Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
193. Pesta Dimulai.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Sore hari tepat di sebuah Ballroom hotel dimana akan diadakan pesta, terlihat orang-orang berseragam hotel sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan pesta.


Para petugas Catering juga telah menata berbagai hidangan dan juga buah-buahan yang telah di potong.


Semua ruangan telah disulap sesuai tema malam ini. Semuanya didekorasi dengan warna merah muda dan putih.


Mulai dari balon, bunga bahkan tempat duduk dan meja untuk tamu juga.


Serta di panggung kecil di depan sana, sebuah tulisan indah terpajang kokoh dan mampu di lihat oleh semua tamu yang akan datang sebentar lagi.


Di salah satu kamar hotel, terlihat pasangan suami istri yang memakai pakaian bernuansa putih tengah asyik menatap bayi kecil di gendongannya. Dia adalah si pemilik acara, Arjun dan istrinya, Akira.


"Halo sayang..." sapa Arjun sambil menoel pipi putrinya yang baru berumur 2 minggu.


Bayi perempuan itu terlihat membuka mata sambil memainkan bibir. Mengecap sisa susu yang baru Akira berikan beberapa saat yang lalu.


"Apa masih haus? lihatlah Starla memainkan bibirnya..." ucap Arjun mengamati pergerakan putrinya.


Starla, nama putri Arjun dan Akira. Mereka sengaja memberi nama itu karena Starla artinya bintang.


Dimana putri kecil berumur 2 minggu itu bahkan menjadi bintang bagi semua orang. Dan kelak, bayi perempuan itu mampu menyinari semua orang dengan cahayanya sendiri.


Menjadi kebanggaan untuk orang tua, kakek dan neneknya juga untuk Pradipta Group.


"Tidak... dia sudah kenyang..." bantah Akira yang juga melihat Starla yang memakai bandana berwarna merah muda di kepala.


"Bagaimana kamu tau?" protes Arjun. Inilah yang seringkali terjadi pada orang tua baru tersebut. Berdebat tentang halal kecil yang tentu saja ada kaitannya dengan Starla.


"Iya lah... aku kan Ibunya..." jawab Akira dengan jumawa. Karena Ibu akan tau segala sesuatu yang terjadi pada anaknya. Termasuk dengan kapan putri kecilnya itu merasa kenyang ataupun sedang mengantuk.


Ck... Sama sekali tidak bisa jadi patokan... batin Arjun.


"Kamu mau menggendongnya?" tanya Akira.


Andai kalian semua tau bahwa sejak Starla lahir, Arjun sama sekali tak pernah mau menggendong putrinya. Alasannya adalah Arjun takut menyakiti bayi kecil dan rapuh tersebut.


"Tidak," tolak Arjun tegas.


Membuat Akira tersenyum mengejek. Padahal dalam hatinya, ia ingin Arjun merasakan bagaimana Starla tertidur dalam pangkuan pria itu.


Sering sekali saat Arjun diminta untuk menjaga Starla ketika ibunya sedang berada di kamar mandi, Arjun hanya duduk kaku sambil tangannya tak bergerak karena ada Starla di sana.


Bahkan terlihat seperti robot bukan?


"Ck... penakut..." ejek Akira.


Sebenarnya Arjun kesal dengan ejekan Akira yang selalu mengatainya penakut. Tapi mau bagaimana lagi karena seperti itulah yang terjadi pada Arjun. Setidaknya biarkan putri kecilnya tumbuh sedikit lebih besar dari sekarang. Baru saat itu Arjun berani untuk menggendongnya.


Saat sedang asyik mengamati Putri mereka, tiba-tiba Mami Livia masuk dalam kamar tersebut.


Wanita paruh baya itu terlihat anggun dengan gaun panjang berwarna putih tulang yang senada dengan gaun menantunya.


"Cucu Mami sudah selesai menyusu?" tanyanya sambil mendekati Starla.


"Sudah Mi..." jawab Akira.


Seperti inilah kebiasaan bayi. Mereka akan kembali terlelap saat merasa kenyang.


"Pompa Asi mu dulu sayang... setelah itu keluarlah, sudah banyak tamu yang datang..." pinta Mami Livia mengambil Starla dari pangkuan Akira dan langsung membawanya pergi.


Ya... seperti itulah Mami Livia. Starla seperti menjadi hak milik beliau sendiri.

__ADS_1


"Baik Mi...".


Pintu kamar itu segera di tutup oleh pengasuh Starla. Dan tinggal Akira dan Arjun saja.


Dengan cekatan, Arjun membantu Akira mengambil kan alat untuk memompa Asi.


Pasti banyak yang bertanya kenapa Starla tidak menyusu langsung kepada Akira?.


Alasannya cuma satu, ya tentu saja karena permintaan Arjun.


Arjun bilang, Starla akan sulit di tinggal jika menyusu langsung pada Ibunya.


Karena setelah ini Akira juga harus menyelesaikan kuliahnya.


Alasan Arjun saja bukan? hehehe...


Arjun tak henti-hentinya menatap sang istri yang sibuk memompa Asi ke dalam botol susu milik Starla.


Melihat bagaimana perubahan tubuh Akira setelah melahirkan benar- benar membuat Arjun suka.


"Kenapa?" tanya Akira penasaran karena di tatap oleh Arjun tanpa berkedip.


"Tidak... hanya saja aku tak tahan melihatmu..." keluh Arjun. Meletakkan kepalanya tepat di pangkuan Akira.


Sedangkan Akira hanya tersenyum melihat tingkah Arjun yang kadang terlihat kekanakan.


"Sampai kapan aku harus puasa?" tanya Arjun lagi.


Ternyata, fase setelah persalinan justru membuat Arjun merasa kesal. Ia tak bisa menyentuh Akira selama waktu yang lama.


"30 hari lagi..." jawab Akira.


"Hahh... kenapa lama sekali sih..." protes Arjun.


Padahal melalui 2 minggu terakhir sudah membuat dirinya hampir mati. Tapi masih ada 30 hari lagi di depan matanya, mungkin saja benar-benar membuat Arjun meninggal.


Walaupun dalam hatinya, Akira juga takut.


Gaya hidup Arjun di masa lalu, Akira khawatir hal itu akan terjadi lagi saat seperti ini.


Apalagi saat menjalani masa nifas ini, Akira benar-benar tak bisa melakukan tugasnya sebagai seorang istri.


Dan yang ia takutkan, Arjun akan melampiaskan kepada wanita lain di luaran sana.


Sebuah bencana bukan kalau benar-benar terjadi?


"Tapi bagaimana denganku?" keluh Arjun lagi.


"Mau aku cium?" saran Akira.


Memberesi pompa Asi setelah dua botol di depannya telah terisi penuh.


Wajah Arjun berubah sumringah. Ucapan Akira seperti mata air di padang pasir bukan? melegakan.


Tentu saja Arjun tak menolak kesempatan itu.


Dan malam itu juga tanpa memikirkan pesta yang sebentar lagi di mulai, Arjun dan Akira berciuman.


"Sayang..." pinta Arjun mengiba. Karena berciuman malah fatal bagi mereka yang mengharuskan diri untuk menahan keinginannya.


"Tapi-,"


"Pakai cara lain, gunakan tangan dan mulutmu..." perintah Arjun.


---

__ADS_1


Di tempat lain, Galih turun dari mobil. Membuka kan pintu untuk Tiara dan juga pasangan penumpang yang duduk di bangku tengah.


Sungguh sejak Dion pulang, Galih seperti supir yang mengantarkan Dion kemanapun.


Seperti sekarang, ke pesta Arjun juga Dion hanya duduk di bangku tengah bersama dengan Gadis.


"Turunlah..." perintah Galih pada akhirnya.


Setalah turun dari kendaraan itu, Dion berjalan sambil menggandeng tangan Gadis. Mereka terlihat serasi dengan pakaian bernuansa hitam. Apalagi gaun panjang Gadis yang sangat cocok dengan tubuh tingginya.


Beda dengan pasangan di belakang mereka. Gaun berwarna grey sepanjang lutut dengan heels yang cukup tinggi membuat Tiara sangat sempurna. Setidaknya pilihan Galih memang tepat.


Ya... gaun yang di pakai Tiara malam ini adalah pemberian Galih. Ternyata saat di toko pakaian waktu itu, Galih terpesona oleh gaun yang terpajang dalam sebuah manekin. Tanpa memberitahu Tiara, Galih membeli gaun itu.


Ternyata Galih tidak sekaku yang terlihat.


Bahkan pria itu sangat jago memilihkan pakaian untuk Tiara.


Dengan kemeja putih panjang dengan damai berwarna senada dengan guan Tiara, Galih tak segan menggandeng tangan Tiara dan masuk ke dalam Ballroom tempat acara di adakan.


Sudah banyak sekali tamu yang datang. Para petinggi Perusahaan juga kolega Papi Johan terlihat mendominasi tamu undangan.


Juga keluarga dan teman-teman Arjun ikut dalam acara berbahagia itu.


Tumpukan kado untuk Bayi Starla telah menumpuk di dekat panggung. Tapi tetap ada pelayan yang membawa kotak demi kotak hadiah dari tamu lain yang baru saja datang.


Dengan arahan penjaga, Dion dan yang lainnya berjalan mengikuti dimana tempat duduk mereka berada.


"Silahkan Tuan... Nona..." ucap Penjaga mempersilahkan Dion dan yang lainnya duduk di sebuah bangku tertera nomor 4 di atas meja.


Tiara duduk sambil mengamati sekitar.


Mencari keberadaan Akira yang belum terlihat sama sekali.


"Tunggu disini..." pamit Galih.


Pada akhirnya Galih pergi entah kemana. Mungkin menanyakan keberadaan Arjun kepada petugas yang bersiaga mengamankan acara.


"Dion... lo tidak akan kemana-mana kan?" tanya Gadis. Karena tidak ada siapapun yang ia kenal disini.


"Tidak..." jawab Dion meyakinkan. Ia sudah berjanji akan tetap berada di sisi Gadis selama acara berlangsung.


Sedangkan Tiara, nyatanya gadis itu menemukan teman kuliahnya di sini.


"Hei..." sapa pria berkemeja rapi menghampiri Tiara.


"Lo disini juga?" tanya Tiara tak percaya.


Tanpa di sangka, teman Tiara itu langsung duduk di bangku yang tadi dipakai Galih. Tepat di sebelah Tiara.


"Iya... temen gue jadi MC acara, jadi gue menemaninya...".


"Beruntung sekali...".


"Dan lo?" tanya pria itu kepada Tiara.


"Akira adalah sahabatku..." jawab Tiara yakin.


"Oh... pantas saja... oh iya, lo terlihat cantik malam ini..." puji pria itu tanpa ragu.


"Terima kasih..." jawab Tiara.


Senang sekaligus malu karena di puji terang-terangan oleh seseorang. Padahal pria yang Tiara harapkan bahkan tak memujinya sedikit pun.


Mungkin saja tak melihatnya sama sekali.

__ADS_1


Ck... memang apa yang bisa gue harapkan dari pria kulkas itu... batin Tiara.


***


__ADS_2