Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
125. Adik Perempuan Galih.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Mobil Galih telah tiba di Parkiran Apartemen dimana ia tinggal.


Sejenak melihat gadis di bangku tengah yang terlihat tak bergerak sama sekali.


Apa gue harus menggendong nya lagi? ck... sial! umpat Galih. Gara-gara gadis itu, pakaian Galih ikut basah dan lebih menyebalkan nya dia harus menggendong gadis itu menuju ke Apartemen nya.


Dengan perlahan Galih menempatkan tangannya di tengkuk Tiara dan satunya lagi berada di bagian belakang lutut.


Berjalan meninggalkan mobil dengan langkah teratur.


Cukup ringan kok...


Hingga tak terasa Galih telah berada di depan pintu Apartemen nya. Bagaimana gue bisa membuka pintu ini? Benar juga, kedua tangannya sangat sibuk bukan?


Tapi Galih tetap berusaha untuk melakukannya, walaupun gagal karena pintu itu terbuka lebih dulu. Bahkan hingga membuat Galih sedikit mundur karena terkejut.


"Lo?" ucap Galih terkejut.


"Kakak?" yang satunya juga ikut terkejut karena ada sosok lain di depan pintu ketika hendak keluar.


"Ngapain Lo disini?" tanya Galih.


"Hehehe..." sedangkan yang di tanya yang bisa nyengir. "Siapa dia kak?" tanya gadis itu mengalihkan perhatian.


"Bukan siapa-siapa, minggir!" ucap Galih ketus dan langsung nyelonong masuk ke dalam Apartemen nya.


Sedangkan gadis muda itu juga ikut masuk. Padahal tadinya ia hendak pulang karena kakaknya tidak ada di rumah.


Tapi siapa sangka kalau di depan pintu, kakaknya pulang dengan membawa seorang gadis dalam kondisi tidak sadar.


Galih merebahkan tubuh Tiara di sofa panjang yang ada di dalam kamarnya, "Bel, Lo bawa baju?" tanya Galih pada adik perempuannya.


"Tidak, aku datang kesini karena di minta Ibu untuk mengantarkan makanan kesukaan kakak..." jawab gadis bernama Bella itu.


Galih menuju ke lemari pakaiannya, mencari sesuatu yang bisa di pakai oleh Tiara agar tubuhnya kembali hangat. Di raihnya kaos berwarna putih dan celana training miliknya.


"Lo bisa mengganti bajunya kan?" tanya Galih sambil melempar pakaian tersebut ke arah Bella. Untung saja gadis itu cekatan menangkapnya.


"Kenapa?" protes Bella. Kenapa gue yang harus mengganti bajunya?


"Ya masak harus gue?" tanya Galih sewot.


Sedangkan Bella hanya tersenyum aneh, iya juga ya...


"Baiklah," jawab Bella dan Galih langsung meninggalkan gadis itu dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia juga harus cepat mandi dan mengganti pakaiannya juga, kalau tidak Galih akan terserang flu nanti.


Bella sudah menyelesaikan pekerjaannya bersamaan dengan Galih yang keluar dari kamar mandi.


"Dia sudah sadar?"


Mengeringkan rambutnya yang basah sambil sesekali mencuri-curi pandang kepada dua gadis di belakang sana.


"Sudah... Kakak, dia demam..." ucap Bella terus mengamati Tiara yang bergumam tanpa henti.


"Sebentar,"


Setelah selesai, Galih langsung mencari kotak obat dan mengambil obat penurun panas untuk Tiara.


Juga membawakan segelas air dan duduk tepat di bawah sofa dimana Tiara berbaring.

__ADS_1


"Hei, buka mulutmu..." perintah Galih sambil sesekali menepuk pelan pipi Tiara.


Dengan susah payah, akhirnya Tiara bisa menelan obat penurun panas pemberian Galih. Dan gadis itu kembali terpejam.


Sekarang Galih dan Bella duduk di kursi makan.


Galih sedang menikmati cokelat panas buatan adiknya sedangkan Bella kembali menghangatkan makanan yang ia bawa tadi sore.


"Kapan lo datang kesini?" tanya Galih. Karena Bella akan datang ke Apartemen ini setelah memberi kabar kakaknya.


Tapi beda dengan tadi, Bella bahkan sudah masuk ke dalam sana tanpa memberitahu Galih lebih dulu.


"Tadi sore, Hehehe... di luar hujan, jadi aku langsung masuk saja..." jawab Bella sambil membawa semangkuk sup ayam kesukaan kakaknya.


Galih menerima sup itu tanpa berterimakasih, dan langsung menikmati kuahnya yang benar-benar masih panas.


Sensasi hangat dari kuah itu mampu menghangatkan perutnya.


"Kakak baik-baik saja?" tanya Bella tiba-tiba dan terus mengamati pergerakan Galih.


Galih dan Bella memang sangat dekat, walaupun mereka tidak tinggal serumah karena Galih memilih untuk tinggal di Apartemen ini.


Sedangkan Bella tinggal bersama dengan orangtuanya.


Tapi Bella kerap kali mengantarkan makanan kepada Galih karena ia tau kakaknya sangat sibuk bekerja dan Galih sering makan makanan instan yang tentu saja tidak baik untuk kesehatan.


"Kenapa?" tanya Galih tanpa mengalihkan perhatiannya dari sup di depannya.


"Tidak... aku hanya khawatir... Ibu dan Ayah juga menanyakan keadaan kakak," ucap Bella.


Sudah hampir satu bulan Galih memang tidak datang untuk mengunjungi orangtuanya.


Semua ini karena adanya Alya yang tiba-tiba datang lagi dalam kehidupannya.


Ya, besok ia harus mempersiapkan segalanya sebelum berangkat ke Eropa bersama dengan Arjun dan Akira.


Galih memang tidak memiliki waktu untuk bertemu dengan orangtuanya walaupun tinggal di kota yang sama.


"Eropa? ngapain? tugas Perusahaan?" tanya Bella. Entah kenapa ia tidak tau mengenai hal itu.


"Liburan... hehehe," jawab Galih.


Sebenarnya bukan liburan sih... karena gue harus menemani pasangan gesrek itu! umpat Galih dalam hati.


"Ck, aku iri dengan mu kak..." sela Bella.


Karena Galih, semua keinginan Bella benar-benar terwujud satu persatu.


"Makanya sekolah yang pintar," perintah Galih.


Karena mungkin saja nasib Bella akan lebih beruntung darinya.


Suatu hari Bella akan menjadi bagian dari Pradipta Group jika gadis itu pintar dan beruntung.


"Kakak, apa dia pacarmu?" tanya Bella.


Karena yang Bella tau, kakaknya tak pernah lagi berhubungan dengan seorang wanita sejak putus dengan pacar pertamanya dulu.


"Tidak!"


"Bohong..." ucap Bella tak percaya.


Dia bahkan membawanya ke sini... pasti pacarnya kan?

__ADS_1


"Tidak percaya ya sudah," jawab Galih sewot. Karena pada kenyataannya memang ia tidak memiliki hubungan apapun dengan Tiara.


Galih hanya tidak tega melihat gadis itu berjalan membelah hujan.


Dan anggap saja Tiara bernasib baik karena bertemu dengan Galih, kalau tidak entah apa yang akan terjadi pada gadis itu saat pingsan di jalan. Bisa-bisa Tiara di makan oleh pria-pria di luaran sana.


Galih juga memiliki adik perempuan, jadi melihat gadis lain yang terlihat kesusahan entah kenapa Galih selalu membayangkan jika hal itu terjadi pada Bella.


"Bel,"


"Hm?"


"Apa lo punya pacar?" tanya Galih.


"Tidak! mana ada yang mau sama aku... kakakku saja galaknya minta ampun!" cerca Bella. Sejak SMA bahkan sampai kuliah sekalipun Bella memang tidak berani menjalin hubungan dengan pria manapun.


Karena Galih akan memarahinya dan mungkin akan membunuh pria yang berani mendekati Bella.


"Baguslah, jangan pacaran!" ucap Galih final.


Ck... tidak adil! batin Bella.


"Kenapa? lo tidak terima?" tanya Galih sewot ketika melihat wajah adiknya yang seperti cemberut karena tidak di perbolehkan pacaran.


"Iya! kakak jahat... aku kan bukan anak kecil lagi... kenapa tidak boleh pacaran?" tanya Bella.


Kalau begini apa aku akan hidup sebagai perawan tua? aaaa.... amit-amit...


"Karena pria di luaran sana sangat berbahaya untuk gadis bodoh seperti dirimu..." ucap Galih.


Apa? aku bodoh?


"Maksudnya pria macam kakak?" goda Bella disertai tawa mengejek.


Galih hanya terdiam, walaupun hatinya tersentil dengan gurauan Bella.


Ya, Galih bukan lah pria yang baik, ia mengakui hal itu.


"Kakak memang seorang kakak yang hebat," puji Bella.


Walaupun tanpa kakak sadari, kakak juga sama seperti pria di luaran sana bukan? Bella harap Kak Galih sadar bahwa perempuan yang kakak kencani juga memiliki keluarga, mungkin seperti diriku... mereka juga memiliki kakak laki-laki ...


"Bella, gue tau apa yang Lo pikirkan..." ucap Galih. Apalagi tatapan adiknya kepadanya sudah amat jelas kalau Galih bukanlah kakak yang memberi contoh baik bagi adiknya.


"Bella hanya tidak mau mendapat karma atas perbuatan mu kak..." ucap Bella jujur.


Galih menghentikan makan malamnya, menaruh sendok dan segera bangkit dan hendak meninggalkan Bella.


Saat kakinya telah melangkah, Galih berucap "Gue tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu...". Lalu pergi meninggalkan Bella.


Bella menghela nafasnya kasar. Dulu gadis itu tak paham kenapa orangtuanya menangis di depan Galih. Ada Dion dan juga Arjun saat itu.


Bella tidak paham tentang pembicaraan mereka yang membahas tentang obat-obatan.


Tapi saat Bella beranjak dewasa, ia mulai menyadarinya.


Bella tau kalau saat itu kakak tersayangnya pernah terjerat narkoba.


Bella ingin kakak berubah... cobalah untuk mencintai seseorang lagi kak... cobalah... hal itu akan membuat cara pandang kakak berbeda... jangan mempermainkan wanita lagi, Bella hanya tidak ingin punya nasib yang sama seperti nasib wanita yang kakak kencani... batin Bella.


***


Tinggalkan Like dan Komentar Ya...

__ADS_1


Luv kalian banyak-banyak...


__ADS_2