
HAPPY READING...
***
Di depan gedung Pradipta Group, Galih berdiri tak jauh dari mobil Arjun.
Berbicara dengan Arjun sedangkan Akira telah menunggu di dalam mobil sambil bermain ponsel.
"Nanti Lo bisa kan?" tanya Galih memastikan.
Karena lebih enak berbicara dengan Arjun di Club malam.
"Ada apa sih?" tanya Arjun penasaran. Karena tidak biasanya Galih bersikap demikian.
Apalagi sejak pulang dari menjemput Akira, Galih terlihat beberapa kali melamun.
Tentu saja Arjun tau ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran pria itu.
"Gue gak bisa cerita di sini...",
Apalagi ada Akira dan menyangkut gadis itu juga.
"Baiklah, nanti gue usahakan..." ucap Arjun sambil menepuk pelan bahu Galih. Setelahnya pria itu segera masuk ke dalam mobil.
Galih mengangguk bersamaan dengan kepergian mobil Arjun.
Di jalanan, baik Arjun maupun Akira sama-sama terdiam tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Hingga tak lama, Arjun bersuara "Sayang, nanti aku akan pergi bertemu dengan Dion dan Galih..." ijinnya.
"Ha? kenapa mendadak?" tanya Akira. Karena Arjun tidak berbicara hal itu sejak pagi ataupun siang tadi.
"Bukan mendadak sih,.. karena sudah lama aku tidak berkumpul bersama mereka..." sejak dekat dengan Akira, Arjun benar-benar jarang pergi ke Club malam akhir-akhir ini.
Pria itu lebih senang menghabiskan waktu bersama istrinya.
Toh Akira lah tempat Arjun untuk pulang.
"Lama?" tanya Akira penasaran.
"Tidak ah, mungkin sampai jam 11an.." jawab Arjun. Lagian mana bisa ia pergi meninggalkan Akira dengan waktu yang lama? itu tidak akan mungkin.
Akira kembali terdiam walaupun dalam hatinya ia tidak merelakan Arjun untuk pergi sebentar saja dari sisinya. Tapi Akira juga tidak bisa bersikap egois begitu. Toh sebelum menikahinya, Arjun juga telah memiliki sahabat sapa seperti persahabatan Akira dan Tiara.
***
Matahari telah di gantikan oleh bulan. Menyinari bumi dengan cahayanya di tambah dengan taburan bintang yang menghiasi langit ibukota.
Setelah makan malam usai, Arjun dan Akira kembali ke kamar. Arjun telah mengganti pakaiannya dengan baju santai yang di lapisi dengan jaket berwarna biru tua dan celana jeans. Berkaca di depan cermin sambil menyisir rambutnya.
Sedangkan Akira duduk di ranjang dengan laptop yang menyala. Apalagi yang dilakukan gadis itu selain mengerjakan tugas yang terasa tidak ada habisnya.
Ya... mata kuliahnya benar-benar sangat sulit dan juga melelahkan.
"Sayang dompetmu..." ucap Akira mengingatkan suaminya.
"Oh iya aku lupa..." jawab Arjun.
Sekarang pria itu berjalan mendekati Akira dan mengambil dompet miliknya.
__ADS_1
"Aku pergi ya..." di kecupnya kening Akira dengan penuh rasa cinta.
Dulu saat belum menikah, tidak ada yang menunggu Arjun seperti sekarang. Mau ia pulang sampai malam atau tidak pulang pun tidak ada yang menegurnya. Palingan hanya Papi Johan yang bertanya tapi tak sampai memarahi Arjun.
"Jangan malam-malam..." pinta Akira. Mana bisa Ia tidur tanpa Arjun. Karena Akira terbiasa tidur sambil di peluk suaminya yang menurutnya lebih nyaman.
"Oke, aku akan cepat pulang..." jawab Arjun dan pergi dari kamar itu.
Setelah kepergian Arjun, Akira kembali meneruskan pekerjaannya.
***
Musik berdentum keras menyambut kedatangan Arjun di Club malam.
Arjun hanya memandang sekilas apa yang ada di sekitarnya, menyapa orang-orang yang di kenalnya dan berjalan menuju ke lantai 2 menemui Galih dan Dion.
Di lantai atas juga banyak sekali seseorang yang lalu lalang. Hingga Arjun berdiri di depan pintu sebuah ruangan, menunggu di bukakan.
Dan benar saja, di dalam sudah ada Dion dan juga Galih yang tengah menghisap rokok sambil terlibat sebuah perbincangan.
"Sorry telat..." ucap Arjun meminta maaf.
"Baru selesai Ngew* Lo?" sindir Dion dengan nada penuh gurauan.
Biasanya yang membuat seseorang yang telah beristri terlambat adalah hal begituan.
"Sok tau Lo..." jawab Arjun.
Memang Dion tau apa tentang dirinya. Baik Dion dan Galih adalah sama. Sama-sama pria jomblo yang menyedihkan.
"Apa yang ingin Lo bicarakan?" tanya Arjun beralih pada Galih. Karena yang meminta Arjun datang kesini juga pria itu. Entah apa yang akan di katakan Galih disini, Arjun sama sekali tidak tau.
"Tuan, ada yang ingin bertemu dengan Anda..." seorang perempuan itu memberitahu Galih.
Galih pun mengangguk, "Sebentar..." pintanya pada Arjun dan juga Dion. Setelah itu Galih keluar dari ruangan menemui seseorang yang sedang mencari nya.
"Lo merasakan Galih berbeda tidak?" tanya Dion kepada Arjun. Sejak datang ke sini, Galih sama sekali tidak banyak bicara. Bukan seperti Galih yang selalu terlihat konyol bagi Dion.
"Ada sesuatu yang mengganggu dirinya saat ini... tapi gue juga tidak tau hal apa itu," Arjun juga termasuk orang yang lumayan peka dengan situasi di sekitarnya.
Apalagi melihat Galih beberapa hari terakhir, Arjun tau ada sesuatu yang sedang di sembunyikan sahabatnya itu.
Tak lama, Galih kembali masuk ke dalam ruangan sambil mengantongi sesuatu yang tidak Arjun dan Dion tau apa itu.
Pria itu kembali duduk dengan Arjun dan Dion yang terus mengamati pergerakannya.
Benda apa tadi? batin Arjun dan Dion bersamaan.
Galih mulai mengambil lagi sebatang rokok di meja dan membakarnya.
Memejamkan mata untuk merasai benda bernikotin tersebut.
"Lo sudah minum banyak?" tanya Arjun. Karena dialah yang terakhir datang ke tempat ini tadi. Jadi tidak tau apakah Galih sudah banyak minum atau tidak.
"Tidak, Kita baru sampai kok..." jawab Dion.
Botol minuman keras di depannya juga baru berkurang sekitar 3-4 tegukan saja.
__ADS_1
Dan itu jelas terlihat oleh mereka.
"Kenapa mata Lo merah?" tanya Arjun pada Galih. Sedangkan yang di tanya seperti tidak memperdulikan Arjun sama sekali.
"Galih!" panggil Arjun lagi.
"Gue hanya mengantuk Jun," ucap Galih dengan lirih.
Tapi bukan Arjun namanya kalau langsung percaya pada ucapan dari Galih. Arjun sudah bersahabat dengan Galih sangat lama jadi apapun yang menjadi kebiasaan pria itu juga Arjun sangat hafal. Dan inilah salah satunya, Galih tidak terbiasa tidur di jam segini. Pria itu selalu tidur saat lewat pukul 11 malam.
Sesibuk-sibuknya Galih, ia tetap akan terjaga sampai benar-benar malam.
Kecurigaan Arjun bertambah saat kepergian singkat Galih beberapa menit yang lalu.
Pasti ada sesuatu hal yang memang terjadi.
Galih mendongakkan kepalanya, bersandar pada sandaran sofa.
Apa jangan-jangan? Batin Dion.
Dengan spontan, Arjun menarik paksa tubuh Galih hingga membuat Galih protes, "Lo apa-apaan sih?" tanya Galih.
Tapi Arjun sama sekali tidak peduli. Dengan tangan kirinya, Ia merogoh saku celana Galih dengan paksa.
Mata Arjun membulat saat tangannya menyentuh sesuatu di dalam sana. Jantung Arjun berpacu hebat seiring tangannya keluar sambil menggenggam sesuatu dan mendorong Galih kembali duduk di tempatnya tadi.
Dengan tangan bergetar, Arjun mengamati benda yang baru saja ia temukan. Nafasnya benar-benar seperti tercekat di tenggorokan. Sedangkan Dion yang ikut terkejut seketika bangkit dari duduknya dengan pandangan tertuju pada tangan Arjun.
"Galih! sejak kapan ini terjadi?" tanya Arjun marah.
Apa yang ia takutkan benar-benar terjadi lagi di depan matanya.
Arjun sangat marah, sedangkan Dion masih dengan mode tak percayanya.
Arjun mencengkeram erat keras baju Galih. Memaksa pria itu untuk bersuara.
Betapa kecewanya Arjun pada sahabatnya yang satu itu.
Padahal hanya Galih dan Dion saja orang yang mampu Arjun percayai sampai kapanpun. Tapi sekarang, Galih benar-benar melukai kepercayaannya.
Pria itu kembali pada masa sulit yang sudah berapa tahun terkubur bersama dengan kenangan buruk yang di bawa.
"Gue tidak menyangka akan hal ini..." ucap Dion.
Ia mengira kalau Galih telah berubah. Dion mengira kalau Galih sudah terlepas dari jeratan obat-obatan terlarang. Entah alasan apa lagi yang membuat Galih kembali pada barang haram tersebut.
"Katakan, sejak kapan Lo begini? kalau Lo diam, gue benar-benar akan memukul Lo!" ancam Arjun.
Mimpi buruk yang pernah hadir dalam hidupnya kini kembali lagi.
"Dia kembali... dia kembali..." ucap Galih lirih bahkan seperti orang yang benar-benar frustasi dan tidak tau harus berbuat apa lagi.
Arjun dan Dion saling menatap satu sama lain.
"Dia kembali..." ucap Galih memperjelas ucapannya.
***
__ADS_1
TINGGALKAN Like dan Komentar Yess... Yang baru baca, sudah di Favorit kan belum?