Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
30. Dion, Si Provokator.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Saat semua orang telah bersiap naik ke ranjang dan tidur, beda dengan Arjun. Pria itu malah baru keluar menuju ke sebuah tempat hiburan untuk bertemu dengan sahabatnya.


Malam ini penampilan pria itu sangat berbeda. Biasanya Arjun mengenakan setelan kemeja lengkap dengan jas tapi kali ini ia hanya mengenakan kaos santai di lapisi dengan jaket kulit serta celana jeans.


Tujuannya malam ini adalah Sebuah Klub malam yang seringkali ia datangi bersama dengan Dion dan juga Galih.


Segera setelah keluar dari mobil, penjaga tempat itu langsung mempersilahkan Arjun masuk ke dalam.


Tujuan awalnya datang kesini adalah mencari wanita yang mau menjadi kekasihnya. Ya... entah sudah berapa bulan lamanya Arjun kesepian karena tidak memiliki kekasih 1 pun. Terakhir kali memiliki kekasih adalah waktu itu, waktu dimana Arjun di tertawai oleh Akira di Taman bunga.


Mungkin itu adalah pengalaman paling memalukan bagi Arjun. Di tempat dengan banyak sekali pengunjung, Dirinya di putuskan oleh 3 kekasihnya bahkan sampai di tampar.


Karena mendapat kabar bahwa Dion dan Galih sedikit terlambat untuk datang ke sana, Arjun memilih untuk menunggu mereka di depan Bar yang berada di lantai dasar tempat itu.


Duduk di kursi besi bundar sambil menikmati para wanita yang berjoged di tengah-tengah ruangan.


"Mau minum apa?" tanya Bar tender tempat itu.


"Wine," jawab Arjun singkat.


Tanpa menunggu lama, Di depannya telah terhidang sebotol minuman beralkohol dan sebuah gelas kecil.


Tentu saja Arjun tidak menyia-nyiakan waktu untuk menikmati minuman itu.


Rasa pekat dan sedikit pahit seketika melewati kerongkongannya dan menciptakan sebuah sensasi panas di tenggorokan dan membuat Arjun menyerngit.


Mata tajam bakal seekor singa menelusuri tempat itu. Mencari seekor mangsa untuknya malam ini.


Memang Lo saja yang bisa? gue juga bisa... Entah untuk siapa Arjun menggerutu seperti itu. Tapi bisa saja untuk Akira yang tadi bersama dengan pria lain.


Hingga tatapan Arjun terpaku pada seorang wanita dengan gaun berwarna hitam di atas lutut. Tubuhnya sangat ramping tapi tidak terlalu kecil. Berisi, begitu penilaian Arjun.


Gadis itu terlihat bersama dengan teman-temannya duduk di bangku tak jauh dari Arjun duduk.


"Cantik juga..." ucapnya pada diri sendiri tapi masih mampu di dengar oleh Bar tender Klub malam disana.


"Namanya Lea," sela Bar tender itu tiba-tiba hingga membuat Arjun menatapnya heran. Karena Arjun sama sekali tidak berbicara dengan wanita itu tadi.


"Kenapa menatap gue seperti itu?" protes Bar tender yang berpenampilan seperti seorang pria padahal dia adalah wanita.


Arjun seketika mengalihkan pandangannya kali ke sasaran. "Lo mengenalnya?" tanya Arjun.


"Hm, dia pelanggan baru tempat ini," jawabnya.


"Oh,"


Pantas saja gue tidak pernah melihatnya sama sekali... begitu hatinya bicara.


Karena Sudah seminggu ini Arjun tidak datang ke sini.


"Antar minuman soda untuknya, bilang kalau alkohol tidak baik untuk kesehatannya..." perintah Arjun.


"Siap!"


Segera Bar tender itu melakukan tugasnya dan berjalan ke arah perempuan yang Arjun maksudkan dan menyerahkan segelas minuman soda kepadanya.


"Maaf, saya tidak memesan minuman ini..." tolak perempuan bernama Lea itu.


"Ini traktiran dari pria di depan Bar... katanya, Alkohol tidak baik untuk wanita cantik seperti Anda," ucap Bar tender itu menirukan apa yang Arjun ucapkan tadi.


Seketika Lea menatap ke arah yang Bar tender itu maksudkan.

__ADS_1


Sementara Arjun langsung mengangguk dengan senyum manis mengukir bibirnya.


Lea juga tersenyum manis dan menerima pemberian pria tak di kenalnya itu.


Arjun tak henti-hentinya menatap ke arah Lea yang kini sedang berjalan ke arahnya.


"Makasih minumannya..." ucap Lea terdengar merdu di telinga setiap orang.


Cara Lea berjalan, bicaranya selalu menjadi pusat perhatian setiap orang.


"Nama gue Arjun," ucap Arjun memperkenalkan dirinya pada perempuan yang baru saja duduk di sebelah kiri tempat duduk Arjun.


"Lea," Lea menjabat tangan Arjun.


"Sendirian aja? tidak sama temen?"tanya Lea berbasa-basi karena yang dilihatnya saat ini Arjun tidak bersama dengan teman-temannya.


"Nih berdua sama Lo," goda Arjun.


Begitulah seorang pria, selalu bisa berbicara manis.


"Hahaha... bisa aja Lo," jawab Lea masih dengan tawa yang sama seperti tadi.


Lea mengamati sosok pria yang duduk di sampingnya. Penampilannya oke juga... sepertinya juga kaya... tapi apa itu? cincin nikah? batin Lea penasaran dengan sebuah cincin yang melingkar di jari manis Arjun.


"Kamu sudah menikah?"


Pertanyaan dari Lea membuat Arjun mengalihkan pandangannya dan kini ikut menatap ke arah yang sama dengan Lea.


"Ahh, ini... em, itu..." bingung sendiri Arjun menjawabnya.


Dalam hatinya ia kesal, Si*l! kenapa gue sampai lupa melepasnya tadi sih?


Tentu saja hal itu mampu membuat Lea berubah pikiran. Yang tadinya juga tertarik dengannya sekarang menjadi tidak suka karena tak sengaja melihat cincin di jari Arjun.


Seketika Arjun mencari sumber suara itu, yang ternyata adalah Dion dan Galih yang datang bersamaan.


Kedua sahabatnya itu mendekat dan langsung duduk di sampingnya hingga Arjun tidak menyadari bahwa Lea telah berpindah sejak kapan dan saat ini telah kembali bersama teman-teman nya.


Agghh... si*l! mangsa gue lepas... sesal Arjun.


Semua ini tak lain adalah karena cincin yang ada di tangannya.


Padahal biasanya Arjun selalu melepas benda itu ketika pergi ke sini. Tapi entah kenapa ia melupakan hal itu tadi.


Mungkin Tuhan memang tidak berpihak padanya hari ini.


"Lo udah nunggu lama?" tanya Dion membuka percakapan.


Arjun kembali mengisi gelas minumnya, "Sekitar setengah jam yang lalu..." jawabnya setelah menenggak minuman bening di depannya.


"Ayo kita naik," ajak Galih. Berada di lantai dasar tempat ini membuatnya sedikit khawatir karena banyak sekali orang-orang.


Apalagi ada Arjun, yang Notabene nya adalah anak dari Pengusaha terkenal.


Jika ada orang yang mengenali mereka, tentu saja akan menjatuhkan citra keluarga Pradipta.


Galih juga akan terseret dalam masalah itu.


Arjun dan Dion juga setuju. Ketiga pria itu mulai melangkah naik menuju ke lantai 2 dimana ruang VIP berada.


Disana akan lebih nyaman untuk menghabiskan malam ini.


"Tumben Lo ngajak duluan kesini?" tanya Galih.


Karena sudah sepekan Arjun sama sekali tidak terlihat di tempat ini. Entah apa yang dilakukan pria itu di rumah.

__ADS_1


"Gue butuh ketenangan disini," jawab Arjun.


"Gue denger-denger istri Lo memutuskan untuk kuliah ya?" kali ini Dion yang bertanya.


Seketika Arjun menatap ke arah Galih, pasti pria itu yang mengobral informasi tentang keluarganya begitu pikirnya.


"Kenapa Lo menatapku seperti itu? gue gak cerita ya..." tolak Galih bersuara karena takut Arjun salah paham.


Padahal pada kenyataannya memang bukan Galih yang memberitahu Dion tentang hal itu.


"Gue denger dari Bokap Lo..." Dion menepuk bahu Arjun yang kemungkinan sudah salah paham pada Galih barusan.


"Kapan?" tanya Arjun penasaran.


"Kemarin, waktu rapat di kantor gue... benar ya? kenapa Lo ngizinin dia kuliah?" tanya Dion penasaran.


Lah? emang kenapa kalau dia kuliah? bukan urusan gue juga... batin Arjun.


"Maksud Lo?" malah Galih yang penasaran dengan pertanyaan Dion tadi.


Meneruskan Kuliah atau tidak tentu saja bukan sebuah masalah yang besar bukan?


Apalagi Akira adalah menantu keluarga Pradipta satu-satunya. Setidaknya ia juga harus memiliki wawasan yang lebih luas.


Bagaimana tanggapan orang-oran kalau istri dari Arjun hanya lulusan SMA?


Tentu saja keluarga Pradipta harus memperhitungkan hal itu. Dengan melanjutkan kuliahnya, adalah sebuah pilihan yang sangat tepat menurut Galih.


Tapi beda lagi menurut Dion. Usia istri sahabatnya itu masih muda bisa dibilang masih labil. Pemikiran dan cara pandang gadis itu juga akan berubah seiring bertambahnya usia.


Kuliah bukanlah solusi yang tepat untuk gadis yang telah bersuami.


"Lo yakin dia tidak akan tergoda dengan pria lain?" ucap Dion memprovokasi sahabatnya.


Galih dan Arjun sama-sama menatap lekat ke arah Dion.


"Di Universitas tentu saja banyak orang yang dia temui. Bukan hanya perempuan tapi juga laki-laki. Bagaimana kalau siapa nama istri Lo?" tanya Dion tiba-tiba lupa dengan nama istri sahabatnya.


"Akira," jawab Arjun datar.


"Ya... Akira, bagaimana kalau dia jatuh hati pada salah satu teman kuliahnya?"


Gleekkk... tiba-tiba Arjun menelan Saliva nya dengan susah payah.


Kenapa pikiran Dion sampai di situ juga? batinnya terpukau.


Bukan sebuah kebetulan saja kan Dion dan dirinya mempunyai pikiran yang sama?


"Apa Lo akan diam saja tentang itu?" tanya Dion lagi.


"Bukan urusan gue dong dia tertarik pada pria lain, gue gak rugi sama sekali karena awal kita menikah juga bukan karena cinta..." elak Arjun berusaha untuk melihat secara fakta yang ada.


Faktanya dia tidak menyukai Akira.


"Ini bukan masalah perasaan Lo, Nyet!,"


Kesal sekali gue... batin Dion.


"Lalu?" tanya Arjun dengan tampang bodohnya.


"Bagaimana tanggapan orang-orang nanti kalau tersebar berita menantu keluarga Pradipta selingkuh dari suaminya? Bagaimana dengan ketampanan yang selama ini Lo bangga-banggakan? Lo tidak malu?" tanya Dion menggebu-gebu.


Seketika Arjun membulatkan matanya,


***

__ADS_1


__ADS_2