Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
84. Sella dimana?


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Akira keluar dari kelasnya sambil mengerucutkan bibir. Berjalan gontai seperti orang yang kehilangan kewarasannya. Bahkan bukan hanya dirinya yang terlihat menyedihkan seperti sekarang. Partner prakteknya bahkan terlihat kacau sambil sesekali melihat sikunya yang terbalut plester.


Akira benar-benar merasa bersalah, terlihat dari tatapannya kepada gadis di depan sana.


Agghh... aku benar-benar ingin mengutuk diriku sendiri...


Biasanya di saat-saat seperti ini, ada Tiara yang selalu menghibur Akira. Tapi hari ini, sahabatnya itu ada keperluan mendadak yang mengharuskan Tiara untuk aksen dari kuliahnya.


Akira juga tidak tau apa yang terjadi pada sahabatnya karena Tiara hanya bilang kalau ada sesuatu yang penting.


Akira keluar dari kampus seorang diri. Tak jauh darinya, mobil Arjun sudah terlihat tapi yang membuat Akira heran adalah tidak ada Arjun sama sekali. Hanya terlihat Galih yang sedang berdiri bersandar body mobil sambil berkutat dengan ponselnya.


Derap langkah kaki Akira seketika terdengar dari telinga Galih dan langsung membuat pria itu refleks mengantongi ponselnya.


"Dimana Arjun?" tanya Akira.


Akira sudah bisa berkomunikasi santai dengan teman-teman Arjun. Walaupun ia tidak terlalu bersikap akrab karena permintaan Arjun sendiri.


"Arjun sedang ada pertemuan," lapor Galih.


Pintu mobil terbuka dan Akira langsung mendudukkan tubuhnya di sana.


Selama perjalanan, tidak ada komunikasi sama sekali. Jangankan untuk sekedar basa-basi, Akira tidak berniat untuk melakukan itu karena mood nya sedang tidak baik.


Hingga perjalanan yang biasanya memakan waktu yang cukup lama terasa begitu cepat,


"Sudah sampai..." ucap Galih memberitahu. Tapi karena Akira sibuk melamun dari tadi, Akira sama sekali tidak mendengar perkataan dari Galih.


"Nona Akira...",


"Eh iya..." Akira terperanjat kaget. Merapikan rambutnya dan segera turun.


Hal itu tentu saja membuat Galih tersenyum, Istri Arjun benar-benar beda dengan gadis lain... tapi ajaibnya, karena gadis itulah Arjun tergila-gila...


Dengan di temani Galih, Akira berjalan masuk ke dalam gedung pencakar langit bernama Pradipta group.


Saat kakinya melangkah masuk, semua mata tertuju padanya. Di detik selanjutnya kepala mereka serentak menunduk memberi hormat. Terlalu berlebihan memang, tapi itulah yang terjadi. Akira tidak bisa mengubah hal itu.


"Tunggu saja di ruangannya..." ucap Galih sebelum masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan.


"Hm," hanya itu yang bisa Akira katakan.


Akira benar-benar menuju ke ruangan Arjun. Tapi baru sampai di pintu, ia kembali merasa heran. Bukan! lebih tepatnya bertanya-tanya.


Dimana wanita yang waktu itu? hanya itu pertanyaan yang ingin Akira tanyakan pada Galih.


Wanita yang Akira maksud adalah Sella, sekertaris Arjun yang berpenampilan seksi ketika Akira pertama kali datang ke tempat ini.


"Dia di pindah ke kantor cabang Nona," ucap Galih seperti sebuah jawaban atas pertanyaan Akira.


"Apa?-" Akira terkejut sendiri dengan suaranya, "Maaf..." ucap Akira sambil mengamati keadaan sekitarnya. Tentu saja dengan tersenyum canggung karena staf di sana langsung melihat Akira dengan ekspresi aneh.


Kenapa? kenapa dia di pindah? sejak kapan?


"Silahkan masuk Nona," Galih langsung membukakan pintu ruangan Arjun tanpa berniat sedikitpun untuk menjawab pertanyaan Akira.


Tentu saja Akira tau diri untuk tidak bertanya lebih jauh tentang Sella. Akira masuk ke ruangan Arjun diikuti oleh Galih. "Kamu sudah makan siang?" tanya Galih. Pertanyaan itu tentu saja sesuai dengan instruksi dari Arjun tadi.


"Belum," jawab Akira jujur. Akira belum sempat makan siang karena terlalu khawatir tentang praktek uji coba siang tadi.


"Baiklah, aku ambilkan..." Galih segera undur diri setelah mengatakan hal itu.


Sekarang tinggal Akira seorang diri yang berada di ruangan Arjun. Karena tidak ada yang bisa ia lakukan, Akira penasaran dengan kursi yang digunakan untuk Arjun selama ini.


Dengan langkah yakin, Akira mendekati kursi itu. Menyentuhnya perlahan sebelum akhirnya mendudukkan tubuhnya disana.

__ADS_1


Hehehe... ternyata begini rasa kursi pemimpin... jika bukan milik suaminya, mana berani Akira melakukan hal ini.


Dan gadis itu mulai bertingkah lebih. Dengan tidak tau malunya Akira menaikkan kakinya di atas meja, "Hehehe..." tertawa sendiri karena ulahnya.


Hingga beberapa menit berlalu, Galih tiba dengan membawa nampan berisi menu makan siang untuk gadis itu.


Tentu saja Akira langsung bangkit dari duduknya karena merasa tak enak dan terus mengamati pergerakan Galih yang kini berada di sofa.


"Jam berapa Arjun selesai?" tanya Akira sekedar berbasa-basi.


Galih langsung melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "Em... sekitar 15-20 menit lagi...".


"Oh,"


"Silahkan di makan, Aku akan kembali ke ruang rapat..." ucap Galih undur diri.


"Oke," jawab Akira dan langsung duduk mengamati makan siangnya.


Wow... sepertinya enak...


Menu yang di bawa Galih adalah nasi dengan lauk sapi lada hitam.


Apa ini makanan di kantin Perusahaan? kenapa terlihat mewah? batin Akira bertanya-tanya.


Tidak mungkin bukan kalau Galih memesan dari restoran? karena waktu yang di butuhkan tentu saja lama.


Sedangkan tadi, Galih hanya pergi beberapa menit saja.


Akira benar-benar menikmati makan siangnya yang telah tertunda.


Suapan demi suapan benar-benar di nikmatin sambil sesekali menggoyangkan tubuhnya karena terlalu keenakan.


Aku ingin sering-sering datang ke sini... hehehe.


Tidak tau diri memang gadis itu.


15 menit kemudian, saat Akira tengah menengguk air mineral tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka. Menampakkan 2 pria berjas hitam. Mereka adalah Arjun dan juga Galih.


Berjalan ke arah Akira dan duduk tepat bersebelahan. Arjun mengamati bekas makan siang istrinya yang benar-benar habis.


Apa dia menikmati makan siangnya?


"Apa ini makanan dari kantin?" tanya Akira penasaran.


"Hm, kenapa?"


"Enak... kayak masakan restoran..." jawab Akira penuh semangat.


Hal itu tentu saja membuat Arjun dan Galih langsung tersenyum. "Karena kokinya bukan koki sembarangan..." ucap Arjun sebagai jawaban final.


Sekarang, Arjun menatap Galih. Dengan sorot matanya, Arjun meminta pria itu segera pergi dari ruangannya.


Ck... tidak tua diri memang... umpat Arjun.


"Gue pergi..." ucap Galih.


Sedangkan Arjun hanya mengangguk.


Sekarang tinggal Arjun dan Akira berduaan di dalam ruangan tersebut.


"Sayang..." panggil Akira.


"Hm," jawab Arjun.


"Kenapa aku tidak melihat sekertaris mu?" pancing Akira. Ia tidak tau apa alasan Arjun melakukan hal itu terhadap Sella.


"Karena kamu tidak menyukainya..." jawab Arjun enteng.


"Eh, mana ada aku bilang begitu?" protes Akira.

__ADS_1


Aku tidak pernah bilang kalau tidak menyukainya bukan? aku hanya sedikit terganggu dengan cara berpakaiannya...


"Dulu, kamu bilang tidak suka dengan cara berpakaian Sella"


"Iya sih, tapi bukan berarti aku tidak menyukainya bukan?" masih saja Akira tidak mau di salahkan.


"Aku hanya tidak ingin kamu marah lagi...".


"Tidak... aku tidak marah," tolak Akira. Mana ada dia marah karena sekertaris Arjun.


Toh jika Arjun berkeinginan selingkuh, bisa di lakukan nya setiap waktu bukan?


"Jadi, posisi sekertaris mu kosong?" tanya Akira.


"Kenapa? kamu ingin menjadi sekertaris ku?" goda Arjun. Sepertinya akan mengasyikkan kalau Akira menjadi sekertaris dari suaminya sendiri. Mereka akan punya waktu lebih bukan hanya di rumah saja.


"Apa boleh?" Akira penuh harap.


"Tidak!"


Ck... kenapa menawariku tadi. ..


"Kenapa harus bersusah payah menjadi sekertaris ku? jika di rumah saja sudah bisa menikmati kekayaan suamimu... apalagi kalau kamu sampai mau aku tiduri..." ucap Arjun terdengar sombong. Tapi memang betul kan?


Arjun menarik tangan istrinya, "Mau kemana?" tentu saja langsung membuat Akira protes.


"Tidur..."


Tidur? apa aku kesini hanya untuk menemaninya tidur siang? ck... licik sekali!


Arjun dan Akira masuk ke ruangan tersembunyi yang berada di dalam ruangan tersebut.


Menutup pintu itu agar tidak ada yang mengganggu.


"Sini!" perintah Arjun.


Pria itu hanya ingin rebahan sambil memeluk tubuh istrinya.


Tanpa banyak protes, Akira menuruti permintaan suaminya. Dan sekarang kepalanya benar-benar bersandar pada lengan Arjun.


"Bagaimana praktek mu tadi?" tanya Arjun.


Ia sangat penasaran dengan uji coba istrinya hari ini. Walaupun Arjun sudah tau kalau Akira pasti tak berhasil.


"Tidak berjalan lancar," keluh Akira kembali teringat dengan kejadian tadi.


"Sudah aku duga..." bahkan Arjun mengatakannya dengan senyum mengejek.


"Iihh..." Akira mencubit perut pria yang sama sekali tidak berlemak tersebut.


"Hahaha..." tawa kencang terdengar dari mulut Arjun.


"Partner mu baik-baik saja kan?" kini gantian Arjun yang mengamati pergelangan siku istrinya yang terdapat plester.


"Hanya sedikit memar," jawab Akira. Tapi matanya terus fokus pada perlakuan Arjun terhadap tangannya.


Pria itu terus menelusuri tangan Akira bekas suntikan. Merabanya dengan sangat lembut dan meniupnya.


Eh, luka ku yang di sentuh kenapa hatiku yang terbang.. bahkan rasanya seperti ada kupu-kupu yang melayang di perutku...?


"Nanti juga sembuh..." ucap Arjun meyakinkan istrinya.


***


Haha in aja...


Selamat menikmati semuanya...


Jangan lupa Like dan Komentar ya...

__ADS_1


Yang baru baca, wajib tekan Favorit dulu...


__ADS_2