Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
176. Menjaga Jarak.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Seperti hari-hari biasa, Tiara berjalan menuju ke kelasnya. Dengan langkah santai, gadis itu menyusuri koridor Universitas. Juga sengaja melewati Fakultas Keperawatan dimana Akira menimba ilmu.


Dulu mereka sering berpisah di tempat ini, saat dimana Akira harus mengikuti kelas paginya.


Tapi suasana seperti tak lagi bisa Tiara rasakan.


Akira mengharuskan cuti untuk beberapa bulan karena kehamilannya yang sudah besar.


Dan hal itu membuat Tiara kesepian.


"Haahhh..." hanya helaan nafas yang terdengar dari mulut gadis itu. Melangkah pergi meninggalkan Fakultas Keperawatan dan menuju ke kelasnya.


Baru beberapa langkah, Tiara tak sengaja menangkap seorang pria yang malah mendekatinya.


"Hai..." sapa pria itu.


Tiara sejenak membeku. Orang yang entah sembunyi dimana, atau mungkin sengaja menghindari dirinya tiba-tiba berdiri menyapa Tiara lebih dulu.


Dia adalah Dean.


Dean? kenapa dia menemuiku?


"Kenapa terkejut seperti itu? kayak melihat hantu saja... hehehe...".


Pria itu masih tertawa renyah seperti dulu.


Walaupun sudah 2 kali bermasalah dengan Arjun, nyatanya Dean masih berani menemui Tiara.


Sedikit canggung memang karena apa yang di lakukan Dean terakhir kali benar-benar keterlaluan.


Pria itu dengan terang-terangan ingin merebut Akira dari sisi Arjun.


Hal itulah yang membuat Tiara sedikit benci dengan Dean. Walaupun pada dasarnya mereka pernah akrab.


"Lama sekali tidak bertemu..." ucap Dean. Masih tak membuat Tiara berkata-kata.


Mencerna semua perkataan Dean dalam-dalam.


Dulu sebelum pria itu berencana untuk menghancurkan hubungan Arjun dan Akira, Tiara juga di datangi dengan cara seperti ini.


Mencoba memperbaiki hubungan mereka agar kembali akrab. Tapi ujung-ujungnya, Dean mempergunakan Tiara untuk bisa dekat kembali dengan Akira.


"Iya..." jawab Tiara.


Kalau gue lebih lama disini, dia akan punya kesempatan untuk merencanakan sesuatu lagi kan?


"Sorry Yan... gue ada kelas pagi," Tiara berniat untuk menghindari pria itu.


Walaupun pada kenyataanya kelas paginya di mulai 30 menit lagi.


"Sorry..." ucap Dean tanpa terduga sama sekali. Membuat Tiara yang sudah berjalan membelakanginya kembali terdiam. Menunggu kalimat selanjutnya yang mungkin saja Dean katakan lagi.


Tapi hingga beberapa menit, Tiara tidak mendengar apapun. Hingga yang dilakukannya adalah meneruskan langkah kakinya meninggalkan Dean.


Dalam perjalanan menuju kelasnya, Tiara masih mencerna permintaan maaf dari Dean tadi. Apa maksudnya ya? batinnya.


Tiara menggelengkan kepalanya. Membuat dirinya yakin kalau tidak akan terjadi apa-apa pada Akira ataupun siapapun.


Tidak... Akira akan baik-baik saja... hubungannya dengan Arjun sangat baik... Dean tidak bisa mengganggu mereka...


Belum selesai memikirkan Dean saat Tiara masuk ke dalam kelasnya, gadis itu kembali terkejut dengan tatapan teman-temannya.


Bukan tatapan yang biasa ia lihat setiap harinya. Tapi tatapan yang menyedihkan, tertekan pokoknya sangat aneh.


Seperti melihat Tiara sebagai malaikat pencabut nyawa saja.


Mungkin inilah yang di katakan hari teraneh dalam hidup Tiara.

__ADS_1


"Hei, kalian kenapa?" tanya Tiara mencairkan suasana yang malah terlihat canggung dan horor.


"Tidak," jawab teman Tiara dan juga gadis yang semalam mengajaknya pergi ke Klub malam.


Bahkan gadis itu sengaja berpindah tempat duduk yang tadinya berada di samping Tiara.


Ancaman dari pria yang tadi malam masih teringat jelas dalam kepalanya.


"Gue akan ingat-ingat wajah kalian... kalau sampai mengganggu Tiara lagi, gue pastikan... hanya ada nama kalian di masa depan!"


Gleekk.... bahkan mengingatnya saja sudah membuat dirinya takut.


Takut walaupun hanya sekedar menyapa Tiara.


Hingga cara terbaik adalah menjaga jarak dari Tiara daripada harus membahayakan nyawa.


Apa sih? kenapa mereka bertingkah seperti itu? batin Tiara yang memang tidak tau apa yang telah terjadi semalam.


Hingga beberapa menit telah berlalu. Derap langkah kaki seseorang terdengar masuk ke dalam kelas tersebut.


Dia adalah gadis yang tadi malam berulang tahun.


Senyum yang sepanjang jalan terukir jelas, hilang saat memasuki kelas. Tak ada hal lain yang membuatnya berubah secepat itu selain karena Tiara.


Ya... hanya Tiara yang membuat gadis itu takut.


Dengan langkah gemetar, gadis itu mulai mendekati bangkunya. Duduk tanpa berani berkontak mata dengan Tiara.


Kenapa mereka berbeda sih? apa karena bersalah telah mengajakku semalam? batin Tiara bertambah risau.


Hingga setelah berpikir panjang, akhirnya Tiara berinisiatif untuk bertanya lebih dulu.


"Hei... kalian kenapa sih?".


Menoleh ke arah belakang bertanya pada kedua temannya.


"Em... Tiara, maafin gue ya..." ucap salah satu gadis itu.


"Sungguh Ra... gue benar-benar menyesal...".


Tapi Tiara tidak seegois itu.


Gue lebih tepatnya takut sama kekasih Lo... batin salah satu teman Tiara.


 ---


Sore hari, Tiara telah merapikan buku dan menaruhnya di tas bersiap untuk meninggalkan kelasnya.


Kepalanya benar-benar masih terasa sakit. Entah karena efek minuman semalam atau gara-gara mata kuliah yang amat sulit.


Sambil menyentuh keningnya, Tiara keluar dari kelas. Tapi kembali lagi ada hal yang mengejutkannya.


"Lo!" ucapnya dengan nada tinggi.


Tidak ada angin tidak ada hujan, Tiba-tiba ada Galih yang berdiri di salah satu tiang penyangga gedung sambil melambaikan tangan ke arah Tiara.


"Apa yang lo lakuin disini?" bisik Tiara kepada Galih dan sedikit menarik tangan pria itu menjauhi kelasnya.


"Menjemputmu..." jawab Galih singkat, tapi pandangan matanya bukan tertuju pada Tiara. Melainkan pada pintu kelas gadis itu.


Dia mencari siapa? batin Tiara.


Hingga rasa penasaran Tiara terbayar sudah saat kedua temannya keluar dari kelas. Galih menatap kedua teman Tiara seperti menatap seekor mangsa. Menakutkan dan ngeri juga melihat tatapan pria itu.


Aagghh... jadi mereka takut pada Galih? ucap Tiara dalam hati.


Pantas saja kedua temannya sejak pagi tak berani mengajaknya ngobrol.


Kedua teman Tiara itu langsung berlari meninggalkan mereka. Lebih tepatnya menyelamatkan nyawa mereka dari bahaya.


"Kenapa lo menakuti mereka?" tanya Tiara bahkan memukul bahu Galih tanpa ragu.

__ADS_1


Membuat Galih langsung mengalihkan pandangannya menatap ke bahu yang tadi di pukul Tiara.


Otomatis Tiara merasa bersalah, "Sorry..." sesalnya sambil mengelus bahu itu.


"Ayo ikut gue..." perintah Galih.


Dan keduanya langsung berjalan meninggalkan Universitas menuju ke satu tempat yang Tiara tidak tau karena ia tak berani bertanya pada Galih.


Bahkan sepanjang perjalanan hanya terdengar deru kendaraan dan juga nafas mereka.


Hingga jalanan di depan sana sangat familiar bagi Tiara.


Dimana lagi kalau bukan arah menuju ke rumahnya. Membuat Tiara otomatis mengubah posisi duduknya demi untuk melihat Galih.


"Tidak usah terkejut seperti itu..." ucap Galih tau apa yang membuat Tiara bertingkah aneh.


"Kenapa? gue kan tidak salah apa-apa..." ucap Tiara. Dalam pikirannya Galih akan memulangkan gadis itu ke rumahnya lagi.


Padahal Tiara belum genap bekerja di rumah Galih selama sebulan.


Dan tentu saja tidak akan mendapat gaji bukan?


Tiara sangat membutuhkan uang saat ini. Dan jika ia kehilangan pekerjaannya, ia tak bisa melanjutkan kuliahnya yang masih setengah jalan.


"Diam!" perintah Galih. Tapi sama sekali tidak membuat Tiara menurut. Gadis itu masih berbicara itu dan itu mengutarakan isi hatinya dan juga hak-haknya dalam menjadi pembantu.


Hingga tiba di depan rumah Tiara, mereka sama-sama turun.


Di depan sana juga sudah ada seorang laki-laki dan perempuan yang menunggu di depan pagar.


Siapa mereka? batin Tiara tambah kebingungan. Ia sama sekali tidak mengenal orang tersebut. Tapi mereka tersenyum ramah pada Tiara.


Tiara yakin kalau mereka adalah sepasang suami-istri istri.


"Selamat sore..." sapa mereka. Tiara menjawab ramah sapaan sepasang suami sama ram hanya sedangkan Galih, apa yang di lakukan pria itu selain mengangguk tanpa tersenyum sama sekali.


Biasalah... mungkin Galih mengira kalau senyumnya adalah emas. Jadi tidak semua orang bisa menikmati senyumnya dengan cuma-cuma.


"Dengan Tiara?",


"Iya, saya sendiri..." jawab Tiara. Walaupun sempat melihat ke arah Galih tapi pria itu tetap tak bergeming.


"Begini... saya dan suami saya membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Dan sesuai dengan kepala Rt kompleks sini, rumah anda di sewakan... jadi saya berniat untuk menyewanya untuk beberapa tahun..." ucap pasangan itu tanpa basa-basi.


"Ha?" tentu saja Tiara terkejut. Memang apa yang dia lakukan hingga ada penyewa yang ingin menyewa rumahnya.


Tiara juga tidak memberikan nomor apapun pada ketua RT setempat.


Dan pertanyaan Tiara tertuju pada pria di sebelahnya.


Jadi yang Tiara lakukan adalah menatap Galih mencari jawaban atas semua yang telah terjadi.


"Iya... silahkan... mau berapa tahun itu terserah anda..." jawab Galih dan seketika membuat Tiara syok.


What? apa dia bilang?


Dan tanpa membuang-buang waktu, penyewa itu mulai menandatangi berkas untuk bisa segera tinggal di rumah tersebut. Juga membayar biaya di muka.


---


"Gue sudah memindahkan semua barang-barang Lo dan Ibu Lo di suatu tempat..." ucap Galih pada akhirnya. Sedangkan Tiara yang masih bingung hanya bisa terdiam mencerna semua yang terjadi seharian ini.


"Lo tidak mau? katanya butuh uang uang untuk membayar semesteran... lalu kenapa masih oon?" tanya Galih.


"Gimana gak oon coba... Lo tiba-tiba menyewakan rumah gue tanpa bicara dengan gue dulu... memindahkan semua barang peninggalan Ibu di tempat lain. Gimana gue gak bingung coba?".


"Ya... mau bagaimana lagi, lo kan nyaman tinggal sama gue... jadi lebih baik rumah lo di sewakan bukan? biar dapat penghasilan...".


Apa dia bilang? batin Tiara.


***

__ADS_1


Hahaha... licik sekali nih Galih...


Selangkah demi selangkah...


__ADS_2