Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
88. Membahas Anak.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Tidak ada lagi kata Aku ataupun Kamu... Karena semuanya telah berubah menjadi KITA... ARJUN PRADIPTA.


---


Malam Hari di Rumah Pradipta.


Akira telah selesai mandi. Biasanya ia akan mandi sendiri tapi kali ini berbeda karena ada mahkluk lain yang menemaninya mandi. Bukan! lebih tepatnya menggangu Akira selama membersihkan diri. Jangan tanya siapa makhluk itu, karena semua jelas tau kalau Arjun lah orangnya.


Dengan alasan takut istrinya kenapa-kenapa, pria itu benar-benar mandi bersama Akira sambil sesekali menggosok tubuh Akira bagian belakang walaupun tidak di minta sama sekali.


Tapi karena kelakuan Arjun itulah mandi kali ini terasa begitu lama dari sebelum-sebelumnya.


Bahkan sampai Akira melayangkan protesnya beberapa kali.


Jika di tanya apakah Akira baik-baik saja, tentu saja gadis itu akan mengatakan tidak. Karena pusat tubuhnya benar-benar terasa sakit akibat kejadian tadi siang di Perusahaan.


Di bawah sana benar-benar seperti tersayat apalagi saat terkena guyuran air hangat dari shower.


Akira ingin saja menangis karena hal itu.


Tapi untung saja Akira memiliki suami yang pengertian. Arjun benar-benar memperlakukan Akira dengan sangat lembut. Bahkan beberapa kali menggendong gadis itu sama seperti tadi saat keluar dari kamar mandi.


"Apa perlu ke dokter?" tanya Arjun khawatir. Sungguh ia tak tau kalau istrinya benar-benar kesakitan gara-gara kelakuannya.


Arjun pernah merasakan bercinta dengan seorang gadis per*wan, tapi tidak seperti Akira kali ini yang terlihat tersiksa.


"Itu sangat memalukan," rajuk Akira sambil memukul lengan suaminya karena telah bicara ngawur.


"Kamu terlihat kesakitan sayang..." ucap Arjun kali ini dengan ekspresi yang sulit di artikan.


"Ini semua gara-gara kamu yang terlalu terburu-buru,"


Jika saja Arjun lebih bersabar sedikit, Akira tidak akan seperti ini.


Apalagi tadi adalah pertama kalinya Akira melakukan hal tersebut.


Arjun langsung duduk di depan Akira, membuka kedua kaki gadis itu tanpa bertanya lebih dulu. "Hei, mau apa?" tentu saja Akira terkejut dengan perlakuan Arjun ynag tiba-tiba.


"Biar aku lihat," jawab Arjun tanpa berdosa sama sekali.


"Ya! jangan bodoh..." teriak Akira sambil menjitak kepala suaminya. Sungguh Akira tak menyangka kalau punya suami yang seperti itu.


Katanya genius, tapi bagi Akira suaminya itu memiliki otak yang dangkal.


Jitakan Akira tentu saja langsung membuat Arjun protes, "Kenapa memukulku?" tanyanya sambil menyentuh kepalanya.


"Salah sendiri..." tentu saja Akira tidak mau di salahkan karena Arjun sendiri yang memulainya.


"Berani sekali kamu main tangan ya! kamu benar-benar kurang ajar..." Arjun mengungkung kedua tangan Akira ke atas dan menciumi wajah istrinya beberapa kali sebagai bentuk hukuman atas kekurangajaran Akira yang telah menjitak kepalanya tadi.


"Hahaha... Arjun hentikan! hentikan!" mohon Akira.


Sungguh Akira merasa geli di perlakukan seperti itu.


Karena telah lelah tertawa, Arjun ambruk tepat di atas tubuh istrinya. Hanya nafas kedua insan tersebut yang terdengar saut-sautan.


"Terima kasih..." ucap Arjun terdengar tulus.


"Untuk?"

__ADS_1


Akira bingung kenapa Arjun berterima kasih. Emang apa yang sudah ia perbuat? begitu pikir Akira.


"Terima kasih telah menjaga dirimu sebelum denganku..." jawab Arjun.


Memiliki Akira dalam hidup ini, Arjun merasa sangat bahagia. Jika di pikir-pikir, apa yang Arjun dapat sungguh tak sebanding dengan apa yang telah ia perbuat selama melajang. Entah sudah berapa banyak wanita yang telah tidur dengannya, Arjun saja tidak ingat.


Tapi tiba-tiba Arjun menikahi Akira yang benar-benar masih tersegel secara utuh, itulah yang membuat hatinya sedikit tersentil.


"Apa ini bentuk penyesalanmu?" sindir Akira.


Ck... sindirannya tepat sekali... batin Arjun.


"Apa kamu menyesal telah melakukannya dengan pria seperti ku?" bukannya menjawab, Arjun malah menjawab pertanyaan Akira dengan sebuah pertanyaan.


"Sedikit," jawab Akira.


Karena Aku tak pernah membayangkan akan menikah dengan pria yang bergonta-ganti pasangan seperti mu...


"Jawabanmu membuatku kecewa..." jawab Arjun. Walaupun Arjun tau kalau yang dilakukannya di masa muda adalah salah, tapi mendengar Akira berkata seperti itu benar-benar menyakiti hatinya.


"Tapi aku tak pernah menyesal memberikannya padamu..."


ucapan Akira seketika membuat Arjun mengangkat tubuhnya dan kali ini berbaring di samping Akira sambil lekat menatap wajah istrinya.


"Sungguh, aku tak pernah menyesal memberikannya pada mu..." ulang Akira menekankan ucapannya tadi.


"Kenapa?" entah kenapa pertanyaan bodoh itu malah keluar dari mulut Arjun.


"Karena aku merasa aneh saat bersamamu... aku tidak tau apakah ini cinta atau tidak, tapi yang jelas aku merasa nyaman..." jawab Akira.


Karena hanya dengan Arjun, jantung Akira berdetak tak karuan. Apalagi melihat wajah pria itu dari jarak dekat, benar-benar mampu membuat hatinya berdesir aneh.


"Ck... alasan apa-apaan itu? apa hanya karena nyaman kamu rela memberikan tubuhmu pada orang lain?" Arjun tak suka dengan alasan Akira tadi.


"Lah, kamu bilang begitu tadi..."


"Ya bukan berarti aku mau kepada semua orang yang membuatku nyaman... hanya kamu, karena kamu adalah suamiku..." ucap Akira menjelaskan.


Mereka kembali terdiam sambil melihat langit-langit kamar dan tenggelam dalam pemikirannya sendiri.


Hingga beberapa saat, Akira bersuara...


"Sayang,".


"Hm,"


"Apa aku tadi sangat buruk?" tanya Akira penasaran.


Tadi siang bukanlah yang pertama kalinya bagi Arjun, dan hal itu membuat Akira sedikit merasa aneh. Apakah Arjun kecewa terhadapnya? hanya itu pernyataan yang ada dalam kepala Akira.


"Apanya?" goda Arjun.


"Ya itu..." jawab Akira entah kenapa ia tiba-tiba merasa geli untuk memperjelas ucapannya.


"Hahaha... apanya sih?" Arjun merasa senang menggoda istrinya.


Apalagi sekarang wakah Akira benar-benar terlihat malu.


"Ihhh..." Akira mencubit perut Arjun.


Ia sangat tau kalau Arjun memang sengaja mengerjainya dengan bertanya seperti itu.


"Emm...," Arjun memeluk tubuh istrinya, "Tidak ada yang hebat di moment pertama...", jawab pria itu dengan yakin.

__ADS_1


"Bagaimanapun kamu kemarin, aku tetap suka..." tambah Arjun kembali membayangkan kejadian tadi siang.


Walaupun tempatnya salah, tapi tetap saja Arjun menikmati hal itu.


"Ayo ulangi lagi, pasti lebih mengasyikkan..." bujuk Arjun penuh semangat.


"Noo!" tentu saja Akira menolak dengan tegas. Pusat tubuhnya asaja masih sakit sampai sekarang dan ia tak mau mengulanginya lagi.


---


Lampu di kediaman Pradipta telah sepenuhnya padam karena jam benar-benar telah menunjuk ke angka 11 malam. Tapi lampu di salah satu kamar yang terdapat di lantai dua masih menyala.


"Sayang..." panggil Akira yang terbalut dalam selimut.


"Hm," jawab Arjun yang duduk di sampingnya sambil fokus pada laptop di depannya.


Walaupun sudah malam, Arjun masih sibuk mengecek pekerjaannya.


"Aku ingin kuliah sampai selesai," pinta Akira.


Karena ia telah menyerahkan tubuhnya pada Arjun, tentu saja akan banyak hari-hari yang akan mereka habisakn seperti itu.


"Lalu?" tanya Arjun tak begitu paham dengan kemana arah pembicaraan Akira.


"Aku belum ingin memiliki anak untuk saat-saat seperti ini..." tambah Akira. Akan sangat menyulitkan diri sendiri jika Akira hamil dalam keadaan masih kuliah.


Apalagi umurnya juga belum 20 tahun dimana katanya sangat beresiko hamil di usia yang begitu muda dimana psikologi masih rentan dan belum siap.


Arjun yang tadinya tidak terlalu mendengarkan apa yang istrinya katakan langsung berhenti bergerak dan melihat istrinya dengan tatapan sulit di artikan.


"Sayang... bagaimana kalau kita menundanya dulu... emm, setidaknya sampai aku lulus kuliah?" tanya Akira dengan nada bergetar.


"Apa kamu tidak mau punya anak dariku?" tanya Arjun tanpa berekspresi sama sekali.


"Bukan begitu, sungguh bukan itu maksudku..." tolak Akira ikut duduk dan memegang tangan Arjun untuk meyakinkan kalau bukan itu maksud perkataannya tadi.


"Maksudku, aku ingin lulus kuliah dulu..." tambahnya.


Apa lagi ini? kenapa meminta hal yang seperti itu?


"Apa kamu masih ragu terhadap perasaanku? apa aku pernah memaksamu untuk melakukan hal itu? tidak kan..."


Arjun benar-benar sedikit kecewa dengan perkataan Akira yang ingin menunda memiliki anak.


"Tidak, aku tidak meragukanmu..." sesal Akira.


"Lalu kenapa? jangan beralasan karena kamu ingin sampai lulus kuliah... itu bukan alasan Akira..." jawab Arjun. Entah kenapa Arjun meragukan alasan Akira.


"Aku belum siap..." jawab Akira. Ia belum siap untuk mempunyai anak untuk saat ini.


"Aku tidak yakin apakah ini bisa membuat Mami ataupun Ibu Arum kecewa karena kamu ingin menundanya,"


"Jangan beritahu mereka kalau kita menundanya... setidaknya sampai aku lulus... aku mohon sayang..." bahkan Akira sampai mengatupkan kedua tangan.


"Baiklah..." jawab Arjun walaupun dalam hatinya ia tidak benar-benar ingin melakukan ini.


Bagaimanapun seorang anak bisa membuat hubungan Arjun dan Akira semakin erat.


"Terima kasih," ucap Akira dan menghambur memeluk tubuh suaminya.


***


Seperti nya keputusan Akira untuk menunda anak adalah salah deh...

__ADS_1


__ADS_2