Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
220. Pergi.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Dalam Pertengkaran... permintaan maaf datang dari orang yang paling mencintai, bukan dari orang yang bersalah...


---


Sampai siang hari, tak ada pergerakan sama sekali dari kamar Tiara. bahkan Galih yang sengaja menunggu gadis itu, sedikit kecewa karena Tiara tak juga keluar. bahkan pesan yang ia kirimkan juga tak di balas ataupun terbaca.


Ck... padahal gue ingin memergokinya keluar dan makan karena kelaparan... tapi ternyata dia tak keluar sama sekali...


"Ada apa?" tanya Galih menempelkan ponsel di telinganya karena sebuah panggilan yang masuk tiba-tiba.


"Tuan muda meminta Anda untuk segera datang ke rumah Pradipta...".


"Sekarang?" protes Galih. ia kira akhir pekan akan sedikit mengurangi beban pekerjaannya, tapi nyatanya tidak. buktinya Galih mendapatkan telepon yang memintanya untuk datang ke rumah Pradipta saat ini juga.


"Baiklah... tunggu menit lagi," ucap Galih pada akhirnya.


Memastikan sambungan teleponnya dan langsung berganti pakaian sebelum pergi.


Ck... dia bahkan belum keluar...


Karena harus menyelesaikan urusannya, Galih memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Tiara sendirian di Apartemen. tapi sebelum itu, Galih telah mengirim pesannya lagi, yang mengatakan kalau ia pergi untuk beberapa saat dan akan kembali sebelum sore.


Terdengar romantis memang, karena Galih tak pernah melakukan hal itu sebelum ini.


Hingga terdengar suara pintu Apartemen, Tiara pelan-pelan keluar kamar. mengendap-endap memastikan kalau Galih benar-benar telah pergi.


"Dia sudah pergi..." gumamnya pelan dan membuka pintu kamarnya lebar-lebar.


Di dalam kamar dalam waktu yang lama, Tiara telah memutuskan. Ia akan pergi dan meninggalkan tempat ini. Bukan tanpa alasan, Tiar hanya ingin Galih sedikit berubah. mampu memutuskan semua keputusan ketika masalah datang menerpanya.


Bahkan Tiara telah mengemasi barang-barangnya. tak banyak memang, hanya pakaian dan beberapa barang lainnya.


Mengeluarkan dua koper menuju ke ruang keluarga.


Dengan membawa amplop berwarna putih, sejenak Tiara mengamati hasil tulisannya itu. menghela nafas dan meletakkannya di atas meja makan.


Hidup bersama dengan Galih hampir 2 tahun lamanya, Tiara sudah hafal dengan kebiasaan pria itu. Galih selalu menuju ke dapur, mengambil air dan menenggaknya sambil duduk di kursi makan.


Untuk itulah, surat yang Tiara tulis untuk Galih di letakkan di tempat yang bisa Galih lihat.


Mungkin nanti saya pria itu pulang dan tengah minum, ia akan melihat surat dari Tiara dan langsung membacanya.


Setelah meletakkan surat itu, Tiara kembali ke ruang keluarga. mengamati seluruh sudut tempat itu untuk mengingat semua hal yang pernah terjadi disana.


Semua ruangan di Apartemen itu benar-benar memiliki kenangan tersendiri.


Dari yang lucu, membahagiakan bahkan sedih ketika mereka tengah berdebat.


Akhirnya Tiara pergi juga. Pergi dari Apartemen milik Galih dan mungkin saja pergi dari hati pria itu juga.


Tiara semakin dewasa. Ia tau kebahagiaannya dan tau siapa saja yang benar-benar menginginkannya. meninggalkan Galih adalah cara yang tepat.


Jika dia memang takdirku, Tuhan tidak akan menukarnya dengan yang lain... batin Tiara dan pergi dari tempat itu.

__ADS_1


***


Sore hari.


Galih sedikit tergesa-gesa melajukan kendaraannya membelah jalanan. Pekerjaan yang ia kira hanya sebentar ternyata salah, karena saat ini bahkan saat langit Ibukota sudah berangsur-angsur gelap dirinya baru meninggalkan rumah Pradipta.


Apa dia sudah makan? kenapa pesanku belum dibaca sama sekali? hanya itu pertanyaan yang ada dalam hati Galih.


Ia hanya ingin segera sampai di Apartemen untuk melihat keadaan Tiara.


Sedikit khawatir memang meninggalkan Tiara sendirian. Apalagi gadis itu sedang marah sejak semalam dan Galih yakin pasti Tiara tidak baik-baik saja.


Galih sudah hafal bagaimana Tiara, gadis itu memiliki daya tahan tubuh yang sedikit buruk.


Tiara seringkali demam ketika kehujanan atau karena kelelahan.


Ya... seperti itulah Tiara.


Dulu saja saat berhadapan dengan skripsi, Tiara juga sakit. bahkan Galih terjaga sepanjang malam hanya untuk menjaganya.


Tiba di Apartemen, Galih langsung berlari masuk. tak memperhatikan orang yang dilaluinya bahkan menyapa Galih sekalipun.


Menekan digit angka dengan tergesa-gesa dan langsung masuk, tanpa melepas sepatunya lebih dulu.


"Tiara..." teriak Galih menjadi satu-satunya suara yang tercipta. memecah keheningan yang ada di seluruh penjuru ruangan di dalam Apartemen tempat tinggal Galih.


Masih dengan mode khawatirnya, Galih mendekati pintu kamar Tiara. sejenak berdiri dengan tangan menggantung tepat di depannya. hendak mengetuk pintu itu tapi rasa ragu menyelimuti hatinya.


Bagaimana kalau Tiara tidak mau menemuinya? bagaimana kalau gadis itu justru semakin marah?


yang ada bukannya hubungan keduanya membaik, malah terjadi perdebatan yang semakin membuat mereka kian jauh.


Masih tak mendengar jawaban dari dalam kamar itu, Galih memberanikan diri untuk menyentuh gagang pintu kamar Tiara. mendorongnya dengan pelan hingga menampakkan pemandangan di dalam kamar itu.


Gelap...


itulah kesan pertama ketika kamar itu terbuka. membuat Galih membulatkan mata dan terkejut. karena hanya ada saat dimana kamar Tiara selalu gelap, tidak ada di rumah atau mati lampu. karena Galih tau Tiara tidak suka kegelapan. bahkan gadis itu takut jika suasana menjadi gelap.


"Tiara...", Tapi Galih tetap memanggil nama gadis itu. berharap dugaannya salah.


Bahkan tangannya sampai terulur untuk menghidupkan lampu di dalam sana. membuka seluruh tirai dan tak lupa mengecek kamar mandi. tapi hasilnya nihil... Tiara memang tidak berada di kamarnya.


Pikiran Galih semakin berkecamuk. ia tak tau keberadaan Tiara saat ini.


hingga pandangannya tak sengaja melihat pintu lemari yang sedikit terbuka.


Karena penasaran, Galih mendekat untuk mengecek lemari pakaian Tiara. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat semuanya.


Lemari yang dulunya di penuhi dengan pakaian milik Tiara, seperti lenyap tanpa jejak. hanya meninggalkan gaun pemberian Galih dan sepasang sepatu yang beberapa kali Tiara kenakan saat acara-acara tertentu.


Galih segera berlari keluar dari kamar. Entah kenapa pria itu malah menuju ke kamarnya sendiri. mengecek mungkin saja ada Tiara disana.


hingga tidak adanya Tiara di dalam Apartemen ini benar-benar mengguncang hatinya.


Antara sedih, marah, kesal semua bercampur menjadi satu dalam hatinya.


Kenapa lo saya ini? hanya itu pertanyaan yang memenuhi kepala. bahkan semakin berpikir, kepala Galih semakin berdenyut nyeri.

__ADS_1


Dengan langkah gontai, Galih menuju ke dapur. membuka lemari pendingin dan mengeluarkan sebotol minuman dan membawanya kearah meja.


Ia kira, air dingin yang mulai melewati kerongkongan mampu membuat diri Galih sedikit dingin. Tapi semuanya tak berguna sama sekali. Hatinya sakit dan juga terbakar oleh kemarahan.


Tak sengaja saat tatapannya jatuh ke arah meja, Galih melihat amplop berwarna putih.


meletakkan botol air dinginnya dan meraih amplop tersebut.


Tangan Galih bergetar saat membuka secarik kertas di dalamnya. mengamati deret baris kata yang bahkan memenuhi setengah dari kertas berwarna putih tersebut.


Goresan tinta yang sangat Galih kenali, dan nama seseorang sebagai pembuka surat tak lagi membuat Galih terkejut.


Galih sudah menduga kalau surat itu adalah tulisan tangan Tiara.


mungkin yang sudah di tulis sejak pagi dan di tinggalkan begitu saja sesaat sebelum meninggalkan Apartemen.


---


Di tempat lain.


Tiara dengan taxi yang membawanya meninggalkan Apartemen milik Galih akhirnya tiba di sebuah tempat.


Kost khusus putri yang terletak tak jauh dari Gedung Pradipta Group.


Ya... Tiara sudah memutuskan segalanya.


Ia tak mau lagi terikat dengan Galih. terikat takdir yang hanya menyakiti dirinya seorang.


Berharap tapi tak kunjung dapat jawaban. terlalu menjatuhkan hati, tapi justru tersakiti.


Seperti itulah yang Tiara alami. saat dimana ia terluka karena seseorang, ada orang lain yang datang kepadanya. mendekat seorang merentangkan tangan menyiapkan tempat untuk Tiara menangis.


Tapi ketika hatinya mulai kembali mempercayai cinta, ketika Tiara kembali membuka hati, hati itu kembali patah tapi dari orang yang beda.


Tiara hanya ingin menjadi seseorang yang diharapkan, bukan ia yang mengharapkan.


Tiara ingin di cintai dengan tulus bukan hanya di beri harapan tapi tak kunjung ada kejelasan.


Mencintai Galih benar-benar menguras air mata baginya. Galih ibarat seperti kupu-kupu, menghindar ketika Tiara mendekat dan hinggap ketika Tiara tak memperdulikannya.


Seperti itulah Galih. Pria yang terlihat dingin tapi bagi orang-orang terdekatnya, pria itu amat peduli dan penuh kehangatan.


Sungguh Tiara mencintai pria itu, tapi untuk saat ini Tiara memilih untuk pergi. bukan karena berhenti mencintai, tapi berhenti untuk tersakiti.


Dan inilah keputusannya. tinggal di kost yang tidak jauh dari tempatnya bekerja.


Sambil menyeka air matanya, Tiara turun. menyeret dua koper menuju ke rumah kost berlantai tiga di depan sana.


Tersenyum kepada penghuni lain ketika melewati mereka.


Setelah berbicara dengan pemiliknya, Tiara masuk ke dalam kamar kost nya.


Merebahkan diri sambil menatap langit-langit kamar. membayangkan sedang apa Galih saat ini.


***


Galih sih... Tiara jadi pergi kan??

__ADS_1


..


__ADS_2