Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
50. Menjelaskan Semuanya.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Mungkin inilah saatnya Aku mengatakan semuanya kepada Dean... Terserah apa katanya nanti, yang jelas Aku tetap mencintainya... AKIRA.


 


Akira masih di dalam kelas mengamati satu demi satu teman sekelasnya yang telah keluar lebih dulu. Selama itu pula Akira hanya merangkai sebuah kata yang tepat untuk dikatakannya kepada Dean, kekasihnya.


Tidak tau apa jawaban pria itu nanti, membuat Akira sedikit merasa khawatir.


Bagaimanapun juga ada sebuah rasa takut dalam diri Akira.


Ya... dia takut di tinggalkan oleh Dean.


Akira takut Dean memutuskan hubungannya dan menganggap Akira hanya sebagai seseorang di masa lalu yang pernah bermimpi untuk hidup bersama.


Tenang Akira... tenang.. Dean bukan pria seperti itu... minta maaflah lebih dulu, dia akan memaklumi semuanya...


Akira menghembuskan nafasnya kasar. Menstabilkan detak jantungnya sebelum keluar kelas dan menemui Dean.


Dengan membawa tas dan merangkul beberapa buku di depan dadanya, Akira melangkah pergi dari sana.


Tapi langkahnya terhenti tepat di ambang pintu.


Matanya membulat sempurna saat seseorang yang akan ia temui telah menunggunya di salah satu tiang penyangga bangunan.


"Dean..." ucap Akira dengan lirih.


Tanpa Akira duga sama sekali, ternyata Dean benar-benar menunggu Akira disana entah sejak kapan. Yang jelas di mata pria itu, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban dari Akira.


Segera Dean mendekati kekasihnya. Menggenggam tangan itu dan membawanya pergi dari kelas Akira. "Dean..." panggil Akira. Tapi semua itu tidak penting bagi Dean, pria itu sama sekali tidak berkata apapun.


Akira tau kalau pria di depannya itu benar-benar kecewa terhadapnya. Maafkan Aku, Dean...


Hingga mereka tiba di sebuah taman dengan kolam yang cukup luas di depan Universitas. Taman ini pula yang menjadi tempat pertama yang Akira temukan saat pertama masuk kuliah dulu.


Dean melepaskan tangan Akira sedikit menghempaskan nya. "Aku punya banyak waktu untuk menjelaskan semua nya..." ucap Dean terdengar sangat dingin bagi Akira. Tidak ada ekspresi teduh dalam wajah pria itu yang selalu bisa Akira lihat.


Semuanya benar-benar redup seperti sebuah lilin yang kehilangan cahayanya.


"Maaf..." hanya itu kata pertama yang Akira ucapkan. Maaf untuk semua yang telah ia lakukan kepada Dean. Maaf karena banyak sekali kebohongan yang telah ia lakukan selama ini. Maaf karena telah menyembunyikan hubungannya dengan Arjun.


"Jadi cincin apa itu? apa benar pemberian Ibumu?" tanya Dean. Sebenarnya Dean ingin sekali mendengar Akira berkata iya.


Dean takut mendengar hal yang sebenarnya. Itu adalah ketakutan terbesar baginya selama menjalin hubungan dengan Akira.


Dean takut kehilangan gadis itu. Kekasih sekaligus cinta pertama baginya.


Pertanyaan Dean mampu membuat Akira tertunduk semakin dalam. Dengan bibir bergetar hebat, Akira mulai bersuara "Ti-dak...".


"Jadi?"


"Maafkan Aku Dean..." Akira kembali mengucapkan kata maaf kepada pria itu. "Maafkan aku...".

__ADS_1


"Cincin tunangan atau pernikahan?" hanya mengatakan begitu saja, dada Dean terasa sesak. Nafasnya seolah tercekat di tenggorokan. Betapa ia tak menyangka kalau Akira menyembunyikan hal besar seperti ini darinya.


"Dean..." panggil Akira. Air mata lolos begitu saja. Akira bingung harus berkata apa.


"Jawab Aku!" bentak Dean dengan marah.


Bahkan bentakannya mampu seketika membuat Akira sedikit menjaga jarak dengan mundur ke belakang.


"Cincin pernikahan..."


Mendengar Akira berkata seperti itu, ingin sekali Dean berteriak. Ia kecewa mendengar semuanya.


Akira telah menikah? kapan?


"Maafkan aku Dean... Maaf..." pinta Akira mengiba. Bagaimanapun kondisinya, Akira tetap menginginkan Dean berada di sampingnya seperti sekarang.


Akira ingin Dean memaafkan kebohongannya.


Sedikit egois memang, tapi hanya itu keinginan Akira. Dia ingin setelah bercerai dari Arjun suatu hari nanti, Akira ingin hidup bersama dengan Dean. Membina sebuah keluarga yang bahagia sama seperti pasangan yang lain.


"Maafkan aku Dean..." Akira menggenggam tangan Dean sambil menunjukkan air matanya. Berharap pria itu iba.


"Aku sungguh tak berkeinginan untuk menikah... Aku terpaksa melakukan itu, semuanya sudah di rencanakan ayah... Aku tidak bisa menolaknya..." adu Akira.


Dean yang tadinya sangat marah, kini berubah bingung. Ia tidak paham dengan apa yang Akira katakan barusan.


Terpaksa? Di rencanakan ayah? Tidak dapat menolak? semua pertanyaan itu benar-benar memenuhi kepalanya.


"Jangan tinggalkan aku Yan... jangan tinggalkan aku... Aku mohon..." pinta Akira.


Segera ia merengkuh gadisnya dan membenamkan wajah Akira dalam dada.


"Maafkan Aku Dean... Aku benar-benar mencintaimu, aku terpaksa menikahinya..."


"Apa aku satu-satunya orang yang tidak mengetahui nya?" tanya Dean lirih.


Apakah hanya dia yang tidak tau kalau Akira telah menikah?.


"Aku menyembunyikan dari semua orang... hanya Tiara yang tau kalau aku sudah menikah..." jawab Akira.


Ya, tidak ada yang tau kalau dirinya telah menikah kecuali Tiara, sahabatnya.


Akira benar-benar menyembunyikan dari siapapun.


"Kamu mencintainya?" tanya Dean.


"Tidak... Aku dan dia sepakat hanya menjalani pernikahan pura-pura ini. Dia juga tidak menerima pernikahan ini..."


Akira... takdir macam apa ini? kenapa kamu melakukannya kalau hanya sebuah sandiwara?


"Dean, jangan tinggalkan aku... aku benar-benar mencintaimu.." ucap Akira lagi.


Hanya Dean yang di cintai olehnya dan Akira tidak mau kehilangan pria itu.


"Sampai kapan kamu akan bersandiwara?"

__ADS_1


Hanya itu pertanyaan dari Dean. Sampai kapan kekasihnya akan bersandiwara di depan keluarga.


"Kami belum membicarakan tentang perceraian untuk saat ini, tapi... aku akan bicara dengannya secepatnya..."


Akira akan berbicara dengan Arjun tentang perceraian. Ya... dia akan membahas itu nanti.


Tapi setidaknya setelah dirinya lulus kuliah dan mendapat pekerjaan. Ya... 3-4 tahun lagi.


Akira mampu untuk melakukan hal itu.


"Dean... tunggu aku 2-3 tahun," pinta Akira.


"Karena aku sudah mendengar penjelasan mu, Aku tidak akan meninggal kan mu Akira... Ayo kita sama-sama berjuang,"


Entah apa yang dipikirkan Dean saat ini. Ia tidak memperdulikan status Akira ayang telah menjadi istri seseorang.


Dean akan membantu Akira untuk bercerai dengan suami sandiwaranya itu. Dan setelah itu, mereka akan hidup bersama.


---


Di gerbang Universitas, Akira, Dean dan Arjun bertemu.


Beda saat pertemuan mereka dulu, saat ini tidak ada respon baik bagi Dean kepada Arjun.


Pria itu sama sekali tidak menampakkan wajah ramah sama sekali. Mungkin saja Dean menganggap Arjun sebagai Rivalnya.


Bahkan saat Arjun ingin menjabat tangannya, Dean sama sekali tidak mau.


"Aku pulang Yan," pamit Akira yang tau kalau situasi akan bertambah buruk ketika 2 pria itu berada di dalam tempat yang sama dengan waktu yang lama. Bisa-bisa Dean memukul Arjun.


Segera Akira masuk ke dalam mobil diikuti oleh Arjun. Mobil mulai meninggalkan tempat itu.


"Apa yang terjadi?" tanya Arjun membuka percakapan dengan istrinya.


Bahkan ia juga sempat melihat kalau mata Akira memerah mungkin karena habis menangis.


"Jun, aku ingin menanyakan sesuatu padamu..."


"Tentang?"


"Sampai kapan kita akan menjalani pernikahan bohongan ini?" tanya Akira.


Arjun sedikit terkejut dengan pertanyaan Akira yang tiba-tiba seperti itu. Padahal mereka belum pernah membahasnya sama sekali.


"Apa karena kekasihmu tadi?" tuduh Arjun.


Ia bahkan mampu melihat perubahan sikap pria muda tadi saat berhadapan dengannya.


Dean seperti sedang mengibarkan bendera perang kepada Arjun.


"Aku hanya ingin kepastian... sampai kapan kita akan berpura-pura?"


"Akira! dengar... tidak akan ada perceraian!" jawab Arjun dengan nada yakin.


"Maksudmu?" tanya Akira terkejut.

__ADS_1


***


__ADS_2