
HAPPY READING...
***
Tiara duduk bersebelahan dengan Akira. Menatap riak air dalam danau kecil yang ada di lingkungan kampus.
Kelas mereka telah usai beberapa saat yang lalu dan sekarang disinilah mereka berada.
Saling bercerita tentang semua hal sebelum kembali pulang ke rumah.
Tiara sudah memberitahu kekasihnya kalau hari ini ia akan pulang bersama dengan Akira. Jadi pacar Tiara tak perlu menjemput gadis itu.
Begitu juga dengan Akira, ia telah menelepon Arjun dan bilang kalau dirinya akan pulang menggunakan taxi saja.
Karena hanya itu cara agar keduanya bisa berbicara lebih lama sama seperti dulu ketika saat SMA.
Terkadang masa-masa SMA lah yang sangat mengasyikkan dan ingin di rasakan kembali.
"Kapan kita terakhir kali ngobrol seperti ini?" tanya Tiara kembali mengingat bagaimana dulu ia selalu menghabiskan waktu dengan sahabatnya. Bahkan bukan hanya itu, apapun barang yang Akira beli hampir semuanya kembaran dengan Tiara baik itu tas sekolah, sepatu maupun pakaian.
se mengasyikkan itu persahabatan mereka.
"Entah, aku juga lupa..." jawab Akira. Sekarang ia sudah menjadi wanita yang bersuami apalagi dengan hidup di rumah Pradipta, apapun yang Akira lakukan memang terlihat di batasi walaupun mertuanya sama sekali tidak melarang tapi Akira cukup tau diri.
Akira juga jarang sekali keluar rumah sendirian. Apalagi sekarang ada Arjun yang selalu mampu membuat Akira nyaman berada di dalam rumah.
"Eh, kamu sadar tidak sih kalau ada yang berbeda dengan tubuhmu?" tanya Tiara. Sejak tadi ia memang mengamati sahabatnya. Tubuh Akira terlihat berbeda dari yang dulu.
Tubuh gadis itu terlihat sedikit berisi dengan dada yang bertambah besar.
"Apanya?" protes Akira sambil mengamati tubuhnya. Walaupun Akira tidak dapat mengelak tubuhnya berubah karena berat badannya juga bertambah hampir 5 kg sekarang.
Kenaikan berat badan Akira juga diikuti dengan ukuran bra Akira yang ikut berubah.
Kadang Akira merasa sesak nafas sebelum mengganti ukuran branya menjadi yang sekarang. Jangan tanya kenapa? tentu saja semua itu karena ulah tangan nakal suaminya yang membuatnya mengembang bakal donat.
"Lo sedang hamil ya Ra?" tuduh Tiara. Karena mungkin saja sahabatnya itu tengah mengandung.
"Eh, ya tidak lah... mana ada hamil, gue selalu meminum pil penunda kehamilan- ups," Akira langsung menutup mulutnya karena terkejut dengan ucapannya sendiri.
"Apa? pil penunda kehamilan?" tanya Tiara dengan nada tak percaya.
Agghh.. kenapa pendengarannya tajam sekali sih... batin Akira.
"Lo minum pil itu karena perintah Arjun?" Tiara curiga kalau Akira melakukannya karena Arjun yang meminta hal tersebut.
"Tidak, aku yang menginginkannya..." jawab Akira. Karena dia sendiri yang tidak menginginkan seorang anak di saat-saat seperti ini. Setidaknya Akira akan fokus pada kuliahnya lebih dulu sebelum memikirkan anak.
"Apa?" tanya Tiara terkejut.
Apa itu wajar? kenapa Akira memutuskan hal itu tanpa meminta pertimbangan dari siapapun termasuk dengan Tiara.
Apalagi kenapa Arjun menyetujui hal itu.
Apa pria itu tidak menanyakan alasannya kepada Akira? begitu pertanyaan yang ada di dalam kepala Tiara saat ini.
"Kenapa kamu terkejut seperti itu sih... ini bukan hal yang besar..." ucap Akira menjelaskan pada Tiara. Tidak ada yang perlu di khawatirkan atas apa yang di perbuat Akira saat ini. Toh ini semua juga demi kebahagiaan Akira dan juga sebagai bentuk penyiapan mentalnya sebelum benar-benar memiliki seorang anak.
"Apa orang tua Lo tau?"
Akira kembali heran dengan pertanyaan Tiara.
"Tidak..." jawab Akira sambil menatap lekat sahabatnya.
Tiara menggelengkan kepalanya. Ini benar-benar sebuah bencana jika sampai terdengar di telinga orang tua Arjun dan Akira.
Setelah pernikahan pura-pura, sekarang ganti lagi tentang pil pencegah kehamilan. Sungguh Tiara kebingungan dengan jalan pikiran Akira dan Arjun.
"Oh iya, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Akira. Karena yang ia tau, Tiara ingin mengatakan sesuatu lewat telepon semalam.
Dan di sinilah tempat janjian mereka.
"Gue merasa sedikit curiga..." ucap Tiara mengingat dan merangkai bagaimana memberitahukan kecemasannya pada Akira.
"Tentang?"
"Itu... -"
__ADS_1
Belum sempat meneruskan ucapannya, seseorang dari belakang mereka terdengar menyapa,
"Hai" hingga membuat Akira dan Tiara sama-sama menengok ke belakang untuk melihat siapa orang tersebut.
"De-an?" ucap Akira dan Tiara bersamaan.
Bukan hanya Akira yang terkejut dengan kedatangan pria itu, tapi juga Tiara. Padahal yang ia ingin katakan pada Akira tadi adalah soal pria itu. Tapi tanpa di duga sama sekali, Dean malah berada di sana.
Kenapa samaan gini sih? batin Tiara.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Dean ramah kepada dua gadis yang sedang duduk di hadapannya.
2 gadis yang dulu pernah begitu akrab di masa lalu.
Tanpa meminta persetujuan dari Tiara maupun Akira, Dean langsung duduk di samping mereka dan bertingkah seolah semuanya baik-baik saja.
Hanya Akira yang terlihat sangat canggung. Apalagi ini adalah pertama kalinya Ia duduk berdekatan dengan Dean setelah sekian lama tak saling menyapa.
"Bagaimana kabarmu Ra?" tanya Dean pada Akira.
Sejenak Akira hanya menatap pria itu lama, melihat pria yang dulu pernah mengisi hatinya. Pria pertama yang mengenalkan Akira tentang sebuah perasaan cinta.
Dean adalah cinta pertamanya, itulah fakta yang ada.
"Ba-ik," jawab Akira kacau.
Tidak dapat di pungkiri kalau kehadiran Dean saat ini membuat hati Akira merasa aneh.
Dia masih sama...
Walaupun sudah hampir 8 bulan, Dean masih terlihat seperti Dean yang dulu.
Dean yang terlihat teduh ketika menatap Akira.
"Bagaimana ujian mu?" Yang Dean maksud adalah ujian menyuntik yang sedang Akira jalani.
"Berjalan lancar, walaupun belum tau hasilnya...".
Hasil dari ujian itu akan di umumkan besok pagi. Jadi Akira belum bisa berspekulasi apakah ujiannya bisa di anggap lancar atau ia harus mengulang kembali.
Entah kenapa rasanya menjadi aneh setelah semua yang terjadi antara Akira dan Dean di masa lalu.
Walaupun sejak dulu Tiara tidak mendukung hubungan Akira dan Dean, tapi sekarang ia tambah tak suka.
Bagaimanapun Akira telah memiliki suami dan harus bisa menjaga jarak dengan semua pria termasuk dengan Dean.
"Agghh..." Tiara menghela nafasnya kesal.
Dan hal itu juga di amati oleh Dean dan tentu saja Akira.
"Tiara, apa kamu tidak suka dengan kedatanganku?" sindir Dean.
"Eh, kenapa?" tanya Tiara seolah tidak melakukan apapun padahal dalam hatinya ia memang tak ingin ada Dean disini.
"Aku tidak berkata apapun," elaknya.
"Kamu pulang sama siapa?" tanya Dean beralih pada Akira.
"Emm..,"
"Dia pulang bersamaku," sela Tiara. Memang apa yang kamu inginkan? aku tidak akan membiarkanmu mendekati Akira lagi.
"Kali aja Akira mau pulang bersamaku... heheh" gurau Dean. Sedangkan Akira hanya tersenyum tanpa berkata apapun.
Nyatanya ia tak lagi terpengaruh dengan ada tidaknya Dean dalam hidupnya. Bisa di katakan pria itu tak lagi punya tempat di hatinya. Jika Dean berperilaku baik terhadapnya, itu hanya sebuah perasaan antar teman saja.
"Terima kasih tawarannya..." tolak Akira.
Dean bangkit dari duduknya, menepuk pelan bahu Akira hingga membuat gadis itu terjingkat karena kaget, "Sorry..." sesal Dean tapi terlihat hanya basa-basi.
Setelah itu, pria itu segera pergi meninggalkan Akira dan Tiara dengan pikirannya masing-masing.
"Lo merasa aneh tidak sih?" tanya Tiara kepada sahabatnya.
"Hm," Akira apun merasa sama. Dean yang tiba-tiba kembali mengakrabkan diri dengan Akira dan Tiara memang terlihat cukup aneh.
Apalagi dulu Dean terlihat menghindar bahkan tak mau menyapa Akira sama sekali. Dan hal itu berlangsung hingga beberapa bulan.
__ADS_1
"Ra, Lo tidak akan kembali dengan Dean bukan?" selidik Tiara.
Akan sangat berbahaya jika Akira sampai melakukan hal bodoh untuk yang kedua kalinya.
Memang Arjun dulu tidak terpengaruh dengan Akira yang menjalin hubungan dengan pria lain. Karena pada saat itu Arjun belum menyadari perasaannya, tapi sekarang? apa hal itu akan sama lagi? mungkin saja tidak.
Apalagi Ego seorang pria lebih besar. Bisa aja Arjun marah bahkan sampai melakukan hal nekad lainnya.
"Jangan bodoh deh... memang kenapa Aku harus kembali pada Dean?" jawab Akira. Tidak ada alasan untuk ia kembali bersama dengan Dean.
Apa yang di berikan Arjun kepadanya tak dapat di ukur dengan apapun. Cara Arjun mencintainya, melindunginya bahkan rela berkorban untuk Akira benar-benar membuat Akira sadar bahwa Arjun memang lah pria yang Tuhan ciptakan untuknya.
Jadi tidak ada alasan lain untuk Akira berpaling pada suaminya.
"Entah kenapa aku mempunyai firasat buruk tentang ini..." keluh Tiara.
"Jangan khawatir, tidak akan terjadi apapun..." jawab Akira.
***
Malam Hari.
Dean terlihat berdiri di samping sepeda motor nya sambil menatap ke arah jalanan menunggu kedatangan seseorang.
Jalanan kali ini terlihat lebih ramai oleh kendaraan lalu lalang karena cuaca benar-benar sedang tidak bersahabat. Angin malam terasa dingin menusuk tulang padahal saat ini Dean memakai jaket yang cukup tebal.
Langit terlihat mendung dengan awan putih yang menggantung seolah siap menjatuhkan butiran-butiran air hujan.
Hingga tak berapa lama, sebuah mobil berwarna merah terlihat menepi dan berhenti tepat di depan motor Dean. Menyisakan lampu mobil yang masih menyala menjadi satu-satunya penerangan di area tersebut.
"Sudah lama menunggu?" tanya wanita yang baru saja turun dari mobil dan mendekati Dean.
Dari gayanya saja sudah terlihat kalau wanita itu sangat anggun dan juga menarik.
"Lumayan," jawab Dean singkat dan kembali mengantongi ponsel yang tadinya jadi teman satu-satunya mengusir kejenuhan.
"Nih," sang wanita menyodorkan paperbag kecil berisi sesuatu.
Dean hanya menerimanya tanpa melihat isinya. Toh ia sudah tau apa yang ada di dalam sana.
"Kapan Lo akan memulainya?" terlihat sekali kalau wanita itu tak sabar dengan semuanya.
"Kenapa?" tanya Dean.
"Apa lo akan melakukannya sendiri?" selidiknya. Dean tidak se gegabah itu untuk melakukan sesuatu.
"Jangan terlalu lama, gue juga punya batas kesabaran...",
"Ck,..." Dean hanya berdecak kesal. Wanita di depannya sudah seperti seorang bos saja yang menyuruh seenaknya sendiri.
"Kita punya tujuan yang sama bukan? jadi jangan memerintah ku!" sela Dean.
"Brengsek juga Lo ternyata!" umpat si wanita kepada Dean.
Padahal usia Dean lumayan jauh di bawahnya tapi pria itu benar-benar tidak tau sopan santun sedikitpun.
Dean kembali mengamati benda di dalam Paper bag. "Lo yakin ini miliknya?" tanya Dean. Bisa saja kan wanita itu salah mengambil benda tersebut.
"Maksud lo itu milik orang lain? gila aja..." jawab wanita itu sewot dengan perkataan Dean yang terlihat merendahkannya.
"Hahah... ya kali aja," gurau Dean.
"Gue juga pilih-pilih orang kali... apalagi yang modelnya kayak Lo!"
Dean hanya tertawa. Toh ia juga tidak terganggu dengan ucapan wanita di depannya.
"Baiklah, gue duluan..." pamit Dean. Apalagi langit mulai menjatuhkan butiran air.
"Oke,"
***
Mon Maaf, Aku tuh gak terlalu jago memvisualisasikan tokoh di sebuah cerita... dan kalaupun Aku paksakan takut gak cocok sama imajinasi kalian... jadi emang sengaja gak ada Visualnya...
Terserah kalian deh mau membayangkan Arjun kek gimana, Akira, Tiara, Dean dll...
Maafkan diriku ya...
__ADS_1