
Setelah melakukan serangan di pagi hari, keduanya kini kembali tertidur pulas dan saling berpelukan di atas tempat tidur, hingga di kejutkan dengan suara Handphone Edward yang berdering, dengan masih memejamkan matanya Edward mengambil handphone dan mengangkat panggilan masuk, Alena hanya menggeliat sebentar di atas dada bidang suaminya
"Halo?"
"Edward bangun!, sia*lan, ini sudah jam berapa woy!!"
Edward terkejut mendengar teriakan sebuah suara yang tak lain adalah Daniel sahabat gilanya
"Siapa Honey, kenceng banget suaranya"
"Siapa lagi kalau bukan Kuda Nil"
"Hah, dia ke sini?, Memang ini jam berapa honey"
"Tau Bee, sebentar"
Edward sangat terkejut melihat jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi
"Bangun Bee, ini sudah jam 9 pagi, bentar lagi rombongan keluarga kamu juga kesini kan?"
"Hah, Apa!"
Alena segera bangun dan berniat lari ke kamar mandi, namun lagi-lagi
"Auh, sshh"
Alena meringis kesakitan sambil memegangi area kewani*taannya
"Bee, hati-hati, pelan saja jalannya, masih sakit?"
"Nggak, ini nikmat!"
Ucap Alena agak jengkel karena Perbutan suaminya membuat dia tidak bisa berjalan bebas
"Hahaha, Bee, aku tambah lagi di kamar mandi ya?"
BRAK
Alena langsung mengamankan kamar mandi, dengan segera menutup dan menguncinya dari dalam, Edward makin terkekeh melihat kelakuan istrinya, kemudian Edward mengambil handphone nya kembali dan menghubungi Daniel
"Loe nyampek mana Niel?"
"Perempatan, 10 menit lagi nyampek rumah kamu ni Ed"
"Dady barengan juga?"
"Ya iyalah, sekarang ini Dady kamu ngangkat anak baru"
"Hah, Adopsi anak, maksudnya?"
"Iya, Anaknya ganteng, Gagah, Maco berwibawa"
"Siapa?"
"Daniel Rendra Wirakusuma"
"Hah, Bang*sat, gak mungkin Dady mau sama kamu, bocah sableng"
"Hahaha, mau lah, ini buktinya kemana-mana mau aku antar"
"Sudah, hati-hati, aku tunggu di rumah"
"Eh, kamu dah buka segel Ed?"
"Memang kenapa?"
"Kalau kesulitan, aku bantu ya"
"Boleh, kalau kamu mau kepalamu pisah dari badanmu"
"Ck, kamu itu kalau ngomong sadis banget Ed, bikin aku mual, ya sudah, aku tutup"
Edward segera menutup handphonenya dan menuju ke kamar mandi
"Bee, masih lama?"
"Enggak, ini sudah mau keluar"
CEKLEK
"Ngapain nggak keluar, cuman nongol kepala doang?"
"Anu honey, bathrob ku ketinggalan, handuknya di sini juga sudah habis, lupa gak bawa tadi, hehe"
Edward langsung tersenyum lebar, dan menarik tubuh polos Alena yang masih basah ke dalam pelukannya
"Honey!, Aku malu bu*gil begini!"
Teriak Alena dan langsung memeluk Edward erat untuk menutupi bagian depan tubuhnya
"Hahaha, ngapain malu, aku sudah lihat semuanya Bee"
Edward masih di peluk oleh Alena dan akhirnya berjalan pelan-pelan mengambil bathrob dan di pakaikan ke istrinya
"Sudah, aku mandi dulu"
Ucap Edward sambil mendaratkan ciuman di wajah Alena berkali-kali
"Apaan sih Honey, pergi mandi sana!"
Alena langsung menjauhkan wajahnya dan mendorong Edward untuk segera mandi
Tak lama kemudian Edward yang sedang mengeringkan rambut Alena di dalam kamar sangat terkejut mendengar teriakan Edward di dalam rumahnya
"Edward!, Keluar, beri kesempatan istrimu untuk beristirahat!!" Teriak Daniel sengaja membuat kehebohan
Alena terkekeh mendengar teriakan Daniel dan membuat wajah Edward langsung berubah kesal
"Xixixi, sudah Sono, temui Daniel dulu honey, aku pakek hijab dulu, nanti nyusul, kasian, dia kangen banget tu, kamu tinggal gitu aja"
"Dasar Daniel, kelakuannya tidak berubah"
__ADS_1
Edward segera keluar menemui Daniel dan juga Edoardo
"Hai Boy, Bagaimana kabarmu?"
"I'm fine Dad, bagaimana dengan Dady?"
"Tentu baik-baik saja, dimana gadis cantik ku?"
"Maksud Dady?"
"Tentu saja menantu tercantik ku, memang siapa lagi?"
Namun tiba-tiba saja rombongan keluarga Nugraha masuk ruangan dan menyapa
"Assalamualaikum, Hai semuanya" ucap Abraham
"Oh, Waalaikumsalam, apa kabar Abraham?" Ucap Edoardo
"Alhamdulillah, Baik" jawab Abraham
Kemudian keduanya saling berpelukan, disusul dengan anggota keluarga yang lain juga, saling menyapa dan berkomunikasi dengan hangat, kini rumah Edward berubah menjadi sangat ramai
Hingga tiba akhirnya Alena menyambut kedatangan semua keluarga, yah, walaupun Alena kini berjalan masih dengan cara yang aneh
"Hai, semua!"
Ucap Alena dari lantai atas dan bersiap turun melewati tangga, Alena berusaha keras menutupi rasa nyeri di bagian bawahnya saat di buat jalan agak cepat, hingga ekspresi wajahnya terasa aneh di lihat oleh semuanya
Alena segera menyalami kedua orangtuanya dan juga Edoardo, setelah itu menyapa dan memeluk semuanya
Daniel melirik Edward dengan memberi kode bangga ketika akan ikut memeluk Alena, namun Edward hanya tersenyum penuh makna
"Hai Niel"
Sapa Alena akan memeluk Daniel yang sudah bersiap membuka tangannya
"Jangan berani!"
Ucap Alex maju menghadang Daniel
"Oh, hehehe, maaf pak Alex"
Ucap Daniel dengan muka kecewanya
Sementara itu Edward tertawa penuh kemenangan sambil menatap Daniel penuh ejekan
"Jangan pernah berpikir kau bisa menyentuh istriku semudah itu Niel"
Bisik Edward lirih
"Dasar, kalian itu sama-sama posesif dan mengerikan" sahut Daniel
Kini semuanya berkumpul di ruangan tengah, Alena meminta tolong kepada semua asisten rumah tangganya untuk menyiapkan makan siang dan cemilan untuk menemaninya bersantai bersama keluarga dan teman-temannya, kini terbentuklah perbincangan antar pria dan wanita, ketika Alena berusaha mengejar kedua ponakannya yang menggemaskan tiba-tiba saja Alena meringis kesakitan dan reflek memegang bagian bawahnya kemudian melepasnya cepat
Edward yang menyadari hal itu, sedikit cemas dan langsung berlari ke arah Alena
"Hati-hati Bee, masih sakit?"
"Oh, hehe, sorry Bee, aku balik ke sana lagi ya, hati-hati"
Alena langsung menegakkan tubuhnya lagi berusaha bersikap biasa saja, sambil berjalan sedikit pelan
"Masih sakit sayang?"
Tanya Jasmine mulai menggoda Alena yang sudah sampai di dekatnya lagi
"Hah, eh, apaan si mommy"
Jasmine tertawa sambil membantu Alena duduk
"Memang berapa kali semalam Al?"
Tanya Reyna dan sukses membuat Alena melongo
"Hah, kak Rey, apaan sih kak"
"Halah, gak usah malu, dulu kak Alex kamu itu juga sama, ngerjain kakak Sampek susah jalan juga tu"
"Hehehe, emang ya kak, mereka makin mirip aja tu"
Sahut Alena
"Sukses ya Edward bobol kamu semalam sayang?"
Tanya Jasmine lagi
"Sukses Mom, lihat nih, anak perawan mommy udah gak perawan lagi"
Sahut Alena
"Hahaha"
semuanya tertawa sambil melihat wajah Alena yang seakan sedang merana
"Sudah mom, kasian masih ada dua perawan lagi ni, pengen nanti tu mereka" ucap Alena sambil melirik ke arah Delia da Amaya
"Tenang, aku sudah biasa, kebal sudah sama hal-hal beginian, ya gak Am" ucap Delia
"Hehe, iya, kita mah udah kebal" ucap Amaya
"Halah, awas aja nanti kepo ya!" Sahut Alena
Kini tawa mereka bersambut kembali
Di kelompok para laki-laki juga terjadi perbincangan seru
"Kenapa Alena Ed?"
Tanya Abraham
"Gak usah tanya Dad, apa lagi emang yang dilakukan Edward malam pertama sama Alena" sahut Alex
__ADS_1
"Pelan-pelan Edward, jangan terlalu menyakiti menantu cantikku" ucap Edoardo
Daniel yang melihat Edward terpojokkan hanya tertawa kecil sambil memasang wajah menyebalkan ke arah Edward
"Kami hanya terlalu menik*matinya saja Dad, tidak terasa sampai melakukan lebih dari 3 kali" ucap Edward polos
"Uhuk uhuk"
Hampir semuanya tersedak makanan dan minuman, Edward sempat kaget melihat reaksi empat laki-laki yang berada di depannya
"Kau, kenapa ngomongnya sevulgar ini Edward, membuatku hampir mati kesedak" ucap Edoardo kesal sambil mengelus dadanya
"Sh*it, pantas Alena susah jalan"
Sahut Alex
"Tapi Alena menikmatinya kan Ed?"
Tanya Abraham
"Daddy!"
Teriak Alex
"Abraham!"
Teriak Edoardo
"Hehehe, aku kan hanya bertanya saja"
Jawab Abraham tanpa Dosa
"Sangat menikmati Dad"
Jawab Edward
"Edward!"
Kali ini Daniel yang berteriak dan langsung pamit keluar dari area Zona panas
"Keterlaluan mereka ini, apa gak tau aku masih jomblo gini, breng*sek si Edward, bisa-bisanya asal mangap gitu ngomongnya" batin Daniel sambil berjalan menuju halaman belakang
Delia dan Amaya yang juga sudah kepanasan dengan omongan seputar ranjang, kini berusaha menghindar dengan pamit jalan-jalan mengelilingi halaman
"Kak Del mau kemana?" Tanya Amaya
"Pengen lihat halaman belakang Am, adem banget kayaknya disana, cocok untuk meredakan pikiranku yang udah berasap dari tadi"
"Hahaha, ya sudah, aku ke kamar tamu dulu ya kak, beresin baju, kan nanti malam kita nginep sini"
"Iya deh, aku jalan dulu"
Keduanya kini sudah berjalan ke tempat yang berbeda, Delia berjalan cepat sambil tersenyum senang ketika melihat hamparan halaman yang sangat luas di belakang rumah Alena, hingga
BRUG
"aow!"
Teriak Delia saat tubuhnya menabrak seseorang dan terjatuh
"Shh!"
Teriak orang yang terjatuh karena tabrakan tubuh Delia
"Kamu!"
Ucap Delia membelalakkan mata tak percaya telah menabrak Daniel
"Oh, ternyata Dokter Delia"
Sahut Daniel bangun dan menolong Delia untuk berdiri
"Ngapain kamu di tengah jalan gini sih?" Ucap Delia
"Siapa yang di tengah, jalanan masih selebar gini tuh, kamu saja yang sengaja nubruk aku kan?"
"Heh, aku bukan orang yang kurang kerjaan"
Ucap Delia
"Iya, tapi kurang cinta dan kasih sayang" sahut Daniel menggoda
"Ish, sok tau kamu ya" jawab Delia
"Tau banget lah" ucap Daniel
"Asal, dari mana kamu tau?" Sahut Delia
Daniel mendekati tubuh Delia, memegang pinggangnya dan mengusap lembut mata dan dada tengahnya sambil berucap
"Dari sini turun ke sini"
Delia langsung membeku dengan perlakuan Daniel dan sesaat kemudian tersadar ketika jari Daniel menyentil pelan keningnya
TUK
"Sadar lah Nona Delia, atau aku akan mencium mu sekarang juga"
"Hah, Dasar, Minggir, aku mau jalan!"
Ucap Delia segera berjalan cepat menggalakan Daniel sambil memegangi dadanya
"Gila, apa yang terjadi denganku, kenapa jantungku berdetak sangat kencang?, Akh, Sia*lan si Kampret Daniel" batin Delia
Bersambung
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN
HADIAH HADIAH HADIAH HADIAH
__ADS_1
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE