. Padahal ada hal yang lebih penting lagi bagi Arjun.


Lagian kenapa dia sudah berpakaian rapi seperti itu? ck... pasti dia tidak melihat jam... batin Arjun.


"Arjun, lo tau jam berapa sekarang?" tanya Galih kesal. Sudah 15 menit yang lalu dirinya berdiri di depan pintu, mengetuk tanpa henti. Tapi bukannya di apresiasi, pria di depannya keluar dengan wajah yang amat menjengkelkan.


Bahkan sampai mengancam akan membunuhnya, benar-benar tidak tau diri bukan?


"Jam berapa?" tanya Arjun dengan santainya.


Segera Galih menyodorkan layar ponsel miliknya ke arah wajah Arjun, hingga membuat wajah di depan sana terkejut dengan bola mata yang membuat sempurna, "What?",


Tanpa berkata apapun, Arjun kembali masuk ke dalam. Menutup pintu dengan meninggalkan suara amat keras bahkan Galih sampai memejamkan mata saking terkejutnya.


Ya Tuhan...


Galih sering melihat keadaan ini. Dan bukan hanya Arjun yang di rugikan. Dirinya juga...


Hingga dengan terpaksa, pria itu kembali berdiri di samping pintu kamar Arjun. Menunggu pria di dalam sana untuk waktu yang cukup lama lagi.


Agghh... jadwal pagi ini benar-benar kacau...


***


Siang hari setelah pertemuan wakil Pradipta Group dengan klien, Arjun dan Galih menuju ke sebuah kafe untuk mengisi tenaganya yang benar-benar terkuras habis.


Selama perjalanan yang di lakukan Arjun adalah mengecek ponsel miliknya kali aja ada pesan yang masuk, tapi tetap tidak ada.


Akira sama sekali belum membalas ataupun membaca pesan darinya.


Aggghh... kemana sih dia? batin Arjun bertanya-tanya.


Baru ingin mengantongi ponselnya kembali, tiba-tiba ponselnya bergetar dengan layar yang menyala.

__ADS_1


Seketika senyum terukir jelas di bibir Arjun. Senang karena mendapat pesan dari seseorang yang ia tunggu.


Akira.


[Ada apa?]


Walaupun hanya pesan singkat dengan cara bicara yang sedikit ketus, tapi Arjun sangat bersyukur. Setidaknya ia tidak risau harus menunggu pesan balasan dari istrinya.


Tanpa menunggu lagi, Arjun langsung menelpon istrinya.


"Sayang..."


itulah ucap Arjun pertama kali saat teleponnya tersambung. Bahkan membuat Galih sampai menaikkan sebelah alisnya.


Rasanya sedikit geli mendengar pria di sampingnya menelpon seseorang dengan panggilan sayang.


"Em..."


"Kamu marah?" Arjun tau kalau istrinya marah dari cara Akira menjawabnya seperti itu.


"Kemana saja kamu sejak kemarin? kamu sendiri yang memintaku untuk menunggu telepon darimu!"


Mendengar Akira marah-marah, Arjun bukannya kesal malah lega. Ia merasa kalau kehadirannya benar-benar berpengaruh untuk gadis itu.


Setidaknya Akira mulai sadar akan kedudukan Arjun di hidupnya.


"Maaf,"


"Kamu tau... seharian aku menunggu pesan darimu, aku bahkan terjaga hingga larut malam berharap kamu segera menelponku... tapi semuanya hanya omong kosong, bahkan ponselmu mati... kamu sengaja kan?" tuduh Akira.


"Maaf... ponselku kehabisan baterai kemarin... aku baru bisa mengisinya ketika sampai di hotel..." jawab Arjun mulai menjelaskan keadaan yang di laluinya kemarin.


"Bohong!" tentu saja Akira tidak bisa langsung mempercayai Arjun begitu saja.


"Serius sayang..." jawab Arjun. Mana mungkin ia mengarang cerita yang tidak-tidak.


"Aku tidak akan mempercayaimu..."


Tanpa meminta pertimbangan dari Galih, Arjun langsung menempelkan ponsel miliknya di telinga Galih karena pria itu sedang sibuk menyetir.


Apa? begitu sorot mata Galih bicara. Kenapa juga ia harus di libatkan dengan hal-hal rumit seperti ini?


"Ayo bicara..." pinta Arjun memaksa.


"I-iya Nona... Kemarin Arjun benar-benar sibuk... ponselnya juga mati dan menyadari saat pulang kemarin..." hanya itu yang bisa Galih katakan.


"Bagaimana? aku tidak bohong kan?" kali ini Arjun lagi yang bicara dengan istrinya.


Tanpa Arjun sadari, di seberang sana Akira sedang mengerucutkan bibirnya kesal.


Walaupun ia sudah mendengar alasan dari suaminya, tapi Akira tidak sepenuhnya percaya. Apalagi Galih adalah sahabat Arjun, dan mereka bisa saja berkerja sama untuk membohongi dirinya.


"Aku menyayangimu..." ucap Arjun lagi.


"Ha?" tentu saja Akira terkejut dengan penuturan Arjun barusan.


"Aku menyayangimu Akira..." ulang Arjun.


Bukannya senang, Akira malah terdengar tertawa "Hahaha... jangan bersandiwara untuk membuatku tertawa...".


"Ck...".


Apa dia bilang? aku bercanda? yang benar saja... tentu saja Arjun kesal karena ucapannya di tafsirkan sebagai gurauan saja bagi Akira.


"Ini jam makan siang, kamu sedang di jalan?" tanya Akira mengalihkan topik pembicaraan.


"Ya... aku dan Galih sedang mencari tempat makan..." jawab Arjun.


"Oh...",


"Kamu sudah makan?" tanya Arjun kepada istrinya. Baru 3 hari Arjun jauh dari Akira, Arjun sudah merasa rindu. Ia ingin segera pulang untuk menemui istrinya itu.

__ADS_1


"Belum...",


"Kenapa? bisa sakit kalau kamu makan terlambat..." omel Arjun. Padahal sebelum pergi ke kota ini, Arjun suka dengan tubuh Akira yang sedikit berisi dari yang dulu.


Arjun tidak mau berat badan Akira kembali turun.


"Kalau aku bilang sesuatu, kamu bakal percaya tidak sih?" pancing Akira.


"Apa?" tentu saja Arjun penasaran dengan apa yang akan di katakan istrinya.


"Aku tidak berselera sejak kamu pergi..." adu Gadis itu.


Sedangkan Arjun langsung menampakkan senyum sumringah dengan tampang bodoh.


Agghh... kenapa ucapannya manis sekali sih...


"Kapan kamu pulang?" tanya Akira memastikan.


Setidaknya ia ingin mendengar kalau Arjun akan segera pulang.


"Aku tidak bisa berjanji... mungkin 2-3 hari lagi..."jawab Arjun sedikit tak tega mengatakan hal itu kepada Akira.


Tapi mau bagaimana lagi? itulah kenyataannya.


"Kenapa lama sekali sih..." protes Akira.


"Memang mau apa kalau aku sudah pulang?" pancing Arjun dengan nada menggoda.


Tentu saja Galih yang di sebelahnya mampu mendengar hal itu, tapi yang bisa ia lakukan hanya menggelengkan kepala heran dengan kelakuan Arjun.


"Apa ya? aku hanya ingin kamu segera pulang... aku benar-benar kesepian di rumah...".


"Tidak ada yang membuatku bersemangat untuk segera pulang..." jawab Arjun sedikit sedih.


"Aku akan mencium mu nanti...",


"Hanya itu?" walaupun tawaran Akira sudah membuat Arjun bersemangat, tapi tentu saja Arjun ingin meminta lebih dari sekedar ciuman.


"Lalu?"


"Yang lain dong..." jawab Arjun semangat.


"Apa?" tentu saja Akira tidak paham dengan maksud Arjun.


"****", jawab Arjun. Bahkan membuat Galih sampai menatap ke arah samping dimana Arjun duduk.


Apa dia bilang? batin Galih tak percaya kalau Arjun dan Akira membicarakan sesuatu yang sedikit intim.


"Apa? tidak... aku tidak mau..." tolak Akira. Sungguh permintaan Arjun itu benar-benar keterlaluan baginya.


"Kenapa? kita bahkan sudah menikah..." jawab Arjun mengingatkan fakta yang ada.


Lumrah bukan kalau padangan suami istri melakukan hal itu.


"Tapi tetap saja... aku tidak mau, bukan... lebih tepatnya aku belum siap...".


"Agghh... aku sedikit kecewa..." keluh Arjun. Entah serius atau hanya bercanda.


Hening kembali mengambil suasana. Hingga tak berapa lama, Akira kembali berucap "Sayang, kelasku akan di mulai... sudah dulu ya..." itu hanyalah alasan Akira saja karena ia kehabisan kata-kata.


"Hm," jawab Arjun singkat.


"Bye, cepat pulang... aku merindukan mu" ucap Akira sedikit menghibur Arjun.


"Oke, Aku menyayangimu...".


***


Cie... sayang...


Hahaha...

__ADS_1


__ADS_2