
HAPPY READING...
***
Galih masuk ke dalam Apartemen membawa tas kerja yang di dalamnya banyak sekali berkas Perusahaan.
Malam ini, Galih di tugaskan untuk memeriksa semuanya sebelum di serahkan kepada Papi Johan besok pagi.
Ya... Gaji besar tak membuat Galih berpangku tangan. Justru pekerjaannya benar-benar sangat banyak melebihi beberapa bulan yang lalu.
Dengan wajah lesu, Galih ambruk di sofa. Membuat Tiara kebingungan.
"Kenapa? lo sakit?" tanya Tiara se perhatian mungkin.
"Tidak..." jawab Galih.
"Gue buatin teh hangat?" sarannya.
Minuman hangat akan membuat tubuh seseorang lebih terasa ringan.
"Kopi..." ucap Galih.
"Tapi...", sela Tiara. Galih belum makan malam jadi tidak boleh meminum kopi lebih dulu.
"Tidak usah tidak usah..." tolak Galuh pada akhirnya. Ia akan mandi dan berendam untuk melepaskan penatnya.
"Gue mau mandi, nanti Bella akan datang mengantarkan makanan..." ucap Galih pada Tiara.
Ya... walaupun sudah menolak, tapi Ibunya memaksa Bella untuk mengantarkan makanan.
Jadi Galih tak bisa berkata-kata lagi.
"Oke..." jawab Tiara.
Galih masuk ke dalam kamar. Melepas dasi yang melingkar di lehernya sambil mengisi Bathub dengan air hangat dan menunggunya penuh.
Galih juga menambahkan beberapa tetes aroma terapi yang membuat ruangan itu tercium harum dan nyaman.
"Aagghh..." Galih merendam tubuhnya di dalam sana.
Menutup mata merasakan sensasi hangat yang sungguh membuat dirinya nyaman. Rasa lelah, penat setelah seharian bekerja terasa luntur begitu saja.
Hingga tak terasa, hampir 40 menitan Galih berada di dalam sana. Pria itu bangkit dan membilas tubuhnya di bawah guyuran air shower.
Saat sedang mandi, Galih mendengar suara Bell berbunyi. Pasti Bella...
Sedangkan Tiara juga berpikiran sama. Apalagi tadi Galih sempat mengatakan kalau Bella memang akan datang mengantarkan makanan.
Tapi Tiara terkejut karena, ketika membuka pintu bukan Bella yang ada di depan matanya. Melainkan orang lain.
Galih mempercepat kegiatan mandinya dan segera keluar dari sana karena tidak mendengar suara apapun. Heran bukan? karena biasanya Bella selalu menjadi yang pertama berisik dalam setiap momen apapun.
Dengan handuk yang melingkar di tubuh bagian bawahnya, Galih mengintip dari pintu kamarnya. Berteriak, "Suruh Bella segera masuk...".
Tiara yang masih berdiri menegang mulai membuka mulutnya, " Bu-bukan Bella yang datang..." ucapnya dengan pias.
Galih yang sedang memakai celananya seketika terdiam. Mencerna perkataan Tiara barusan. Bukan Bella? lalu siapa? Jangan-jangan? Aaa... mati gue...
Tanpa pikiran panjang, Galih segera mengenakan pakaiannya dengan tergesa-gesa. Bahkan memakai kaosnya sambil berlari keluar dari kamar.
Dan sesuai dugaan Galih, di depan pintu masuk ada sosok yang ia takutkan kedatangannya.
Membuat tenggorokan Galih serasa tercekat.
"Oh... gue terkejut..." ucap Arjun yang menerobos masuk ke dalam apartemen Galih. Melewati tubuh tegang Tiara.
"Jadi... ini yang Lo sembunyikan?" tanya Arjun penuh penekanan.
Membuat yang ditanya tidak bisa membantah apapun. Karena yang Arjun lihat bukanlah gosip belaka.
Malam ini di detik ini juga ia memergoki Galih berada dalam satu tempat dengan Tiara. di tambah dengan cara mereka berkomunikasi, Arjun yakin kalau Tiara bukan sekedar tamu di rumah itu. Melainkan memang tinggal disana.
"Orang tua lo tau tentang ini?" tanya Arjun duduk sambil memperhatikan Galih dan Tiara yang berdiri di depan sana.
"Nyet.. gue hanya -", belum sempat menjelaskan apapun, Arjun lebih dulu mengangkat jari telunjuknya dan menempelkannya tepat di bibir. "Ssstt...".
Meminta Galih untuk diam.
"Gue belum selesai bicara..." perjelas Arjun.
Apa mereka mempunyai hubungan? kalau di lihat-lihat sepertinya tidak... tapi kenapa Galih bersedia membawa gadis itu kesini? tinggal di rumahnya?
__ADS_1
Banyak sekali pertanyaan dalam kepalanya.
"Sejak kapan?" tanya Arjun. Sorot mata pria itu jelas menuju ke arah Tiara.
Membuat gadis itu semakin menegang. Dia bertanya padaku?
"Sejak Ibunya meninggal..." tapi malah Galih yang menjawab.
Prokk... prok... prokk...
Arjun bertepuk tangan takjub dengan semuanya. Cara Galih yang menyembunyikan gadis itu tanpa di ketahui siapapun.
"Hebat..". Satu kata tapi mampu menjelaskan semuanya.
"Gue tinggal disini karena bekerja..." sela Tiara. Membuat Arjun semakin syok.
"Ha?".
"Iya... gue disini bekerja... membersihkan rumah, mencuci bahkan memasak... sungguh kami tidak melakukan apapun..." ucap Tiara menjelaskan fakta yang terjadi.
Karena ia tinggal disini juga tidak gratis. Ia bekerja kepada Galih.
"Tiara... masuklah..." perintah Galih.
Membuat Tiara dan Arjun kebingungan.
"Masuk...", ulang Galih hingga membuat Tiara benar-benar melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Sekarang tinggal Arjun dan Galih. Duduk di sofa ruang tamu dengan suasana yang benar tidak enak.
"Gue hanya ingin membantunya... sejak ibunya meninggal, otomatis Tiara tidak bisa membiayai kuliahnya..." ucap Galih pertama, sedangkan Arjun masih tidak bergerak sedikitpun.
"Untuk itulah dia disini... dia bekerja disini... dia juga takut sendirian..." tambah Galih menjelaskan.
Ya... Tiara takut sendirian. Bahkan di malam hari, gadis itu tidur dengan keadaan lampu yang menyala. Ya... Tiara takut sendirian dan juga takut kegelapan.
"Tapi kenapa? kenapa harus disini?" protes Arjun.
Bahkan Senakal-nakalnya dia, Arjun tidak pernah tinggal bersama kekasihnya.
"Lah dimana lagi?" malah ganti Galih yang bertanya.
"Sudah gue sewakan pada orang lain?."
"Ha?" spontan Arjun bertambah syok.
Menyewakan rumah Tiara?
"Gue curiga... lo sengaja merencanakan semua itu kan?" tuduh Arjun. Tidak mungkin Galih sampai melakukan hal itu kalau tidak punya niat terselubung.
Melihat Arjun yang semakin tak mempercayai semua ucapan Galih, hingga yang di lakukan Galih hanyalah jujur.
Ia tak bisa membuat Arjun semakin berprasangka buruk nantinya.
Dengan yakin, Galih mendekati Arjun. Duduk di samping pria itu dan berbisik, "Gue sudah terikat janji dengan ibunya sebelum meninggal..." ucap Galih.
"Maksudnya?". Arjun memang tidak tau apa-aoa tentang hal ini.
Karena tidak ada yang Galih katakan sejak kejadian kecelakaan tersebut.
"Ibunya Tiara meminta gue untuk menjaga putrinya... membahagiakan Tiara..." bisiknya lagi.
Dan setelah mengatakan hal itu, Galih sedikit menggeser jarak duduknya dengan Arjun.
"Hanya itu yang bisa gue lakukan untuk saat ini...".
"Tapi nyet..." protes Arjun.
Galih dan Tiara belum terikat pada sebuah hubungan yang jelas. Tapi mereka tah hidup di dalam rumah yang sama.
Bagaimana tanggapan orang nanti?
"Untuk saat ini rahasiakan ini... gue ingin meyakinkan diri beberapa saat..." pinta Galih.
Setidaknya ia ingin Tiara ada di depan matanya. Karena gadis itu, Galih kembali menemukan senyumnya.
Galih menemukan kebahagiaan yang sempat hilang dalam dirinya.
"Bagaimana kalau bukan dia yang lo mau?" tanya Arjun dengan nada sangat pelan, berharap Tiara tidak akan mendengar suaranya.
"Gue akan melepaskannya..." jawab Galih yakin.
__ADS_1
"Lo bener-bener sinting!" umpat Arjun.
Tapi mau bagaimana lagi, itulah yang di inginkan Galih. Arjun tidak bisa menolak ataupun melarangnya. Karena sebuah hubungan tidak bisa tercipta dengan waktu yang singkat.
Apapun butuh waktu, sama seperti hubungan Arjun dan Akira.
Di awal menikah, mereka sama-sama tidak suka.
Tapi dengan berjalannya waktu, semuanya membaik.
Akira menginginkan Arjun dan sebaliknya.
"Gue harap lo tidak akan menyakitinya..." ucap Arjun. Karena bagaimanapun Tiara berhak bahagia.
Tidak ada siapapun yang bisa jadi tempat bersandar kalau Tiara sedih saat ini.
"Sudahlah... ngapain lo kesini?" tanya Galih mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh.. itu... apa ya? gue lupa..." ucap Arjun. Gara-gara syok melihat kelakuan Galih, Arjun jadi bingung dengan tujuannya datang ke sini.
Ck.. dasar pikun!
"Oh itu... berkas... Papi bilang berkas dalam map biru milik Papi kebawa sama Lo..." ucap Arjun.
"Berkas dalam map biru?" Galih mengingat-ingat. "Gue cari dulu..." ucapnya.
Dan Galih langsung meninggalkan Arjun.
Sebelum menuju ke kamar, Galih masuk ke dalam kamar Tiara. Mengejutkan gadis yang sedang rebahan di ranjang.
"Hah? ngapain lo masuk?" tanya Tiara terkejut.
"Salah sendiri tidak lo kunci..." jawab Galih.
Inilah kebiasaan buruk Tiara. Gadis itu selalu lupa mengunci pintu padahal Galih sering mengingatkan hal itu.
Sejenak Galih mengamati penampilan Taira yang telah berganti pakaian dengan piyama pendek.
Membuat yang di pandang jadi salah tingkah sendiri. Berhenti menatapku seperti itu! begitu hati Tiara bicara.
"Ada apa?" tanya Tiara mengusir canggung.
"Em... ambilkan Arjun minuman dan juga camilan... dan ganti pakaianmu sebelum keluar!" perintah Galih dan langsung pergi meninggalkan kamar tersebut.
Sial! kenapa jantungku berdetak tak karuan...
umpatnya sambil masuk ke dalam kamarnya sendiri. Mengambil tas kerja dan mencari berkas yang Arjun maksud tadi.
Pada akhirnya Tiara keluar dari kamar. Mengganti pakaiannya dengan yang lebih sopan. Celana jeans dan kaos.
"Silahkan...". ucapnya menaruh minuman dingin dan camilan di meja ruang tamu.
"Oke..." jawab Arjun.
"Bagaimana keadaan Akira?" tanya Tiara sekedar berbasa-basi.
"Dia merindukan mu... minta lah pada Galih untuk mengantarkan mu menemui Akira... pasti dia sangat senang dengan kedatangan mu..." ucap Arjun.
Sekalian bukan ia mengatakan keinginan Akira pada Tiara.
"Iya... besok setelah kuliah, gue akan mengunjungi Akira..." jawab Tiara.
Karena sudah sangat lama Tiara tak lagi bisa bertemu dengan Akira.
"Apa Galih bersikap baik padamu?" tanya Arjun penasaran.
Membuat Tiara bingung untuk mengatakan apa, karena pria itu seringkali berubah-ubah. Kadang baik kadang juga menyebalkan. Terkadang juga berubah seperti setan yang menakutkan.
"Lo sudah pernah di ajak melihat kupu-kupu?" goda Arjun.
"Ha?"
"Lo jangan br*ngsek nyet!" umpat Galih yang mendengar pertanyaan dari Arjun barusan.
"Hahaha...". Sedangkan Arjun hanya tertawa girang. Sedangkan Tiara yang kebingungan sendiri.
Kupu-kupu? apa maksudnya?
***
Maksudnya Arjun apa ya?
__ADS_1