Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
226. Sifat Random Dion.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Dion baru saja pulang bekerja. Tidak seperti Arjun yang selalu datang ke Perusahaan setiap pagi, Dion lebih santai. datang mengunjungi beberapa tempat usahanya sesukanya. Kadang dua hari sekali, kadang juga seminggu sekali. tergantung suasana hatinya. kalau tidak, Agus lah yang diminta Dion untuk mengecek semuanya. Dion tinggal terima beres.


Derap langkah kaki pria itu menggema, memenuhi setiap sudut Vila yang telah ia tempati bersama Gadis dan juga Mama. Tapi tahun ini, ada anggota baru yang melengkapi mereka. Dia adalah bayi laki-laki buah cinta Dion dan Gadis yang baru berusia 1 bulan.


"Papa da-," Dion tak meneruskan ucapannya karena baru di ambang pintu kamar, Gadis seketika mengangkat jari memberi kode Dion agar tetap diam.


"Sstt...jangan berisik..." pinta Gadis.


Padahal Ayah baru itu ingin menyapa sang buah hati, tapi diurungkannya.


Dion memperlambat langkah kakinya, dengan sangat pelan agar tak menimbulkan suara.


dan pada akhirnya mengamati Gadis yang tengah menidurkan putra mereka dari jarak dekat.


"Kenapa?" tanya Dion. Karena biasanya lebih tepatnya di jam segini, bayi mereka masih terjaga.


"Sejak tadi Cello menangis..." adu Gadis.


Putra pertama mereka diberi nama Cello, yang menurut Dion nama Cello itu sangat lucu.


"Dimana Mama?" tanya Dion. karena Gadis selalu di bantu Mama untuk merawat bayi mungil tersebut.


"Mama sedang mandi..." jawab Gadis. membuat Dion paham dan kembali diam.


"Sepertinya Cello selalu merengek ketika minum susu deh Yon..." adu Gadis. "Apa dia tak suka?".


Beda dengan anak Arjun dan Akira yang minum asi dari Akira, Cello memang sejak lahir tidak minum asi dari Gadis. Entah kenapa tubuh Gadis tidak bisa memproduksi asinya sendiri.


Karena itulah Cello minum susu formula sejak lahir.


Terkadang Gadis amat sedih, ia juga ingin seperti ibu-ibu yang lain. menyusui bayinya hingga tumbuh besar.


Tapi mungkin inilah takdirnya, untung juga Gadis mendapat dukungan dari orangtuanya dan juga Mama. andai semua orang menyudutkannya, Gadis akan mengalami baby blues saat kelahiran Cello.


Ya... dukungan seluruh anggota keluarga sangat berpengaruh untuk jiwa ibu baru.


"Perlu konsultasi dengan dokternya?" tanya Dion menyarankan. segala sesuatunya tidak baik jika di tunda-tunda. apalagi menyangkut dengan kesehatan Cello, Dion tidak mau bermain-main.


"Bagaimana kalau besok?" Gadis bersuara.


"Baiklah... besok kita pergi..." jawab Dion.


Dion merebahkan tubuhnya di ranjang, "ahh.. lelahnya," keluh pria itu.


"Bapak juga mencari mu tadi," lapor Gadis.


Entah apa yang membuat Bapak mencari Dion, Gadis tak begitu tau.


"Ada apa?" tanya Dion. pria itu bahkan sampai mengecek ponselnya, mungkin saja Bapak menelepon tapi tak di dengar olehnya.


Tapi kosong, tak ada satu panggilan pun dari Bapak.


"Tidak tau...".


"Bapak selalu bicara menggunakan bahasa daerah, kadang gue tidak begitu paham..." keluh Dion. Ya, sudah tinggal di desa ini cukup lama, Dion masih sangat kesulitan untuk berdialog menggunakan bahasa daerah yang menurutnya sangat sulit.


"Makanya belajar... menantu kepala desa kok tidak bisa bicara..." ejek Gadis.


"Paham tapi kalau mengucapkannya agak aneh..." ralat Dion. Terkadang Dion bisa mengerti apa yang dibicarakan orang-orang, tapi ia tak bisa menjawabnya.


"Sama juga bohong,".


"Ye... bisa dong, bahkan gue tau kromo alus 25" ucap Dion dengan sombongnya.


"Apa?" pancing Gadis.

__ADS_1


"Sel*ngkang... hahaha..." Tawa Dion lepas juga.


bahkan tak ingat dengan Cello yang tengah tertidur.


"Selangkung Yon, se-lang-kung!" perjelas Gadis.


entah kenapa kali ini ia kocolongan, karena Dion memang tak jauh-jauh dari hal mesum.


***


Malam hari.


Makan telah usai beberapa saat yang lalu. Mama dan Gadis lebih dulu naik ke kamar menemani Cello yang tengah di temani pengasuhnya. Sedangkan Dion memilih keluar untuk menikmati sebarang rokok.


Ya... sampai memiliki bayi, Dion sama sekali tidak bisa terlepas dari benda bernikotin tersebut. beda dengan Arjun yang saat ini tak lagi menyentuh rokok sama sekali.


Walaupun sering mendapat teguran langsung dari Gadis, tapi tak membuat Dion berubah.


Ia benar-benar kecanduan dengan rokok walaupun sebenarnya ingin terlepas.


Dion duduk di saung yang berada di depan Vila. Menikmati suasana malam yang amat cerah dengan taburan bintang di atas sana.


hingga tak beberapa lama, ponselnya bergetar menandakan ada sebuah panggilan telepon yang masuk.


Melihat siapa yang menelepon, Dion langsung mengangkat nya.


"Halo nyet..." sapanya seperti biasa.


"Lagi ngapain lo?" tanya Galih.


"Cie... kangen ya..." gurau Dion masih menyebalkan seperti biasanya. mungkin saja Galih saat ini tengah mengerutkan keningnya keheranan. kepedean Dion yang terkadang melebihi batas normal dari orang lain.


Tapi inilah sebuah persahabatan. ada yang dingin seperti Galih, ada yang cuek dan sering mengumpat seperti Arjun dan ada juga yang tampan tapi narsisnya keterlaluan seperti Dion.


Mereka saling melengkapi walaupun bobrok ketika berkumpul dalam tempat yang sama.


"Ogah!".


"Kita mau kesana... siapkan tempat, dan kamar yang bersih...".


"Ha? kalian? kapan?" Dion gelagapan dengan ucapan Galih barusan.


"Besok...".


"Hei anak monyet!" teriak Dion tanpa bisa dicegah. "Kenapa dadakan, emang tahu bulat yang di goreng dadakan, lima ratusan?" celoteh Dion yang justru malah terlihat menirukan jajanan yang sering lewat.


"Gue hanya menuruti perintah Arjun... pokoknya siapin 3 kamar..." lapor Galih.


Seperti itulah pesan Arjun tadi, walaupun sebenarnya Galih juga yang mengatur segala sesuatu mengenai keberangkatan mereka esok hari. Galih lah yang telah mengosongkan jadwal Arjun jauh-jauh hari hanya karena ingin mengunjungi Dion.


"Tapi nyet-," protes Dion.


"Lo tidak mau kita berkunjung?" cerca Galih.


"Bukan itu masalahnya.." ucap Dion frustasi.


"Lalu?"


Gue hanya iri melihat tingkah laku Arjun dan Akira nanti... sedangkan, saat ini Gue masih belum bisa menyentuh Gadis... batin Dion.


Masih perlu 10 hari lagi baginya untuk bisa menyentuh Gadis setelah persalinan. Dan jika ada Arjun dan Akira disini, akan menggangu konsentrasi Dion nantinya.


Karena terakhir kali pasangan itu menginap disini, banyak tercipta polusi suara dari kamar Arjun yang memang bersebelahan dengan kamar Dion.


"Halo? lo dengar gue kan nyet!" ulang Galih karena tak mendengar jawaban apapun dari Dion.


"Iya gue dengar," gerutu Dion. tanpa bisa menjelaskan apa yang membuatnya khawatir.


"Pokoknya kita kesana besok, dan jemput juga di bandara... oke?" paksa Galih.

__ADS_1


"Ck... tamu apaan begitu?" sewot Dion. sudah bertamu, merepotkan lagi.


"Baiklah-baiklah..." jawab Dion pada akhirnya.


"Ya udah... lanjutkan kegiatan lo... sorry udah ganggu... hahaha..." gurau Galih.


Andai Galih tau, gurauannya justru terdengar menyebalkan bagi Dion karena saat ini Dion sama sekali belum bisa berkegiatan bareng dengan istrinya.


Aagghh... gue benar-benar bisa pingsan! umpat Dion dalam hati dan panggilan itupun berakhir.


Rokok Dion masih tersisa setengah, tapi pria itu memutuskan untuk masuk kembali ke dalam Vila untuk memberitahu istrinya.


Saat masuk ke dalam kamar, Dion langsung menuju ke dalam kamar mandi. menggosok gigi dan juga mengganti pakaiannya dengan yang baru karena asap rokok mungkin saja menempel pada pakaian yang Dion kenakan tadi. Dion hanya tak mau hal itu bisa membahayakan putra kecilnya.


"Mama, Gadis dan Dion akan pergi ke dokter besok..." adu Gadis pada Mama.


Bagaimanapun mereka harus berkonsultasi tentang susu apa yang cocok untuk Cello.


"Jam berapa kalian pergi?" tanya Mama.


"Jam 9 pagi, tadi Gadis sudah membuat janji dengannya..." jawab Gadis sambil mengamati Cella yang tengah tertidur dalam pangkuannya.


"Baiklah... Mama juga akan menemani kalian..." jawab Mama yakin.


membuat Gadis mengangguk setuju.


Ternyata, Mamanya Dion adalah wanita yang amat lembut dan juga penuh kasih.


bahkan kepada Gadis yang hanya menantunya, kasih sayang Mama terlihat sekali. Mama begitu menyayangi Gadis seperti putrinya sendiri. Cuma Gadis sedikit kasihan melihat beliau yang kadang sering melamun. mungkin memikirkan suami dan juga Rega yang tidak tinggal bersamanya.


Sekesal apapun Mama terhadap suaminya, tapi beliau masih amat peduli bahkan merindukan satu sama lain.


hanya waktunya saja yang pas untuk mereka kembali bertemu.


"Jam berapa kamu membuat janji?" tanya Dion ikut nimbrung dalam pembicaraan kedua wanita yang ia cintai itu.


"9 Yon..." jawab Gadis.


"Arjun, Akira dan Galih akan datang kesini besok..." ucap Dion memberitahu mereka.


"Besok?".


"Besok?". tanya Mama dan Gadis bersamaan.


Terkejut memang karena Tiara maupun Akira tak ada yang mengabari Gadis lebih dulu.


"Iya..." jawab Dion.


Dion langsung naik ke ranjang, mengambil Cello dari pangkuan Gadis dan beralih pada pangkuannya. menimang bayi mungil itu dengan penuh hati-hati.


"Jadwal kita hanya bertemu dokter anak bukan?" tanya Dion memastikan. mungkin saja Mama dan Gadis sudah merencanakan sesuatu esok hari.


"Iya... tidak ada rencana apapun..." jawab Gadis.


"Mama juga tidak punya rencana untuk pergi kemanapun... apa Akira juga membawa putrinya?" tanya Mama.


"Mungkin saja Ma..." jawab Dion walaupun tak tau. tapi tidak mungkin bukan kalau Arjun dan Akira datang tanpa membawa starla?


"Aku tak sabar..." ucap Gadis.


bisa berkumpul bersama Tiara dan Akira sungguh hal yang menyenangkan.


mereka bisa bercerita sepuas hati tanpa mengetik pesan apapun. karena biasanya, mereka hanya terhubung lewat pesan singkat ataupun telepon. itupun tak bisa lama, karena mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.


"Besok Agus akan menjemput mereka di Bandara, jadi besok biar Dion yang menyetir sendiri..." ucap Dion.


Mereka memang memiliki supir pribadi lagi selain Agus. tapi tentu saja mereka akan ikut menjemput rombongan Arjun di Bandara.


"Oke..." jawab Gadis penuh semangat.

__ADS_1


***


Hahaha... yang orang Jawa pasti Tertawa hanya karena angka 25..


__ADS_2