
Alena sudah bersiap untuk jalan-jalan setelah sholat isya bersama dengan Delia, Kaisar dan para pengawal sudah menunggu mereka berdua, sebelum berangkat baik Alena dan Delia memberikan kabar ke pasangan
Kini semuanya sudah berada dalam mobil masing-masing, Alena dan Delia bersama dengan Kaisar dalam satu mobil yang di supir oleh satu pengawalnya
Sedangkan tiga pengawal yang lain berada di mobil satunya mengawal dari belakang, tiba di sebuah taman kesukaan Alena dan Delia dulu waktu masih di Kota ini, keduanya berjalan mengelilingi taman itu bersama dengan Raka
"Jadi kalian dulu sering di taman ini?" Tanya Kaisar
"Hem, paling suka kalau malam Minggu ya kak, sekalian melihat pemandangan indah wajah ganteng para laki-laki macho lalu lalang disini, hehe"
"Dan kau selalu mengacaukan segalanya Al, ada saja laki-laki yang tergila-gila padamu, hingga kita berlarian mencari tempat untuk sembunyi"
"Hahaha" keduanya tertawa mengingat masa-masa itu
"Ingat nggak kak, dulu aku pas gak punya uang, maksud hati ingin kakak traktir makan gorengan disini, eh gak taunya kak Del malah lupa bawa uang"
"Lalu" tanya Kaisar tak percaya seorang Alena Bilqis Nugraha sampai pernah kekurangan uang
"Ya terpaksa kita akhirnya disuruh bantu goreng dagangannya sampai habis" ucap Alena sambil tertawa
"Tau gak Kai, itu dagangan ibu-ibu penjual gorengan langsung habis terjual dalam dua jam Lo, dan yang beli cowok semua" ucap Delia ngakak
"Coba saja sekarang, aku pastikan banyak nyawa melayang di bantai sama Edward" ucap Kaisar
Alena dan Delia langsung terdiam dan membayangkan ngeri apa yang akan dilakukan Edward seperti yang diomongkan oleh Kaisar
Sejenak Kaisar terkejut dan kagum mendengar cerita masa lalu Alena yang ternyata tidak semudah yang di pikirkan banyak orang selama ini, perjuangan hidupnya yang mandiri membuatnya bekerja keras sendirian di kota ini
"Pantas saja Edward tidak akan pernah rela kehilangan wanita ini, dua begitu unik dan luar biasa" batin Kaisar sambil tersenyum tipis
Sayang sekali keadaan berubah ketika Kaisar seperti merasakan ada gelagat aneh disekitarnya, saat dirinya berjalan dengan Alena dan Delia beberapa kali menemui orang-orang yang sama
"Sepertinya ada yang tidak beres disini" batin Kaisar
Alena juga merasakan hal yang sama, hingga diapun menoleh ke arah Kaisar
"Apa ada sesuatu yang terjadi Kai?" Tanya Alena
"Hem, apa kau juga merasakan nya Al?"
"Iya Kai, sebaiknya kita segera pulang" ucap Alena
Kaisar langsung memberikan kode kepada pengawalnya untuk merapat dan mengawal masuk ke dalam mobilnya, kebetulan sekali ditempat parkir itu juga sepi, hingga kemudian muncullah beberapa orang dengan bersenjata lengkap dan sudah mengarahkan senjatanya
Kaisar masih berdiri dengan tenang di depan Alena yang juga bersikap biasa saja sambil mengelus perutnya, sementara Delia sudah sangat ketakutan melihat orang-orang yang sudah mengarah kan senjatanya
"Tenanglah Kak, Kaisar pasti bisa membereskan mereka" ucap Alena yang kini sudah menegang tangan Delia untuk memberikan ketenangan
"Katakan Apa mau kalian?" Ucap Kaisar
"Serahkan wanita hamil yang ada di belakang mu, dan kalian semua bisa bebas, tidak akan kami bunuh" ucap salah satu pemimpin penjahat itu
__ADS_1
"Coba saja kau merebut nya sendiri kalau memang kalian bisa" ucap Kaisar
Penjahat itu murka kemudian langsung menembakkan senjatanya ke arah para pengawal dan juga Kaisar
Dengan gerakan yang sangat cepat, kaisar meloncat dan mengeluarkan gulungan awan hitam menghadang semua peluru hingga tak satupun menyentuh Kaisar dan orang-orangnya
Para penjahat membelalakkan mata terkejut tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, kini Kaisar dan anak buahnya maju menghajar para penjahat itu, perlawanan adu kekuatan berlangsung sengit, hingga kemudian mereka berhasil melarikan diri, Kaisar hendak mengejar namun dilarang oleh Alena
"Jangan di kejar Kai, di luar terlalu ramai, jangan menarik perhatian dan membahayakan nyawa orang lain" ucap Alena
Kaisar segera menghentikan pengejarannya dan menyuruh anak buahnya kembali mengawal Alena masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi untuk kembali ke Apartemen
*
Beberapa saat yang lalu
Arini sudah berada di kediaman Edward, kedatangan Arini membuat Edward terkejut
"Ayah Edward, Ambar kangen"
Suara kecil itu membuat Edward terkejut sekaligus senang saat membuka pintu rumahnya
"Ayah juga" ucap Edward dan langsung menggendong Ambar yang sudah merentangkan tangan di depannya
"Maaf tuan, saya kesini malam-malam, itu karena Ambar merengek terus minta ketemu dengan tuan, dan sekalian saya menjenguk Kirana"
"Oh, jadi begitu, masuklah, aku akan memanggil Kirana"
Sesaat kemudian Edward menurunkan Ambar dan memanggil bik Asih untuk memanggil Kirana keluar menemui Arini yang kini berada di ruang tamu
"Aku ke ruang kerja dulu ada hal penting yang belum aku selesaikan" pamit Edward ke Kirana dan Arini
Edward kembali masuk ke ruangan atas dimana biasa dia gunakan untuk melanjutkan pekerjaannya selama ada dirumah
"Ada apa kalian datang malam-malam begini?" Tanya Kirana
Sedangkan mbok asih sudah membantu menemani Ambar bermain di teras belakang
"Maaf Kirana, aku mencemaskan mu, katanya kamu tidak masuk hari ini, apa kamu sakit?" Tanya Arini
"Nggak, aku memang dapat cuti satu hari dari Bu Arumi "
"Oh, jadi begitu, aku kira kamu sedang sakit atau gimana gitu, kebetulan juga Ambar lagi kangen sama ayahnya" jawab Arini santai
Kirana sempat terkejut mendengar Arini mengatakan Ambar kangen dengan ayahnya yang seolah terdengar Edward adalah suaminya
"Maaf maksud perkataan mu tadi apa Arini, sebaiknya jaga cara bicaramu, pak Edward bukan orang sembarangan yang bisa menerima perkataan mu yang tadi, apa kau mengerti?"
"Memang aku berkata apa Kirana, tuan Edward juga tidak pernah keberatan Ambar menganggapnya sebagai ayahnya"
"Arini, aku sudah memperingatkan mu, jangan sampai kau melewati batasan mu" ucap Kirana
__ADS_1
Arini hanya terdiam tidak menjawab perkataan Kirana, sesaat kemudian terdengar deringan handphone Kirana yang ternyata dari Bu Arumi
"Kiran, aku mengirimkan file model rancangan beberapa baju untuk acara besok pagi, bisa kau lihat sebentar dan pilihkan yang akan kita bawa besok, bisa kan?"
"Tentu saja Bu Arumi, Akan segera saya kerjakan" ucap Kirana kemudian menutup handphonenya kembali
"Maaf Arini, aku tinggal sebentar ya, kamu bisa berbincang di teras belakang bersama bik asih dan bik Amah yang menemani Ambar bermain, nanti aku susul kesana" ucap Kirana
"Iya, lanjutkan saja Kiran, aku tidak apa-apa" ucap Arini
Saat inilah Arini langsung merencanakan sesuatu, dirinya kini sudah melangkah menuju ke teras belakang, saat berjalan dia melihat ruangan tempat mencuci baju, tidak membuang kesempatan, Arini langsung masuk ke dalam ruangan itu dan mencari baju kotor milik Alena
Seperti dugaannya dia menemukan beberapa helai rambut yang masih menempel di baju Alena, dengan cepat Arini menyimpan nya dan segera melanjutkan langkahnya menuju ke teras belakang
Tak terasa Kirana mengerjakan tugas yang di berikan sampai jam 9 malam, sedangkan Ambar sudah tertidur pulas di sofa, Arini masuk ke kamar Kirana dan minta ijin untuk bermalam
"Maaf Kiran, aku ingin bermalam disini dulu malam ini, Ambar sudah tertidur dan ini sudah hampir jam 10 malam, bolehkah?"
"Ha, benarkah, sudah malam sekali rupanya, iya, sebaiknya kalian tidur di sini dulu, biar bik asih menyiapkan kamar tamu untuk kalian" ucap Kirana
Arini segera memindahkan Ambar ke kamar tamu setelah di siapkan oleh bik Asih, dan kemudian membersihkan diri berganti pakaian kimono seksi dan menerawang yang memang sudah disiapkan dari rumah oleh Arini, hampir tengah malam Arini terbangun ingin mengambil air minum di dapur dan saat itulah terlihat bik Asih membuatkan minuman untuk Edward
"Minuman untuk tuan Edward bik?" Tanya Arini
"Iya non, tuan Edward masih bekerja di ruangannya, aduh sebentar ya non, saya mau kebelakang dulu, kebelet ini" ucap Bik Asih
"Biar saya bawakan ke tuan Edward ya bik, dari pada nunggu" ucap Arini
"Iya non, makasih ya" ucap Bik asih sambil melangkah cepat menuju ke kamar mandi tanpa berpikir panjang
Arini seperti mendapat angin segar untuk melancarkan aksinya, di ambilnya sedikit bubuk putih dan dicampur kan kedalam minuman Edward, setelah itu dia melangkah menuju ke ruang kerja Edward meletakkan minuman itu di mejanya
Edward terkejut saat melihat Arini mengantar minumannya dengan memakai pakaian tidur yang sangat tipis
"Kenapa kamu masih ada disini dan mengantar minuman ini, dimana bik Asih?" Tanya Edward tanpa menoleh ke arah Arini
"Maaf tuan, tadi Ambar sudah ketiduran jadi saya ijin ke Kirana untuk menginap disini malam ini, Bik Asih kebetulan tidak enak perut dan pergi ke belakang, jadi aku membantunya membawakan minuman ini ke ruangan tuan"
Edward yang sudah haus dari tadi, langsung meminum air yang di bawa oleh Arini, senyuman licik Arini terlihat di sudut bibirnya, bukannya keluar dari ruangan, Arini malah duduk di sofa yang ada di ruangan Edward dengan berani
Edward merasakan ada yang salah dengan tubuhnya setelah meminum air itu, tubuhnya terasa terbakar hebat, hasrat dan gai"rahnya seolah muncul tak terkendali, menyadari apa yang sedang terjadi, Edward langsung duduk terdiam seperti sedang menahan sesuatu, sebuah pisau kecil yang ada di dalam laci digoreskan ke salah satu lengan bawahnya hingga darah keluar dari sana
Arini masih tidak menyadari bahwa Edward berusaha mengeluarkan racun di tubuhnya dengan kekuatan tenaga dalam yang dimiliki, bagi Arini Edward terlihat sedang menahan gai*rah nya
Bersambung
Jangan lupa mampir di karya terbaruku "SAHABATKU KEKASIHKU", mohon dukungannya ya)
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN
__ADS_1
HADIAH HADIAH HADIAH HADIAH
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE