Dokter ALENA

Dokter ALENA
Episode 100


__ADS_3

Terdengar alarm Adzan Subuh dari handphone Edward dan Alena, keduanya langsung terbangun dan meregangkan tubuhnya pelan, Edward menciumi wajah Alena berkali-kali dan membelai rambutnya


"Bangun Bee, dah subuh"


"Hem"


"Ayo bangun, kita mandi mensucikan diri dulu"


"Iya, sebentar"


Edward hanya tersenyum melihat Alena yang bergerak manja di dalam selimut, sesaat kemudian Edward langsung menggendong Alena seperti anak kecil


"Eh, Honey, aku mau dibawa kemana ini?"


"Mandi dulu Bee"


"Iya, tapi turunkan, aku bisa jalan sendiri"


"Diam!"


Edward langsung mendudukkan Alena di atas meja dekat wastafel kamar mandi, dan menyiapkan air mandi hangat dalam bathtub, kemudian Alena turun dan segera masuk ke dalamnya, tak menyia-nyiakan kesempatan itu Edward ikut bergabung dengan istrinya


"Eh, ngapain honey?"


"Mandi, emang masuk sini mau ngapain lagi?"


"Iya, tapi kan aku masih mandi ini"


"Barengan kan bisa Bee"


Alena memutar matanya malas untuk berdebat lagi, keduanya kini mandi dan saling memandikan, sesekali Edward menggoda Alena dengan mengge*rayangi tubuh istrinya dari dalam air


"Honey!, Jangan usil, gak selesai-selesai ini nanti mandinya"


"Hehehe, iya, maaf Bee, ya sudah, selesai nih"


Keduanya langsung memakai bathrobe dan melangkah keluar, Edward tertawa kecil ketika melihat aneh cara berjalan Alena yang sangat pelan sambil sedikit meringis menahan sakit


"Mau aku gendong Bee?"


"Nggak usah, aku bisa nahan Honey"


"Masih sakit banget ya Bee?"


"Iya honey, aku gak nyangka lo akan sesakit ini"


Edward hanya tersenyum kemudian segera memakai pakaian untuk melaksanakan ibadah, begitu juga dengan Alena, keduanya saling menatap dan melempar senyumnya kemudian dilanjutkan dengan melaksanakan ibadah sholat subuh berjamaah


Selesai Sholat keduanya memutuskan menikmati pemandangan Alam pagi hari di Balkon kamar yang sudah di rancang khusus untuk bersantai, dengan dua buah kursi cantik dan nyaman serta beberapa hiasan bunga hidup makin menambah kesempurnaan suasana di Balkon


Tak lama suara ketukan pintu terdengar, Alena berjalan membuka pintu dan di dapati bik asih membawakan makanan roti bakar toping selai dan minuman hangat yang di campur dengan madu, Alena tersenyum dan segera mengambil semuanya, Bik Asih sempat terkesiap melihat kecantikan nyonyanya saat terlihat rambut Hitam tebal lurusnya tergerai dengan indah, dipadu dengan gaun tipis nan sek*si yang membalut tubuh mu*lusnya, sungguh pandangan yang sangat luar biasa, hingga Alena menyadarkan Keterpukauan Bik Asih


"Makasih bik"


"Oh, i iya,Sama-sama nyonya, sarapan pagi akan saya siapkan pukul 7 di meja makan, menu sesuai pesanan nyonya"


"Iya, baiklah Bik"


Alena kembali menyusul keberadaan Edward yang sedang duduk santai di Balkon

__ADS_1


"Siapa Bee?"


"Bik Asih, membawakan minuman hangat buat kita, minum dulu Honey, nanti keburu dingin"


"Hem"


Keduanya menikmati minuman hangat, seperti teringat sesuatu, Edward langsung beranjak dan masuk kembali ke dalam kamarnya, Edward memeriksa sprei kasurnya, senyumnya mengembang begitu melihat bercak darah keperawanan istrinya yang semalam berhasil di jebol olehnya, Edward melipatnya dan langsung memasukkan ke dalam kotak khusus yang sepertinya sudah di siapkan sebelumnya, Alena sempat memperhatikan apa yang dilakukan oleh suaminya, sebelum Edward kembali ke Balkon


"Apa yang kamu lakukan honey, kenapa sprei kasur kamu simpan di sebuah kotak?"


"Buat kenang-kenangan malam pertama kita, ada noda darah keperawanan mu Bee, dan aku yang pertama kali menembusnya"


"Hem, dan aku masih kesakitan sampek sekarang"


"Itu karena inti kenikmatan mu sangat sempit Bee"


"Hah, Bukannya batang Edward junior yang sangat gede, aku semalam Sampek ketakutan melihatnya honey"


"Hahaha, apa yang kau takutkan hemm?"


"Takut gak bisa masuk dan merobek milikku" ucap Alena dan sukses membuat Edward makin tertawa


Alena bangkit dan menyandarkan tubuhnya di pagar tepian balkon, sedikit kesal melihat Edward malah tertawa, kini Alena menghirup dalam-dalam udara pagi hari yang masih gelap


Edward terkesiap melihat tubuh Alena di terpa angin hingga bajunya sedikit tersingkap, leher jenjang dan kulit mulus tubuh istrinya begitu terlihat memukau dan membangkitkan sesuatu di dalam dirinya, Edward segera bangun dari duduknya menyusul istrinya dan memeluknya dari belakang


"Bee?"


Ucap Edward berbisik di telinga Alena


"Hem?"


"Kan masih ada rotinya itu di meja Honey"


"Bukan itu Bee?"


"Apa?"


"AAH!"


CUP


Alena terkejut dan sedikit teriak, saat Edward langsung membalikkan badannya dan mencium bibirnya, kini ciuman Edward semakin ganas dan memburu, Alena berusaha mengimbanginya hingga akhirnya keduanya terlena menikmatinya


Edward makin mendominasi, entah kenapa tubuh istrinya kini seperti Candu saat di dekatnya, Hasratnya selalu berkobar ketika berada di dekat Alena, tanpa sadar kini baju istrinya bagian depan terbuka sempurna, beruntung pagi itu masih agak gelap, pancaran sinar lampu dari dalam kamar menambah tubuh istrinya berkilauan


Alena tersentak ketika sadar kalau dirinya masih berdiri di atas balkon sambil menikmati kegiatan panasnya dengan suaminya


"Ooooh, Honey, kita melakukannya disini?"


Edward tidak menjawab dan makin tidak terkendali, masih posisi berdiri Edward mengekspos dan menikmati tubuh Alena bercampur dengan udara pagi, jeritan kecil Istrinya terdengar saat kedua puncak bukit kembarnya di lu*mat olehnya, kini desa*han dari bibir istrinya semakin terdengar berkali-kali di telinga Edward


"Honey, Oohh"


"Kau menikmatinya Bee?"


"Iya honey, ini, Aahh"


"Sangat nikmat Bee?"

__ADS_1


"Emh, iya Honey"


Melihat Alena sudah mengge*linjang tidak karuan, bahkan beberapa kali di tahan tubuhnya oleh Edward agar tidak terjatuh, posisi Alena segera di nyamankan dengan menempelkannya di tembok Balkon, Edward meraih Ce*lana Da*lam Alena dan melemparnya ke sembarang arah, begitu juga dengan Alena yang segera membebaskan area keperkasaan suaminya, dengan masih menikmati leher dan bukit kembar istrinya, perlahan Edward membuka pa*ha Alena, sedikit mengangkatnya kemudian memasukkan pusaka nya ke dalam inti istrinya perlahan


"Aaah, pelan honey, sakit"


"Tahan sebentar Bee, Ooh"


BLES


kini Edward berhasil memasukan miliknya dengan sempurna, Alena sempat memekik sebentar dan segera di lu*mat bibirnya oleh Edward, tangan Edward mengambil satu kaki Alena dan membelit kan di pinggangnya, dengan begitu memberikan leluasa bagi Edward untuk bergerak


"Honey, ssshhh"


Alena masih memejamkan mata dengan suara desa*han yang semakin sering terdengar di telinga suaminya


Perlahan Edward mulai membuat gerakan hingga membuat miliknya keluar masuk ke dalam inti istrinya, tubuh Alena semakin terguncang mendapat hantaman dari Edward berkali-kali dan semakin cepat temponya, Alena dan Edward saling mendesah bersautan, kegiatan panas itu semakin membuncah, kini kedua kaki Alena sudah berada di pinggang Edward, hingga sang perkasa makin leluasa menghujami milik Alena


Edward mengguncang- ngguncangkan tubuh istrinya agar kepekasaanya semakin cepat keluar masuk kedalam inti Alena, sudah tidak bisa terhitung lagi ******* dan teriakan lolos dari mulut Keduanya


"Honey, Ooooh, please"


"Sebentar lagi Bee, Ough"


Edward merubah posisi dengan cepat duduk di atas kursi tanpa melepaskan miliknya yang masih aktif keluar masuk ke dalam inti Istrinya


Alena merasakan miliknya mulai berkedut dan ada sesuatu yang ingin segera meledak, dengan posisi yang kini berada di pangkuan Edward, Alena segera menggoyangkan pinggulnya maju mundur dengan cepat


"Oough, Bee, ini luar biasa, sangat nikmat"


"Honey, aku hampir Sampai"


"Kita bersama Bee"


"AAAH, Honey!"


"OOOGH, Bee!"


Keduanya meledakkan sesuatu bersamaan, angin dingin di atas balkon tidak mampu menembus hawa panas dari dalam tubuh mereka, Alena jatuh dalam pelukan Edward, kali ini tubuhnya benar-benar terasa remuk, Edward mengelus punggung istrinya dengan lembut, merasakan peluh Alena yang begitu banyak keluar di tubuhnya


"Masih kuat Bee"


"Jangan lagi Honey, aku lelah"


"Padahal aku masih mau lagi Bee"


BUGH


Alena memukul dada suaminya, dan membuat Edward terkekeh


(Balkon mana Balkon, Author cari Balkon dulu gaes)


Bersambung


LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE


KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN


HADIAH HADIAH HADIAH HADIAH

__ADS_1


VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE


__ADS_2