
Monalisa langsung melongo saking terkejutnya melihat adegan panas yang ada di depan matanya, sangat jelas terlihat bagaimana tubuh seorang wanita yang terguncang-guncang sambil mendesah diatas tubuh Edward yang terduduk di kursi kerjanya, ditambah wajah Edward yang begitu kelihatan sangat menikmati semuanya
"AAAKH!
Teriak Edward dan Alena bersamaan ketika mencapai puncak kenikmatan bersama, Alena langsung menjatuhkan tubuhnya di dada bidang suaminya sambil mengatur nafasnya yang masih memburu
"Edward!!"
Teriak Monalisa sambil membanting pintu saat masuk dan menutupnya
Edward sangat terkejut namun tetap menahan tubuh istrinya agar tidak beranjak
"Jangan menoleh Bee, istirahatlah di pelukanku"
"Tapi Honey_"
"Diamlah, tidak akan terjadi apa-apa, wanita ini memang pantas melihat kemesraan kita"
CUP
Edward mencium puncak kepala istrinya dan masih memangku memeluknya erat
"Kalian benar-benar menjijikkan!, Apa yang kamu lakukan Edward!" Ucap Monalisa murka
"Kelakuanmu itu yang menjijikkan, sengaja mengintip sepasang suami istri yang sedang bercin*ta" Jawab Edward
"Kau_!!, Aaahk!"
BRAK
Monalisa berteriak sambil berlari keluar dan membanting pintu ruangan kerja Edward
Sesaat kemudian Edward langsung mengunci pintunya dengan remote control yang ada di atas mejanya
"Pintu sudah terkunci Bee, kau ingin nambah lagi atau_"
"Diam!, Dasar kau keterlaluan honey, kelakuanmu itu bikin aku malu di depan Monalisa"
Ucap Alena dan langsung turun dari pangkuan Suaminya
"Hehehe, bukan aku yang keterlaluan Bee, tapi dia sendiri yang mencari masalah"
Ucap Edward ikut menyusul istrinya ke dalam ruangan pribadi untuk membersihkan diri disana
Edward membantu mengeringkan rambut Alena sambil sesekali menciumi kepalanya, tak lama kemudian keduanya segera pulang ke Apartemen
*
Aditama sedang gelisah diatas tempat tidurnya, pemandangan yang tadi membuat dadanya panas terlintas kembali di ingatannya
"Sh*it, apa ada hubungan antara Amaya dan laki-laki itu, tapi sepertinya mereka hanya berteman saja, tidak ada reaksi apapun di wajah laki-laki itu ketika aku bersitegang dengan Amaya" batin Aditama
Dengan langkah gontai Aditama berusaha bangun dan segera membuat minuman hangat untuk menyegarkan tubuhnya, tak lama kemudian segera menghubungi Amaya kembali, namun Amaya kali ini tidak mengangkatnya
Dengan langkah sedikit tergesa-gesa, Aditama masuk ke dalam mobil dan melajukan ke arah kontrakan Amaya
"Aku akan mengatakan semuanya kepada Amaya, aku ingin Amaya melihat aku benar-benar bersungguh-sungguh ingin memperbaiki dan mempertahankan hubungan ini"
Amaya terkejut mendengar suara ketukan pintu kontrakannya
"Iya sebentar"ucap Amaya
"Siapa sih jam segini ngetokin pintu gini, awas saja kalau Sampek Amalia, aku buat perhitungan" batin Amaya
CEKLEK
Betapa terkejutnya Amaya melihat Aditama sudah berada di depan pintu kamar kontrakannya
"Mau apa kamu kesini?!"
"Aku ingin bicara denganmu Am, aku mohon kasih aku kesempatan menjelaskan semuanya"
"Aku sudah tau semuanya, jadi kamu gak perlu repot-repot"
"Tolonglah Am, aku mohon, kasih aku kesempatan memperbaiki semuanya, please?"
"Aku gak mau dengar apapun lagi!"
Amaya bergegas menutup pintu kamarnya, tapi terhalang oleh kaki Aditama yang sengaja mengganjal pintunya agar tidak bisa di tutup oleh Amaya
"Breng*sek, apa yang kau lakukan Aditama!"
BRAK
Aditama memaksa membuka pintu kamar Amaya dan mendorong Amaya masuk ke dalam bersama dirinya
"Apa yang kamu lakukan Dit, keluar?"
"Aku hanya ingin menjelaskan semuanya Amaya, tolong kasih kesempatan dan dengarkan penjelasan ku"
__ADS_1
"Tak per_, mmhhp"
Aditama langsung ******* bibir Amaya dan menempelkan tubuhnya di tembok
Amaya meronta-ronta, tapi kemudian terbawa arus ciuman panas Aditama hingga terdiam, Aditama perlahan melepaskan ciumannya dan memeluk Amaya
"Aku mohon Am, maafkan aku, aku merasa berdosa padamu, aku akan mempertanggungjawabkan semuanya, beri aku kesempatan sayang"
Amaya langsung menangis di pelukan Aditama
"Tolong beri aku waktu untuk memikirkan semuanya Dit"
Aditama menghela nafas panjang dan kemudian melepaskan pelukannya
"Baiklah, aku akan selalu menunggu jawabanmu sayang"
CUP
Aditama mencium puncak kepala Amaya dan langsung pergi meninggalkannya
Amaya terduduk di tepian tempat tidur, kini hatinya terasa bimbang, ada perasaan sakit tapi juga bahagia, ada perasaan benci tapi juga merindukannya, semuanya menjadi satu hingga akhirnya dia mengambil air wudhu untuk sholat dan menumpahkan semuanya kepada sang Pencipta
*
Hari-hari berlalu hingga tibalah 2 hari lagi Edward akan pergi ke Jakarta dan sedang sibuk mengurus kepindahannya, Alena sedikit merasa kecewa karena tidak ada pesan ataupun telpon dari suaminya sampai jam 1 siang
"Kenapa muka kamu gitu amat?" Tanya Delia
"Kenapa emang?" Tanya Alena
"Lagi datang bulan buk?" Tanya Delia
"Nggak, lagi datang matahari noh, panas!"
"Eh, ditanya bener-bener, jawabnya ngasal" ucap Delia
"Edward kak"
"Kenapa, minta kawin lagi tu laki?"
"Ish, apaan sih kak, ngomongnya sadis banget deh"
"Lha terus kenapa sama babang Edward kamu itu Al?"
"Gak ngasih kabar dari pagi"
"Ya punya lah kak"
"Punya nomer pak Edward?"
"Ya jelas punya kak, apaan sih pertanyaannya"
"Ya sudah, angkat handphone kamu, hubungi suami kamu sana, gitu aja di ribetin, kayak anak kecil kamu tu Al"
"Ya kan biasanya dia duluan yang ngasih kabar, gak kayak hari ini kak, itu yang bikin aku kesel"
"Eh bocil, hilangin ya kelakuan manja kamu itu, gak guna banget tau nggak, kamu tu mesti ingat siapa suami kamu itu Al, kerjaannya aja seabreg gitu, belum lagi masih ngurusi kepindahannya ke Jakarta tinggal beberapa hari lagi, ya jelas dia makin kalang kabut ngurusi semuanya Alpan, geregetan deh aku sama kamu tu"
"Aku yang kesel, kenapa jadi kak Del yang emosi, Aneh?!"
PLAK
Delia langsung memukul lengan Alena
"Auh!, Sakit kak"
"Biar kamu itu sadar, heran aku, kenapa pak Edward bisa klepek-klepek sama cewek modelan kamu ini, udah bocil, masih manja"
"Tapi kan cantik luar dalam dan mempesona, Hem"
Ucap Alena sambil mengedip-ngedip kan matanya
"Iya sih memang"
"Hahaha" keduanya langsung tertawa
Akhirnya jam 2 siang Alena sudah bersiap pulang, seperti biasanya Alena akan mampir dulu menemui Edward di kantor dan pulang bersama
"Emang sesibuk apa sih Edward Sampek gak bisa menghubungi aku ya?" Batin Alena sambil terus melangkah ke ruangan kerja suaminya
Alena segera masuk dan tidak di dapati Edward di ruangannya, Alena hanya menghela nafas kemudian duduk di sofa sambil menyandarkan kepalanya, tak lama terdengar bunyi panggilan dari Handphone nya, Alena segera mengangkatnya
"Assalamualaikum, Halo Bee, maaf aku baru bisa menghubungi mu, kamu ada dimana?"
"Waalaikumsalam, Udah diruangan kamu Honey"
"Oh ya sudah, aku masih ada acara keluar Bee, ada urusan penting tentang pelimpahan perusahaan bersama dengan pak Hari, aku akan pulang agak telat nanti"
"Heh, okey, aku pulang duluan aja ya honey, dari pada nunggu kamu disini sendirian"
__ADS_1
"Iya, kamu masih bersama pengawal kan?"
"Iya, tadi juga pengawal kamu yang ngantar aku ke sini"
"Ya sudah, hati-hati Bee, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Alena langsung beranjak keluar dari perusahaan suaminya dan meluncur kembali ke Apartemen, setiba disana langsung membersihkan diri kemudian merebahkan dirinya, kini Alena mengirim pesan ke Edward untuk menanyakan menu makan malamnya, namun ternyata Edward melarang Alena memasak karena dirinya akan pulang larut malam dan sudah makan di luar bersama koleganya
"Menyebalkan, enaknya aku makan diluar sajalah sama kak Delia dan Amaya" ucap Alena lirih
Kini Alena sudah berada di sebuah Restoran yang lumayan mewah dan ramai bersama dengan Delia
"Makan apa Al?"
"Aku sih tetap pilih udang asam manis sama cah kangkung kak, itu paling enak bagi si Alena yang cantik ini"
"Ish, mual aku dengar kamu muji diri sendiri"
"Xixixi, alah, mual apaan, nanti juga tetep banyak makannya"
"Ya harus, lapar ini, hehehe"
"Sayang nih, si Amaya gak bisa ikut, emang kemana dia kak?"
"Tau, katanya mau belanja keperluan pribadi gitu?"
"Oh, ya sudah"
Tiba-tiba saja, Delia melihat Edward masuk bersama dengan pak hari dan tiga orang lagi dimana ada satu perempuan yang sangat cantik, tinggi dan berpakaian rapi, berjalan berdampingan dengan Edward sambil membicarakan suatu hal yang penting dengan menggunakan bahasa Inggris
"Al, pak Edward" ucap Delia
"Jangan tanya soal Edward, aku masih kesel"
"Bukan tanya, ngasih tau noh, ada suami tercinta kamu barusan masuk sama cewek keren"
"Hah, mana?!"
Alena langsung menoleh ke belakang dan ternyata benar apa yang dikatakan oleh Delia
Sesaat kemudian makanan datang dan Alena pun dengan cuek terdiam menikmati makanannya, Delia hanya menatap jengah melihat kelakuan Alena, karena dia sangat tau pasti sekarang Alena sudah mulai murka
Terdengar lirih percakapan yang terjadi di meja Edward
"Oh, jadi pak Edward sudah menikah?"
"Alhamdulillah sudah"
"Wow, pasti wanita yang sangat Spesial bisa bersanding dengan anda" ucap wanita itu
"Hem, begitulah"
"Apa lebih hebat dari saya?"
"Setiap manusia punya kekurangan dan kelebihan masing-masing, saya tidak terbiasa membandingkan satu dengan yang lainnya"
"Oh ya, kecerdasan diatas rata-rata yang dimiliki oleh wanita seperti saya ini sangat jarang Pak Edward, apa mungkin istri anda lebih dari perkiraan saya?"
"Sebaiknya kita membicarakan hal lain sesuai dengan masalah kerjasama bisnis perusahaan kita saja, bagaimana?"
"Oh, dari cara anda mengalihkan pembicaraan sepertinya istri anda tak sehebat yang saya bayangkan, baiklah kita bicarakan bisnis saja"
Tiba-tiba saja ada suara merdu mendayu-dayu yang menyela pembicaraan mereka
"Halo selamat malam semuanya?"
"Bee?"
Ucap Edward terkejut melihat Alena sudah ada di dekatnya
"Hai Honey, kebetulan aku sedang makan malam di Restoran ini juga, apa saya boleh bergabung pak Hari?"
"Oh tentu saja Nona Alena, akan saya ambilkan kursi"
"Saya akan duduk di sebelah suami saya pak hari"
(Hem, jangan macam-macam sama Mpok Alena ya, tidak akan di biarkan satu Wanita saja yang bisa mengalahkan pesonanya di depan suaminya, hahaha, Alena beraksi)
Bersambung
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN
HADIAH HADIAH HADIAH HADIAH
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
__ADS_1